
...~•Happy Reading•~...
Ketika melihat Ambar tertawa, hati Mathias sedikit lega. Karena dia mengkhawatirkan Ambar semenjak keluar dari bank. Sehingga dia mencoba bercanda dengan Bagas untuk mengalihkan pemikirannya dari yang ditemuinya di bank.
"Ambar, tolong ke ruanganmu dan rapikan yang perlu, ya. Aku mau bicara sebentar dengan Bagas." Ucap Mathias dan melepaskan pelukannya dari Ambar. Ambar mengerti dan berdiri dari pangkuan Mathias, lalu keluar menuju ruang kerja Bagas yang telah menjadi ruang kerjanya juga.
Mathias memberikan kode kepada Bagas untuk mendekat ke meja kerjanya, karena ada yang akan disampaikan Mathias kepadanya. "Bagas. Tadi aku sedang menghibur Bu Ambar, karna kami baru pulang dari bank. Ternyata perhiasan yang dibeli untuk Angel itu, Alm. beli pakai kartu kredit. Jadi sekarang harus dicicil oleh Bu Ambar." Ucap Mathias menjelaskan, membuat Bagas melongo.
"Kalau soal menyicilnya tidak masalah, ada uang Alm. yang ditinggalkan untuk Bu Ambar dan anaknya sehingga bisa membayar cicilannya. Tetapi yang jadi pemikiran itu, Bu Ambar tadi sangat shock. Karna mengetahui suaminya membeli perhiasan yang mahal untuk wanita lain, saat dia sendiri tidak memegang uang yang banyak." Ucap Mathias lagi, menjelaskan.
Mathias tahu, perhiasan itu dibeli oleh suami orang dan saat itu sangat marah kepada Angel yang morotin suami orang. Tetapi ketika suami orang adalah Rulof dan dia membeli memakai kartu kredit, Mathias tetap terkejut.
"Yang saya khawatirkan sekarang, semoga Bu Ambar tidak melihat tanggal pembelian perhiasan itu. Karena saya ingat, hari itu Bu Ambar baru masuk kerja di tempat saudara saya. Sedangkan suaminya sedang ke tempat perhiasan di Sency dan membeli perhiasan mahal untuk wanita lain." ucap Mathias khawatir, karena bisa mengerti betapa marahnya Ambar.
"Keterlaluan, benar-benar keterlauan." Hanya itu yang diucapkan Bagas mendengar penjelasan bossnya. Dia tidak menyangka, istri bossnya baru masuk kerja saat itu dan suaminya sedang makan siang gatal manja dengan Angel di Sency.
"Yaaa, dua-duanya keterlaluan. Satu keterlaluan karna tidak punya perasaan, yang satunya keterlaluan karna bodoooh... Kalau dia masih hidup, mungkin yang tinggal hanya seragam dinasnya. Atau dia akan tinggal di rumah dengan hanya mengenakan ******, karna dipecat." Ucap Mathias geram, dan menggelengkan kepalanya membayangkan hal itu.
"Memang mereka pasangan keterlaluan." Ucap Bagas, segera berdiri untuk keluar dari ruangan bossnya dengan geram dan juga marah.
"Eeehh, Bagas. Tadi kau ke sini mau bicara apa dengan saya?" Tanya Mathias, mengingat kedatangan Bagas ke ruangannya.
"Nanti saja, Pak. Saya mau keluar beli sesuatu untuk menghibur Bu Ambar." Ucap Bagas, segera keluar dari ruangan bossnya. Mathias hanya bisa tersenyum dan merasa senang, Bagas bisa mengerti kondisi Ambar.
__ADS_1
Setelah ditinggal Bagas, Mathias membuka laptop dan mengambil Hardisk eksternal Rulof untuk memeriksanya. Mathias memeriksa satu persatu dokumen yang di simpan oleh Rulof. Ternyata, lebih banyak tranksasi jual beli tanah dan dokumen kantor.
Tranksasi jual beli tanah yang lebih menjadi perhatian Mathias. Sedangkan dokumen tentang pekerjaan kantornya belum menjadi perhatiannya. Karena dia sedang menyelidiki keabsahan uang tabungan yang ditinggalkan oleh Rulof. Agar Ambar dapat mengunakan atau mengaturnya tanpa rasa curiga atau berprasangka buruk tentang uang yang ditinggalkan Rulof.
Ketika Mathias melihat sumber dana Rulof, Mathias menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya dengan hati yang lega. Sedikit banyak sumber dananya jelas.
Mathias memasukan kembali hardisk eksternal ke dalam tasnya dan mulai mempelajari kasus Pak Heru yang sedang ditanganinya. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya kembali diketuk.
"Masuuuk... Ada apa Bagas?" Tanya Mathias, saat melihat Bagas telah masuk ke dalam ruang kerjanya kembali.
"Tadi itu saya mau menanyakan bapak, karna asisten Pak Erwin telpon dan menanyakan apakah bapak bisa menangani kasus perceraian atau tidak." Ucap Bagas, menjelaskan.
