
~•Happy Reading•~
Mathias memperhatikan keadaan rumah Ambar setelah berada dalam rumahmya. "Mas, mau minum sesuatu." Tanya Ambar, saat melihat Mathias memperhatikan rumahnya. "Aku minta air mineral saja." Ucap Mathias, sambil mengikuti Ambar ke ruang makan.
Seni keluar dari kamar saat mendengar suara di ruang makan. Dia sangat terkejut melihat suami baru Nyonyanya. Memang tidak setampan Alm. suaminya, tetapi sangat menarik dan keren. Senang melihatnya dan tidak bosan melihatnya berlama-lama.
"Seni, mari kenal sama Pak Mathias." Ucap Ambar, memperkenalkan Mathias kepada Seni. Dia mendekat dan mengangguk. Mathias juga mengangguk kepadanya.
"Sekarang tidur dulu, nanti besok baru kita ngobrol." Ucap Mathias, dan Seni mengangguk mengerti. Kemuadian masuk ke kamarnya dengan hati senang. 'Ternyata suami baru Nyonya orang yang baik.' Ucap Seni dalam hati, saat mendengar suara Mathias.
"Ambar, mari istirahat. Kalau ada apa-apa, tolong bangunkan aku, ya. Aku lumayan cape' mungkin bisa tertidur. Karna dari kemaren belum istirahat dengan benar." Ucap Mathias, sambil berdiri dari kursi meja makan.
"Iyaa, Mas. Mari aku tunjukan kamarnya." Ucap Ambar, sambil berjalan menuju kamar tamu.
"Coba Mas lihat, mungkin ada yang kurang." Ucap Ambar, saat mereka sudah dalam kamar.
"Tolong letakan bajuku, ini untuk besok berangkat kerja. Nanti baru aku bawa beberapa baju kantor dan baju rumah ke sini." Ucap Mathias, sambil memberikan tas kecil di tangannya kepada Ambar. Kemudian Ambar merapikan semuanya ke dalam lemari yang ada dalam kamar tersebut.
Ketika selesai menggantung baju kerja dan merapikan baju rumah Mathias, Ambar berbalik dan melihat Mathias sudah tertidur. Ambar merapikan selimut untuk menutup tubuh Mathias. Dia mematikan lampu dan membiarkan lampu baca menyala, kemudian berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan.
Mathias yang belum tertidur sepenuhnya, sekilas menyadari yang dilalukan Ambar terhadapnya. Dia tersenyum dalam hati dan melanjutkan tidurnya.
Setelah mereka tidur, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu dengan keras sambil memanggil nama Ambar. Mendengar itu, Seni membuka pintu kamarnya pelan dan berjalan keluar tanpa alas kaki menuju kamar Nyonyanya.
Dia membuka pintu kamar Nyonyanya pelan dan membangunkannya. "Bu, orang itu datang lagi." Ucap Seni berbisik, saat melihat Nyonyanya sudah bangun.
Ambar mengumpulkan kesadarannya dan mendengar ribut-ribut di luar rumah. Kemudian Ambar bangun dan duduk. "Ssst... Mari kita keluar, kau tunggu di ruang tamu." Ucap Ambar, sambil berjalan keluar kamar dan menuju ke kamar Mathias.
__ADS_1
Dengan perlahan Ambar membuka pintu kamar Mathias. Dilihatnya, Mathias sedang tidur nyenyak. 'Pantes tidak mendengar ribut-ribut di luar.' Ambar berkata dalam hati. Dia jadi ragu-ragu untuk membanggunkan, tetapi Ambar mengingat apa yang dikatakan Mathias sebelum tidur untuk membangunkannya.
Ambar menepuk pelan lengan Mathias, dan perlahan Mathias membuka matanya. Ketika melihat Ambar berdiri di depannya dengan mengatupkan kedua tangan di dadanya, Mathias menyadari situasi dia ada di mana.
Mathias mengumpulkan kesadarannya lalu bangun duduk di tepi tempat tidur. "Maaf, Mas. orangnya datang lagi." Ucap Ambar pelan, sambil kedua tangannya tetap dikatupkan di dadanya.
Mathias mendengar suara berisik di luar, kemudian dia berdiri dan keluar. Ambar mengikutinya dari belakang. "Duduk di sana saja dan tolong rekam pakai ponselmu." Ucap Mathias pelan, sambil menunjuk ruang tamu dimana Seni sedang duduk.
Mathias berjalan ke pintu rumah sambil menyisir rambutnya dengan tangan. "Mengapa kau ribut-ribut di rumah orang tengah malam begini?" Tanya Mathias saat membuka pintu dan melihat Richo hendak mengetuk pintu. Richo terkejut melihat Mathias yang membuka pintu, sampai melongo dengan mata membulat.
