MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Malam Pertama.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Setelah selesai acara di Ballroom Sendura Hotel, Mathias mengantar Bagas pulang sebelum kembali ke rumahnya.


"Ambar, nanti aku akan menurunkanmu di depan rumah, ya. Aku mau pulangin mobil dulu, supaya kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Ibu, sopir bisa membawa Ibu ke Rumah Sakit." Ucap Mathias, saat mereka akan masuk ke komplek perumahan.


"Iyaa, Mas. Tetapi setelah itu ke rumah kan?" Tanya Ambar berharap, Mathias akan datang ke rumahnya.


"Iyaa. Nanti jangan lupa setelah kunci pintu, kuncinya diangkat." Ucap Mathias, meyakinkan Ambar sebelum turun dari mobil.


"Aku akan menunggumu masuk baru putar balik." Ucap Mathias, setelah berhenti di depan rumah. Ambar mengangguk, lalu turun dari mobil.


Setelah melihat Seni telah buka pintu pagar untuk Ambar, Mathias menjalankan mobilnya meninggalkan depan rumah Ambar. "Bu, apakah bapak tidak pulang ke sini?" Tanya Seni, ketika melihat majikannya menjalankan mobilnya meninggalkan depan rumah.


"Nanti pulang Seni. Bapak mau pulangin mobil dulu." Ucap Ambar, sambil masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke ruang tamu, Ambar terkejut karena Juha masih menonton TV.


"Juha, belum tidur?" Tanya Ambar, sambil mendekati Juha dengan dahi berlipat.


"Belum, Ma. Juha lagi tunggu mau lihat Mama." Ucap Juha, sambil berlari mendekati Mamanya.


"Astagaaa, anak Mama ini, benar-benar, ya. siniii... Cium Mama." Ucap Ambar sambil memeluk Juha dan membiarkan pipinya dicium. Juha memeluk dan mencium Mamanya dengan senang. Ambar membiarkan Juha memeluk dan menciumnya, karena tadi pergi dengan Mathias pakai mobil pribadi. Jadi dia tidak mengkhawatirkan hal-hal yang tidak diinginkan.


"Ayooo. Sekarang naik ke kamar dan tidur, ya. Mama tidak menemani Juha, karna mau ganti baju dan bersihin ini." Ucap Ambar sambil menunjuk wajahnya.


"Iyaa, Ma. Juha sudah gosok gigi." Juha melapor dan naik ke kamarnya untuk tidur. Karena yang diinginkan sudah terpenuhi.


Setelah melihat Juha naik ke kamarnya, Ambar mengunci pintu rumah dan mengangkat kuncinya. Kemudian dia masuk ke kamar untuk membersihkan wajahnya dari make up yang menutupi wajahnya.


Rambutnya yang lumayan tebal dan panjang melewati bahu, terasa kaku dan susah disisir karena pemakaian hair spray dari salon. Hal itu membuat Ambar masuk ke kamar mandi dan menyuci rambutnya. Setelah rambutnya mulai kering, Ambar menyiris pelan rambutnya. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuukk." Ucap Ambar, karena mengira Seni yang mengetuk pintu kamarnya.


"Maaf, Mas. Aku kira Seni yang memgetuk pintu. Aku ngga tau Mas sudah pulang." Ucap Ambar lalu segera berdiri, setelah melihat Mathias masuk ke kamarnya.


"Ngga papa, aku ingin bicara denganmu soal masalah tadi." Ucap Mathias, saat sudah masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Ooh iyaa Mas, silahkan duduk." Ucap Ambar, sambil mempersilahkan Mathias duduk di kursi meja riasnya. Sedangkan dia duduk di tepi tempat tidur.


"Aku mau bicara tentang Angel, agar kau tidak tertekan atau merasa rendah diri jika bertemu dengannya nanti." Ucap Mathias serius, sambil menatap Ambar. Sekarang Mathias sudah bisa menyebut nama Angel dengan santai, tidak lagi dengan wanita itu.


Ambar mengangguk pelan, ketika Mathias mengatakan mau berbicara tentang Angel. Mengingat kejadian di acara tadi dan di kantor Polisi, Ambar merasakan Angel bukan saja berhubungan dengan Rulof tetapi juga dengan Mathias.


"Kau harus ingat, karena Papa Juha telah meninggal. Angel tidak ada sangkut pautnya lagi denganmu. Jadi tidak perlu menyimpan sesuatu di hati terhadapnya." Ucap Mathias pelan dan serius.


"Sedangkan denganku, dia adalah bagian dari masa laluku yang tidak perlu diingat dan dibicarakan. Jadi kau bisa menghadapinya dengan percaya diri, karena kau lebih berharga darinya." Ucap Mathias tenang, dan tetap memandang Ambar dengan serius.


Ambar jadi mengerti saat mendengar yang dikatakan Mathias. 'Memang benar, Angel ada berhubungan dengan Mathias juga.' Ucap Ambar dalam hatinya.


