MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Curahan hati.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Setelah merasa Mathias telah meninggalkan mereka, Bu Titiek memberikan isyarat kepada Ambar untuk duduk di kursi yang terdekat dengannya. "Ambar, Ibu sudah dengar semua dari Mathias. Karna Ibu sedang kurang sehat, Ibu berharap banyak dari Ambar agar bisa mendampinginya dengan baik." Ucap Bu Titiek pelan, sambil menepuk tangan Ambar.


"Ibu menerima semua keputusannya untuk menikahimu. Karena dia tidak sembarang membuat keputusan. Ibu akan bahagia, jika bisa melihatnya berbahagia. Oleh karna sekarang sudah ada Ambar, tolong bantu anak Ibu bekerja dan menjalani hari-harinya dengan baik." Ucap Bu Titiek pelan, sambil terus menepuk tangan Ambar.


Hal itu membuat Ambar terharu dan bernafas lega. Karena sepanjang jalan dari rumahnya, dia berpikir akan dimarahi oleh Ibunya Mathias. "Baik, Bu. Ambar akan mengingat pesan Ibu. Trima kasih Ibu bisa menerima Ambar dan Juha." Ucap Ambar, sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya dengan mata berembun. Melihat yang dilakukan Ambar, Bu Titiek merasa lega dan bersyukur. Mathias telah memilih Ambar sebagai istrinya.


Bu Titiek memberikan isyarat kepada suster untuk memanggil Mathias. Ambar buru-buru menghapus air matanya yang hampir tumpah dengan minum minuman yang disugukan untuknya, agar Mathias tidak salah menafsirkan air matanya.


Mathias kembali berkumpul dengan Ibunya dan Ambar untuk minum teh sore. Melihat suasana yang baik, Mathias menyampaikan rencananya untuk berangkat ke Jogja. "Ooh, iya Bu. Karna Ibu sudah di rumah, aku akan ke Jogja untuk menangani kasus di sana. Mungkin akan satu mingguan. Jadi nanti Ambar akan sering datang menemani Ibu, saat aku ngga ada di rumah." Ucap Mathias, memberi tahukan rencananya.


Mendengar yang dikatakan Mathias, Bu Titiek berpikir. "Oooh, apakah ngga merepotkan jika Ambar harus bolak balik ke rumah ini, nak?" Tanya Bu Titiek, sambil melihat Ambar dan Mathias bergantian.


"Ngga, Bu. Nanti Ambar sering ke sini untuk menemani Ibu." Jawab Ambar pelan, karena merasa terharu atas penerimaan Ibu Mathias kepadanya. Bu Titiek mengangguk, tetapi sebenarnya berharap Ambar mau tinggal dengan mereka.


"Ooh iya, Bu. Rumah Ambar satu komplek dengan kita, hanya beda blok. Jadi tidak jauh, bisa jalan kaki ke sini." Ucap Mathias, yang mengerti maksud ucapan Ibunya.


"Ooh, begitu. Syukurlah." Ucap Bu Titiek lega, dan mengerti kenapa putranya belum bawa pulang Ambar ke rumahnya. 'Mungkin mereka belum membicarakannya. Karena Ambar punya rumah sendiri.' Pikir Bu Titiek dalam hati.


Setelah selesai minum, Mathias masuk ke kamar untuk mengambil tas dan keluar menemui Ibunya dan Ambar. "Bu, aku mau keluar dulu, ada yang mau diurus. Ambar, mau kuantar pulang sekalian?" Tanya Mathias, sambil memeggang tasnya.


"Aku pulang jalan kaki saja, Mas. Aku masih mau di sini dulu bersama Ibu." Ucap Ambar, sambil memberikan kode, dia masih mau tinggal dengan Ibunya. Mathias mengangguk mengerti.


"Ibu, aku mau keluar dulu, jadi kalau mau makan, makan saja dan istirahat." Ucap Mathias, sambil mencium pipi Ibunya. Bu Titiek mengangguk.

__ADS_1


"Ambar, aku keluar dulu. Jangan terlalu malam pulangnya. Nanti aku hubungi, kalau sudah pulang." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk kemudian mencium punggung tangan Mathias sebelum berangkat.


"Sebentar ya, Bu. Ambar mau mengantar Mas Mathias dulu." Ucap Ambar, dan berjalan mengikuti Mathias, setelah melihat Ibu Titiek mengangguk mengiyakan.


"Mas, langsung jalan saja, nanti aku yang tutup pagarnya." Ucap Ambar, karena melihat Mathias hendak turun dari mobil. Mathias mengangguk, sambil memberikan kode OK dengan jarinya. Kemudian menjalakan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.


Tadi ketika melihat respon Ibunya saat bertemu dengan Ambar, Mathias merasa lega. Sehingga dia langsung memikirkan perjalanannya ke Jogja. Dia berharap besok bisa berangkat, karena minimal hari Sabtu sudah kembali ke Jakarta. Karena hari Minggu ada undangan yang harus dihadirinya.


Mathias memacu mobilnya ke apartemen, karena dia berencana memgambil beberepa keperluannya untuk berangkat ke Jogja. Setelah tiba di apartemen, Mathias langsung ke kamarnya. Dia membuka lemari pakaian dan mengambil yang dibutuhkannya. Ketika melihat koper di atas lemari, Mathias berubah pikiran. Dia menurunkan kopernya dan mengisi semua isi lemari ke dalam koper dan tasnya.


