MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Kamar Mathias.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Tidak lama kemudian, Mathias telah turun ke ruang kerja Bagas untuk mengajak Ambar pulang. "Bagas, karna besok Bu Ambar mau masuk kerja, kau ngga usah ikut saya ke Cikarang. Kau bersama Bu Ambar kerja di kantor saja." Ucap Mathias, karena setelah di ruang kerjanya baru teringat besok mau Cikarang untuk bertemu dengan Pak Heru di perusahaannya.


"Baik, Pak. Ini semua dokumennya sudah saya siapkan. Mau di bawa atau disimpan di kantor saja?" Tanya Bagas, karena dia khawatir bossnya berangkat langsung dari rumah.


"Baik, saya bawa dua lembar teratas saja untuk berjaga-jaga. Nanti besok pagi saya akan menghubungimu." Ucap Mathias, kemudian mengajak Ambar dan Bagas pulang. Ambar mengambil helm dan mengikuti Mathias ke tempat parkir.


Sedangkan Bagas masih menyimpan berkas-berkas ke dalam lemari, mematikan lampu dan mengunci pintu, baru ke tempat parkir untuk pulang. Itulah yang dilakukan setiap hari sebelum pulang, memeriksa keamanan kantor dan isinya.


Di tempat parkir, Ambar telah naik dan duduk di belakang Mathias, memakai helm kemudian memeluk Mathias. Setelah merasa Ambar telah duduk dengan baik di belakangnya, Mathias segera menjalankan motornya keluar dari tempat parkir ke jalan raya.


Karena bersama Ambar, Mathias menjalankan motornya dengan kecepatan normal. Ketika mulai masuk kompleks, Mathias menjalankan motornya pelan dan mampir ke mini market.


"Ambar, turun beli roti untuk Juha. Kau sudah meninggalkannya seharian, dan pulang tidak bawa sesuatu untuknya." Ucap Mathias, saat menghentikan motornya di depan mini market.


Ambar turun dari motor dan melepaskan helm nya. Kemudian masuk ke mini market, sekalian beli roti untuk sarapan besok. Sambil memilih yang diperlukan, Ambar bersyukur Mathias mengingatkannya. Karena konsetrasi bekerja di kantor, dia tidak sempat memikirkannya.


Tidak lupa dia membeli roti kesukaan Bu Titiek. 'Biar nanti Mas Mathias bisa membawa untuk Ibu.' Pikir Ambar. Setelah semua yang diperlukan telah dibeli, Ambar keluar kembali ke tempat parkir.


"Banyak sekali belanjaannya. Kau bisa membawa semuanya?" Tanya Mathias, melihat bawaan Ambar.


"Bisa, Mas. Sudah dekat, jadi Mas bawa motornya pelan saja." Jawab Ambar untuk meyakinkan Mathias.


"Kalau begitu, sebentar. Mana ponselmu, tolong telpon Seni. Ponselku ada di dalam tas." Ucap Mathias, lalu mengambil ponsel Ambar yang telah dikeluarkan dari tasnya dan menghubungi Seni.


📱"Seni, tolong keluar di depan pagar tunggu kami sekarang, ya. Ngga usah ajak Juha keluar." Ucap Mathias, saat Seni merespon panggilannya.


📱"Baik, Pak. Sekarang saya keluar." Ucap Seni dan Mathias segera mengakhiri pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ambar, aku agak cape' jadi kita langsung ke tempat Ibu dulu, supaya aku ngga bolak-balik." Ucap Mathias, kemudian menyalakan mesin motornya.


"Kalau begitu sebentar, Mas pegang ini, karna ini untuk Ibu." Ucap Ambar sambil menyerahkan kantong roti ketangan Mathias.


Setelah rapi, Ambar mengambil kembali kantong rotinya dan naik ke atas motor Mathias. Setelah merasa aman, Mathias menjalankan motornya menuju rumah Ambar dimana Seni telah menunggu di depan pagar.


"Seni, tolong masukan ini, ya. Ibu sama bapak mau nengok Eyang Titiek dulu." Ucap Ambar, sambil menyerahkan kantong belanjaan kepada Seni. Kemudian Mathias langsung putar balik ke rumah Ibunya.


Setelah sampai di rumah Ibunya, Mathias mengajak Ambar ke kamarnya untuk bersihin badan. Ambar baru pertama kali masuk ke kamar Mathias yang sangat bersih, rapih dan nyaman. itulah yang dirasakan Ambar saat masuk ke kamar.


"Ambar, pakai punyaku yang di kamar mandi untuk bersihkan badan sebelum bertemu Ibu. Buat sementara kau pakai kaosku ini, ya. Nanti kau duluan berbicara dengan Ibu sambil tunggu aku mandi." Ucap Mathias, lalu mengambil kaos yang agak kecil untuk Ambar.


Kemudian Mathias ke dapur bertemu Bi Ina. "Bi Ina, ada air panas? Saya mau mandi air panas." Ucap Mathias yang merasa cape'.


"Ada Den, masih sisa punya Ibu. Den mau mandi sekarang?" Tanya Bi Ina.


