
~•Happy Reading•~
Setelah selesai pemakaman Rulof, semua orang yang melayat mulai berangsur-angsur pulang. Tetapi Mama Rulof, Inge bersama suaminya Richo dan Tiara (adik Rulof) masih tinggal bersama Ambar dan Juha.
"Inge... Ke sana tanya Ambar, mana kamar untuk kami. Karena kami mau tinggal di rumah ini." Ucap Mama Rulof. Karena mereka dalam perjalanan pulang dari makam, telah merencanakan akan tinggal di rumah Rulof.
Inge mendekati Ambar yang sedang duduk diam di ruang tamu. Lalu menyampaikan apa yang dikatakan Mamanya. "Ambar, mana kamar untuk Mama dan Tiara? Mereka mau tinggal di sini." Ucap Inge, sambil melihat sekeliling. Ambar terkejut dengan permintaan Mama Rulof, dan berpikir cepat. Karena kondisi rumah tidak memungkinkan untuk ditinggali oleh orang lain.
Ambar mendekati Mama Rulof dan menyatakan ketidak setujuannya. "Mama, saya mohon maaf. Mama tidak bisa tinggal di sini bukan karna tidak ada kamar, tetapi tidak ada makanan yang bisa Mama makan." Ucap Ambar tegas, karena situasi yang tidak memungkinkan.
"Apa maksudnya tidak bisa makan? Kau mau kuasai semua harta yang ditinggalkan Rulof, anakku?" Tanya Mama Rulof emosi, begitu juga dengan saudara perempuannya.
"Mama, Rulof baru saja dimakamkan. Kalian sudah membicarakan harta peninggalan Alm? Saya sedang membicarakan tentang makanan untuk dimakan. Apakah kalian mau makan meja dan kursi ini?" Tanya Ambar emosi, sambi menunjuk meja dan kursi di ruang tamu. Banyak hal yang terjadi membuatnya pusing.
"Sekarang kalian masih bisa makan, karna makanan yang disediakan oleh tetangga di sini. Setelah itu tidak ada makanan lagi. Jadi silahkan makan makanan yang masih ada, sebelum makanan itu basi." Ucap Ambar lagi.
"Kau bicara, seakan-akan anakku tidak bekerja sehingga untuk makan saja tidak ada. Jangan banyak alasan, tunjukan kamar untuk kami." Ucap Mama Rulof tidak mau mengalah. Karena mereka harus mendapatkan uang dari Ambar untuk kembali ke Makassar.
"Anak Mama memang bekerja, tetapi hasil kerjanya tidak untuk di rumah ini." Ucap Ambar sambil melihat Inge dan suaminya.
"Apa maksud dari ucapanmu itu? Lalu rumah ini bukan hasil dari pekerjaan anakku?" Tanya Mama Rulof emosi, mendengar yang dikatakan Ambar.
"Dari tadi yang saya bicarakan makanan untuk dimakan. Apakah Mama mau makan rumah ini?" Tanya Ambar, mulai sakit kepala dengan perdebatan yang tidak berguna dan membuat emosi.
"Dan kenapa tidak ada makanan di rumah ini, silahkan Mama tanyakan kepada Kak Inge dan wanita yang tadi kalian tempelin seperti prangko." Ucap Ambar, dan segera meninggalkan mereka ke dapur untuk cari minum.
__ADS_1
"Seni... Tolong buatkan minum panas untukku, kepalaku mulai sakit lagi." Ucap Ambar, sambil memeggang pelipisnya. Mama Rulof tidak terima, mereka mengikuti Ambar ke ruang makan.
"Tiara, periksa dapur ini. Jangan biarkan dia membuat alasan yang tidak masuk akal." Ucap Mamanya Rulof, sambil menunjuk kulkas dan lemari yang ada di dapur untuk diperiksa. Ambar membiarkan mereka memeriksanya, supaya tidak perlu banyak penjelasan.
Ketika Tiara membukanya dan melihat semuanya kosong, dia terkejut dan yang lain ikut terkejut.
"Pada kemana isi kulkas dan lemari ini, Kak Ambar? Kak Rulof tidak mungkin tidak membeli keperluan rumah tangga." Ucap Tiara, mengingat dia pernah tinggal bersama mereka. Rulof suka mengajaknya berbelanja keperluan rumah tangga untuk satu bulan. Sedangkan ini belum juga pertengahan bulan.
"Tadi sudah saya katakan, tanya saja sama Kak Inge dan wanita yang kalian rangkul itu. Jadi tolong makan dan tinggalkan rumah ini. Karena kepala saya sedang sakit, anak saya masih kecil." Ucap Ambar, pelan sambil memijit pelipisnya.
"Seni, sediakan makanan untuk kami." Ucap Inge, seakan tidak terjadi sesuatu dan tidak mendengar yang dikatakan Ambar. Dia bersikap sebagaimana sering dilakukannya ketika datang ke rumah Ambar, saat Rulof masih hidup.
