
~•Happy Reading•~
Sejak pagi Ambar telah tiba di restoran tempatnya bekerja. Dia sudah mengenakan baju seragam restoran dan mulai beraktivitas. Membersihkan, manata kembali meja kursi dan menyiapkan semua perangkat yang harus diletakan di setiap meja.
Sari yang baru masuk kerja, senang sekali melihat kinerja Ambar. Dia tidak menyangka, Ambar begitu cepat belajar dan sangat cekatan. Dia tahu apa yang harus dikerjakannya, tanpa di suruh.
Para karyawan lama merasa senang dengan kehadiran Ambar. Mereka jadi termotivasi untuk bekerja, tidak perlu dikomando lagi. Melihat itu, Sari tersenyum dalam hati. Ambar tidak menyia-nyiakan kepercayaannya. Sekarang ketika tiba jam buka restoran, semua ruangan sudah bersih, rapi dan wangi.
Terutama hari ini, pukul 09.00 wib. ruangan restoran sudah siap. Tinggal tunggu di buka pada pukul 10.00 wib. Ketika Ambar melihat Sari telah masuk kerja, Ambar segera menemuinya.
"Selamat pagi Bu Sari. Bisakah kita berbicara sebentar?" Tanya Ambar, mendekati Sari yang sedang berbicara dengan beberapa karyawan lainnya. Kalau ada di depan karyawan lain, Ambar selalu menyapa Sari dengan Ibu.
"Baik, mari ikut ke ruanganku." Ucap Sari, karena sepertinya Ambar sedang memerlukan sesuatu. Ambar berjalan mengikuti Sari ke ruangannya.
"Bagaimana, Ar? Ada yang bisa aku bantu." Tanya Sari, setelah mereka duduk di ruangannya.
"Iyaa, Ri... Mau minta ijin untuk keluar sebentar. Aku mau ngurus buku tabungan dan nomor rekeningku." Ucap Ambar, menjelaskan alasan ijinnya.
"Ooh iyaa... Kau belum berikan Nomor rekeningmu, sedangkan akhir minggu kau sudah mau gajian." Ucap Sari, mengingat Ambar belum memberikan nomor rekeningnya.
"Iyaa, Ri... Makanya ini mau minta ijin ke bank sebentar, jika diijinkan." Ucap Ambar lagi.
"Iyaa, ngga papa... Karna semua sudah rapi, nanti yang lain akan membuka restoran dan melayani sampai kau datang." Ucap Sari, mengijinkan.
"Trima kasih, Ri... Aku akan secepatnya kembali." Ucap Ambar lalu keluar dari ruangan sari. Ambar mengambil tas dan membukanya sebentar untuk memeriksa isinya. Kemudian dia pesan ojol untuk mengantarnya ke Pasar Baru.
Ketika tiba di tokoh Emas & Berlian tempat dimana dia membeli semua perhiasannya, Ambar membuka kotak perhiasannya dan menunjukan kepada karyawan yang melayaninya. Karyawan tersebut terkejut melihat isi kotak perhiasan Ambar. Perhiasan emas dari berbagai jenis asesioris.
Semua perhiasan itu, Ambar beli dengan uang Resepsi Pernikahannya 6 tahun yang lalu. Saat itu Rulof menyuruhnya menghitung dan menyimpannya. Tetapi karena melihat keluarga Rulof yang sering datang minta uang dan Rulof menyurunya memberikan dari uang hasil resepsi tersebut, Ambar membeli perhiasan dengan uang yang tersisa.
__ADS_1
Sehingga ketika keluarganya membutuhkan uang lagi, sudah tidak ada uang tunai di tangannya. Ambar katakan kepada Rulof, dia telah membeli perhiasan dengan sisa uangnya sebagai kenang-kenangan pernikahan.
Ketika Ambar melihat harga emas yang sudah naik berkali-kali lipat, dia mengambil satu set perhiasan yang terdiri dari: kalung, liontin, cincin dan anting yang dibelinya dengan harga yang cukup mahal saat itu. Dia memasukannya lagi ke dalam kotaknya, sebgai kenang-kenangan. Dia tidak jadi menjualnya, karena dia sangat menyukai kalung, liontin, cincin dan anting tersebut saat membelinya.
Rulof tidak pernah tahu satu set perhiasan tersebut, karena Ambar menyimpannya di bagian bawa perhiasan lainnya. Sehingga jika tidak diangkat perhiasan yang di atasnya, tidak akan terlihat kotak hitam kecil di bawahnya.
"Ibu, apakah semua ini mau di jual?" Tanya pelayan, ketika melihat Ambar mengambil kotak satu set perhiasan dan memasukan ke dalam tasnya.
"Iyaa, Ko... Ini semua saya jual, yang tadi saja yang mau saya simpan." Ucap Ambar, dan pelayan tokoh tersebut mengangguk mengerti.
