
~•Happy Reading•~
Ketika mendengar Ambar sedang membicarakan tentang rencana pemakaman Rulof, Inge teringat keluarganya di Makassar belum dikabari tentang meninggalnya Rulof. Dia langsung menghubungi Tiara, adiknya di Makasar. Setelah berbicara dengan Tiara, Inge mendekati Ambar dengan tangis tertahan.
"Ambar, Tiara dan Mama mau datang ke sini. Jadi pemakaman Rulof tunggu sampai mereka tiba di sini." Ucap Inge tegas. Ambar yang sedang berbicara dengan pihak Gereja untuk pelaksanaan Ibadah, langsung melihat Inge dengan terkejut.
"Kapan mereka tiba di sini, Kak? Karena Mas Rulof tidak diformalin. Tolong pastikan, agar bisa diputuskan. Karena melihat kondisi jenasah, paling lambat besok siang sudah harus dimakamkan." Ucap Ambar, sambil melihat Inge meminta kepastian.
"Segeralah kau kirim uang tiket kepada mereka, agar mereka bisa cepat datang." Ucap Inge, seenaknya tanpa melihat situasi yang sedang terjadi.
"Apa tadi Kak Inge tidak melihat? Jenasah mau dibawa pulang ke rumah ini saja, saya dibantu oleh tetangga. Dan juga, kenapa jenasah tidak sekalian diformalin? Karena itu harus pakai duit. Jadi segeralah, Kak Inge dan keluarga berusaha sendiri kalau mau datang." Ucap Ambar tegas, karena mulai pusing dan sakit kepala mendengar yang dikatakan Inge.
Inge langsung merespon telpon dari keluarganya, karena telah berkali-kali menghubunginya. Mereka sedang menunggu kepastian dari Inge untuk berangkat ke Jakarta. Ketika Inge menyampaikan yang dikatakan Ambar, mereka berteriak dan memaki Ambar. Inge mendekati Ambar lagi, untuk menyampaikan tuntutan keluarganya.
"Ambar, keluargaku sedang menunggu kepastian darimu. Jadi cepat kirim uang kepada mereka, sebelum mereka marah. Jangan kau berpura-pura tidak punya uang, karena Rulof bukan pengangguran." Ucap Inge, tidak terima dengan sikap Ambar dan juga desakan keluarganya.
"Saya katakan sekali lagi Kak Inge. Keluargamu harus berusaha sendiri, kalau mau datang ke sini. Jangan mengharapkan bantuan dariku, karena Kak Inge tidak buta bukan?" Tanya Ambar sudah mulai emosi dan tidak bisa menahan sakit kepalanya menghadapi kondisi yang sedang terjadi.
"Kalau kalian memaksa untuk saya memberikan bantuan, silahkan Kak Inge jual meja kursi itu untuk beli tiket. Jadi kalau Kak Inge membiarkan mereka datang dengan mengutang, silahkan Kakak urus dan bayar sendiri." Ucap Ambar, dalam kamarahannya, dia khawatir mereka bela-belain ngutang untuk datang ke Jakarta.
"Jadi segeralah berikan keputusan, saya tunggu kepastian dari Kak Inge lima belas menit lagi." Ucap Ambar, kemudian meninggalkan Inge yang terdiam. Ambar berjalan ke dapur mencari Seni.
"Seni, tolong buatkan teh panas untuk Ibu, karna kepalaku sudah mulai sakit." Ucap Ambar sambil memegang pelipis dan kepalanya.
__ADS_1
Seni langsung memberikan teh kepada Ambar, karena dia telah membuatnya dari tadi. Namun melihat perdebatan Nyonyanya dengan Inge, Seni urung memberikannya.
"Ibu tenang... Jangan sampai sakit, kasihan Juha." Ucap Seni, sambil memijit tengkuk Ambar. Dia sangat kasihan melihat Nyonyanya yang sedang berduka, tetapi harus bersitegang dengan iparnya.
Ketika Seni memijitnya, Ambar teringat kantornya. Dia mengirimkan berita dukanya kepada Sari, sekalian minta libur untuk beberapa hari.
Pak Rt/Rw dan tetangga yang bantu urus proses pemakaman bersama pihak Gereja mendekati Ambar untuk memastikan waktu pemakaman. Melihat Inge yang sedang mondar-mandir, Ambar datang mendekatinya.
"Bagaimana, Kak Inge? Itu sedang ditunggu." Ucap Ambar pelan, tetapi tidak sabar melihat Inge yang tidak jelas. Ketika melihat Inge tidak merespon pertanyaannya, Ambar mengambil keputusan sesuai dengan kondisinya.
"Silahkan Kak Inge katakan untuk keluarga, pemakamannya besok siang. Mau datang atau tidak, itu keputusan dan tanggung jawab Kak Inge dan keluarga." Ucap Ambar tegas, karena kepalanya bisa meledak jika harus menunggu kepastian dari keluarga Rulof.
