
~•Happy Reading•~
Bagas mengambil kantong di atas meja makan dan mengikuti bossnya masuk ke kamar. Mathias menggelengkan kepalanya, saat melihat kamar yang berantakan. "Bagas, tutup pintu kamarnya." Ucap Mathias, karena dia akan membuka jendela ke arah balkon, agar bisa ada pergantian udara.
"Tolong kau angkat penutup kasurnya, gulung saja dan masukan ke dalam kantong sampah. Saya akan periksa lemari pakaian." Ucap Mathias, sambil mengeluarkan kunci dari kantong celananya.
Ketika melihat isi lemarinya, Mathias bernafas lega. Karena semua isinya tidak diotak-atik oleh Angel. Mathias mengijinkan Angel mengunakan lemari yang satu, sedangkan semua miliknya dia pindahkan ke lemari yang satu dan menguncinya.
Melihat lemarinya aman, Mathias membuka lemari yang digunakan oleh Angel dan terkejut melihat isinya. Banyak terdapat lingering berbagai warna dan bentuk.
"Bagas, buka satu kantong sampah." Ucap Mathias, dan mengambil semua lingering tersebut dan memasukannya ke dalam kantong sampah. Dia mengambil semua pakaian dalam Angel dan memasukannya satu satu kantong.
"Bagas, ambil spidol dalam kantong belanjaan itu, dan tulis di kantong sampah ini DALAM. Supaya kita tau, mana yang harus dibuang." Ucap Mathias, dengan jijik.
"Bagas, mari bantu angkat baju-baju ini dan letakan di lantai. Kita akan memilahnya. Mungkin ada yang bisa disumbangkan." Ucap Mathias, dan mulai mengeluarkan pakaian Angel yang banyak dari dalam lemari.
"Semua kaos-kaos ini masukan ke dalam satu kantong dan tulis KAOS di kantongnya. Agar muda membedakan untuk di sumbang kemana." Ucap Mathias, memberikan petunjuk kepada Bagas.
Sebelumnya Mathias sudah memerintahkan Bagas untuk buang ke tempat sampah. Tetapi setelah dipikirkannya lagi, lebih baik disumbangkan kepada orang yang memerlukan. Setelah melihat kaos-kaos Angel yang masih baik dan bagus, Mathias terpikirkan untuk diberikan kepada anak-anak panti asuhan yang pernah dibelanya dalam kasus TQ.
"Baju-baju yang ini mau disumbangkan ke mana Pak? Baju-baju ini sangat mahal." Ucap Bagas, ketika melihat baju-baju pesta Angel yang bagus-bagus dan mahal.
"Terserah mau diapakan, yang penting jangan ada sepotong juga yang tertinggal dalam apartemen ini." Ucap Mathias, sambil mengeluarkan baju Angel.
"Baik, Pak... Serahkan sama saya, nanti besok semua ini akan diangkut dari sini." Ucap Bagas, teringat pada temannya yang punya butik. Karena ada banyak baju mahal yang belum dipakai. Masih ada label dan harganya yang tergantung.
Bagas menggelengkan kepalanya, membayangkan jika Angel menikah dengan bossnya. 'Wuuaooh... Kantor bisa ditutup.' Ucap Bagas dalam hati dan tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Tanya Mathias, saat melihat senyum di wajah Bagas.
"Melihat semua ini, saya tadi membayangkan. Jika bapak jadi menikah dengan Mba' Angel, gaswaaattt." Ucap Bagas, kembali tersenyum.
"Saya tau yang ada dipikiranmu itu, pasti akan sering terlambat terima gaji." Ucap Mathias jadi tersenyum dengan apa yang diucapkannya.
"Bukan itu, Pak. Lebih dari itu. Bukan terlambat terima gaji, tetapi tidak terima gaji karna kantor bapak ditutup. Hehehehe.." Ucap Bagas sambil tertawa. Mathias pun ikut tertawa, tetapi hatinya bergidik membayangkan yang diucapkan Bagas.
Setelah semua pakaian dikeluarkan, Mathias melihat sebuah kotak di dasar lemari. Ketika Mathias membukanya, dia lebih terkejut dari sebelumnya. "Wanita ini benar-benar penguras yang super." Ucap Mathias, sambil menunjukan kotak perhiasannya kepada Bagas dan ikut terkejut sampai melongo.
"Lepasin satu kantong belanjaan itu, biar saya mau memasukan kotak ini. Kau ambil surat-surat mobilnya dan simpan." Ucap Mathias kepada Bagas yang masih terdiam, tidak bisa berkata-kata.
"Apakah Mba' Angel ada punya mobil, Pak?" Tanya Bagas takjub, seakan tidak percaya.
"Iyaa... Ini surat-suratnya, mobil Pak Erwin. Nanti setelah ini, kau bantu menjualnya. Pak Erwin telah menyerahkannya kepada kita.
