
...~•Happy Reading•~...
Saat Mathias dan Juha turun ke ruang makan, Ambar terkejut melihat mereka berdua baru bangun dan belum mandi. Sebelum Ambar mengatakan sesuatu, Mathias sudah mengelus perutnya sebagai kode, lapar.
Juha langsung naik dan duduk di kursi menunggu Mamanya menyiapkan sarapan untuk mereka. Setelah Mamanya telah menyiapkan sarapannya, Juha sarapan dengan senang.
"Mama... Sekarang Juha boleh panggil Om, Papathias." Ucap Juha riang, tetapi Ambar yang sedang makan, langsung tersedak.
Melihat itu, Mathias langsung menyodorkan minuman di depan Ambar untuk diminum. Seni yang di dapur yang mendengar itu, ikut terkejut tetapi melihat majikannya dengan hati senang. Terutama melihat rambut majikannya yang acak cuek. "Seni, jangan melihat rambutku. Ntarr rambutku berubah jadi landak." Ucap Mathias, karena merasa Seni memperhatikan rambutnya yang acak tidak beraturan.
Mendengar itu, Ambar kembali tersedak. Karena dia belum pernah bercanda di meja makan. Sedangkan Seni yang ketangkap memperhatikan rambut majikannya, langsung tertawa tertahan di dapur.
"Ambar. Minum yang banyak, wajahmu sudah merah seperti Juha." Ucap Mathias, melihat wajah Juha belum hilang merahnya dan Ambar yang tersedak berkali-kali, membuat wajahnya hampir sama dengan Juha.
"Aku duluan mandi, sebelum Seni menyisir rambutku dengan ijuk." Ucap Mathias sambil berjalan ke kamarnya. Ambar yang mendengar ucapan Mathias, langsung menyembur air yang mau diminumnya. Sedangkan Seni di dapur tertawa sambil memeggang perutnya.
Mathias sengaja bercanda, agar panggilan Juha kepadanya tidak perlu dibahas. Tetapi dia sendiri tidak bisa menahan tawanya, mendengar Ambar yang menyembur minumnya.
"Iiihh... Mama. Semuanya basah. Mama jorok." Ucap Juha, sambil melihat Mamanya tanpa mengerti yang sedang terjadi.
"Juha, jangan bicara lagi. Mari lekas mandi, nanti terlambat ke Gereja." Ucap Ambar, sambil mengajak Juha ke kamarnya untuk mandi, sebelum Mathias keluar dari kamarnya.
Tidak lama kemudian, Mathias yang telah rapi keluar kamar untuk pergi ke rumahnya.
"Seni. Ini ole-ole tolong di simpan, ya. Kalau mau makan, silahkan. Nanti bilang Ibu, saya pergi ambil mobil." Ucap Mathias, kemudian berjalan keluar menuju rumah Ibunya, sambil menenteng ole-ole di tangannya.
Tidak lama kemudian setelah berpakaian rapi, Ambar dan Juha keluar menunggu Mathias di depan rumah. Agar Mathias tidak perlu masuk ke halaman rumah untuk menjemput mereka.
*((**))*
__ADS_1
Setelah selesai Ibadah, mereka kembali pulang ke rumah. "Ambar, apakah ada salon di komplek?" Tanya Mathias, saat mereka dalam perjalanan pulang dari Gereja.
"Ada beberapa, Mas. Untuk apa?" Tanya Ambar, tidak mengerti dengan pertanyaan Mathias.
"Kita mampir buat janji dengan pihak salon yang kau rasa cocok, ya. Agar nanti sore kau bisa ke sana untuk dandan sebelum kita pergi ke acaranya." Ucap Mathias, tenang dan serius.
"Oooh, iyaa Mas. Yang itu saja." Ucap Ambar, sambil menunjuk salon di komplek yang akan mereka lewati. Mendengar dan melihat keseriusan Mathias, Ambar mengerti. Mathias ingin dia tampil baik agar bisa mengimbanginya.
Mathias memarkir mobilnya, kemudian Ambar turun untuk membuat janji dengan pihak salon untuk meriasnya. "Sudah, Mas. Nanti sore mereka bisa mendandaniku." Ucap Ambar, setelah kembali dan duduk di dalam mobil.
Setelah istirahat dan mandi sore, Mathias mengantar Ambar ke salon dan menunggunya di mobil. Ketika Ambar keluar dari salon dan mendekati mobilnya, Mathias hampir tidak mengenalinya.
Ambar benar-benar berubah dan cantik. Saat Ambar naik ke mobil, Mathias masih melihatnya dengan takjub. "Ngga bagus ya, Mas. Apa terlalu tebal dandannya? Nanti di rumah aku hapus sedikit." Ucap Ambar, merasa tidak enak hati melihat Mathias memandangnya dengan demikian.
"Jangan dihapus lagi. Begitu saja, sudah Ok. Aku melihatmu, karna kau sangat berbeda. Tadi aku mengira, kau orang lain." Ucap Mathias asal, karna terkejut dengan perubahan Ambar.
