MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kantor Polisi.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Ketika melihat siapa yang datang, Pak polisi yang di depan Ambar berdiri menyalami Mathias. Pak Polisi tersebut tidak menyangka, yang menjadi pengacara Ambar adalah Mathias Naresh. Mereka sangat mengenalnya karena sering menangani kasus TQ.


"Mari Pak Mathias, silahkan duduk. Saya tidak menyangka pengacara Bu Ambar adalah anda." Ucap Pak polisi, tidak bersikap formal lagi.


"Terima kasih, Pak. Kasus apa yang sedang dituduhkan kepada client saya?" Tanya Mathias, sambil duduk di samping Ambar.


"Ini Pak Mathias. Client anda dituduh membunuh suaminya." Ucap Pak Polisi sambil memperlihatkan surat pengaduan dan tuntutan.


"Kalau begitu, saya minta waktu untuk berbicara dengan client saya, Pak." Ucap Mathias, serius.


"Silahkan Pak Mathias, bisa di ruangan sebelah." Ucap Pak Polisi, sambil menunjuk ruangan di sebelah ruangan mereka.


"Trima kasih, Pak. Kami bicara di luar saja. Dan saya minta tolong, semua orang yang mengajukan tuntutan ini, tidak diperbolehkan keluar dari ruangan ini."Ucap Mathias, tegas dan serius sambil berdiri.


"Tentu, Pak Mathias." Ucap Pak Polisi, kemudian Mathias mengajak Ambar keluar ruangan. Keluarga Rulof yang menyaksikan itu, diam membeku dan tidak bisa berkata apa pun.


Mathias mengajak Ambar ke tempat parkir motornya dan mengeluarkan surat dari dalam tasnya. "Bu Ambar, tanda tangani surat ini dan tidak usah membaca isinya. Ini surat penunjukan saya sebagai pengacara anda." Ucap Mathias, sambil mengeluarkan kertas dan pena dari dalam tasnya.


Selama ini, Ambar belum menunjuknya sebagai pengacaranya, hanya berkonsultasi masalah hukum. Tetapi dalam kasus yang sedang dihadapi sekarang, Ambar harus menunjuknya sebagai pengacaranya secara resmi.


Ambar segera menanda tangani surat yang diberikan dengan cepat dan menyerahkan kembali kepada Mathias. "Ini surat-surat pribadi anda, tolong disimpan." Ucap Mathias dan menyerahkan semua surat yang dibawa oleh Bagas untuk menjual mobilnya.


"Sekarang, tolong jawab saya dengan jujur. Apakah anda membunuh suami anda?" Tanya Mathias, tegas.


"Tidak, Pak." Jawab Ambar, sambil memeggang dadanya, karena terkejut.


"Baik, sekarang katakan penyebab kematian suami anda." Ucap Mathias, serius.


"Menurut dokter, karna ada pembuluh darahnya yang pecah waktu jatuh, Pak."


"Waktu jatuh, apakah anda bersamanya?"


"Tidak, Pak. Saya sedang pergi bekerja yang ada di rumah hanya ada ART dan anak kami."

__ADS_1


"Siapa yang membawanya ke Rumah Sakit?"


"ART meminta tolong tetangga saya dan beliau menunggu di Rumah Sakit sampai suami saya meninggal."


"Apakah suami anda mengidap suatu penyakit?"


"Setau saya, tidak, Pak. Tetapi beberapa bulan belakangan ini hubungan kami tidak baik, jadi saya tidak tahu perkembangan kesehatannya."


"Baik, yang bagian pribadi itu tidak usah dikatakan kepada penyidik. Jika ditanya penyidik, jawab saja yang anda tahu tentang penyebab kematian menurut dokter."


"Kalau anda benar, harus berani mengatakan yang benar. Dengan begitu, saya bisa percaya diri membela anda. Mari kita masuk dan hadapi mereka." Ucap Mathias sambil mengajak Ambar masuk ke ruang interogasi.


"Sudah, Pak Mathias?" Tanya Pak Polisi, saat Mathias dan Ambar masuk ke ruangan.


"Sudah, Pak. Terima kasih, sudah memberikan waktu kepada kami." Ucap Mathias sambil mempersilahkan Ambar duduk.


"Sebelum menanyakan client saya, boleh saya berkenalan dengan pihak penuntut dan pengacaranya, Pak?" Tanya Mathias, karena penasaran dengan keluarga Alm. suami Ambar. Sampai sebegitu teganya, menuduh Ambar membunuh suaminya sendiri.


"Ooh, iyaa Pak Mathias. Itu mereka sedang duduk menunggu anda dan client anda." Ucap Pak Polisi, sambil memerintahkan anggotanya memangil pihak yang menuntut.


Mathias melihat istri muda Alm. dengan seksama, seakan tidak percaya. Tadi waktu datang, dia tidak memperhatikan, karena fokus pada kasus Ambar. Ternyata istri muda suami Ambar adalah Angel.


"Bu Ambar, apakah anda ada menyimpan foto Alm. suami anda? Tolong perlihatkan kepada saya." Ucap Mathias, jadi berubah dingin dan rahangnya mengeras.


"Ada, Pak. ini..." Ucap Ambar sambil mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan kepada Mathias foto Alm. suaminya. Tanpa mengerti maksud dari permintaan Mathias. Ketika melihat foto suami Ambar, Mathias menatap Ambar dengan berbagai rasa di dalam hatinya. Dia benar-benar terpukul, sehingga membuatnya tidak bisa berkata-kata.


