
~β’Happy Readingβ’~
Mathias sedang berusaha untuk beristirahat, karena baru kembali dari Surabaya. Setelah menyelesaikan kasus di perusahaan Erwin Senjaya.
Beberapa waktu belakangan ini, saat bekerja di Surabaya untuk menangani kasus di perusahaan Erwin, Mathias harus bekerja ekstra karena kasusnya ruwet dan rumit. Hal itu membuatnya sangat sibuk dan menguras energi.
Tubuhnya terasa pegal dan tidak bertenaga. Karena selain kurang istirahat, banyak yang dipikirkan dan dikerjakan. Belum lagi berhadapan dengan pengacara lawan.
Mathias masuk ke cabin untuk beristirahat, karena tidak kuat lagi untuk pulang ke rumah. Ketika sedang menyandarkan punggungnya dan berbaring di tempat tidur, ada notifikasi pesan masuk. Mathias mengambil ponsel dari saku celana dan membaca.
"Selamat malam Pak Mathias, ini dengan Ambar. Mohon maaf kalau saya mengganggu." Isi pesan Ambar. Mathias yang telah membaca pesannya, langsung menelpon Ambar. Karena dia terlalu cape' untuk mengetik pesan.
Ketika melihat Mathias menelpon, Ambar langsung meresponnya dan urung naik ke kamar Juha. Dia tidak menyangka Mathias akan menelponnya.
π±"Allooo, Pak Mathias. Selamat malam." Sapa Ambar, saat merespon telpon dari Mathias dan duduk di ruang tamu.
π±"Selamat malam, Bu Ambar. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mathias. Ketika mendengar suara Mathias yang agak serak, Ambar menyadari Mathias mungkin sedang beristirahat.
π±"Pak, kalau sedang istirahat, nanti saya telpon lagi." Ucap Ambar, ragu-ragu.
π±"Tidak apa-apa Bu Ambar. Bicara saja, saya mendengar. Saya agak cape' saja, karena baru kembali dari luar kota." Ucap Mathias, suaranya mulai pelan.
π±"Baik, Pak. Saya mau minta nasehat Pak Mathias tentang mobil Alm. suami saya. Sekarang mobil tersebut mau diambil oleh saudara Mas Rulof. Mereka katakan, Mas Rulof telah menjanjikan mobil itu kepada kakaknya. Karena Mas Rulof akan membeli mobil yang baru untuknya. Menurut Pak Mathias, saya harus bagaimana?" Ucap Ambar, tetapi mendengar suara nafas yang tenang. 'Apakah Pak Mathias tertidur.' Tanya Ambar dalam hati.
π±"Bu Ambar..." Panggil Mathias.
π±"Yaa, Pak Mathias." Jawab Ambar.
π±"Nanti saya telpon lagi, ya. Saya tidur sebentar." Ucap Mathias, karena tiba-tiba merasa sangat mengantuk dan pikirannya tidak bisa menyimak apa yang dikatakan Ambar.
__ADS_1
π±"Baik, Pak. Selamat istirahat." Ucap Ambar, dan mengakhiri pembicaraan mereka dengan perasaan yang tidak enak, karena telah mengganggu Mathias. Ambar langsung menuju kamar Juha untuk membaca cerita untuknya sebelum tidur.
*((**))*
Mathias tertidur dengan nyenyak, sehingga tidak menyadari telah pagi dan sudah waktunya bekerja. Bagas merasa heran, bossnya belum masuk kerja. Dia sudah telpon dan kirim pesan, tidak direspon. Kemudian dia coba mengetuk pintu cabin, dengan harapan bossnya ada tidur di cabin.
Mendengar ketukan di pintu, Mathias membuka matanya perlahan dan mengumpulkan kesadarannya. Kemudian turun dari tempat tidur dan membuka pintu cabinnya.
"Maaf, Pak. Saya mengganggu, apakah bapak ngga papa?" Tanya Bagas ketika melihat bossnya membuka pintu dengan wajah yang baru bangun tidur.
"Iyaa, Bagas. Saya ngga papa, hanya kecapean. Tolong siapkan sarapan untuk saya, ya." Ucap Mathias, mulai merasa lapar.
"Baik, Pak. Silahkan mandi dulu, saya akan siapkan sarapan untuk bapak." Ucap Bagas, kemudian meninggalkan bossnya dengan hati lega. Karena tadi sempat khawatir, bossnya kurang sehat setelah kembali dari Surabaya.
Mathias menutup pintu kamarnya dan ketika melihat jam di dinding, dia terkejut. Sudah hampir jam sepuluh pagi. Dia segera mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dia mengenakan pakaian kerja, dan makan dengan cepat sarapan yang telah disediakan oleh Bagas. 'Kenapa aku bisa tidur sepules itu?' Mahtias bertanya pada dirinya sendiri, karena dia belum pernah tidur sebegitu lamanya, tanpa terjaga sedikit pun.