"Kau tahu harus cerdik dan tulus?" Tanya Mathias, serius.


"Iyaa, Mas. Firman Tuhan." Jawab Ambar, singkat.


"Itu aku terapkan di pekerjaanku dan juga harus kita gunakan disemua aspek kehidupan kita. Seperti kata Alm. Ayahku, seseorang yang cerdik tanpa tulus, akan menjadi orang yang licik. Sedangkan orang yang tulus tanpa cerdik, cendrung akan menjadi orang yang bodoh."


"Mulai sekarang, pikirkan dua hal itu. Harus cerdik dan tulus, maka berjuanglah untuk hidupmu dan masa depan Juha." Ucap Mathias, kemudian berdiri meninggalkan kamar Ambar.


Menyadari Mathias telah berdiri dan melangkah keluar kamar dengan langkahnya yang panjang, Ambar berdiri dan berlari. Kemudian memeluk Mathias dari belakang sebelum Mathias membuka pintu kamarnya.


"Kau menginginkan aku tetap di sini?" Tanya Mathias terkejut, dan merasakan Ambar mengangguk tanpa suara di punggungnya.


"Kau tahu apa akibatnya?" Tanya Mathias lagi, dan Ambar kembali mengangguk tanpa suara.


Mathias segera membalikan badannya dan melihat Ambar yang refleks menutup wajahnya yang mulai memerah dengan kedua tangannya Mathias langsung menggendong Ambar ke tempat tidur ala bridle. Ambar tetap menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.


"Aku sudah mematikan lampu, jadi kau sudah bisa mengangkat tanganmu." Ucap Mathias menggoda Ambar, karena dia tahu Ambar masih merasa malu terhadapnya. Karena Mathias tidak mematikan lampu baca, Ambar bisa melihat Mathias saat membuka kedua tangannya.


"Hahahaha... Besok ganti lampu kamar ini dengan lampu sensor, sangat merepotkan." Ucap Mathias tertawa, melihat wajah Ambar. Kemudian Mathias memeluk dan menciumnya dengan lembut, perlahan tangannya menyentuh daerah sensitif Ambar, bersamaan dengan bibir mereka yang bertaut. Ambar menerima semua yang dilakukan Mathias, karena hatinya sudah sangat menginginkannya. Udara dalam kamar makin memanas seiring naiknya suhu tubuh mereka. Selanjutnya hanya cicak di dinding yang menyaksikan malam pertama mereka.


*((**))*

__ADS_1


Keesokan harinya, Ambar telah bangun untuk membuat sarapan bersama Seni. Karena Mathias akan berangkat kerja pagi-pagi dan harus mampir ke rumah orang tuanya.


Sedangkan Mathias sudah kembali ke kamarnya untuk mandi dan mempersiapkan dirinya untuk berangkat kerja. Saat Mathias berjalan ke ruang makan untuk sarapan dan melihat Ambar buru-buru ke kamar Juha dengan alis berlipat.


"Ambar, ada apa dengan wajahmu. Kenapa tidak melihatku?" Tanya Mathias mengganggunya, karena Ambar menghindar dan tidak menatapnya.


Ambar langsung memukul perutnya, karena tahu maksud ucapan Mathias. "Aaauuu.." Ucap Mathias sambil menunduk, menggoda Ambar.


"Mamaaa... Kenapa Papathias dipukul?" Tanya Juha yang sudah turun ke ruang makan. Hal itu membuat Ambar terkejut.


"Karna Papathias nakal." Ucap Ambar asal.


"Benarkah?!" Tanya Juha, dengan wajah polosnya.


"Mamamu yang duluan nakal." Jawab Mathias, asal juga


"Benarkah?! Kata Mama, anak-anak yang suka nakal." Ucap Juha polos.


"Kadang-kadang orang tua juga perlu nakal. Tetapi jangan kau pikirkan nakalnya orang tua, nanti rambutmu kusut." Ucap Mathias asal, membuat Ambar memukul lengannya.


"Mama jangan dipukul lagi, nanti Papathias sakit." Ucap Juha sambil memegang rambutnya.


"Ngga papa, Juha. Nanti kalau Papathias sakit, Mamamu yang ngobatin." Ucap Mathias masih, asal.


"Benarkah?! Tanya Juha, sambil melihat Ambar.


"Juha, mari sarapan nanti Papathias terlambat kerja. Ambarrr, kenapa kau tidak bantu menjawabnya?" Ucap Mathias, membelok pertanyaan Juha.


"Lagian Mas juga, kenapa tanggapi ucapannya. Bisa ngga ada akhirnya." Ucap Ambar, sambil tersenyum begitu juga dengan Seni yang tertawa mendengar pembicaraan majikannya.


"Bagas akan tertawa sepanjang hari, jika tau aku di KO in anak lima tahun." Ucap Mathias sambil sarapan, hatinya tersenyum membayangkan Bagas mengetehui hal yang baru terjadi.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2