
...~β’Happy Readingβ’~...
Ketika mengetahui yang mau perbaiki laptop sudah datang, Mathias masuk ke cabin untuk mengambil hardisk eksternal. Kemudian menghubungi Ambar untuk mengetahui perkembangannya.
π±"Ambar, bagaimana. Sekarang ada dimana?" Tanya Mathias, saat Ambar merespon panggilannya.
π±"Masih di Bank ABS, Mas. Di sini belum selesai." Ucap Ambar pelan, karena masih duduk di depan CS.
π±"Kalau semua sudah selesai, tunggu aku di situ saja, aku akan menjemputmu." Ucap Mathias, tegas.
π±"Iyaa, Mas. Aku akan tunggu di sini." Ucap Ambar dengan hati lega karena Mathias akan menjemputnya. Mathias segera mengakhiri pembicaraannya dengan Ambar, karena Bagas telah datang bersama orang IT.
"Pak, ini orang yang akan melihat laptop dan ponsel bapak." Ucap Bagas, sambil memperkenalkan orang IT kepada bossnya. Mathias menyalami dan mengajak masuk ke ruang kerjanya.
"Ini laptop yang tidak bisa dibuka, karena lupa passwordnya. Tolong dibuka dan pindahkan semua dokumen ke hardisk eksternal ini, ya. Begitu juga dengan ponsel ini, tolong dipindahkan isinya ke hardisk eksternal ini juga." Ucap Mathias, sambil menunjukkan ponselnya.
Bagas segera keluar untuk menyiapkan minuman untuk bossnya, orang IT dan juga dirinya. Dia akan tetap berada di ruang kerja bossnya untuk berjaga-jaga, mungkin bossnya memerlukan sesuatu.
"Pak, apakah semua isi galery di ponsel ini akan dipindahkan juga? Tanya orang IT, setelah bisa membuka ponsel Rulof.
"Iya, pindahkan semuanya saja. Anggap saja ditinggal seperti Hp baru." Ucap Mathias, menjelaskan maksudnya.
"Baik, Pak. Ini silahkan bapak membuat password yang baru." Ucap orang IT, sambil menyerahkan ponselnya kepada Mathias. Dia menerima ponselnya lalu memikirkan password baru.
Tetapi dia memasukan begitu saja ponselnya ke dalam tas kerja. 'Biar nanti Ambar sendiri yang memikirkan passwordnya.' Ucap Mathias dalam hati, karena akan diberikan kepada Ambar.
Tidak lama kemudian, laptop Rulof juga sudah bisa dibuka. Mathias mengambil laptopnya dan memeriksa isinya. Ketika melihatnya, Mathias terkejut. Di dalam laptopnya, tidak ada data yang berarti.
Bisa dibilang laptopnya seperti baru dibeli. "Mas, apakah bisa diketahui, ada yang mengambil data dari laptop ini?" Tanya Mathias curiga. Karena Rulof sebagai seorang kepala bagian tidak mungkin tidak memiliki data di laptopnya.
"Tidak, Pak. Ini sepertinya laptop baru dan belum memasukan banyak data." Ucap orang IT sambil menunjukan jejak Rulof kepada Mathias.
"Apa benar ini laptop orang yang bernama Rulof?" Tanya Mathias lagi, karena masih curiga dengan kondisi laptop Rulof.
"Iyaa, Pak. Ini emailnya." Jawab orang IT sambil menunjukan email Rulof kepada Mathias.
__ADS_1
"Ok, Mas. Trima kasih. Nanti kalau saya ada perlu, tolong dibantu, ya." Ucap Mathias sambil menjabat tangannya.
"Bagas, tolong diantar sekalian diurus yang lainnya, ya." Ucap Mathias, dan Bagas mengerti maksud bossnya untuk membayar jasa orang IT tersebut.
Setelah itu, Mathias memasukan kedua laptop ke dalam tasnya dan beranjak untuk mengunci pintu cabin. Kemudian mengunci ruang kerjanya dan menuju ke ruang kerja Bagas.
"Bagas, orangnya sudah pulang?" Tanya Mathias, saat melihat orang IT tidak ada lagi diruangan Bagas.
"Iyaa, Pak. Semua sudah beres, saya sudah berikan amplop yang bapak titipkan dan beliau titip trima kasih untuk bapak." Jawab Bagas menjelaskan.
"Ok, thanks. Mana helm yang saya minta? Saya mau keluar, nanti baru saya hubungi." Ucap Mathias, lalu menerima helm yang diberikan Bagas kepadanya. Mathias merasa senang, karena Bagas membeli helm yang cocok dengan hatinya.
Kemudian Mathias keluar menuju tempat parkir motor dengan dua helm di tangan. Dia langsung memacu motornya menuju bank dimana Ambar sedang menunggunya.
π±"Ambar, apakah sudah selesai? Aku sudah ada di depan bank." Ucap Mathias, saat menghubungi Ambar.
π±"Iyaa, Mas. aku akan keluar sekarang." Ucap Ambar, sambil beranjak keluar dari bank. Dia merasa senang melihat Mathias telah menunggunya dengan helm baru.
"Pakai dulu helm ini dan naik. Pegangan yang kencang, nanti baru kita bicarakan." Ucap Mathias, saat melihat Ambar hendak berbicara dengannya.