"Ooh, syukur deh. Aku kira orangnya dandanin berlebihan. Mungkin karna aku tidak perna dandan." Ucap Ambar, malu sendiri dengan ucapannya. Dia sendiri terkejut melihat wajahnya di cermin setelah didandanin.
"Iyaa, Mba' Seni. Mama cantik sekali. Boleh Juha cium Mama?" Ucap Juha sambil mendekati Ambar.
"Sekarang belum boleh, bisa berantakan dandanan Mama. Nanti setelah pulang dari acara saja, ya." Ucap Ambar, sambil menahan Juha yang hendak menciumnya.
"Apakah pulang nanti, Mama belum berubah? Masih cantik seperti ini?" Tanya Juha, polos.
"Memangnya Mama cinderela, sehingga bisa berubah?" Jawab Ambar sambil tersenyum, dan masuk ke kamarnya untuk ganti baju. Mathias yang sudah masuk kamar tersenyum mendengar percakapan Ambar dan Juha.
Mathias sudah rapi memakai baju yang sudah disiapkan oleh Ambar dan keluar dari kamar untuk menunggu Ambar yang masih mengenakan bajunya.
"Wuuuaaah... Papathias keren sekaliii." Ucap Juha spontan melihat Mathias keluar dari kamar dengan mengenakan jas. Karena penampilan Mathias sangat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Mathias hanya bisa mengacak rambut Juha dengan sayang, ketika mendengar komentarnya. "Iyaa, Pak. Kereeen sekaliii." Ucap Seni, menyetujui yang dikatakan Juha sambil mengangkat kedua jempolnya. "Harusnya, ikutan juga kedua jempol kakimu, biar lengkap." Ucap Mathias, menanggapi yang dilakukan oleh Seni, sambil tersenyum. Seni jadi tertawa mendengar yang dikatakan majikannya.
Ketika Ambar keluar dari kamar, Mathias berhenti tersenyum melihat penampilan Ambar yang sangat cantik dengan baju yang memperlihatkan bahunya yang mulus dan indah. Ambar segera menutupi pundaknya dengan syal yang senada dengan bajunya, karena melihat tatapan Mathias, Seni dan Juha.
"Ngga cocok, ya." Ucap Ambar, malu melihat tatapan mereka. Mathias langsung mengangkat tangannya mengisyaratkan OK dengan jarinya. Ambar tersenyum lega, melihat reaksi Mathias.
"Wuuaaah... Mama Juha cantik sekali." Ucap Juha, sambil membuat tanda OK seperti yang dilakukan Mathias.
"Ayooo, mari kita pergi sebelum Bagas berubah bentuk menunggu kita." Ucap Mathias, melihat ucapan Juha dan Seni akan berlanjut melihat Ambar.
"Bu, sebentar. Saya mau foto dulu." Ucap Seni sambil meminta ponsel Nyonyanya. Tetapi Mathias memberikan ponselnya kepada Seni untuk mengabadikan mereka berdua.
"Ayoo, Juha. Ini ikutan juga di foto bersama." Ucap Mathias, melihat Juha sedang melihat mereka dengan wajah polos yang senang. Juha langsung medekati mereka sambil tertawa. Mathias melihat hasil foto Seni dengan hati yang senang. Karena hasilnya sangat bagus.
"Ayoo... Seni, dekat ke sini. Foto dengan Ibu dan Juha." Mathias jadi foto mereka bertiga.
"Pak, bolehkah berselfi dengan bapak juga?" Tanya Seni berharap, karena sangat mengagumi majikannya.
"Boleh, tapi kau menunjukannya." Ucap Mathias, karena tidak perna berfoto ria seperti saat ini. Akhirnya mereka berselfi ria.
"Mari, kita berangkat nanti terlambat." Ucap Mathias. Kemudian Seni berlari duluan untuk buka pagar, khawatir majikannya terlambat. Ambar hanya mengikuti semua yang dilakukan Seni dengan hati yang senang.
Mathias langsung menuju tempat Bagas yang telah menunggu mereka. "Bagas, ada apa dengan wajahmu? Kesal itu jangan dipelihara." Ucap Mathias, melihat wajah Bagas yang telah naik ke mobil dan duduk di belakang dengan diam dan kesal.
"Biarin saja, abis bapak kelewatan. Saya bilangin Bu Ambar." Ucap Bagas kesal, karena dia mengira Mathias membawa wanita lain.
"Kenapa ngga bilang saja sekarang. Niii... ada orangnya." Ucap Mathias tersenyum, yang mulai mengerti rasa kesal Bagas.
"Astagaaa, ini Bu Ambar? Maaf Bu, saya kira bapak bawa wanita lain." Ucap Bagas, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Dia tidak menyangka yang duduk di samping bossnya adalah Ambar, karena berbeda dari biasanya. Sangat cantik dan anggun.
...~●○♡○●~...