MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Tegar.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Mathias masih memperhatikan Ambar dengan seksama. "Anda tinggal dengan siapa di rumah?" Tanya Mathias lagi, mulai khawatir. Karna melihat Ambar yang tidak menyadari situasi yang sedang dihadapinya.


"Saya tinggal dengan anak saya dan ART, Pak." Ucap Ambar pelan, karena mengingat anaknya yang sering takut mendengar teriakan dan makian dari keluarga Papanya.


"Apakah ART anda bisa dipercaya?" Tanya Mathias lagi, dan Ambar mengangguk yakin. Karena dia percaya, Seni bisa dipercaya.


"Iyaa, Pak. Hanya kasihan mereka di rumah, kalau saya pergi kerja. Keluarga Alm. suka datang untuk meneror mereka." Ucap Ambar tunduk dengan mata berembun.


"Begini, sekarang urus yang tadi saya katakan itu. Jika benar ada uang di bank yang cukup, anda berhenti kerja dulu sementara. Urus yang di rumah, sebagai istri sah. Jadi itu adalah hak anda dan anak anda." Ucap Mathias tegas.


"Lihat saya... Astagaaa, bagaimana anda mau berperang, jika anda sudah seperti ini." Ucap Mathias terkejut, ketika Ambar melihatnya, dan air mata mulai tergenang di matanya.


"Sekarang ini, anda harus kuat dan saatnya tegar demi anak anda. Pikirkan anak anda dan berjuanglah." Ucap Mathias, menyemangati Ambar. Dia belum bisa membantu Ambar lebih dari itu, karena Ambar belum membutuhkan pembelaannya.


Ambar menunduk dan menenangkan hatinya. "Maafkan saya, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan saya. Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk saya." Ucap Ambar, sambil menahan gejolak hatinya. Mengingat kejadian yang dialaminya dan juga putranya yang sering diam dan bersedih.


"Baik, ini kartu nama saya. Kalau ada perlu bantuan, silahkan hubungi saya. Tidak perlu datang ke sini. Ingat, jangan tanda tangani apa pun." Ucap Mathias, sambil menyerahkan kartu nama pribadinya kepada Ambar.


"Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya." Ucap Ambar, sambil membungkuk dan meningalkan ruangan. Mathias memandang punggungnya dengan berbagai tanya. Kondisinya lebih buruk daripada pertama kali bertemu dengannya.


"Sudah selesai, Bu Ambar?" Tanya Bagas, saat melihat Ambar berjalan ke ruang tunggu.


"Sudah, Mas. Trima kasih, saya bisa duduk di ruang tunggu sebentar? Saya sedang pesan ojol." Ucap Ambar, sambil menunjuk kursi di ruang tunggu dengan jempolnya.

__ADS_1


"Ooh, iyaa. Silahkan, Bu. Kalau mau minum juga, silahkan. Itu ada dispenser di ruang tunggu." Ucap Bagas, karena melihat wajah Ambar yang tidak happy.


"Iya Mas, terima kasih." Ucap Ambar sambil menundukan kepalanya, Bagas otomatis ikut menundukan kepalanya juga.


Sepeninggal Ambar, Mathias menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. 'Ternyata dia tidak mengingatku, apalagi mengenalku. Yaaa... Bagaimana mau mengingatku, sedangkan banyak persoalan yang sedang dihadapinya.' Mathias membatin, sambil melihat langit-langit ruang kerjanya.


'Apakah aku tadi terlalu keras padanya?' Tanya Mathias dalam hati, mengingat wajahnya dan air matanya yang hampir tumpah.


Mengingat itu semua, Mathias menghubungi Bagas untuk datang keruangannya. "Bagas, Ibu Ambar sudah pulang?" Tanya Mathias setelah Bagas masuk ke ruangannya.


"Belum, Pak. Masih tunggu ojol di ruang tunggu. Tadi beliau minta ijin untuk tunggu di sana.


"Oooh... Kalau begitu, kau segera ke ruang tunggu, minta alamat rumah dan nomor telponnya. Nanti baru ke sini lagi dan kita bicarakan. Cepat..." Ucap Mathias, mengingat tadi lupa minta alamat dan no teleponnya.


Bagas segera berlari keluar ke ruang tunggu, karena khawatir Ambar telah pergi. Ternyata Bagas terlambat. Setelah sampai di ruang tunggu, dia melihat lewat kaca jendela, Ambar telah duduk di atas motor ojol dan keluar dari tempat parkir menuju jalan raya.