"Teman bisnis bossnya ada yang mau bercerai dan sedang mencari pengacara. Pak Erwin minta asistennya tanya ke saya, mungkin Pak Mathias bisa menanganinya." Ucap Bagas menjelaskan maksud telpon dari asisten Pak Erwin.
"Baik, Pak. Itu yang pertama, yang kedua mengenai gedung yang bapak cari, tadi pemiliknya menghubungi saya. Beliau menanyakan, kapan bapak mau ke sana untuk melihat gedungnya." Ucap Bagas, lagi. Mathias refleks melihat jam di ponselnya.
"Tolong kau hubungi beliau, kalau sekarang saya ke sana, beliau ada di tempat atau tidak." Tanya Mathias, karena melihat jam masih keburu sebelum jam pulang kantor.
"Baik, Pak. Nanti saya kabari bapak, setelah dapat info dari beliau." Ucap Bagas, segera berdiri dan hendak meninggalkan bossnya untuk kembali ke ruang kerjanya.
"Bagas, Bagaass. Kau hubungi beliau di sini saja. Karna Bu Ambar ada di ruanganmu. Nanti semuanya sudah beres, baru saya bicarakan dengan Bu Ambar. Kalau untuk sekarang, jangan dulu beliau tau." Ucap Mathias, teringat ada Ambar di ruang kerja Bagas.
"Baik, Pak." Ucap Bagas, kemudian kembali duduk di sofa dalam ruangan Mathias dan mengotak-atik ponselnya untuk mencari nomor telpon pemilik gedung yang harus dihubunginya.
__ADS_1
"Ok., kau kembali ke ruang kerjamu dan tidak usah bilang ke Bu Ambar tujuanku mau keluar sekarang. Kau tolong temani Bu Ambar sampai saya kembali." Ucap Mathias, setelah Bagas menelpon dan mendapat kepastian dari pemilik gedung akan menunggunya.
Bagas kembali ke ruang kerjanya dengan hati yang senang dan berharap, bossnya sukses mendapatkan gedungnya agar mereka bisa pindah ke tempat yang lebih baik.
Tidak lama kemudian, Mathias telah mengenakan jacket dan membawa helm di tangan masuk ke ruang kerja Bagas. "Ambar, aku mau keluar sebentar. Kau tunggu di sini sampai aku kembali, ya. Bagas, tolong temani Ibu dan beli sesuatu di sebelah untuk kalian makan.
"Ngga usah pikirkan kami, nanti kami beli sesustu kalau lapar, tenang saja." Ucap Ambar, sambil mengangkat kedua tangannya seakan sedang mendorong Mathias. Melihat itu, Bagas pun ikut melakukan hal yang sama, ikut mendorong bossnya.
Mathias keluar dari ruang kerja Bagas sambil tersenyum dan berjalan cepat ke tempat parkir motornya. Dia bersyukur, jalanan belum terlalu padat dengan kendaraan. Sehingga dia bisa memacu motornya dengan kecepatan di atas normal menuju daerah Kuningan.
Karena Mathias tidak ada di dalam kantor, Ambar pergunakan itu untuk berbicara dengan Bagas setelah melihat semua data keuangan kantor Mathias.
"Bagas. di sini ada banyak pengeluaran untuk kasus TQ, tetapi tidak ada pemasukannya. Saya tidak mengerti, kasus yang berlebel TQ ini." Tanya Ambar, karena sudah banyak kali dia temukan data keuangan dengan lebel itu.
"Ooh, itu Bu. Semua kasus yang dilebelin TQ itu, hanya ada pengeluarannya. Karna itu bantuan hukum gratis yang bapak berikan kepada orang yang berperkara tetapi tidak mampu membayar pengacara." Ucap Bagas, menjelaskan agar Ambar mengerti. Karena akan menemui banyak lebel TQ dalam data keuangan.
Ambar mengangguk mengerti dan mengingat kehadirannya pertama kali di kantor Mathias. Sari merekomendasinya ke sini, karena bisa mendapat bantuan hukum secara gratis. Jadi bukan seperti dia yang hanya konsultasi hukum, karena ada banyak kasus TQ yang harus diselesaikan di pengadilan.
Ambar makin mengaggumi suaminya, yang masih memikirkan hal itu. 'Padahal kalau mau, waktunya bisa digunakan untuk menyelesaikan kasus-kasus yang mendatangkan banyak uang.' Ucap Ambar dalam hati.
"Bagas, apakah bapak sekarang masih menerima kasus-kasus seperti itu? Karena di sini, bapak menangani banyak kasus yang menghasilkan banyak duit." Tanya Ambar lagi, karena data keuangan menunjukan pekerjaan kantor Mathias.
"Masih, Bu, Tetapi bapak menyeleksi yang penting saja dulu yang diutamakan. Karna kami kekurangan tenaga pengacara. Kadang bapak minta tolong temannya yang bersedia membantu." Ucap Bagas lagi, menjelaskan.
__ADS_1
...~●○♡○●~...