
...~•Happy Reading•~...
Mathias yang sedang duduk menunggu, melihat Ambar keluar dari ruangan kepala kantor, segera mendekatinya dengan minuman di tangan.
"Ini minum dulu, nanti di rumah baru kita bicarakan. Apakah masih ada yang belum selesai?" Tanya Mathias, mengalihkan pikiran Ambar agar bisa menenangkannya. Mathias melihat Ambar sangat shock dengan apa yang sedang terjadi.
"Trima kasih, Mas. Belum, yang depositonya belum selesai." Ucap Ambar, sambil mengambil air mineral yang diberikan Mathias dan langsung meminumnya dengan perlahan.
Ambar sangat bersyukur, Mathias bisa mengantarnya untuk melakukan semua ini. 'Entah apa yang akan terjadi, jika aku sendiri yang datang.' Ucap Ambar dalam hati, sambil melihat Mathias.
"Mana nomor telpon Seni, tolong berikan untukku." Ucap Mathias yang selama ini, lupa minta nomor telpon Seni. Ambar memberikan nomor telpon Seni dengan menunjukan ponselnya kepada Mathias.
Mathias mencatat nomor telpon Seni di ponselnya dan memberikan kembali ponsel Ambar. Kemudian Mathias langsung menghubungi Seni.
📱"Alloo, Seni. Ini saya, tolong siapkan makan siang, ya. Sebentar lagi kami akan pulang." Ucap Mathias, saat Seni merespon panggilannya.
📱"Iyaa, Pak. Apakah bapak ada dengan Ibu?" Tanya Seni, karna dia sedang khawatir, Nyonyanya belum menghubunginya. Dia sudah kirim pesan dan telpon, Nyonyanya tidak merespon. Lalu sudah lewat jam makan siang, Nyonyanya belum menghubunginya seperti biasa kalau lagi di luar.
📱"Iyaa, Ibu ada bersama saya. Sedikit lagi selesai, kami akan segera pulang." Ucap Mathias, melihat Ambar telah dipanggil dan sedang berbicara dengan CS.
📱"Baik, Pak. Saya akan siapakan makan siang." Ucap Seni, karena tidak menyangka majikannya belum makan siang. Mathias segera mengakhiri pembicaraan mereka.
Kemudian dia menghubungi Bagas sambil menunggu Ambar selesai.
📱"Bagas, nanti sore mungkin saya tidak kembali ke kantor. Jadi kalau sudah jam pulang kantor, kau langsung pulang saja. Jangan lupa kunci pintu dan matikan lampu." Ucap Mathias mengingatkan.
📱"Baik, Pak. Nanti tolong bapak periksa email, ya. Saya ada email dokumen yang kurang." Ucap Bagas, kemudian Mathias mengakhiri pembicaraan mereka karena Ambar telah berdiri dan berjalan mendekatinya.
"Apakah sudah selesai semuanya?" Tanya Mathias, saat Ambar sudah dekat dengannya.
__ADS_1
"Iyaa, Mas. Sudah. Mari yang ini aku pegang." Ucap Ambar, sambil mengambil kantong dari Bank IDARI, yang sedang dipangku oleh Mathias. Karena Mathias sedang memegang dua buah helm.
Kemudian mereka berdua segera ke tempat parkir dalam diam untuk pulang ke rumah. Ambar meletakan Kantong dari bank diantara dirinya dan Mathias. Kemudian dia memakai helm dan memeluk Mathias.
"Kita sudah bisa jalan?" Tanya Mathias, saat Ambar telah memeluknya.
"Iyaa, Mas. Sudah." Ucap Ambar, kemudian menurunkan kaca helm dan Mathias menjalankan motornya meninggalkan tempat parkir bank.
Setelah tiba di rumah, Mathias memegang Ambar agar bisa turun dengan baik dari motornya. Kemudian Mathias memarkir motor dan masuk ke rumah, karena Seni telah menutupi pagar rumah.
"Ambar, semuanya taruh di kamar dan kita makan dulu. Ini sudah lewat jam makan siang." Ucap Mathias, dan Ambar menurut. Karena baru sekarang dia merasa lapar. Tadi terlalu tegang, sampai dia tidak menyadari, telah lewat waktu makan siang.
Setelah makan, Mathias masuk ke kamar karena melihat Seni akan berbicara dengan Ambar. "Bu, apakah Ibu baik-baik saja? Saya menghubungi Ibu dari tadi, karna tidak tahu Ibu sedang bersama bapak." Ucap Seni menjelaskan.
"Iyaa, Seni. Ibu baik-baik saja. Tadi ada sesuatu yang terjadi, sampai Ibu tidak sempat melihat Hp. Nanti baru kita bicara, ya. Ibu mau istirahat sebentar." Ucap Ambar, kemudian meninggalkan Seni yang cemas. Karena melihat kondisi Nyonya dan majikannya lebih banyak diam, tidak bercanda seperti biasanya.