"Kalian bisa layani diri sendiri, bukan? Itu semua makanan ada di meja. Seni ambil minyak kayu putih di kamar Juha dan tolong gosok punggung Ibu." Ucap Ambar, ketika melihat Seni mau mengambil piring.
Ambar tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk memerintah Seni sesukanya. Seni segera ke kamar Juha, karena mengerti maksud Nyonyanya.
"Dari mana kalian tahu, Seni tidak bekerja di sini? Dan kalian semua berhenti bicara tentang Rulof, di depanku. Aku masih sabar, karna ada Juha putra kami. Jangan menguji kesabaranku." Ucap Ambar, sambil berdiri meninggalkan mereka menuju ruang tamu. Mengingat semua perbuatan Rulof dengan wanita itu, kepalanya terasa mau terbelah.
Ketika mendengar mereka membicarakan Rulof, Ambar masih belum bisa menerima perlakuan keluarga Rulof terhadapnya. Bisa-bisanya berbicara santai dan mesra, dengan wanita itu di depan Ambar.
"Seni, mari tolong gosok di sana saja." Ucap Ambar sambil mengajak Seni yang baru turun dari kamar Juha ke ruang tamu.
"Ibu... Tetap tenang dan sabar, kasihan Juha." Ucap Seni sambil menggosok tengkuk Ambar.
Setelah ditinggal Ambar, keluarga Rulof berdiskusi di meja makan.
__ADS_1
"Kak Inge, bagaimana dengan tiket pulang kami ke Makassar? Sepertinya Kak Ambar tidak punya uang." Ucap Tiara kepada Inge, sambil makan.
"Diamlah ! Nanti kita pikirkan, sekarang makan saja dulu." Ucap Inge, sambil menunjuk makanan di meja makan dengan wajahnya.
"Kalian bisa minta bagian dari harta peninggalan Rulof. Yang sekarang, minta bagian dari uang duka tadi dulu. Saya lihat, banyak yang kasih uang ke Ambar." Ucap Suami Inge, yang dari tadi diam tidak berkomentar. Dia duduk diam, tapi memperhatikan semua yang terjadi dan setiap orang yang datang melayat.
"Kau benar. Setelah makan, kita minta itu dulu sebelum pulang ke tempatmu. Nanti di rumahmu, baru kita bicarakan lagi rencana kita selanjutnya. Jangan kita biarkan dia menguasai semua ini." Ucap Mama Rulof, sambil melihat ruangan makan.
Mama Rulof tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ambar, bahwa dia tidak memiliki uang. Karena Rulof setiap bulan mengirim uang untuknya dalam jumlah yang cukup. Begitu juga yang dipikirkan oleh Inge. Karena apa yang diminta dari Rulof, selalu diberikan. Jadi tidak mungkin kalau Rulof tidak memeliki uang.
Ambar sedang duduk bersandar di kursi ruang tamu. "Seni... Tolong kau gosok lengan Ibu, supaya jangan kembali ke dapur. Ibu belum bisa berbaring sebelum mereka meninggalkan rumah ini." Ucap Ambar, dan Seni mengerti maksud Nyonyanya. Dia pindah menggosok lengan Ambar dengan perlahan.
Tidak lama kemudian, keluarga Rulof yang telah selesai makan, berjalan mendekati Ambar. "Seni... Tetap gosok lengan saya, jangan berdiri." Bisik Ambar, karna dia mulai khawatir sendiri. Seni mengangguk pelan dan terus membalur tubuh Ambar dengan minyak kayu putih.
"Ambar, Mama dan Tiara akan tinggal di rumahku. Tetapi mereka akan pulang ke Makassar, jadi kami minta bagian dari uang duka tadi." Ucap Inge, sambil mereka semua duduk di ruang tamu.
Melihat sikap mereka, Ambar merasa merinding.
"Uang duka yang mana?" Tanya Ambar tidak mengerti yang mereka maksudkan.
"Kami melihat, setiap orang yang datang melayat memberikanmu amplop, turut berduka." Ucap Suami Inge meyakinkan.
"Oooh, itu. Saya sudah pakai untuk ganti uang Pak Tony yang membayar semua urusan Rumah Sakit dan pemakaman. Kak Inge tau kan, yang mengurus semuanya Pak Tony dan istri, tetangga di sebelah?" Tanya Ambar, sambil menunjuk rumah Pak Tony dengan jempolnya.
Ambar telah menyerahkan semua amplop tanda duka yang diberikan pelayat kepada Seni untuk dihitung dan diamankan. Setelah selesai pemakaman, Ambar menyerahkan semuanya kepada Pak Tony.
__ADS_1
"Sebegitu banyak uang, masa tidak ada lebihnya. Jangan berbohong kepada kami." Ucap Richo, suami Inge lagi yang diam sejak tadi.
~●○♡○●~