Mathias memacu motornya dengan kecepatan normal ke bank yang dituju. Setelah tiba, Mathias memarkirkan motornya dan memegang Ambar agar bisa turun dengan baik.
Tidak lama kemudian, Ambar menelponnya. Mathias sengaja tidak masuk ke dalam bank. Dia hanya menunggu di tempat parkir.
π±"Yaa Ambar, bagaimana?" Tanya Mathias, saat Ambar menelponnya.
π±"Mas tolong masuk ke sini, ya. Ada yang harus aku bicarakan dengan Mas." Ucap Ambar, panik. Mendengar itu, Mathias langsung masuk sambil menenteng kedua helmnya.
"Ada apa?" Tanya Mathias setelah masuk dan bertemu dengan Ambar.
"Mas. Di sini tidak ada tabungan, tetapi ada deposito. Dan depositonya ada dua, satu nama Alm. dan satunya lagi atas nama Juha." Ucap Ambar, dan Mathias ikut terkejut.
"Kalau begitu, cairkan saja dua-duanya, dan lakukan seperti tadi. Buka rekening di sini satu atas namamu, satu lagi atas nama Juha dan pindahkan semuanya. Nanti baru dipikirkan lagi, mau dideposito atau tetap ditabung kita bicarakan di rumah." Ucap Mathias cepat, tanpa menanyakan berapa banyak uang depositonya.
Ambar segera menemui CS dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh Mathias. "Tetapi kalau Ibu cairkan sekarang, akan kena potongan karena depositonya belum jatuh tempo, Bu." Ucap CS menjelaskan.
__ADS_1
"Iyaa, Bu. Ngga papa, dicairkan saja." Ucap Ambar. Dia sendiri tidak menyangka akan dapat uang, jadi kalau kena potongan juga tidak mengapa baginya.
Dia membuat rekening seperti yang dikatakan oleh Mathias. Kemudian diproses oleh pihak bank. Ambar menemui Mathias untuk duduk menunggu bersama-sama dalam diam.
Semua yang terjadi hari ini diluar perkiraan Ambar dan Mathias, membuat mereka masing-masing berpikir sendiri dengan situasi yang sedang terjadi.
"Selamat siang Bu, Ibu diminta menemui kepala kantor." Ucap Security yang tiba-tiba datang menemuinya. Ambar refleks melihat kepada Mathias.
"Masuk saja, kalau ada apa-apa hubungi aku sebelum tanda tangan sesuatu. Aku akan keluar sebentar untuk cari minuman." Ucap Mathias, dan segera keluar setelah Ambar masuk ke ruangan kepala kantor. Mathias tahu, sekarang mereka memerlukan minuman.
Di dalam ruang kepala kantor, Ambar duduk tidak tenang. Dia berpikir, apakah ada hutang jadi harus dipotong tabungannya. 'Tetapi biarlah, asal masih sesuai dengan depositonya.' Ucap Ambar dalam hati. Lalu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkannya.
"Selamat siang Bu Ambar, kami turut berduka cita atas meninggalnya Pak Rulof. Kami mohon maaf, baru ucapkan sekarang, karna baru tau dari Ibu." Ucap kepala kantor, ramah.
"Trima kasih, Pak." Ucap Ambar, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Kepala kantor mengangguk, melihat sikap baik dari Ambar.
"Sekarang karena Pak Rulof Kardasa telah meninggal, kami akan menyerahkan Safe Deposit Box (SDB) Pak Rulof kepada Ibu." Ucap kepala kantor lebih lanjut, sambil melihat Ambar.
Ambar terhenyak, mengetahui Rulof ada memiliki SDB. Mengetahui ada uang deposito saja sudah membuatnya shock. Sekarang ada memiliki SDB lagi.
"Maaf, Pak. Apakah saya harus menanda tangani sesuatu?" Tanya Ambar mengingat yang dikatakan Mathias.
"Iyaa, Bu. Karena Ibu yang akan mengambil SDB tersebut, jadi Ibu harus menanda tangani surat pengambilannya." Ucap kepala kantor.
"Sebentar, ya, Pak. Saya mau hubungi keluarga saya dulu." Ucap Ambar, kemudian menghubungi Mathias.
π±"Mas, ini Alm. ada punya safe deposit box juga dan saya diminta tanda tangan untuk mengambilnya." Ucap Ambar, saat Mathias merespon panggilannya.
π±"Oooh, iyaa. Tanda tangan saja dan minta kantong untuk mengisi semuanya. Nanti sampai di rumah baru kita lihat dan bicarakan." Ucap Mathias, cepat tegas saat mendengar yang di katakan Ambar. Mathias mengakhiri pembicaraan mereka.
"Baik, Pak. Apakah saya bisa minta tempat untuk memasukan isi kotaknya?" Tanya Ambar.
"Bisa, Bu. Silahkan Ibu tanda tangan di sini, nanti saya akan mengantar SDB nya untuk Ibu." Ucap kepala kantor, kemudian membawa surat yang telah ditanda tangani oleh Ambar.
Ambar dibiarkan sendiri memasukan semua isi SDB ke dalam kantong yang diberikan kepala kantor. Ambar menuang semua isinya tanpa melihat lagi isinya. Dia masih tidak percaya dengan semua yang diterimanya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Ambar keluar meninggalkan kepala kantor menemui Mathias yang sedang menunggunya dengan wajah yang tidak bisa digambarkan.
...~βββ‘ββ~...