
~•Happy Reading•~
Mathias yang telah masuk ke kamar, tidak bisa langsung tidur. Dia duduk di tepi tempat tidur untuk meredahkan marahnya. Karena amarahnya mengalahkan rasa mengantuknya. Dia mengatakan kepada Ambar dan Seni untuk masuk tidur dan dia sendiri ingin tidur. Hal itu dia lakukan, agar Ambar dan Seni tidak melihat dia sedang berusaha menahan rasa marahnya.
'Tadi kalau tidak melihat Ambar dan Seni yang mendekatinya dengan tangan gemetar dan wajah yang sudah pucat, mungkin beberapa tulang rusuk Richo akan retak.' Mathias membatin, dengan hati yang masih emosi.
'Dia hanya seorang ipar, tetapi yang dilakuannya melebihi kakak atau adik dari Alm. suami Ambar.' Ucap Mathias dalam hati dengan geram dan rahang yang kaku.
Mathias lebih marah karena Richo bukan saja mau mengincar harta yang dinggalkan Alm. Rulof, tetapi juga Ambar sebagai seorang perempuan yang telah ditinggal suaminya. Tidak memperdulikan apa yang dilakukannya itu benar atau salah, atau tidak bermoral.
Melihat kejadian tadi dan perilaku Richo, apa yang dipikirkan Mathias dalam pesawat saat kembali dari Jogja, adalah benar. Kecurigaannya makin menjadi saat mengetahui Richo bermain mata dengan security komplek. Agar tidak merespon semua panggilan saat dia sedang menyatroni rumah Ambar.
Mathias telah meminta orang menyelidiki kejanggalan itu, saat tiba di Jakarta. Karena tidak mungkin security komplek mengabaikan panggilan warga. Jika saat ditelpon dia tidak ada di tempat, securitynya akan telpon balik. Ini sama sekali tidak seperti biasanya, membuat Mathias curiga.
Kewarasan Richo menghilang akibat keserakahan, sehingga tidak melihat siapa yang sedang diincarnya. Semua kebaikan Ambar selama Rulof masih hidup kepada keluarganya, tidak berbekas di dalam hatinya.
Mathias berdiri dan keluar dari kamar menuju ruang makan untuk mencari minum. Dia ingin meredahkan rasa marahnya dengan minuman dingin, agar bisa tidur.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Ambar yang telah masuk kamar, tidak bisa tidur walau pun sangat mengantuk. Dia duduk di tepi tempat tidur untuk menenangkan hati dan debaran jantungnya.
Dia tidak menyangka Richo bisa bertindak seliar itu hanya untuk harta yang tidak ada ujudnya. 'Padahal aku sudah katakan berulang kali, tidak ada warisan yang ditinggalkan Alm. selain mobil dan rumah ini.' Ucap Ambar dalam hati.
__ADS_1
Ambar duduk dan mulai berpikir apa yang dikatakan Mathias kepada Richo. Jadi ketidak hadiran security setiap dia datang ke rumah ini, adalah perbuatannya. 'Pantes aku telpon berulang kali, mereka tidak merespon panggilanku. Benar-benar jahat dan licik.' Ucap Ambar dalam hati.
Ambar mengambil ponsel dan memutar video hasil rekamannya. Karena tadi dia tidak bisa menyimak semua yang dikatakan Mathias. Dia benar-benar terkejut melihat Richo menerobos masuk. Kalau Seni tidak bantu memegang tangannya, mungkin ponselnya sudah jatuh ke lantai.
Ambar tidak bisa membayakan apa yang akan terjadi, jika Richo bisa masuk dan tidak ada Mathias bersama mereka. Dia mengingat kembali, jadi selama ini Richo sengaja menerornya dengan datang larut malam, berharap bisa membuatnya ketakutan dan mungkin bisa menjadi tidak waras.
Ketika mendengar semua yang dikatakan Mathias, Ambar tidak bisa menahan hatinya yang mulai terharu. Tanpa disadari air matanya mengalir perlahan di pipinya. Dia mematikan ponselnya, kemudian memegang dada dengan kedua tangannya dan menangis terseduh. Semua kesedihan yang dirasakan selama ini setelah Rulof meninggal dan perbuatan Rulof dan keluarganya kembali teringat.
Bagaikan sedang membuka lembaran buku kisah rumah tangganya yang kelam di antara orang-orang palsu yang dianggapnya saudara.
Yang membuatnya sangat terharu dan menangis bukan karena perbuatan mereka semua yang telah dijadikan bagian dari hidupnya. Tetapi karena apa yang dilakukan oleh Mathias yang baru dikenalnya.
