
~•Happy Reading•~
Ambar bisa mendapat tempat duduk di kereta commuterline yang dinaikinya. Hal itu, membuatnya bisa istirahat sejenak. Setelah bekerja berdiri melayani sepanjang pagi sampai sore di Restaurant Ayam Baqcot.
Ambar memikirkan hidup rumah tangganya dengan Rulof selama ini. 'Mungkinkah semua yang kualami saat ini, akibat pembiaran-pembiaranku selama ini?' Ambar bertanya dalam hatinya.
Ambar menikah di usia yang hampir 20 tahun, di tahun ke 3 masa kuliahnya. Sehinga dia belum terlalu mengerti cara hidup bersama dengan orang lain. Dia menerima dan menurut saja yang dikatakan Rulof, suaminya.
'Ambar, aku bisa sampai bisa kuliah dan bekerja seperti sekarang ini, karena perjuangan kakakku Inge dan keluargaku. Jadi sekarang, giliranku harus melihat dan membantu kakakku dan keluargaku.' Itu yang dikatakan Rulof, saat mereka telah menikah.
Ambar menerima dan membiarkan Rulof membantu keluarganya. Bahkan ketika kakaknya datang tinggal di rumah, Ambar membiarkannya.
Semua kebutuhan rumah tangga diurus oleh Rulof. Karena keuangan semua dipegang dan diatur oleh Rulof. Ambar menerima saja, toh semua kebutuhan hidupnya dan Juha tercukupi. Tapi setelah hampir 2 tahun terakhir, Ambar mulai merasa ada yang salah. Ketika dia membutuhkan uang untuk keperluan Juha yang tiba-tiba, dia tidak memegang uang di tangannya.
Ambar menyampaikannya kepada Rulof, dan dia mulai diberikan uang pegangan untuk kebutuhan yang mendesak. Walaupun tidak banyak, tetapi ada. Ambar menyimpannya dengan baik untuk kebutuhan yang mendesak. Sehingga dia tidak terlalu panik ketika Juha membutuhkan sesuatu yang tidak disediakan Rulof di rumah.
Selama kakaknya Inge tinggal di rumah bersama mereka, dia yang mengatur semua yang diperlukan rumah tangga. Kadang-kadang, Rulof pergi belanja bulanan dengan kakaknya. Menurut mereka, Ambar cukup mengurus dan memperhatikan Juha saja di rumah. Ambar menerima tanpa protes, walau kadang hatinya berontak. Karena dia adalah seorang istri, bukan hanya seorang Ibu.
Tetapi setelah kakaknya menikah dan tinggal bersama suaminya, mulai terjadi perubahan dan kekacauan. Karena sering kakaknya datang mengambil yang dia perlukan keluarganya di rumah. Rulof mengijinkan semua itu, dia akan beli lagi untuk menggantikan yang telah dibawa kakaknya.
Ambar pernah mengatakan kepada Rulof. 'Kenapa tidak diberikan uang saja, biar kak Inge beli sendiri kebutuhannya. Biar yang di rumah tidak usah diutak-atik lagi.' Tetapi Rulof mengatakan: 'Mungkin uang yang diberikan untuk kakaknya kurang, jadi biarkan saja kalau kakaknya datang mengambil sesuatu dari rumah.'
Ambar pertamanya terkejut mendengar Rulof sudah memberikan uang untuk kakaknya. Tetapi dia hanya bisa diam dan menerima, tanpa membantah. Karena dia tidak mau ribut untuk hal-hal yang seperti itu. Toh, semua kebutuhan di rumah tercukupi.
Makin tidak bisa diatur dan tidak terkontrol lagi, jika kakaknya tiba-tiba datang makan dan membawa makanan yang telah dimasak oleh Ambar dan Seni. 'Mungkin kakaknya tidak bisa masak, sehingga dia suka mengambil makanan matang.' Itu yang ada pikiran Ambar.
__ADS_1
Ambar mengingat lagi, selama lebih dari dua tahun tinggal bersama dengan mereka, Inge tidak pernah memasak. Dia hanya pergi keluar dan pulang sebelum Rulof pulang dari kantor.
Ambar tidak mau ikut campur, karena dia merasa lebih baik, jika Inge tidak ada di rumah. Jika ada di rumah, semua yang dilakukan Ambar salah di matanya. Baik bersikap dengan asistennya, sampai cara mengajari anak.
Jadi ketika dia menikah, Ambar merasa sangat bersyukur. Serasa terlepas dari pengawasan seekor pelanduk. Ternyata itu hanya beberapa saat kelegaan itu. Karena kemudian terjadi seperti peristiwa kemaren. Hal itu membuat Ambar tidak bisa berdiam diri lagi, karena bukan saja menyangkut dirinya. Tetapi menyangkut kehidupan putranya, Juha.
Ambar tersentak, ketika mendengar pengumuman, sebentar lagi kereta akan sampai di stasiun yang tujuannya. Ambar berdiri dan siap-siap untuk turun. Ketika turun dari kereta, Ambar kembali memesan ojol untuk pulang ke rumah. Karena dia sudah tidak kuat lagi untuk berjalan ke rumah, dan dia sudah merindukan putranya.
Setelah sampai di rumah, dia disambut oleh Juha yang sedang bermain bersama Seni di ruang tamu. "Mamaaa... Juha kangen sekali sama Mama." Ucap Juha sambil berlari untuk memeluk Ambar, tetapi dia menahannya.