Ambar segera mendekati Pak Rt/Rw, Pak Tony dan pihak Gereja yang sedang menunggu kepastian darinya. Ambar menyampaikan keputusannya untuk dimakamkan besok siang, pukul 14.00 wib.
Setelah semua urusan pemakaman telah diatur, Ambar duduk terhenyak. Dia mendekati Juha yang sedang bersama Seni dan memeluknya erat sambil menangis tertahan. Juha yang dari tadi terus menangis, tersedu-sedu dalam pelukan Ambar.
Ambar merasa sangat bersalah terhadap Rulof dan Juha. Ketidak sabarannya membuat hal yang seperti ini harus dihadapi. Juha harus kehilangan Papanya pada saat masih sangat kecil. Seni terus mengelus punggung Nyonyanya, karena dia tahu kondisi keluarga majikannya.
*((**))*
Keesokan harinya, sebelum waktu pemakaman, Mama Rulof dan Adik perempuannya, Tiara tiba dari Makassar. Suami Inge yang pergi menjemput mereka di bandara.
Ketika tiba di rumah duka dan melihat Rulof terbujur kaku di dalam peti, Mamanya dan Tiara menjerit histeris. Mereka menangis sambil menguncang peti jenasah, seakan tidak percaya Rulof telah meninggal.
__ADS_1
Mama Rulof dan Tiara pingsan berkali-kali. Melihat itu, Ambar makin merasa bersalah. Dia menunduk sambil menangis terisak bersama Juha dalam pelukannya.
Orang kantor Rulof dan Sari bersama beberapa karyawannya juga sudah datang untuk menyatakan turut berduka. Jemaat dari Gereja juga sudah datang untuk mengikuti Ibadah Pemakaman.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik datang dengan berpakaian hitam mendekati peti jenasah Rulof dan menangis tersedu-sedu. Karena penampilannya yang menyolok, dia menjadi pusat perhatian. Semua orang yang ada dalam ruangan melihat ke arahnya.
Ketika dia mendekati Ambar untuk memberikan ucapan duka cita, Ambar membeku. Bau parfum dari tubuh wanita tersebut mengingatkan Ambar pada kemeja Rulof.
Ambar memperhatikan wanita tersebut yang kembali berdiri di samping peti jenasah Rulof dan terus menangis dalam diam. Hati Ambar yang tadi merasa bersalah dan sedih, sirna bersama kemarahannya. 'Jadi wanita ini yang membuatmu melupakan istri dan anakmu. Membiarkan kami sakit dan lapar, sedangkan kau bersenang-senang dengannya?' Tanya Ambar dalam hati terhadap Rulof.
Hal itu membuat bukan saja hatinya yang membeku, tetapi juga air matanya ikut membeku. Tidak ada lagi setetes air mata mengalir dari matanya. Karena rasa marah dan kecewa terhadap Alm. suaminya.
"Juha, cukup menangisnya. Juha ngga mau Mama dan Juha sakit bukan? Sekarang Papamu sudah tenang, jadi sekarang masuk ke kamar. Juha berdoa, agar Mama tetap sehat dan bisa mendampingi Juha terus." Ambar berbisik kepada putranya. Kemudian memanggil Seni untuk mengantar Juha ke kamarnya.
Melihat situasi dan perubahan wajah Ambar, Sari mendekatinya dan duduk di kursi Juha sambil mengelus punggung Ambar untuk menenangkannya. Sari menyadari, ada yang tidak beres dengan kedatangan wanita tersebut. Karena dia terus berdiri dan menangis di samping peti jenasah suami Ambar.
"Tenangkan dirimu, jangan sampai sakit. Ada anakmu yang membutuhkanmu. Pikirkan dia, supaya kau kuat." Sari berbisik di telinga Ambar dan terus mengusap punggungnya.
Ambar menganguk dalam diam, mencoba bernafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sari memberikan kode dengan tangan untuk memanggil Seni. "Tolong ambil air mineral, ya." Ucapnya kepada Seni.
Ketika Seni telah membawa air mineral, Sari memberikannya kepada Ambar. "Minum air ini, dan coba tenang. Semua mata sedang memandangmu. Biarkan acara pemakaman ini, berjalan dengan baik." Sari berbisik kepada Ambar, sambil menyerahkan minuman yang ada di tangannya.
Inge mengajak wanita yang sedang menangis di samping peti jenasah Rulof untuk duduk di dekat mereka. Karena melihat wanita tersebut telah menjadi pusat perhatian orang yang melayat dan juga hendak Ibadah Pemakaman.
__ADS_1
Ambar memperhatikan semua itu dengan hati yang teriris. Sari terus mengelus punggung Ambar, karena dia yang tidak tersangkut saja bisa merasakan sakit hati. Apalagi Ambar sebagai istri Rulof, pasti sangat terluka. Sari mulai mengerti, mengapa Ambar meminta pekerjaan darinya.
~●○♡○●~