MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Nikah


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Mathias melihat Bagas dengan wajah serius. "Disuruh simpan untuk mudik naik pesawat, mala dihabis-habisin." Ucap Mathias, yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan oleh Bagas.


"Tenang saja, Pak. Masih bisa pulang-pergi naik pesawat, beberapa kali." Ucap Bagas, senang. Mathias melihat Ambar dan berpikir, 'berapa banyak uang yang dia berikan kepada Bagas?' Tanya Mathias dalam hati.


"Baiklah. Mari makan, karna kita akan pergi." Ucap Mathias mengajak Ambar dan Bagas makan dalam ruangannya. Karena Mathias sudah membuat janji dan ditunggu setelah makan siang. Selesai makan siang, Bagas merapikan perangkat makan dan membuang ke tempat sampah sedangkan Ambar membersihkan ruang kerja Mathias.


"Bagas, tolong antar Bu Ambar ke photo studio yang di sebelah dan tunggu saya di sana. Kami akan foto bersama untuk dokumen pernikahan." Ucap Mathias, sambil berdiri.


"Baik, Pak. Ayoo, Bu." Ucap Bagas, mengajak Ambar pergi, tanpa bertanya lagi kepada bossnya. Karena dia percaya, bossnya sudah memperhitungkan semuanya. Setelah mereka berangkat, Mathias berjalan dari belakang menjaga jarak. Karena dia ingin melihat, siapa yang mengikuti Ambar.


Mathias memperhatikan dari jendela ruang tunggu kantornya, apa benar ada yang mengikuti Ambar. Ketika Ambar keluar kantor, ternyata benar ada yang memperhatikan dan mengikutinya. Mathias langsung menghubungi Bagas.


📱"Alloo, Bagas. Jangan tinggalkan Bu Ambar sampai saya datang. Tunggu di situ, dan awasi jika ada yang masuk. Tidak usah kasih tau Bu Ambar." Ucap Mathias.


"Baik, Pak." Ucap Bagas, dan duduk di samping Ambar sambil memperhatikan setiap orang yang masuk ke dalam studio. Bagas menyadari, pasti sedang terjadi sesuatu dengan Ambar.


Tidak lama kemudian, Mathias masuk ke studio dan kemudian mereka foto bersama untuk Akte Nikah. "Bagas, ini kunci pintu dan kau kembali ke sana bersama Bu Ambar dan tunggu saya di sana." Ucap Mathias sambil memberikan kunci kantor kepada Bagas, karena tadi Mathias menguncinya waktu keluar.


Ambar berjalan mengikuti Bagas tanpa banyak tanya, walaupun hatinya sedang bertanya-tanya dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Mathias. 'Kenapa Mathias tidak ikut bersama mereka untuk kembali ke kantor?' Tanya Ambar dalam hati.


Setelah mengambil pas foto mereka, Mathias segera kembali ke kantor dengan berjalan cepat.


"Bagas, tolong pinjamkan helm mu untuk Bu Ambar." Ucap Mathias sambil naik tangga menuju cabin untuk mengambil jacket.

__ADS_1


"Baik, Pak." Ucap Bagas, kemudian masuk ke ruang kerjanya untuk mengambil helm. Ambar duduk menunggu mereka di ruang tunggu.


Setelah mengambil jacket dan tas kerjanya, Mathias mengunci semua ruangannya dan turun ke ruang tunggu menemui Ambar. Mathias baru menyadari dan bersyukur Ambar memakai celana panjang.


"Ini kau pakai jacketku dan helm Bagas, karna kita akan naik motor." Ucap Mathias, sambil menyerahkan jacketnya untuk menutupi cardigan Ambar yang tidak terlalu tebal.


Ambar menerima dan memakainya seperti yang diminta Mathias. Tanpa bertanya, tentang yang dilakukan Mathias. Setelah bersedia menikah dengan Mathias, dia mengikuti semua yang dikatakannya.


"Bu Ambar, ini pakai helm nya dan jangan lupa peluk Pak Mathias kencang, ya." Ucap Bagas serius, tetapi Ambar memukul lengan Bagas sambil tersenyum malu. Dia mengira Bagas sedang bercanda. Tetapi melihat wajah serius Bagas, Ambar terdiam.


"Ambar, kalau saya sudah di depan kantor, kau pakai helm dan keluar langsung naik ke atas motorku." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk mengerti.


Mathias memakai helm nya dan langsung keluar menuju tempat parkir motornya. Dia berjalan santai, sambil memperhatikan orang yang mengikuti Ambar. Karena sudah tahu orangnya, dia mudah mengawasinya.