"Astagaaa, Mba' Angel kuras kering, riiing." Ucap Bagas sambil mengambil surat-surat mobil dari tangan bossnya dan keluar menyimpan dalam tasnya agar tidak terselip diantara baju-baju.
"Nanti setelah ini, kita periksa isi tasnya malam itu. Mungkin kunci mobil ada di dalam tas itu." Ucap Mathias menebak, karena dia tidak menemukan kunci mobil dalam kamarnya. Bagas mengangguk mengiyakan.
Selama tas itu padanya, Mathias belum pernah membukanya. Jadi dia tidak tahu apa saja isi tasnya. Mathias melihat juga, Angel memiliki beberapa tas bermerek dan masih dalam kantongnya.
"Bagas, ini sekalian kau bawa ke temanmu." Ucap Mathias, sambil menyerahkan beberapa kantong tas. Ketika Bagas mengintip isinya, kembali dia melongo.
"Mba' Angel luar binaaszaa. Pasti sekarang lagi demam mikirin ini semua." Ucap Bagas, membayangkan Angel harus kehilangan barang-barang yang ada di hadapannya.
"Tadi dia lebih cendrung untuk meminta tas yang malam itu. Mungkin karna ada kunci mobil dan lebih membutuhkan itu dari pada perhiasan-perhiasan ini." Ucap Mathias, sambil menepuk kotak perhiasan di lantai.
__ADS_1
"Melihat semua perhiasan ini ada surat-suratnya, dia pasti akan berusah memintanya. Kita akan tetap menyimpannya, karna ada yang saya rencanakan." Ucap Mathias, sambil melihat kotak perhiasaannya.
Dia berpikir, seorang wanita seperti Angel tidak mungkin melepaskan semua ini. Sehingga timbul ide dalam pemikiran Mathias untuk menyimpannya. Tetapi tidak mau memeriksa apa saja perhiasannya yang banyak itu.
'Mungkin nanti suatu waktu, aku akan memeriksanya.' Ucap Mathias dalam hati, mengingat pekerjaan Angel yang belum terlalu jelas, tidak mungkin bisa membeli perhiasan sebanyak ini.
Dia baru beberapa kali mengikuti fahsion show berskala kecil dan kontrak kerja yang ditawarkan kepadanya belum ada yang bombastik. Mathias mengingat kontrak kerja yang pernah dibicarakan dengannya.
Mathias memasukan kembali perhiasan tersebut ke dalam kantong belanjaan dan keluar kamar untuk meletakan kotak tersebut di samping tas kerjanya. Kemudian dia kembali masuk ke kamar, untuk melihat kondisi kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ada banyak perangkat mandi Angel. Mathias membuang semua perlengkapan mandi dan make up Angel ke dalam kantong sampah. Kemudian dia membersihkan kamar mandinya.
"Pak, biarkan saya yang menyikatnya." Ucap Bagas menyusul masuk ke kamar mandi, ketika mendengar bunyi sikat kamar mandi. Mathias berdiri keluar meninggalkan kamar mandi. Karena Bagas mendesak untuk membersihkannya.
Mathias menuju balkon dan melihat apa yang ada di sana. Dia membuang semua handuk dan cucian yang ada di tempat jemuran handuk. Kemudian dia menutup jendela kamar, menyalahkan AC dan meletakan pengharum ruangan.
Setelah Bagas selesai membersihkan kamar mandi, mereka keluar dan duduk di meja makan. "Bagas, pesan makanan di restoran yang terdekat di sini, agar kita makan dulu sebelum pulang. Jangam lupa pesan minumnya juga." Ucap Mathias, mengingat kulkasnya yang kosong.
"Baik, Pak." Ucap Bagas, sambil mengambil ponselnya untuk pesan makanan. Mathias membuka tas kerjanya dan mengeluarkan tas kecil Angel untuk memeriksanya.
Mathias menumpahkan semua isinya ke atas meja makan untuk mencari kunci mobil. Ternyata benar, ada kunci mobil di dalam tasnya. Matias mengambilnya dan memberikan kunci tersebut kepada Bagas.
"Astagaaa... Wanita ini bukan manusia, dia seperti binatang." Ucap Mathias terkejut, melihat selebar surat pembelian perhiasan di tangannya. Mendengar ucapan bossnya, Bagas ikut melihat kertas yang ada di tangannya.
"Astagaaa... Ini baru di beli hari itu, Pak. Ini di Sency dan tanggalnya, saya ingat." Ucap Bagas, memperhatikan tempat dan tanggal yang tercantum.
"Dia benar-benar seperti binatang yang tidak berperasaan. Padahal dia tahu, laki-laki itu suami orang. Apa jadinya dengan keluarganya." Ucap Mathias, melihat angka yang fantastik, harga perhiasan tersebut.
__ADS_1
"Bagas, kau puas-puasin hidup bujang. Supaya jangan seperti laki-laki bodoh ini." Ucap Mathias geram, sambil memasukan semua yang ditumpahkan ke dalam tas Angel kembali.
~●○♡○●~