Sambil terus memegang dadanya dengan kuat, Ambar menengadakan wajahnya yang penuh dengan air mata. 'Yaa Tuhan, terima kasih Engkau telah mengirimkan Mas Mathias untuk melindungiku dan Juha. Aku percaya Engkau melihat semua sengsara dan luka hatiku. Tolong biarkan aku menjadi istrinya yang baik. Terima kasih, Tuhan.' Doa Ambar dalam hati, sambil air matanya terus tergenang dan mengalir deras di pipinya.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Richo yang telah meninggalkan rumah Ambar, berjalan pelan dengan banyak tanya di kepalanya. Dia masih shock dengan peristiwa yang terjadi, karena semua tidak pernah terpikirkan olehnya.
Dia berjalan dengan kaki yang sakit dan pincang. Walau pun punggungnya terasa ngilu, dia terus berjalan menuju gerbang komplek Perumahan Indah Permai. Tubuhnya yang sedang sakit tidak bisa mengalihakan pemikirannya dari apa yang baru terjadi dan dialaminya bersama Ambar dan Mathias.
Dia berpikir keras atas situasi terbaru yang diketahuinya. Bukan karena tubuhnya yang sakit atau Mathias membuka pintu yang membuatnya shock. Tetapi karena mengetahui bahwa Ambar telah menikah dengan pengacaranya.
Hal itu sangat tidak mengutungkan baginya dan juga keluarganya. Mereka sedang berusaha menekan Ambar, agar mau berbagi dengan mereka semua peninggalan Rulof.
__ADS_1
Dia mengingat pertemuan terakhir dengan mereka di depan kantor polisi. 'Pantas pengacara itu memeluk Ambar untuk menghindari Angel yang mengejar dan berusaha mendekati mereka.'
Richo mengingat ucapan Mathias, bahwa Rulof meninggal meninggalkan banyak hutang. 'Jangan-jangan itu adalah hal yang benar, sehingga Ambar harus menjual mobilnya.' Ucap Richo dalam hati.
'Karena kalau tidak, untuk apa Ambar menjual mobilnya. Pengacara itu bisa memakai mobil tersebut jika mereka sudah menikah. Mengingat dia hanya memiliki motor.' Richo membatin.
Richo berjalan dengan tubuh yang sakit, tetapi terus berpikir. 'Mungkinkah semua yang terjadi dengan Rulof akibat perbuatan Angel?' Rulof bertanya dalam hati. 'Jangan-jangan Angel yang membuat dia banyak berhutang?' Richo terus bertanya dalam hatinya.
Richo teringat saat Rulof meninggal dan Ambar tidak memiliki uang, sehingga meminta tolong kepada tetangganya. Dia tidak melupakan pembicaraan Ambar dengan tetangganya di Rumah Sakit saat Rulof meninggal.
'Mungkin itu semua yang sebenarnya terjadi? Sehingga Ambar dengan sangat malu berbicara kepada tetangganya untuk minta tolong membayar kepengurusan Rumah Sakit dan proses pemakaman saat itu?' Tanya Richo dalam hatinya lagi.
Sesampai di dekat kantor security, Richo berbicara dengan security dan mengeluarkan amplop dari saku celana dan memberikannya kepada security tersebut. Kemudian dia berbicara dengan anak buahnya yang sedang menunggu di pos security. "Mari, antarkan aku pulang." Ucap Richo kepada anak buahnya.
"Bagaimana, boss. Apakah berhasil?" Tanya anak buahnya, karena tadi sebelum berangkat, bossnya telah mengatakan, apapun yang terjadi harus berhasil masuk ke dalam rumah malam ini. Bossnya sudah belajar untuk bisa masuk ke rumah dengan membuka pintu secara paksa tanpa perlu mendrobak pintu rumah.
"Tidak berhasil, karena ada orang lain di dalam rumah yang membuka pintu." Jawab Richo, tidak menjelaskan siapa yang membuka pintu baginya.
"Lekas antarkan aku pulang sekarang." Ucap Richo kepada anak buahnya yang melihatnya dengan tidak mengerti. Tetapi tetap menyalakan motornya untuk mengantar bossnya pulang.
Saat berada di atas boncengan, Richo mulai menyusun rencana yang baru, karena hidupnya harus terus berlanjut. 'Aku akan berbicara dengan Inge tentang perkembangan situasi yang terjadi.' Ucap Richo dalam hati, sambil menahan sakit di punggung dan kakinya karena kena angin malam yang dingin.
~●○♡○●~
__ADS_1