"Iyaa, Bi. Tolong di tuang ke dalam ember ya. Dan tolong buatkan teh panas dua untuk saya dan Neng Ambar." Ucap Mathias, lalu menjinjing ember berisi air panas ke kamarnya.


Ambar membuka pintu perlahan dan melihat Bu Titiek masih belum tidur. Melihat Ambar masuk ke kamar, suster segera berdiri keluar dari kamar Bu Titiek untuk memberikan kesempatan Ambar dan Bu Titiek berbincang-bincang.


"Malam Bu, apa kabar Ibu hari ini?" Tanya Ambar, sambil mendekati tempat tidur Bu Titiek, mengambil tangannya dan mencium punggung tangannya.


"Kabar Ibu lumayan baik, Ambar baru pulang kerja?" Tanya Bu Titiek, dengan hati senang melihat Ambar telah datang melihatnya.


"Iyaa, Bu. Ambar baru pulang kerja dan langsung ke sini, jadi pakai kaos Mas Mathias. Hehehe." Ucap Ambar tertawa, melihat Bu Titiek sedang memperhatikan kaos longgar yang dikenakannya.


"Lain kali, bilang sama Ibu. Itu ada banyak baju Ibu yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Nanti kalau sudah selesai bantu Thias, baru kita lihat dan Ambar bisa pilih sendiri." Ucap Bu Titiek mengingat banyak bajunya yang bisa dikenakan Ambar.


"Nanti saja Bu, ini hanya darurat saja. Karna Mas ajak langsung pulang ke sini. Karna besok dan mungkin lusa Ambar masih harus ke kantor. Masih banyak data keuangan kantor yang belum selesai." Ucap Ambar, sekalian minta ijin kepada Bu Titiek.

__ADS_1


"Iyaa, ngga papa. Ibu mengerti. Asal jangan terlalu cape'. Apa Thias pulang juga dengan Ambar?" Tanya Bu Titiek, karena belum melihat Mathias.


"Iyaa, Bu. Mungkin masih mandi, tadi kami gantian mandinya." Ucap Ambar, kemudian Mathias masuk ke kamar Ibunya mencium pipinya.


"Thias, badanmu hangat. Lagi kurang sehat?" Tanya Bu Titiek terkejut, karena merasa suhu badan Mathias agak hangat. Tidak seperti biasanya.


"Ngga Bu, tadi Thias habis mandi air hangat, karena agak cape'." Ucap Mathias, agar Ibunya tidak khawatir. Ambar yang mendengar pertanyaan Bu Titiek, menahan diri untuk mengecek suhu badan Mathias.


Dia tahu, tadi Mathias mandi air panas. Tetapi bisa saja badan Mathias lagi hangat. Dia tidak mau Ibunya khawatir melihat reaksinya, jika mengecek suhu badan Mathias.


"Ibu rasa bagaimana hari ini?" Tanya Mathias, tetapi tidak menyentuh tangan Ibunya seperti biasanya. Karena suhu badannya agak hangat.


"Ibu lumayan baik, bisa makan dan istirahat. Dan juga sekarang Ibu bisa dengar yang baca Alkitab, jadi tidak bersusah payah lagi." Ucap Bu Titiek menjelaskan.


"Oooh, sudah ada yang baca Alkitab untuk Ibu?" Tanya Ambar, tidak mengerti maksud Bu Titiek. Kemudian Mathias menjelaskan padanya, membuat hatinya lega dan tenang.


"Ooh, iya. Kau sudah bicarakan dengan Ibu untuk besok?" Tanya Mathias, mengingatkan Ambar.


"Sudah, Mas. Tadi sudah bilang sama Ibu, mungkin besok dan lusa akan ke kantor." Ucap Ambar, menjelaskan.


"Baiklah, kalau begitu Ibu istirahat, karna kami mau pulang. Jangan sampai Juha kelaparan tunggu kami untuk makan malam." Ucap Mathias, mencoba bercanda.


"Baiklah, lekaslah kalian pulang. Kalau besok-besok pulang kerja cape', ngga usah ke sini. Cukup telpon saja, biar bisa cepat istirahat." Ucap Bu Titiek, menyadari putranya lagi kurang sehat.


"Baik, Bu. Selamat tidur, jangan lupa berdoa untuk kami." Ucap Mathias, lalu mencium pipi Ibunya dengan sayang. Ambar juga berdiri dan mencium punggung tangan Bu Titiek.


Mereka meninggalkan kamar Bu Titiek dan kembali ke kamar Mathias untuk mengambil perlengkapan kantor yang mereka letakan di kamarnya.


Ambar langsung meletakan tangannya di dahi Mathias saat mereka sudah berada di dalam kamarnya. "Ternyata benar, yang Ibu katakan. Badan Mas agak panas.." Ucap Ambar, saat menyentuh dahi Mathias.

__ADS_1


"Thank u,, aku tau tadi kau menahan diri untuk tidak mengeceknya. Aku hanya kecapean, dan mari cepat pulang, supaya bisa cepat beristirahat." Ucap Mathias, sambil membawa semua keperluannya. Ambar juga ikut berbenah dengan cepat, agar mereka segera pulang.


...~●○♡○●~...


__ADS_2