
~•Happy Reading•~
Sebulan kemudian ; Ambar baru saja tiba di restoran, sudah berganti pakaian dan mulai bekerja seperti biasanya. Merapikan dan menata ruang makan restaurant. Setelah selesai dan rapi semuanya, Ambar hendak menghubungi Seni untuk menanyakan kondisi mereka. Apakah Juha sudah bangun dan sarapan atau belum.
Ketika melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Seni, Ambar terkejut. Dia segera menghubungi Seni.
📱"Alloo Seni, ada apa? Tadi Ibu sedang bekerja, jadi ponsel ada di dalam tas." Ucap Ambar menjelaskan, dengan hati cemas.
📱"Syukur, Ibu sudah menelpon. Bapak sakit, Bu. Sekarang ada di Rumah Sakit Rekan Bekasi. Karna Ibu ngga bisa dihubungi, saya meminta tolong tetangga dan mereka mengantar ke sini." Ucap Seni, panik.
📱"Sekarang Ibu ke sana. Apakah Juha ada bersamamu?" Tanya Ambar, mengingat putranya.
📱"Iyaa, Bu. Saya dan Juha ada di Rumah Sakit." Jawab Seni.
📱"Baik, tunggu Ibu di situ.." Ucap Ambar, segera mengakhiri pembicaraannya dengan Seni, kemudian menuju ke ruang kerja Sari untuk minta ijin pulang
Setelah mendapat ijin, Ambar mengganti baju kerjanya dan langsung pesan ojol dari restoran ke Rumah Sakit. Walaupun sangat jauh, dia tidak mau pesan mobil. Karena khawatir macet dan lama baru sampai di Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan, hati Ambar was-was. Apa yang sedang terjadi? 'Selama ini Mas Rulof sehat-sehat saja, karena dari kantor ada chek up rutin. Apakah karena aku telah mengabaikannya?' Ambar membatin dengan khawatir.
Ketika tiba di Rumah Sakit, Ambar disambut pelukan oleh Juha dan tangisan. Ambar memeluk dan mengelus punggung Juha untuk menenangkannya
Seni mendekati Ambar dan menceritakan apa yang terjadi, dan mengatakan Pak Tony tetangganya yang membantu mengantarkan.
Ambar melihat Pak Tony dan istri ada dalam ruang tunggu. Dia segera mendekati mereka dan mengucapkan terima kasih. Bu Tony, menguatkan Ambar dengan mengelus lengannya.
"Ibu, ini dompet bapak. Tadi Pak Tony sudah pakai kartunya untuk mendaftar. Nanti Ibu mengurus selanjutnya." Ucap Seni menjelaskan, dan Ambar menerima dompet tersebut.
"Baik, Seni. Trima kasih. Tolong pegang Juha, Ibu mau mengurus sisanya." Ucap Ambar, dan pamit kepada Pak Tony dan istri. Mereka mengangguk mengerti.
__ADS_1
Ambar teringat kakaknya Rulof, dia langsung mengirim pesan kepada Inge. Tidak lama kemudian, Inge menelpon.
📱"Ada apa dengan Rulof dan kenapa dia bisa sakit?" Tanya Inge terkejut.
📱"Kalau Kak Inge mau tau lebih jelas, datang saja ke Rumah Sakit. Karena sekarang saya mau mengurus administrasi." Ucap Ambar, dan mengakhiri pembicaraan mereka. Karena ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan oleh Ambar.
Ketika membuka dompet Rulof untuk mengambil kartu identitasnya, Ambar terkejut. Di dalam dompetnya hanya ada ktp, kartu asn yang masih baru dan beberapa lembar uang Rp. 50.000,- dan Rp. 100.000,-.
Ambar kembali mendekati Seni untuk menanyakannya. "Seni, tidak ada ATM dalam dompet bapak?" Tanya Ambar pelan, dan Seni mengeleng.
"Baiklah, kalau begitu. Tolong jaga Juha, ya." Ucap Ambar berjalan ke bagian administrasi. Ambar segera mengurus administrasi Rulof, dan kembali ke ruang tunggu.
Setelah sampai di ruang tunggu, sudah ada Inge dan suaminya. "Apa yang kau lakukan kepada adik saya? Kau sengaja tidak mengurusnya bukan?" Tanya Inge, sambil mengoyang tubuh Ambar.
"Tante Inge, lepaskan Mama Juhaa. Nanti Mama Juha sakit." Juha berteriak, sambil menangis dan menarik tangan Inge. Melihat putranya menangis, Ambar menepis tangan Inge dengan kasar dari lengannya dan memeluk putranya.
"Kak Inge itu seharusnya berdoa untuk kesembuhan Mas Rulof yang lagi kritis, bukan bikin ribut di tempat ini. " Ucap Ambar, mulai emosi melihat kelakuan Inge. Sedangkan Rulof masih kritis di ICU.