"Mama juga, sayang. Tetapi sebentar ya, jangan peluk Mama dulu. Mama mau bersih-bersih dan ganti baju. Mama kotor dari luar, nanti ada kuman yang menempel di baju Mama, akan menempel di badan Juha. Sebentar, yaa." Ucap Ambar dan memasuki kamarnya untuk membersihkan diri.
Ketika masuk kamar, Ambar terkejut melihat kamar yang berantakan. "Seni... Tolong bantu bersihkan dan rapikan kamar ini, yaa." Ucap Ambar kepada Seni, lalu Seni langsung mengerjakannya. Karena selama ini, Seni tidak pernah membersihkan kamarnya. Ambar sendiri yang merapikannya, tetapi sekarang sudah tidak kuat lagi untuk mengerjakannya.
Ambar segera membersihkan diri sebelum Rulof pulang, karena Ambar tidak ingin bertemu dengannya di kamar mereka. Ambar segera ganti baju dan mengambil baju yang dibutuhkannya untuk berangkat kerja besok. Semua perlengkapan wanitanya, dia pindahkan ke kamar Juha.
"Sedikit lagi, Seni. Sekarang tolong buatkan saya teh panas, ya. Kalau kau mau, buatkan juga untukmu. Ibu mau bicara sebentar denganmu dan Juha." Ucap Ambar, sambil mengangkat Juha dan menggedongnya. Juha tertawa senang, duduk di pangkuan Ambar.
"Hari ini, Juha tidak menyusakan Mba' Seni, kan?" Tanya Ambar, sambil mencium pipi Juha yang cabi. "Tidak ko', Ma. Tadi Juha tidur siang dan juga belajar berhitung sama Mba' Seni." Jawab Juha, sambil memeluk Mamanya.
"Uuuuhh... Anak Mama tambah besar, tambah pintar, yaa." Ucap Ambar, sambil balik memeluk Juha dengan sayang.
"Sekarang, Juha nonton dulu, ya. Mama mau bicara dengan Mba' Seni. Nanti setelah itu, kita makan malam." Ucap Ambar kepada Juha.
"Baik, Ma." Ucap Juha, sambil turun dari pangkuan Ambar, dan berjalan ke ruang tamu untuk nonton TV.
__ADS_1
Ambar minum teh panas yang telah dibuat oleh Seni perlahan. "Seni, sekarang Ibu sudah mulai kerja. Jadi Ibu minta bantuanmu, tolong lihat dan urus Juha, ya." Ucap Ambar sambil melihat Seni yang sedang duduk dengannya di meja makan.
"Baik, Bu. Ibu tenang saja bekerja, nanti Seni bantu ngurusin Juha." Ucap Seni, dan merasa terharu melihat Nyonyanya. Suaminya memiliki pekerjaan yang bagus, tetapi istrinya harus mencari uang untuk dirinya sendiri.
"Makasih, Seni. Ibu akan berangkat pagi dan pulang seperti tadi. Dan sementara ini, kalau bapak tidak memberikan uang untuk belanja, kau tolong pakai uangmu untuk belanja makanan, ya. Minimal untuk kalian berdua. Semua pengeluaran itu kau catat, nanti Ibu ganti jika sudah gajian." Ucap Ambar pelan, karena merasa tidak enak hati terhadap asistennya.
"Begitupun dengan uang yang Ibu pinjam darimu untuk berangkat kerja. Nanti Ibu ganti setelah gajian." Ucap Ambar, makin tidak enak hati membicarakannya. Karena tadi pagi, dia harus pinjam uang dari Seni untuk pergi ke kantor Sari.
"Kalau Ibu sudah ada uang, nanti Seni tolong jemput Juha di sekolah, ya. Ibu akan kasih ongkos untuk jemput Juha. Sementara ini, Juha tidak ke sekolah. Nanti kalau Ibu ada libur, kita pergi ke sekolah Juha, supaya Seni tahu jalannya." Ucap Ambar lagi.
"Iyaa, Bu. Nanti kalau bapak tanya mengenai Ibu, saya jawab apa? Karena tadi pagi saya hanya bilang Ibu sedang keluar." Ucap Seni, mengingat peristiwa tadi pagi.
"Ngga papa... Seni bilang saja, Ibu sedang keluar cari kerja. Jadi sementara, Juha tidak sekolah dulu, karena tidak ada yang menjemput." Ucap Ambar, tenang.
"Baik, Bu. Nanti saya sampaikan, jika ditanya bapak." Ucap Seni, prihatin dengan kondisi Nyonyanya.
"Mari... Kita makan malam, karena Ibu lumayan cape', mau istirahat lebih awal." Ucap Ambar, sambil berdiri untuk menyiapkan piring.
"Tidak usah, Bu. Nanti Seni yang siapkan. Ibu minum saja dulu." Ucap Seni, mencegah Ambar berdiri.
"Ooh, iya. Makasih.." Ucap Ambar, kemudian menghabiskan tehnya dan berdiri memanggil Juha untuk makan malam.
"Seni... Apakah ini sudah semua lauknya?" Tanya Ambar, ketika melihat makannannya tidak akan cukup jika untuk Rulof juga.
"Iyaa, Bu... Makanannya dihabiskan saja semua. Kalau bapak pulang dan belum makan, nanti bisa dibuatkan mie. Tadi Seni ada beli beberapa bungkus mie instan untuk berjaga-jaga." Ucap Seni, ketika mereka hendak makan.
__ADS_1
"Ooh, iya... Trima kasih. Juha, berdoa dan makan yang banyak, biar kuat." Ucap Ambar, sambil mengangkat tangannya memberikan semangat untuk putranya. Juha ikut mengepalkan tangannya, sambil tersenyum dan mengatupkan tangannya untuk berdoa.
~●○♡○●~