"Baiklah. Biarkan saja dulu, semoga beliau menghubungi kita lagi. Ada yang aku lupa tanyakan tadi. Semoga tidak bermasalah, dan jika ada masalah beliau mau menghubungi kita." Ucap Mathias lagi, dan merasa heran dengan sikapnya tadi kepada Ambar. 'Mungkin nanti aku akan ke restoran Sari untuk mengecek kondisinya.' Mathias membatin.


"Mulai sekarang, kau buatkan daftar hadir dan letakan di ruang tunggu. Agar client yang datang dengan kasus TQ bisa mengisi data mereka di sana." Ucap Mathias, lupa mempersiapkan hal itu.


*((**))*


Di sisi yang lain ; Ambar dalam perjalanan dengan ojol ke Ayam Baqcot Restaurant. Dia akan kembali bekerja dan akan membicarakan pertemuannya dengan Mathias kepada Sari.


Setelah tiba di restaurant, Sari memanggil Ambar ke ruangannya. Sekarang Ambar tidak melayani di restoran lagi, tetapi membantu di bagian keuangan. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Sari, ada karyawannya yang akan cuti melahirkan. Sehingga belakangan ini, Ambar dipekerjakan di bagian keuangan.

__ADS_1


"Bagaimana pertemuanmu dengan Pak Mathias? Apakah kau bisa bertemu dengannya?" Tanya Sari, setelah Ambar berada di ruangannya. Dia sengaja tidak menghubungi Mathias, biar Ambar sendiri yang berbicara dengan Mathias.


"Iyaa... Aku bisa bertemu dengannya, dan terima kasih telah merujuk aku ke sana, Ri. Beliau sangat menolongku, karena ada hal-hal yang tidak terpikirkan olehku." Ucap Ambar, menceritakan pertemuannya dengan Mathias kepada Sari.


Karena Sari tahu permasalahan yang dihadapi Ambar, semenjak suaminya meninggal. Sari banyak membantunya, sehingga merekomendasikan agar dia berkonsultasi dengan Mathias.


"Mungkin beberapa waktu ke depan, aku akan minta cuti, karena harus mengurus surat-surat yang berhubungan dengan kematian dan peninggalan Mas Rulof." Ucap Ambar, menjelaskan.


"Iyaa, ngga papa. Kau katakan saja, jika mau cuti." Ucap Sari, mengerti kondisi yang sedang dihadapi Ambar.


"Aku menunggu Tara masuk dari cuti melahirkan saja, baru mengambil cuti. Agar ada yang membantu mengurus keuanganmu." Ucap Ambar. Karena mengingat kebaikan Sari, dia tidak bisa berlaku suka-suka.


"Baik, kalau begitu. Namun jika mendesak, kau libur saja. Nanti aku pegang keuangan sementara kau tidak ada." Ucap Sari, yang mengerti kesulitan Ambar.


"Iyaa, Ri. Trima kasih. Nanti selama aku cuti, tidak usah membayar gajiku. Kalau aku sudah balik bekerja lagi, baru kau bayar seperti biasanya. Karena aku belum tahu, harus ambil cuti berapa lama. Besok aku libur seperti biasa saja dulu." Ucap Ambar, mulai memikirkan apa yang dikatakan Mathias.


Dia harus libur kerja untuk mengurus permasalahan yang sedang dihadapimya. Dan dia harus sering ada di rumah untuk mendampingi Juha.


"Baik, nanti kita bicarakan lagi." Ucap Sari, untuk mengakhiri pembicaraan mereka. Ambar segera keluar dari ruangan Sari dan kembali ke ruang keuangan.


Menjelang sore hari, Ambar pamit kepada Sari untuk pulang. Sari belum pulang, karena masih harus mengawasi karyawannya bekerja. Tamu yang datang makan di restoran nya makin banyak dan ramai setiap hari.


Ambar memesan ojol untuk mengantarnya ke stasiun Gondangdia. Ketika telah tiba di stasiun, Ambar segera naik kereta ke arah Bekasi yang baru tiba. Ambar merasa bersyukur, karena kereta masih belum padat jadi bisa dapat tempat duduk.


Ambar menyandarkan punggungnya, dan merenungi berbagai peristiwa yang dihadapinya dengan keluarga Alm. suaminya. Seakan tidak pernah berhenti, walaupun suaminya sudah meninggal.

__ADS_1


Dia merenungi apa yang dikatakankan Mathias.  'Benar yang dikatakan oleh Pak Mathias, aku jangan santai atau cuek dengan kondisi yang terjadi. Aku tidak boleh mengabaikannya lagi.' Ucap Ambar membatin, dan menyemangati dirinya.


~●○♡○●~


__ADS_2