
~•Happy Reading•~
Setelah kakaknya berangkat ke bandara, Bu Enna ke kamar Angel dan memanggilnya : "Angel, mari makan." Ucap Bu Enna pelan, agar Angel mau keluar dari kamarnya.
Angel keluar kamar dan menuju ke meja makan. "Tante, ko' sepi... Om, Papa dan Mama ke mana?" Tanya Angel, saat duduk berdua dengan Tantenya di meja makan.
"Kau makan saja, dulu. Kami semua sudah makan." Ucap Bu Enna masih pelan. Angel mengambil perangkat makan, nasi, lauk pauk, dan makan. Dia bersikap, seakan tidak mengetahui sedang diperhatikan oleh Tantenya.
Bu Enna terus memperhatikan Angel. 'Sangat disayangkan, wajahnya yang cantik tidak dipergunakan dengan baik.' Ucap Bu Enna dalam hati, karena menurutnya Angel sangat cantik.
"Angel... Apakah kau tidak pernah berdoa sebelum makan?" Tanya Bu Enna heran, saat Angel hendak memasukan makanan ke mulut tanpa berdoa. 'Selama ini aku tidak memperhatikannya.' Ucap Bu Enna dalam hati.
Angel meletakan kembali sendoknya ke piring dan menutup matanya seakan berdoa untuk menyenangkan hati Tantenya. Juga supaya lekas selesai makan dan berdiri dari meja makan. Karena dia mulai merasa risi diperhatikan oleh Tantenya.
Dari caranya, Bu Enna tahu Angel tidak berdoa. Beliau hanya menggelengkan kepalanya, melihat yang dilakukan Angel. 'Mungkin kau bisa menipuku, tetapi tidak dengan Tuhan.' Ucap Bu Enna dalam hati.
Angel sudah selesai makan dan hendak berdiri untuk membawa piringnya ke belakang. Tetapi Bu Enna mencegahnya. "Biarkan saja di atas meja, Angel. Tante mau berbicara denganmu, jadi nanti Tante yang bereskan." Ucap Bu Enna, tenang.
"Tadi kau tanya, kenapa rumah ini sepi bukan? Sekarang Tante mau jawab pertanyaanmu itu. Om Jefry sedang mengantar Mama dan Papamu ke bandara. Mereka sekarang sudah kembali ke Makassar. Kau tidak perlu bertanya kenapa mereka baru datang kemaren dan sudah pulang hari ini." Ucap Tante Angel, tetap tenang.
"Kau pasti sudah tau jawabannya. Aku hanya mau katakan, kau sudah sangat menyakiti hati kakakku. Semoga kakak-kakakku bisa tiba dengan baik di Makassar. Jadi sekarang, tolong kau tinggalkan rumah kami." Ucap Tante Angel, tegas.
"Saya tidak mau suamiku melihat wajahmu di rumah ini saat kembali dari mengantar kakak-kakakku. Saya sangat malu terhadap suamiku, karna memiliki ponakan yang tidak bermoral sepertimu." Ucap Bu Enna, pedas.
"Jadi sekarang, rapikan bajumu dan tinggalkan rumah kami. Jangan tinggalkan sepotong pakaianmu di rumah kami, sehingga bisa membuatmu kembali ke sini." Ucap Bu Enna kembali tenang dan tegas.
__ADS_1
Angel hanya bisa menatap Tantenya dengan terkejut. Karena dia tidak menyangka Tantenya yang dikenal sangat baik selama ini bisa mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Tapi Tante, Angel mau ke mana? Apakah Mama ada meninggalkan uang untukku?" Tanya Angel, berharap.
"Kau telah mempermalukan orang tuamu dan masih berharap diberikan uang? Kau benar-benar anak yang tidak tahu diri." Ucap Bu Enna, terkejut mendengar ucapan Angel.
"Kau masih memikirkan uang dari mereka, sedangkan saya sedang berdoa dan berharap kedua kakakku tidak masuk Rumah Sakit?" Tanya Bu Enna dengan suara bergetar dan mata berembun.
"Kau akan menerima ganjaran-Nya, karna telah menyakiti banyak orang yang mengasihimu." Ucap Bu Enna emosi, dan segera berdiri masuk ke kamar yang ditempati Angel. Bu Enna mengambil beberapa potong baju Angel dan memasukan ke dalam tas kecil.
"Ini semua baju-baju, segera tinggalkan rumah kami." Ucap Bu Enna, sambil meletakan tas tersebut di atas meja makan, depan Angel.
"Tapi Tante, Angel tidak ada tempat tinggal dan tidak punya uang." Ucap Angel, memelas.