Mathias segera menguasai dirinya, melihat Ambar yang sedang melihatnya dengan bingung. "Pak Polisi, sebelum memeriksa client saya, bisakah saya mengetahui berdasarkan bukti apa yang membuat mereka menuntut client saya sebagai pembunuh?" Ucap Mathias, tegas.


Pak Polisi melihat anggotanya yang berdiri ketika membaca laporan tuntutan. Karena belum ada bukti yang disertakan, hanya dugaan keluarga saja. "Menurut istri mudanya, client anda pernah bertemu dengan dia dan suaminya. Karena marah, client anda mengancam akan membunuhnya dan Alm. suaminya." Pak Polisi menjelaskan dengan ragu-ragu.


"Bu Ambar pernah bertemu dengan wanita itu sebelum ini?" Tanya Mathias, sambil melihat wajah Ambar, serius.


"Perna, Pak. Waktu dia datang melayat suami saya." Jawab Ambar, tegas. 'Tetapi baunya, jauh sebelum itu.' Ucap Ambar dalam hati, menorehkan luka di hatinya.


"Sebelum itu, tidak pernah?" Tanya Mathias meyakinkan.

__ADS_1


"Tidak pernah, Pak." Ucap Ambar yakin. Mathias mengangguk.


"Pak Polisi, karna ini tuduhan pembunuhan dan belum ada bukti, saya meminta penggalian jenasah dan otopsi terhadap jenasah Alm. Semua biaya yang terkait dengan itu kami serahkan kepada keluarga yang menuntut. Kami akan menunggu panggilan berikutnya." Ucap Mathias, yang sudah bisa berkonsetrasi.


"Jika setelah diotopsi tidak ada bukti terjadi pembunuhan, kami akan balik menuntut. Jadi kalau ada yang ingin makan nasi rasa jeruji, silahkan teruskan penuntutan ini." Ucap Mathias tegas. Karena yakin ada konspirasi dibalik laporan terhadap Ambar.


"Pak Polisi, kami permisi dulu karna client saya memiliki anak kecil di rumah. Kami akan koperatif, jika dipanggil menghadap. Kami tunggu surat pemberitahuan penggalian jenasah." Ucap Mathias, tegas.


"Dan juga Pak Polisi, kami tidak akan ke mana-mana, karena beberapa waktu kedepan saya akan kembali ke sini untuk mengajukan surat penuntutan terhadap istri muda Alm. Saya beritahukan sekarang, agar dia bersiap-siap." Ucap Mathias lagi.


"Baik, Pak Mathias. Kami akan memberi tahukan anda perkembangan kasus ini." Ucap Pak Polisi, lalu Mathias berdiri dan menjabat tangan Pak Polisi, begitu juga dengan Ambar.


Mereka segera keluar ruangan dan berjalan ke tempat parkir motor Mathias. Tiba-tiba ada yang mengejar mereka dari belakang.


"Mas Mathias." Panggil wanita itu, sambil berusaha untuk memeluk Mathias.


Secara refleks, Mathias memeluk Ambar dan melompat ke samping. Sehingga wanita itu jatuh terjerebab, karena tidak ada tempat untuk tumpuan. Kemudian Mathias melepaskan pelukannya dari Ambar.


"Ambar, menjauh dari wanita itu. Jangan biarkan dia menyentuhmu. Segeralah pesan ojol untuk pulang ke rumah. Aku akan menunggumu, sampai kau mendapat ojol." Ucap Mathias, melupakan sapaan formalnya kepada Ambar.


Dia sangat terkejut dengan peristiwa yang terjadi. Begitu juga dengan Ambar, sampai tidak bisa berkata-kata. Dia mengambil ponselnya dan pesan ojol, mengikuti yang dikatakan Mathias.


"Kau masih berani menyentuhku? Wanita yang tidak tahu malu dan menjijikan. Sekarang kau mau menjual jiwa iblismu, setelah menjual tubuhmu?" Ucap Mathias geram, dan berjalan mendekati motornya.


Dia membiarkan Angel tetap duduk di atas tanah dan tertunduk malu. Ketika keluarga Rulof keluar dari kantor polisi dan melihat Angel sedang terduduk di tanah, mereka datang untuk menolongnya berdiri.


"Bu Ambar, berjalan ke depan. Menjauh dari sekelompok parasit itu. Saya akan menunggumu sampai ojolnya datang." Ucap Mathias, kembali formal setelah mengendalikan dirinya.


Richo yang telah keluar dari kantor pilisi menatap Mathias dengan marah,  karena telah menggagalkan rencananya untuk menjerumuskan Ambar ke penjara. Dia berharap, tadi Ambar di tahan, agar dia bisa ke rumah Ambar untuk memeriksa.


Mereka terpaksa membatalkan tuntutan, karena belum ada alat bukti. Dan Kepala Polisi yang tiba-tiba datang, sangat marah kepada anggotanya yang membantu keluarga Rulof.


Kalau mau ada bukti, mereka harus menggali jenasah Rulof dan itu membutuhkan uang. Mereka harus membayar perkara dan semua hal yang terkait dengannya. Bisa-bisa mereka tidak mendapat uang, mala kehilangan uang.


'Mau bayar rumah kontrakan saja sedang bingung, ini mau membayar biaya perkara yang belum tentu dimenangkan.' Pikir Richo. Mereka tidak menyangka, Ambar sudah punya pengacara. Baru terpikirkan ada pengacara yang terlibat, saat Ambar mengatakan akan menghubungi pengacaranya.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2