MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Rumah Sakit.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Saat tiba di Rumah Sakit, Mathias telah menunggunya di lobby. Kemudian mengantarnya ke ruang perawatan Bu Titiek, Ibunya.


"Mas, apakah ngga papa aku datang mengunjungi Ibu dalam kondisi begini?" Tanya Ambar, baru menyadari setelah tiba di Rumah Sakit. Bagaimana penerimaan Ibu Mathias terhadapnya mengingat kondisinya sedang sakit.


"Ngga usah dipikirkan, nanti aku yang bicara dengan Ibu." Ucap Mathias, mencoba menenangkannya. Ambar hanya bisa mengangguk dan berjalan mengikuti Mathias di lorong kamar perawatan.


Saat masuk ruang perawatan Ibu Titiek, jantung Ambar berdegup tidak betaturan. Dia berjalan pelan di belakang Mathias. "Ibu, ini Ambar yang Thias ceritakan tadi siang." Ucap Mathias, mendekati tempat tidur Ibunya. Ambar berjalan pelan mandekati Mathias dan menyalami Bu Titiek yang sedang berbaring.


Ambar tidak tahu mau mengatakan apa, karena Ibu Mathias memperhatikannya dengan seksama. "Kau bernama Ambar?" Tanya Ibu Titiek pelan dan lemah. 'Sebenarnya dia wanita yang cantik, tapi tidak menyadari kecantikannya. Wanita cantik, tetapi terlihat sangat bersahaja.' Ucap Bu Titiek dalam hati.


"Iyaa Bu, saya." Jawab Ambar pelan.


"Duduk di dekatku." Ucap Bu Titiek, karena mengetahui tangan Ambar sangat dingin ketika menyalaminya. 'Dilihat dari wajahnya, pasti dia sangat grogi.' Ibu Mathias membantin.


Mathias mengambil kursi dan duduk di samping Ambar dan memegang tangan Ibunya. "Nanti baru Ibu bisa berbicara lagi dengan Ambar. Sekarang Ibu istirahat dulu, karna sebentar lagi dokter akan datang periksa Ibu." Ucap Mathias.


"Apakah Ambar masih di sini saat Ibu bangun?" Tanya Bu Titiek berharap, karena masih ingin berbicara dengan Ambar. Bu Titiek ingin mengetahui siapa dan bagaimana dia, karena tiba-tiba dibawa oleh putranya dan diperkenalkan kepadanya. Sedangkan yang dibilang pacarnya, sampai sekarang belum pernah diperkenalkan kepadanya.


"Iyaa, Bu. Ambar masih di sini nemani Ibu dengan Mas Mathias." Ucap Ambar yakin, Bu Titiek mengangguk dan memejamkan mata.


"Mas, sudah makan belum?" Tanya Ambar pelan, saat melihat Bu Titiek telah tidur.


"Belum, karna tadi Ibu sempat pingsan. Tetapi tadi sudah sempat minum kopi." Jawab Mathias pelan, khawatir membangunkan Ibunya.


"Kalau begitu, Mas keluar untuk cari makan dulu, biar aku nemanin Ibu. Atau mau aku keluar beli sesuatu, agar Mas makan di sini?" Tanya Ambar, khawatir dengan kesehatan Mathias.


"Kau bisa tinggal sendiri dengan Ibu? Karna susternya lagi pulang istirahat, agar nanti malam bisa jaga Ibu." Ucap Mathias, pelan.

__ADS_1


"Iyaa Mas. Ngga papa. Lekas pergi makan, jangan sampai sakit. Nanti mala Mas yang membuat Ibu khawatir." Ucap Ambar meyakinkan Mathias agar bisa meninggalkan ruang perawatan Ibunya.


"Baik, aku tinggal sebentar. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk mengiyakan. Kemudian Mathias keluar meninggalkan mereka.


Setelah ditinggal Mathias, Ambar memeriksa dan membersihkan lemari tempat keperluan Bu Titiek. Dia juga merapikan selimut dan alas kaki Bu Titiek. Ambar kembali duduk setelah melihat semuanya telah rapi. Dia mengambil ponsel dan memutar lagu rohani pelan dan terus berdoa dalam hati untuk kesembuhan Bu Titiek. Dia menyadari, Mathias sangat menyayangi Ibunya.


Bu Titiek sebenarnya tidak tidur, beliau menyadari yang dilakukan oleh Ambar. Hatinya menjadi lega, mengetahui wanita yang dipilih oleh putranya adalah wanita yang baik.


Tidak lama kemudian, Bu Titiek bangun untuk dibersihkan oleh perawat. Kemudian dokter datang memeriksa kondisinya. Mathias telah kembali ketika dokter datang memeriksanya Ibunya, sehingga ia sekalian bisa berkonsultasi dengan dokter tentang kondisi terakhir Ibunya.


"Ibu mau Ambar suapin?" Tanya Ambar, ketika makan malam Bu Titiek di antar oleh perawat.


"Ngga usah, Ibu masih bisa sendiri." Jawab Bu Titiek, dan Mathias menaikan tempat tidur Ibunya agar dengan mudah bisa makan.