Dia segera menghubungi Ibunya, karena Ibunya menghubunginya pagi-pagi.
π±"Allooo, Bu. Tadi Ibu menelpon?" Tanya Mathias setelah Ibunya merespon panggilannya.
π±"Iyaa, nak. Tadi Ibu telpon, karena mau ke Rumah Sakit. Apakah Thias masih di Surabaya?" Tanya Ibunya.
π±"Ngga Bu, kemaren sudah kembali ke Jakarta. Cuma agak cape' jadi ngga pulang ke rumah lagi, langsung tidur di cabin. Ini baru bangun, Ibu sekarang di mana?" Tanya Mathias khawatir, kondisi Ibunya.
π±"Ngga papa. Ibu hanya periksa saja, karena merasa ngga enak. Ibu ada bersama suster, mungkin sebentar lagi sudah pulang." Ucap Bu Titiek, agar Mathias tidak khawatir.
π±"Baik, Bu. hati-hati! Nanti selesai kerja, baru Thias pulang." Ucap Mathias, agak lega.
__ADS_1
π±"Thias juga hati-hati. Kalau masih cape' istirahat saja di situ, ngga usah pulang." Ucap Bu Titiek pelan, menahan rasa tidak enak dibagian perutnya.
"Iyaa, Bu. Bilang suster hubungi Thias kalau sudah sampai rumah." Ucap Mathias mengakhiri pembicaraannya dengan Ibunya.
Bu Titiek sudah setahun lebih, telah menjalani operasi pengangkatan kandungan, karena ada semacam tumor/kangker di rahimnya. Hal itu membuat Mathias lebih sering tinggal di rumah orang tuanya untuk menemani Ibunya. Sehingga dia memberikan Angel tinggal di apartemennya yang sering kosong.
Sedangkan ayahnya seorang Jaksa, telah meninggal dalam kecelakaan mobil di Tol Cikampek saat kembali dari Subang. Hal itu membuat Bu Titiek sempat drop, sebelum menjanani operasinya. Hanya Mathias yang bisa menyemangatinya, sehingga Ibunya bersedia operasi dan masih bisa beraktivitas, walau hanya di sekitar rumah dan ditemani suster.
Setelah selesai menghubungi Ibunya, Mathias mencari nomor kontak Ambar yang belum sempat di save dan menghubunginya.
π±"Allooo, Bu Ambar. Maaf, baru bisa menghubungi." Ucap Mathias, ketika Ambar merespon panggilannya.
π±"Allooo, Pak Mathias. Ngga papa, Pak. Trima kasih sudah telpon. Tetapi apakah bisa nanti saya telpon lagi? Karena keluarga Alm. ada di depan pagar. Mereka sudah dari tadi meminta masuk untuk membawa mobilnya." Ucap Ambar, dengan suara yang panik.
π±"Bu Ambar, selama pagarnya terkunci, anda tenang saja. Mereka ada berapa banyak yang datang?" Tanya Mathias, memcoba menenangkan Ambar, karena mendengar sayup-sayup suara ribut dan ketukan pagar.
π±"Sepertinya, mereka ada berempat dengan seorang polisi, Pak. Saya tidak mengetahui jumlah yang pasti, karena mereka berada di balik pagar." Jawab Ambar, mencoba tenang dengan menarik nafas pelan.
π±"Apakah surat-surat mobilnya ada pada anda?" Tanya Mathias, mencoba mengingat apa yang disampaikan oleh Ambar tadi malam.
π±"Ada sama saya, Pak. Apa yang disampaikan Pak Mathias waktu itu, saya mencari surat-surat dan menemukan surat-surat mobil." Ucap Ambar menjelaskan, dan dia merasa tidak enak karena tidak memberi tahukan yang ditemukan kepada Mathias.
π±"Ooh, ok. Apakah anda bisa menyetir mobil?" Tanya Mathias lagi.
π±"Tidak, Pak." Jawab Ambar singkat, karena dia tidak pernah diijinkan membawa kendaraan sendiri.
π±"Kalau begitu, apa yang akan anda lakukan dengan mobil itu?" Tanya Mathias lagi. Karena pikirnya, kalau Ambar tidak bisa menyetir mobil untuk apa punya mobil.
π±"Belum terpikirkan, Pak. Mungkin biarkan saja untuk anak saya." Ucap Ambar pelan dan ragu-ragu dengan pikirannya sendiri. Dia hanya mau pertahankan haknya Juha saja, tanpa berpikir yang lain.
__ADS_1
π±"Begini Bu Ambar. Selagi mobil itu masih ada, mereka akan terus datang untuk mengganggu anda. Karena mereka akan terus datang, sampai mendapatkan mobil tersebut." Ucap Mathias, mengingat dia sering menangani kasus TQ tentang perebutan warisan.
~βββ‘ββ~