"Seni, kau pulang ke rumah dengan Juha, dan simpan semua yang penting dari kamar saya di kamarmu. Kunci mobil juga kau simpan di tempatmu." Ucap Ambar, dan Seni mengangguk mengerti.
"Baik, Bu. Saya dan Juha naik ojek saja di depan Rumah Sakit biar cepat sampai rumah." Ucap Seni, dan Ambar menyetujuinya.
"Ok, hati-hati." Ucap Ambar sambil mengelus lengan Seni dan mencium pipi Juha.
Tadi Ambar sudah berbicara dengan dokter tentang kondisi Rulof. Jadi ketika melihat sikap Inge, Ambar jadi khawatir. Oleh sebab itu, dia meminta Seni pulang ke rumah.
Begitu juga dengan Pak Tony dan istrinya hendak pulang. Tetapi melihat sikap ipar Ambar, tidak tega jadi tetap tinggal menemani Ambar. Mereka khawatir, jika Ambar ditinggal sendiri bersama iparnya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ambar yang telah masuk ke ruang tunggu, langsung mendekati Bu Tony dan duduk di sampingnya. Karena dia sudah melihat tatapan tidak suka dari Inge dan suaminya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian keluarga pasian Rulof Kardasa dipanggil dan diberitahukan bahwa Rulof telah meninggal. Ambar langsung jatuh terduduk di lantai. Ibu Tony mengangkatnya dan memeluknya sambil mengelus punggungnya.
Sedangkan Inge menangis histeris sambil memukul tembok. Ketika dilarang oleh security, dia duduk di lantai sambil menangis dan memukul dada suaminya yang mencoba menenangkannya.
Pak Tony dan istri membantu Ambar untuk mengurus jenasah Rulof. "Pak Tony dan Ibu, tolong bantu saya, ya. Nanti semua ini selesai saya akan menyelesaikan dengan bapak." Bisik Ambar pelan kepada pasangan suami istri, tetangganya menahan rasa sedih dan malu.
"Iyaa, Bu Ambar. Nanti baru kita bicarakan, kami akan bantu." Ucap Pak Tony, mencoba menenangkan Ambar.
"Trima kasih, Pak." Ucap Ambar, dan kemudian menghubungi Seni.
"Seni, bapak sudah ngga ada. Tolong bersihkan rumah, ya. Jenasahnya akan di bawa pulang ke rumah. Jangan katakan apa-apa dulu kepada Juha. Minta tolong Pak Syam keluarkan mobil bapak dan titip di halaman rumahnya, ya. Sedangkan kuncinya Seni simpan." Ucap Ambar, sambil air mata membanjiri pipinya.
Kemudian Ambar menghubungi pihak Gereja untuk memberi tahukan kematian Rulof. "Baik, Bu Ambar. Kami turut berduka cita. Nanti kami kirim peti ke Rumah Sakit." Ucap pihak Gereja.
Ambar memberitahukan berita duka juga kepada kantor Rulof. Tidak lama kemudian pihak Gereja datang ke Rumah Sakit dan membantu Pak Tony untuk mengurus proses kepulangan Jenasah Rulof ke rumah.
Ambar masih shock, atas meninggalnya Rulof. Sehingga dia tidak bisa berpikir dengan baik, untuk mengatur segala sesuatu. Dia terus bersama Bu Tony, karena Inge terus mengamuk.
Yang sangat mendukakan hati Ambar adalah karena ada rasa bersalah di hatinya. Beberapa waktu belakangan ini, dia telah mengabaikan Rulof sebagai suaminya.
Setelah semua proses administrasi dan pembersihan jenasah telah selesai, mereka membawa pulang jenasah Alm. kerumah diiringi tangisan tertahan yang memiluhkan dari Ambar.
Setiba di rumah, kursi tenda telah ada. Semuanya disiapkan oleh pihak Rt/Rw, karena Pak Tony telah memberi tahukan pihak Rt/Rw. Sehingga mereka membantu menyiapkan tenda dan kursi, dll.
Ketika peti jenasah di bawa masuk ke dalam rumah, Juha menangis menjerit memanggil Papanya. Semua yang mengantar ikut menangis melihat dan mendengar tangisan Juha. Terutama Ambar, dia memeluk putranya dengan erat sambil menangis.
Sedangkan Inge duduk di lantai dan menangis menjerit sambil memanggil nama Rulof. Suaminya tidak bisa menenangkannya, karena dia balik memukul suaminya.
Dia sudah tidak bisa didiamkan, karena seperti orang yang sudah kehilangan akal. Dia makin menjadi histeris ketika melihat jenasah Rulof yang ada di dalam peti.
__ADS_1
~●○♡○●~