Setelah selesai makan, Ambar merapikan semua peralatan makan dan menyikirkannya dari tempat tidur Bu Titiek. Mathias kembali menurunkan tempat tidur Ibunya.


"Ngga usah Mas, aku bisa pulang pakai ojol. Mas di sini menemani Ibu saja." Ucap Ambar, sambil memegang tangannya melarang Mathias untuk mengambil kunci mobil.


Mathias berbalik melihat Ambar, karena heran Ambar tidak mau diantar. Melihat kode dan keseriusan Ambar, Mathias kembali duduk. Ambar segera pamit kepada Bu Titiek.


"Ambar pamit ya, Bu. Selamat istrahat, semoga Ibu lekas sembuh." Ucap Ambar, lalu mencium punggung tangan Bu Titiek.


"Amin..." Bu Titiek dan Mathias mengaminkan harapan Ambar.


"Bu, Thias antar Ambar ke bawa dulu, ya." Ucap Mathias kepada Ibunya, dan Bu Titiek mengangguk mengiyakan.


"Hati-hati di jalan, Ambar." Ucap Bu Titiek, ketika Ambar mengambil ponselnya dan hendak keluar kamar.


"Iyaa, Bu. Trima kasih." Ucap Ambar, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Kemudian Ambar dan Mathias meninggalkan kamar perawatan Bu Titiek.

__ADS_1


Setelah Mathias kembali ke kamar perawatan, Ibunya belum tidur dan susternya sedang tidak ada di ruangan. "Thias, duduk di sini. Ibu mau bicara denganmu." Ucap Bu Titiek, ketika melihat Mathias telah berada dalam ruangan.


Bu Titiek bersyukur, tempat tidur di sebelahnya kosong, sehingga bisa leluasa berbicara dengan putranya. "Ibu mau berbicara apa?" Tanya Mathias, sambil duduk dan mendekatkan kursi ke tempat tidur Ibunya.


"Ibu mau, kau berbicara jujur kepada Ibu tentang Ambar dan siapa Juha yang tadi kau sebut." Ucap Bu Titiek menyelidiki, karena perilaku Ambar bukan seperti wanita dewasa biasa. Dia seorang wanita yang sudah sangat dewasa dan matang.


"Juha itu anaknya Ambar, Bu. Dia janda yang sudah memiliki seorang anak." Ucap Mathias pelan, agar Ibunya tidak terlalu terkejut. Tetapi Ibunya tetap terkejut mendengar yang dikatakan putranya.


"Thias, Ibu menginginkan kau cepat berkeluarga, tetapi bukan begini caranya. Apakah tidak ada seorang wanita muda di luar sana yang bisa kau jadikan istri?" Tanya Bu Titiek, sambil menatap Mathias.


"Bu, wanita muda di luar sana banyak. Tetapi yang cocok dengan Thias bukan mereka. Thias merasa cocok, nyaman dengan Ambar, makanya mau bersamanya." Ucap Mathias, untuk meyakinkan Ibunya.


"Tidak ada seorang wanita yang sudah berkeluarga mengharapkan menjadi janda di usia muda. Seperti Ibu, ketika di tinggal Ayah. Jika Ibu memilih untuk menikah lagi, Thias bisa apa." Ucap Mathias, sambil mengelus tangan Ibunya dengan sayang.


"Begitu pun dengan Ambar. Ketika ditinggal oleh suaminya dengan anak yang masih kecil, dia tidak perna membayangkan itu. Atau mengharapkan ditinggal mati oleh suaminya di usia muda. Seperti Ibu dan Ambar, tidak semua janda itu buruk. Tetapi Ibu dan Ambar adalah contoh, wanita yang kuat dan tangguh berjuang untuk anaknya.


"Thias berharap, Ibu bisa menerima Ambar dan anaknya. Sehingga jika Thias lagi ke luar kota, bisa sedikit merasa tenang, ada yang menemani Ibu ngobrol atau bercerita." Ucap Mathias, tetap mengusap tangan Ibunya.


"Apakah kau menyayangi Ambar dan anaknya?" Tanya Bu Titiek, menyelidiki putranya, beliau khawatir Mathias memilih Ambar hanya untuk menemaninya.


"Kalau Thias ngga sayang mereka, bagaimana Thias bisa menikahi Ambar, Bu." Ucap Mathias, lagi untuk meyakinkan Ibunya.


"Apakah kalian sudah menikah?" Tanya Bu Titiek terkejut, mendengar yang dikatakan putranya.


"Iyaa, Bu. Kami sudah menikah di catatan sipil, nanti kalau Ibu sudah sembuh baru kami nikah di Gereja. Karena Ambar seorang janda, jadi Thias mengajaknya nikah agar kalau Thias ke rumahnya orang tidak berpandangan negatif terhadap kami." Ucap Mathias, menjelaskan keputusannya.


"Baiklah, Ibu percaya penilaian dan keputusanmu. Karna Ibu hanya ingin kau bisa hidup dengan baik dan berbahagia. Kalau suster sudah kembali, segeralah pulang. Nanti besok baru datang lagi ke sini." Ucap Bu Titiek, tegas. Mathias memandang Ibunya dengan hati bertanya-tanya, apa maksud Bu Titiek menyuruhnya pulang.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2