"Mas, mau disiapkan baju kantor atau rumah?" Tanya Ambar, saat Mathias telah keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.
"Tidak usah disiapkan, nanti aku mengambilnya sendiri. Sekarang kau mandi juga, agar bisa istirahat." Ucap Mathias, sambil berjalan ke arah lemari. Ambar mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk mandi seperti yang dikatakan Mathias.
Saat keluar dari kamar mandi, Mathias telah berbaring di atas tempat tidur. Ambar mengganti bajunya dan melihat ke arah Mathias. "Mariiii, berbaring sejenak di sini." Ucap Mathias, sambil menepuk tempat tidur di sampingnya.
Ambar naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Mathias. Kemudian Mathias memeluknya., sambil mengelus punggungnya untuk menenangkannya.
Menerima perlakuan Mathias, Ambar menangis dalam pelukan Mathias. Semua yang dialaminya membuat dia tidak kuat menerimanya. "Sudah, tenangkan dirimu dan coba istirahat. Saat ini aku belum bisa berpikir, jadi istirahatkan pikiran kita, supaya nanti bisa berpikir." Ucap Mathias, sambil terus mengelus punggung Ambar.
Mathias sendiri masih shock dengan apa yang terjadi, sehingga belum bisa mencerna semuanya. Dia pernah berpikir mungkin ada simpananan tabungan Rulof di bank yang dia temukan, tetapi tidak menyangka dalam jumlah yang banyak.
Ketika merasa Ambar sudah mulai tenang, Mathias mulai mengurut satu-satu dalam pikirannya. Akhirnya dari pemikirannya, ada satu pertanyaan besar. 'Siapa sebenarnya Rulof, sehingga bisa memiliki simpanan bank yang begitu banyak?' Mathias mulai waspada, memikirkan Ambar dan Juha.
__ADS_1
Tanpa terasa, Mathias juga ikut tertidur karena kelelahan berpikir. Mereka terkejut bangun oleh ketukan di pintu dan suara panggilan Juha. Mendengar itu, Mathias yang terbangun langsung membangunkan Ambar.
"Ambar, bangun. Itu dicari Juha." Ucap Mathias, sambil menepuk lengan Ambar. Ambar membuka matanya perlahan dan mengumpulkan kesadarannya, kemudian bangun untuk membuka pintu kamarnya.
"Mama sakit?" Tanya Juha, saat Ambar membuka pintu kamar dengan muka bangun tidur.
"Ngga, sayang. Mama hanya cape' saja." Ucap Ambar, agar Juha tidak khawatir. Juha berlari senang ke arah Mathias, saat melihat Mathias sedang berbaring di tempat tidur.
"Papathias cape' juga?" Tanya Juha, yang sudah ada dalam pelukan Mathias.
"Iyaa, sedikittt. Tetapi sekarang sudah berkurang karna Juha datang." Ucap Mathias, sambil menelus kepalanya. Juha tertawa senang, menerima perlakuan Mathias.
"Sekarang mari kita bangun, nanti Papathias minta Mama pesan roti untuk kita." Ucap Mathias, sambil memberikan kode kepada Ambar untuk memesan roti untuk mereka.
Tidak lama kemudian Mathias bangun dan menggendong Juha keluar dari kamar menuju ruang makan. "Sebentar lagi, Papathias sudah ngga bisa gendong Juha karna cepat sekali besarnya." Ucap Mathias, sambil mencoel pipi Juha yang cabi dan menggemaskan.
"Juha mau makan yang banyak, supaya cepat besar seperti Papathias. Bisa naik motor, breem .., breeem .., breeemm." Ucap Juha, sambil meniru suara motor Mathias dan juga menggerakan tangannya. Ambar dan Seni tersenyum melihat yang dilakukan Juha.
Mathias menurunkan Juha untuk duduk di kursi meja makan, karena Seni sudah membuat kopi instan untuknya dan roti yang dipesan Ambar sudah datang.
Kemudian Mathias menghubungi suster untuk mengecek Ibunya. Setelah mengetahui kondisi Ibunya baik-baik saja, Mathias merasa lega. Seharian dia tidak sempat mengecek kondisi Ibunya, karena kondisi Ambar yang tidak terduga.
"Seni, tolong ajak Juha bermain atau belajar ya. Ada yang mau kami bicarakan dan selesaikan." Ucap Mathias, kemudian mengajak Ambar ke kamar setelah mereka selesai minum.
"Ambar, coba perlihatkan buku tabungan yang di Bank ABS. Berapa banyak tabungan Papa Juha di sana?" Tanya Mathias ingin tahu, karena Ambar tidak menyebut angka kepadanya saat menelpon. Dia hanya mengatakan banyak, dan banyak bagi masing-masing orang relatif.
Ambar mengambil tasnya, mengeluarkan buku tabungan dari Bank ABS dan memberikannya kepada Mathias. Ketika melihat kedua buku tabungan tersebut, Mathias melihat wajah Ambar seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya.
...~●○♡○●~...
__ADS_1