"Segeralah kau ke tempat laki-laki yang telah tidur denganmu dan minta pertanggungan jawabnya. Jangan hanya berani minta tanggung jawab dari Mathias yang tidak menidurimu, tetapi laki-laki yang tidur denganmu kau biarkan dia bersenang-senang di luar sana. Cepat pergi cari dia, dan jalani hidupmu." Ucap Bu Enna, tegas.
"Ini uang untuk ongkosmu, dan jalanilah apa yang menjadi pilihanmu. Ingatlah, semua pilihan ada konsekuensi yang harus kau tanggung. Semoga masih ada pengampunan bagimu yang telah menyakiti Tuhan dengan perbuatanmu." Ucap Bu Enna, sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah.
Angel menerima uang yang diberikan Tantenya dan berjalan keluar dari rumah. Dia duduk di halte sambil berpikir akan kemana. Apalagi dia tidak memiliki ponsel, sangat susah untuk menghubumgi seseorang.
Dia sendiri tidak menghapal satu nomorpun, sehingga makin sulit. Kemudian dia berpikir untuk datang ke kantor lelaki yang bersamanya. Benar kata Tantenya, dia harus menuntut tanggung jawabnya. Hanya dia yang dapat dimintai tolong. Kemudian dia naik angkot menuju stasiun dan ojek ke kantornya.
Setelah tiba di gedung kantor lelaki yang bersamanya, Angel mencari toilet untuk merapikan penampilannya dan berjalan ke kantor. Sebelum masuk ke kantor, dia melihat pria itu hendak masuk ke gedung bersama rekan kerjanya.
Ketika melihat Angel, dia mendekat dengan wajah yang sangat marah. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau ingin aku dipecat?" Ucap pria tersebut, sambil menarik Angel menjauh dari kantornya.
__ADS_1
"Aku sekarang diusir Tanteku, jadi ngga tau mau ke mana lagi. Aku datang ke sini untuk minta uang darimu, agar bisa cari tempat kost atau kontrakan." Ucap Angel, sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Kau pikir aku ada pegang uang? Sekarang mau beli bensin saja, aku harus kasbon. Kenapa kau tidak jual kalung itu untuk mendapkan uang?" Tanya pria itu mulai emosi, melihat Angel masih mengenakan kalung yang dibelinya.
"Yaaa... Sayang kalau dijual tanpa surat-surat. Harganya tidak bisa sama seperti waktu dibeli." Ucap Angel beralasan, karena sangat suka dengan kalungnya.
"Kalau begitu, tinggal di jalanan sambil pegang kalungmu itu. Ini lagi susah, masih mikirin pakai perhiasan." Ucap prianya makin kesal.
"Sudaaa... Pergi ke mana mau mu, aku sendiri sedang kesulitan. Jangan kau tambah lagi dengan kedatangmu, yang bisa membuatku kehilangan pekerjaan." Ucap pria itu marah.
"Kalau begitu, berikan ponsel untukku supaya aku ngga usah ke sini. Bagaimana aku bisa menghubungimu kalau tidak ke sini?" Tanya Angel pelan, berusaha bermanja ria.
"Kau ini tidak mengerti, aku bilang sedang kesulitan? Aku saja belum punya ponsel, kau malah minta ponsel? Sudaaa... Jangan membuatku makin stress." Ucap pria tersebut, sambil mengibaskan tangannya untuk menyuruh Angel pergi.
"Kenapa kau tidak menjual mobilmu s a j a..." Ucapan Angel terhenti melihat wajah pria tersebut mulai merah dan sangat marah. Angel jadi khawatir kehilangan tumpuan terakhirnya.
"Apakah kau sudah gilaaa? Jangan membuatku marah, dan memanggil security untuk mengusirmu. Sudah kubilang jual kalungmu itu untuk bertahan hidup. Tetapi kalau tidak mau dengar juga, atur sendiri hidupmu, semaumu."
"Jangan coba-coba mencariku di sini, karna sekarang aku tidak punya apa-apa untuk diberikan kepadamu." Ucap pria itu dan berbalik pergi meninggalkan Angel yang melongo. Dia tidak menyangka dengan kondisi yang terjadi.
Kemudian Angel melihat pria itu berbicara dengan security sambil menunjuk ke arahnya. 'Apakah dia menyuruh security mengusirku?' Tanya Angel dalam hati. Kemudian dia meninggalkan kantor pria itu sambil menggerutu, kesal.
Dengan berat hati dia berjalan ke halte dan berpikir. Mungkin benar, dia harus merelahkan kalung kesayangannya. Kemudian dia pergi ke Sency untuk menjual kalungnya. Karena dia harus mencari tempat tinggal dan makan.
Ketika melihat Angel meninggalkan kantornya, pria tersebut menarik nafas panjang dan dalam. Jantungnya berdetak sangat cepat dan kencang melihat Angel datang ke kantornya.
__ADS_1
~●○♡○●~