
...~•Happy Reading•~...
Di sisi yang lain : Mentari belum lagi bersinar, Ambar telah bangun sebelum bunyi alaram ponselnya berbunyi. Ambar memegang dahi Mathias untuk mengecek suhu badannya. Dia merasa lega, karena panas tubuh Mathias telah turun.
Ambar bangun perlahan agar tidak membangunkan Mathias yang sedang tertidur pules. Dia berdoa dan hatinya sangat bersyukur mengetahui kondisi Mathias lebih baik. Kemudian dia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar dengan berjalan jijit dan membuka pintu kamar dengan pelan. Agar tidak membuat Mathias terbangun, karena masih ada waktu untuknya tidur.
"Walaupum sudah membeli roti untuk sarapan, Ambar berencana merebus ayam dan membuat bubur untuk sarapan Mathias agar bisa lebih segar dan cepat pulih. Dia tahu, hari ini Mathias akan bertemu dengan orang yang sedang berperkara, sehingga membutuhkan energi ekstra.
Melihat waktu sudah mendekat dan belum ada tanda-tanda Mathias sudah bangun, Ambar segera ke kamar. Dia terkejut melihat Mathias masih dalam posisi tidur seperti waktu ditinggalkannya.
Ambar langsung naik ke tempat tidur dan memeluknya dari belakang. "Ayooo, bangun. Sudah siang..." Ucap Ambar di punggung Mathias. Merasa Mathias mulai bergerak, Ambar mengulang sekali lagi ucapan di punggung Mathias. Ambar tersenyum sendiri dengan yang dilakukannya, karena dia seperti sedang membangunkan Juha.
Mathias langsung membuka matanya dan mengumpulkan kesadarannya. Kemudian berbalik melihat Ambar yang sedang memeluknya sambil tersenyum.
"Ada apa pagi-pagi sudah tersenyum?" Tanya Mathias yang telah selesai loading.
"Ngga, Mas. Aku tersenyum sendiri, karna membangunkan Mas seperti membangunkan Juha." Ucap Ambar, tetap tersenyum.
"Sudah jam berapa?" Tanya Mathias, karena pikirnya kalau belum waktunya bangun, Ambar tidak akan membangunkannya.
"Yang pastinya, sudah waktunya Mas bangun. Karena belum bicara dengan sopirnya Ibu. Sekarang harus sarapan dulu, baru mandi. Nanti Seni siapin air panas, kalau mau mandi air panas." Ucap Ambar, beruntun. Mathias tersenyum mendengar semua yang dikatakan Ambar.
"Kau seperti Ibu lagi komando Alm. Ayah. Hanya Ibu lebih galak, kalau kami merespon yang disampaikannya dengan lambat." Ucap Mathias, kemudian duduk di tepi tempat tidur untuk bersyukur dan turun dari tempat tidur.
Ambar mengikuti langkah Mathias dengan berjalan cepat untuk mengimbangi langkahnya. Mereka menuju ke ruang makan untuk sarapan.
"Mas sarapan bubur yang sudah kubuat ini, biar cepat pulih." Ucap Ambar, sambil meletakakan semangkuk bubur ayam lengkap dengan tambahan ayam di piring diluar mangkuk. Mathias terkejut dan melihat Ambar.
"Aku tidak suka makan bubur, aku makan roti saja." Ucap Mathias, sambil menyingkirkan mangkuk bubur di depannya.
__ADS_1
"Tidak bisa. Mas coba saja dulu, kalau benar tidak suka, ya sudah. Ngga usah diteruskan. Nanti aku atau Juha yang meneruskannya." Ucap Ambar, tegas. Karena dia tahu, Mathias belum pulih betul saat tadi memeluknya.
"Baiklah. Aku akan coba, tetapi kau ngga usah duduk di situ. Ambil sarapanmu sendiri." Ucap Mathias, karena dia berpikir akan memakannya dengan cepat sebelum Ambar kembali.
Tetapi saat memakannya sedikit, Mathias terkejut. Ternyata bubur yang dibuat Ambar sangat enak. Mathias menghabiskannya dengan senang hati dan menghabiskan juga ayamnya. Sehingga tidak ada bubur dan ayam yang tersisa.
"Thanks, aku tidak pernah mau makan bubur lagi setelah dulu pernah makan di rumah sakit. Kalau bubur yang ini, boleh dibuat untuk sarapan. Aku sangat menyukainya." Ucap Mathias, sambil mengangkat 2 jempolnya kepada Ambar.
"Nanti aku siapin roti dan minum untuk Mas bawa, mungkin lapar dan bisa makan di jalan. Karna Mas pakai mobil, jadi bisa makan di jalan waktu berangkat atau pulang." Ucap Ambar, mengingat Mathias akan naik mobil.
"Oooh iyaa, aku belum hubungi sopir Ibu. Syukur kau bilang mau naik mobil." Ucap Mathias, segera berdiri ke kamar untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi sopir Ibunya.