Dia berpikir untuk membawa semuanya, karena sedang membawa mobil. Biar tidak perlu bolak-balik membawa sedikit demi dedikit. Kebanyakan pakaian yang ada di apartemen jarang dipakai. Dia berencana akan mengenakan di Jogja dan beberapa untuk acara resmi nanti.


Setelah semuanya sudah dimasukan ke dalam tas dan koper, Mathias turun ke tempat parkir dan memasukan semuanya ke dalam mobil. Kemudian dia menuju lobby apartemen, untuk bertemu dengan security. Karena dia ada perlu dengan security dan engineering apartemen.


Setelah menyelesaikan semua yang diperlukan, Mathias kembali ketempat parkir dan keluar meninggalkan apartemen untuk kembali ke rumah. Dalam perjalanan Mathias menghubungi Ambar, ketika sudah mendekati komplek perumahan.


📱"Aku sudah di rumah, Mas. Karna Ibu sudah istirahat." Jawab Ambar, khawatir Mathias masih menginginkannya tinggal bersama Ibunya.


📱"Ok, sebentar lagi aku sudah mau sampai rumahmu, ya." Ucap Mathias, dan mengakhiri pembicaraan mereka. Mendengar itu, Ambar segera memanggil Seni yang lagi di dapur.


"Seni, tolong buka pagar, yaa. Bapak sudah pulang mungkin bawa mobil. Seni lihat saja dulu, kalau bawa mobil, tolong didorong pagarnya. Ibu mau menghangatkan makanan untuk bapak." Ucap Ambar, kemudian ke dapur.


Seni segera keluar untuk melihat dan langsung membuka pintu dan mendorong pagar, saat melihat majikannya membawa mobil. Mathias langsung memasukan mobil, saat melihat Seni telah membuka pagar.


"Trima kasih, Seni." Ucap Mathias, kemudian menurunkan koper dan tasnya dari dalam mobil. Setelah menutup dan mengunci pagar, Seni melihat majikannya membawa tas dan koper, segera dia membantu dorong koper majikannya ke dalam rumah.

__ADS_1


Mathias memasukan semuanya ke dalam kamar. Setelah mandi, Mathias keluar menemui Ambar. "Mas, makan dulu."Ucap Ambar, sambil menuang air ke gelas Mathias.


"Kalian semua sudah makan?" Tanya Mathias, sambil duduk di kursi meja makan.


"Sudah, Mas. Karna tadi Juha sudah lapar dan ngantuk, kami makan duluan. Karena belum tau Mas pulang jam berapa." Ucap Ambar, menjelaskan.


"Iyaa, ngga papa. Kalau kalian sudah lapar, makan saja duluan. Jangan tunggu aku, karna pulangnya ngga menentu. Nanti kalau bisa pulang sore, aku akan kasih tau, supaya bisa makan malam bersama." Ucap Mathias, mencoba menenangkan hati Ambar yang merasa tidak enak.


Mathias berdoa, kemudian makan ditemani Ambar. Saat makan, Mathias menyadari Ambar sedang memandangnya. 'Pasti dia akan mengatakan sesuatu.' Ucap Mathias dalam hati.


Setelah Mathias selesai makan dan Ambar membereskan perlengkapan makan yang dipakai, Mathias mengajak Ambar kembali duduk di meja makan.


"Ada yang mau kau bicarakan denganku?" Tanya Mathias, sambil menatap Ambar.


"Iyaa, Mas. Aku tadi ngga enak sama Ibu. Sepertinya Ibu mengharapkan aku tinggal di rumah sana." Ucap Ambar pelan tanpa melihat Mathias.


"Ngga usah dipikirkan, aku sudah bilang sama Ibu dan sepertinya Ibu mengerti. Toh' rumah kita tidak berjauhan, jadi kapan saja bisa ke sana. Ibu juga lebih banyak istirahat dari pada mengajakmu ngobrol." Ucap Mathias, mencoba menenangkan Ambar.


"Dan juga jika tinggal di sana, kita tidak bisa tidur terpisah. Bukan karna tidak ada kamar untukmu dan Juha, tetapi itu akan membuat Ibu kepikiran dan bertanya-tanya." Ucap Mathias, memikirkan Ibunya melihat mereka tidur terpisah.


"Ooh iyaa, aku tidak memikirkan itu, hanya memikirkan Ibu yang lagi tidak sehat saja." Ucap Ambar, merasa tidak enak. Mathias mengangguk mengerti dan bersyukur, Ambar menyayangi Ibunya.


"Sekarang yang dipikirkan itu, besok tolong rapikan pakaian yang tadi aku bawa di dalam lemari. Aku rencana mau ke Jogja besok siang atau malam." Ucap Mathias, mengingat pakaian yang dibawanya.


"Besok setelah ada kepastian berangkat, aku akan kirim pesan untukmu, pakaian apa saja yang harus aku bawa dan tolong kau siapkan di tas yang aku bawa tadi. Supaya jika berangkat, ngga ada yang ketinggalan." Ucap Mathias, lagi. Ambar mengangguk mengerti.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2