"Ayoo, Bu. Itu bapak sudah di depan pintu. Hati-hati di jalan, ya, Bu. Semoga semuanya lancar." Ucap dan harapan Bagas.


"Amin! Iyaa, Bagas. Trima kasih." Ucap Ambar mengaminkan harapan Bagas. Kemudian dia memakai helm dan membuka pintu kantor.


Ambar terkejut melihat motor sport Mathias yang akan dinaikinya. "Ayoo, pegangan padaku dan naik." Ucap Mathias melihat Ambar yang terkejut dan ragu-ragu. Kemudian Ambar melakukan seperti yang dikatakan oleh Mathias. Memegang pundaknya dan naik duduk di belakangnya.


"Sudah?" Tanya Mathias, mengecek kesiapan Ambar yang telah naik dan duduk di belakangnya.


"Sudah, Mas." Jawab Ambar dengan jantung yang berdetak kencang. Karena baru pertama kali naik motor sport dengan tempat duduk yang agak kecil dan tinggi.


"Kalau begitu, pegang aku yang kuat." Ucap Mathias yang menyadari Ambar sedang takut duduk di belakangnya. Ambar langsung memeluk pinggang Mathias, seperti yang dikatakan Bagas.

__ADS_1


Menyadari Ambar sudah mulai tenang dan mengerti, Mathias menjalankan motornya keluar dari tempat parkir menuju jalan raya. Dia melihat dari spion, orang yang mengikuti Ambar juga keluar dan mengikuti mereka.


Mathias menepuk tangan Ambar yang sedang memeluknya, untuk menenangkannya. Kemudian menjalankan motornya dengan cepat. Menyadari motor Mathias mulai cepat, Ambar tahu tadi adalah kode dari Mathias untuk tetap memeluknya. Ambar berdoa dalam hati sepanjang jalan, karena Mathias membawa motornya berliuk-liuk.


Tidak lama kemudian, mereka tiba di kantor Catatan Sipil Bekasi. Mathias menarik nafas lega, karena mengetahui yang mengikuti tidak bisa menyusul mereka.


"Ambar, kau tidak apa-apa?" Tanya Mathias setelah membuka helm nya. Ambar hanya mengangguk sambil memegang dadanya. Mathias membalikan badannya dan melihat Ambar masih mengenakan helm nya.


Kemudian Ambar membuka helm dan melihat Mathias yang sedang tersenyum melihatnya. "Kita sudah sampai, pegangan padaku lalu turun. Nanti setelah menikah, baru aku jelaskan. Kenapa tadi harus jalan cepat." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk pelan dan turun.


Mathias masih memegang Ambar, sampai dia memperoleh keseimbangan. Kemudian Mathias menghubungi temannya untuk memberitahukan bahwa mereka sudah ada di kantor catatan sipil.


Beberapa saat kemudian, dia keluar menemui Mathias dan Ambar. Dia mengantar mereka ke ruangan yang akan dipakai untuk melakukan pencatatan pernikahan. Mathias menyerahkan foto mereka kepada teman yang mengurus pernikahannya. Para saksi juga sudah ada, sehingga mereka bisa melangsungkan pernikahan.


Setelah pernikahan mereka telah dicatat, Mathias mengajak Ambar untuk berbicara di ruang tunggu yang agak sepi. Mathias menghindari Ambar dari keramaian karena akan berbicara secara pribadi dengannya.


"Ambar, tadi aku menjalankan motor agak cepat, karna ada yang mengikuti kita. Seperti yang kau katakan tadi, mungkin ada yang mengikutimu. Itu benar, tapi sekarang tidak usah kau pikirkan lagi." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk mengerti.


"Sekarang mungkin dia ke rumahmu, jadi nanti aku akan mengantarmu pulang dan menurunkanmu agak jauh dari rumah. Kau masih bisa jalan sedikit ke rumah, kan? Aku akan melihatmu dari jauh sampai kau masuk ke rumah." Mathias menjelaskan, dan Ambar kembali mengangguk mengerti.


"Kunci rumahmu ada berapa? Berikan satu untukku, agar aku bisa masuk ke rumahmu." Ucap Mathias pelan, tetapi serius.


"Mas, bawa kunci yang kubawa ini saja, nanti pulang biar seni yang membukakan pagar untukku." Ucap Ambar, sambil melepaskan kunci pagar dan kunci rumah dari rangkaian kunci lainnya dan menyerahkan kepada Mathias.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2