Setelah sopir Ibunya bersedia mengantarnya ke Cikarang, Mathias mengambil alat cukur untuk mencukur dan siap-siap mandi. Ambar ikut masuk ke kamar, saat tahu Mathias lama tidak keluar dari kamar.
"Mas mau mandi air panas atau biasa saja?" Tanya Ambar yang sudah ada di dalam kamar.
Ambar mengambil kemeja Mathias biru dongker. Karena dia sangat suka melihat Mathias memakainya. Dia meletakan semua keperluan Mathias dan dirinya di atas tempat tidur. Karena dia akan ke kantor agak pagi, agar bisa cepat pulang.
Setelah Mathias selesai mandi, Ambar segera mandi sebelum Juha bangun dan harus bertukar kata dengannya. "Kau mau berangkat pagi juga?" Tanya Mathias, setelah Ambar keluar dari kamar mandi.
"Iyaa, Mas. Supaya aku bisa pulang lebih cepat." Jawab Ambar, sambil mengganti bajunya.
"Kalau begitu, ikut kami saja. Nanti kami akan menurunkanmu di stasiun yang kami lewati. Kau naik kereta saja, ini masih pagi mungkin belum terlalu padat penumpangnya." Ucap Mathias, sambil memeriksa isi tas kerjanya.
"Oooh, iyaa. Data ponselku belum selesai dipindahkan ke ponsel yang baru. Nanti kalau sudah agak santai baru aku pindahkan semuanya." Ucap Mathias, saat melihat ponsel Rulof ada dalam tas kerjanya.
"Ngga papa Mas, ngga usah buru-buru. Yang ini masih bisa dipakai ko'. Mas konsen untuk ke Cikarang saja." Ucap Ambar, sambil dandan seadanya agar Mathias tidak lama menunggunya. Mereka segera berdoa untuk berangkat kerja, karena sopir Bu Titiek telah mengabari sudah tunggu di depan rumah.
*((**))*
__ADS_1
Ambar telah tiba di kantor dan meluruskan kakinya di ruang tunggu kantor, karena kakinya sangat pegal. Tadi di kereta tidak dapat tempat duduk dan sangat padat, sehingga membuat tidak bisa berdiri dengan baik.
Ambar belum masuk ke ruang kerja, karena sedang menunggu Bagas yang keluar cari sarapan. Dia menyesal lupa membawa roti yang ada di rumah untuk Bagas. Setelah Bagas datang dan sarapan, mereka mulai bekerja menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.
"Bu, nanti mau makan siang di luar atau pesan dan makan di sini?" Tanya Bagas menjelang waktu makan siang.
"Kita makan di sini saja, deh. Biar sisa waktunya bisa mengerjakan ini sedikit." Ucap Ambar, sambil menunjuk tumpukan dokumen di depannya.
Ambar berpikir, kalau makan di luar ada waktu yang terbuang. Waktu sisa jam istrirahat bisa dia gunakan untuk menginput beberapa data. 'Toh, ini kantor suami sendiri, jadi tidak usah menggunakan waktu istirahat untuk full beristirahat.' Itu yang dipikirkan Ambar.
"Ibu mau makan siang apa? Biar saya pesan sekalian." Tanya Bagas, karena dia belum tahu selera istri bossnya.
"Saya ikut makan siang sama dengan Bagas saja." Ucap Ambar, karena belum tahu makanan apa yang ada di lingkungan kantor suaminya.
Setelah selesai makan, Ambar dan Bagas masih duduk di ruang tunggu untuk istirahat sejenak.
"Bagas, apakah sudah mulai perekrutan karyawan baru?" Tanya Ambar, untuk lebih mengerti apa yang sedang terjadi di kantor suaminya.
"Sudah, Bu. Tetapi bapak belum memutuskan kapan waktu untuk interview. Sekarang bapak sedang mencari gedung yang lebih besar dari ini. Karna tempat ini sudah mentok, dan kalau mau renovasi juga makan waktu lama. Mendingan cari gedung yang lain saja untuk kantor baru." Ucap Bagas, menjelaskan.
"Apakah bapak sudah punya gambaran mau pindah ke mana?" Tanya Ambar lagi, karena dia tidak tahu Mathias sedang berencana pindah kantor.
"Sudah, Bu. Bapak sudah dapat gedung yang cocok, tinggal tunggu pembayaran. Karena sekarang pejualan apartemennya sedang dalam proses." Ucap Bagas menjelaskan.
"Bapak mau menjual apartemen untuk membeli gedung itu?" Tanya Ambar, terkejut.
"Iyaa, Bu. Bapak tidak mau otak atik kekuangan kantor, jadi beliau sudah menawarkan apartemennya untuk dijual." Ucap Bagas lagi, menjelaskan. Ketika melihat wajah terkejut Ambar, Bagas menjadi was-was. 'Mungkinkah saya terlalu banyak bicara.?' Tanya Bagas dalam hati.
...~●○♡○●~...
__ADS_1