"Ada apa, kau memanggil nama istriku tengah malam begini? Apakah kau sedang mabuk atau sudah gila?" Ucap Mathias dengan geram, sambil melihat Richo dengan tajam. Apalagi tidurnya terganggu, membuat Mathias makin emosi. Seni jadi mengerti saat mendengar yang dikatakan Majikan barunya.
"Kau yang sudah gila, berani-baraninya mengaku dia istrimu." Ucap Richo, saat kesadarannya kembali setelah terkejut.
"Minggirrr... Mana Ambar?" Tanya Rico, dan hendak mendorong Mathias. Refleks, Mathias menghindar dan membuka pintu sehingga membuat Richo jatuh terjerebab.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, tetapi berani menerobos masuk? Sebelum kau katakan mengapa mencari istriku tengah malam begini, saya akan membiarkanmu mencium lantai ini sampai pagi." Ucap Mathias, tanpa menggerakan kakinya dari punggung Richo.
"Pengacara menjadikan janda istrinya? Hhhhhh... Sandiwara basiiii." Ucap Richo sambil tertawa dan berontak di lantai.
"Oooh, jadi menurutmu janda tidak bisa menjadi istri, tetapi bisa menjadi objek laki-laki kurang ajar sepertimu?" Ucap Mathias, sambil menekan kakinya ke punggung Richo dengan geram.
"Pura-pura menjadi pengacaranya, ternyata mengincar warisan suaminya. fuuuiiii..." Ucap Richo, sambil meludah di lantai.
"Hhhhhhhh.. Mengincar warisan suaminya? Warisan yang mana? Hutang yang banyak, atau warisan keluarganya yang br***sek dan kurang ajar?" Tanya Mathias sambil tertawa tawar.
"Lebih baik kau tutup mulutmu, atau tulangmu kupatahkan satu-satu." Ucap Mathias, dengan geram.
__ADS_1
"Kau kira saya tidak menyelidiki kalian semua, dan apa yang kalian lakukan terhadap istriku? Sekarang bilang keluargamu, kalau mau makan, lihat semut lalu belajar dan malu."
"Berani saya melihat kau atau orang suruhanmu mengikuti istriku dan anaknya lagi, aku akan mengirimkan kalian semua untuk bernafas dari balik jeruji." Ucap Mathias geram dan dingin.
Kemudian Mathias mengangkat kakinya dan menendang balik tubuh Richo di lantai, seperti membalik ikan di dalam wajan.
"Kau kira saya tidak tahu apa yang kau lakukan dengan security komplek ini? Ambar, mari mendekat dan rekam semua ini." Ucap Mathias, memanggil Ambar. Kemudian Ambar mendekat, dan meneruskan merekam.
"Seni juga kesini, supaya jadi saksi berbuatan laki-laki tidak bermoral ini." Ucap Mathias tegas, kemudian Seni memdekati Richo yang sedang berbaring di lantai dengan was-was melihat majikan barunya yang sedang marah. Begitu pun dengan Ambar yang sedang memegang ponsel dengan tangan gemetar.
"Ambar, arahkan ponselnya ke arah Seni dan laki-laki ini." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk pelan.
"Sekarang bangun dan berjalan keluar dari rumah ini, sebelum hilang kesabaranku. Saya membiarkan kau keluar dari rumah ini dengan utuh, karna Juha sedang tidur." Ucap Mathias.
"Sebagaimana cara kau masuk ke rumah ini, silahkan keluar dengan cara yang sama. Atau saya akan mengangkat dan melemparmu keluar melewati pagar." Ucap Mathias, tetap dingin dan rahang mengeras.
"Ambar, tolong rekam saat dia keluar dari halaman rumah ini. Seni, ikut juga keluar ke halaman. Supaya jika dia lama berjalan, semprot dengan air." Ucap Mathias lagi. Ambar berjalan keluar dengan Seni ke halaman.
Mathias mengangkat Richo dari lantai dan mendorongnya keluar rumah ke halaman. Richo segera berlari dan melompati pagar dan jatuh terguling ke jalanan. Dia benar-benar takut melihat kemarahan Mathias.
Mathias terus melihat Richo yang berjalan menjauh dengan kakinya yang pincang. "Mari, masuk dan kita beristirahat." Ucap Mathias setelah memeriksa pagar dan sekitanya. Ambar dan Seni berjalan masuk ke rumah, tanpa bersuara.
"Sekarang sudah bisa istrahat dengan tenang. Nanti besok baru kirim rekamannya ke aku." Ucap Mathias, sambil berjalan ke kamarnya untuk tidur, karena masih mengantuk dan lelah.
Ambar memberikan kode untuk Seni agar segera beristirahat juga, karena dia juga sangat mengantuk. Walaupun jantungnya masih berdegup kencang, tetapi hatinya menjadi tenang melihat apa yang dilakukan Mathias kepada Richo. Kemudian mereka berdua masuk ke kamar masing-masing dengan hati lebih tenang.
~●○♡○●~
__ADS_1