"Ini semua, jumlah yang akan Ibu terima." Ucap pelayan itu lagi, setelah menghitung semua perhiasan dengan harga emas yang sekarang. Mereka telah memeriksa kwitansi pembelian serta perhiasannya. Semua perhiasannya masih dalam keadaan baik, karena Ambar jarang mengenakannya. Hanya beberapa diantaranya yang pernah Ambar kenakan satu sampai dua kali ke pesta pernikahan teman kantor Rulof.
"Ibu mau uangnya kami transfer atau dibayar secara tunai?" Tanya pelayannya lagi.
"Dibayar tunai saja, Ko'." Jawab Ambar mencoba bersikap tenang, padahal jantungnya sedang berdegup kencang membayangkan banyaknya uang yang akan di bawanya.
Setelah di hitung oleh pelayan di mesin hitung uang, dia memasukan kedalam kantong coklat dan menyerahkannya kepada Ambar.
"Iyaa, Ko'... Trima kasih." Ucap Ambar, dan meninggalkan toko perhiasan.
Ambar langsung ke Bank yang terdekat dengan toko perhiasan tersebut untuk menabungnya. Agar tidak beresiko, ketika membawanya berjalan jauh.
Dia berbicara dengan petugas Bank yang menanyakan asal uang yang dibawanya dan membuka rekening baru, akhirnya Ambar tidak menabung semuanya. Ada yang ditabung, dia juga menyimpan sedikit uang tunai untuk mengganti uang Seni dan sebagian lagi disimpan dalam bentuk deposito.
Setelah semuanya selesai dan telah memegang ATM, Ambar segera pesan ojol untuk kembali ke restoran. Ambar bersyukur, jalanan lancar sehingga dia tiba di restoran tidak terlalu terlambat. Dia tiba di restoran sebelum tiba waktu makan siang.
Ambar segera menemui Sari di ruangannya.
"Trima kasih, Ri. Aku sudah kembali dan ini nomor rekeningku." Ucap Ambar, sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor rekeningnya. Dia telah mencatat nomor tersebut di secarik kertas saat masih di bank.
__ADS_1
"Ok, kau istirahat dulu sebelum waktu makan siang tiba." Ucap Sari, melihat wajah Ambar masih memerah.
"Tidak usah, Ri. Aku minum saja dan langsung kerja bersama teman-teman." Ucap Ambar, dan segera keluar dari ruangan Sari untuk mengambil minum. Sari hanya mengangguk mengiyakan.
Ambar duduk minum, sambil menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
'Trima kasih, Tuhan. Aku sudah tiba dengan selamat di restoran ini.' Ucap syukur Ambar dalam hati. Karena tadi dia sangat was-was saat membawa perhiasan dan juga saat membawa uang yang banyak.
Sepanjang jalan dia berdoa tidak amin-amin, karena dia belum pernah memegang uang sebanyak itu. Kini hatinya agak lega, karena bisa mengatur kebutuhannya dan Juha.
Dia teringat belum telpon Seni, untuk mengecek makan siang mereka. Dia mengambil ponsel lalu segera menghubungi Seni.
📱"Allooo, Seni. Lagi bikin apa?" Tanya Ambar, ketika Seni merespon panggilannya.
📱"Allooo, Bu. Ini baru selesai masak untuk Seni dan Juha, Bu." Jawab Seni.
📱"Oooh, syukur deh. Kalian berdua baik-baik, kan?" Tanya Ambar.
📱"Baik, Bu... Oh iya, Bu. Tadi bapak pulang seperti orang kelaparan." Seni menceritakan kejadian yang terjadi di rumah.
📱"Maksudnya, gimana Seni?" Tanya Ambar, tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Seni.
📱"Begini Bu, tadi bapak pulang dan minta makan. Karna tidak ada makanan, bapak mau makan mie instan dan minum teh, Bu. Padahal selama ini, bapak tidak suka teh dan mie instant." Ucap Seni menjelaskan.
"Oooh, iya... Nanti pulang baru Seni cerita, yaa. Kalian makan dulu, sekarang Ibu mau kerja. Hati-hati di rumah, ya." Ucap Ambar.
"Iyaa, Bu. Ibu hati-hati juga." Ucap Seni, dan Ambar mengakhiri pembicaraan mereka. Tetapi Ambar sempat berpikir, kenapa Rulof bisa mau makan mie instan dan minum teh. Karena selama ini, kalau disediakan makanan dan minuman itu, dia akan marah besar.
Makanya kalau setiap belanja bulanan, dia tidak pernah membeli mie instan. Kalau mereka mau makan, beli sendiri di warung. 'Kenapa tadi lupa tanya Seni, Rulof pulang jam berapa dan sekarang ada di mana.' Ambar membatin, sambil melangkah ke dapur untuk membantu rekan kerjanya yang sudah mulai sibuk.
__ADS_1
Ambar berusaha untuk konsentrasi bekerja, karena tamu restoran mulai ramai. Dia melupakan sejenak persoalan yang ada di rumah. Karena dia tidak mau terjadi sesuatu saat sedang bekerja.
~●○♡○●~