MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Rulof - Ambar.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Pulang kerja, Ambar langsung pulang ke rumah naik ojol. Karena dia telah membeli makanan untuk mereka makan malam di rumah. Dia tidak mau berlama-lama di kereta. Dia ingin lebih cepat tiba di rumah untuk bertemu dengan putranya, Juha.


Setelah sampai di rumah, seperti biasa. Juha telah menunggunya. Ambar melihat, mobil Rulof ada di garasi. 'Berarti dia ada di rumah.' pikir Ambar. "Juha... Tunggu Mama bersihin badan dulu baru kita makan, yaa." Ucap Ambar, langsung masuk ke kamar Juha.


"Baik, Ma." Ucap Juha, tetapi mengikuti Mamanya masuk ke kamar. Ambar tersenyum, melihat Juha terus mengikutinya.


Setelah mandi, Ambar memeluk putranya dengan sayang dan mengajaknya keluar kamar menuju ruang makan. "Seni, tolong buatkan teh panas untuk Ibu, ya." Ucap Ambar, sambil duduk di meja makan bersama Juha.


"Baik, Bu... Mau makan sekalian juga, Bu? Biar saya siapkan lauk yang Ibu bawakan tadi." Ucap Seni, dan Ambar melihat jam di dinding.


"Boleh, Seni. Mari siapkan makanannya dan kita makan." Ucap Ambar, karena selain melihat jam dinding, dia juga melihat Juha yang sudah ingin makan.


"Bu, apakah bapak diajak makan juga?" Tanya Seni, karena tahu majikannya ada di rumah. Tidak mungkin dia duduk makan bersama dengan Nyonyanya.


"Kita makan saja dulu, nanti kau angkat untuk bapak makan malam. Mungkin kalau sudah lapar, mau makan." Ucap Ambar, sambil menyiapkan perangkat makan untuk mereka bertiga.


"Bu, saya makan di belakang saja. Jangan sampai bapak keluar mau makan dan melihat saya duduk di sini, beliau jadi marah." Ucap Seni, merasa tidak enak makan bersama Nyonyanya, saat majikannya ada di rumah.


"Baiklah, Seni. Ambil makananmu dan makan di belakang." Ucap Ambar, mengerti yang dimaksudkan Seni. Kemudian Ambar mengajak Juha untuk makan. "Ayoo, Juha. Mari berdoa dan kita makan." Ucap Ambar, setelah mengambil piring Juha dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Begitu juga untuk dirinya, kemudian mereka makan bersama.


Ketika melihat Juha makan dengan wajah yang senang dan lahap, Ambar bersyukur dalam hati. Bisa memberikan makanan yang lumayan lezat, setelah beberapa hari belakangan ini dia makan telur dan nasi. Seni juga makan dengan hati yang senang dan bersyukur, bisa makan lumayan lezat. Dia menyadari, mungkin Nyonyanya sudah memiliki uang, sehingga bisa membeli lauk yang enak.


Setelah selesai makan, Ambar merapikan meja dan menyuruh Juha ke kamar. "Juha, masuk ke kamar dan sikat gigi, ya. Mama mau bicara dengan Mba' Seni baru menyusul Juha ke kamar." Ucap Ambar sambil, mengelus puncak kepala putranya.


"Seni, sudah selesai makan?" Tanya Ambar, melihat Seni sudah mencuci piringnya.

__ADS_1


"Sudah, Bu. Mari saya cuci sekalian." Ucap Seni, sambil mengambil perangkat makan dari tangan Nyonyanya.


"Seni, Ibu mau ke kamar Juha sebentar. Nanti setelah Juha tidur, baru kita berbicara. Kalau bapak mau makan, tolong siapkan makanannya, ya." Ucap Ambar, kemudian meninggalkan Seni di dapur dan menuju ke kamar Juha.


Seperti biasanya, Ambar memeriksa yang dipelajari Juha sepanjang hari saat dia sedang pergi kerja. "Tadi Juha belajar apa? Mama bisa lihat?" Tanya Ambar, sambil duduk di tempat tidur Juha.


"Tadi Juha belajar tulis huruf, Ma. Ini Mama lihat, sudah bagus belum?" Jawab Juha sambil menunjuk buku yang sudah penuh dengan tulisan huruf.


"Waaahh... Anak Mama sudah pintar menulis. Huruf-hurufnya sudah mulai bagus. Tetapi belajar terus ya, biar makin bagus." Ucap Ambar sambil mengusap kepala Juha dengan sayang.


"Karna besok Juha belum bisa sekolah, jadi tetap belajar di rumah, ya. Besok, selain bikin bagus huruf-huruf ini, Juha juga belajar tulis angka 1 sampai 10, ya. Nanti pulang kerja baru Mama periksa lagi." Ucap Ambar, sambil menunjuk buku angka.


Kemudian Ambar menunjukan cara menulis angka dan Juha melihatnya. Kemudian Ambar mengambil tangan Juha dan melatihnya tulis angka. Setelah melihat Juha mulai terbiasa, Ambar mengajaknya untuk beristirahat.


"Mama, hari ini tidak usah baca cerita buat Juha. Kita tidur saja, karna Juha sudah  mengatuk. Juha masih kenyang, jadi Juha ngga mau minum susu." Ucap Juha, dan langsung berbaring.


Tiba-tiba pintu kamar Juha dibuka dengan kasar. Hal itu membuat Ambar dan Juha terkejut. Ambar tetap menggenggam tangan Juha untuk tetap terus berdoa. Setelah Amin, Ambar membaringkan tubuh Juha dan menyelimutinya.


"Selamat tidur, sayang. Tidur yang nyenyak, ya." Ucap Ambar, sambil mencium pipi Juha. Lalu Ambar beranjak meninggalkan kamar Juha, tanpa memperdulikan Rulof yang sedang berdiri di depan pintu kamar Juha.


Ambar berjalan ke ruang tamu, menunggu Rulof di sana. "Apakah kau tidak bisa membuka pintu dengan pelan? Apakah kau tidak tahu anakmu bisa saja sudah tidur?" Tanya Ambar emosi, saat melihat Rulof telah turun ke ruang tamu.


"Kau berani berkau-kau denganku? Aku ini lebih tua darimu." Ucap Rulof menahan emosinya.


"Kau lebih tua dariku, tetapi kau tidak bisa menunjukan sikap sebagai seorang yang lebih tua yang harus dihormati." Ucap Ambar, sambil melihat wajah Rulof dengan berani.


"Tidak usah banyak bicara, mana semua perhiasan yang ada di lemari. Kau kemanakan semua perhiasan itu?" Tanya Rulof, dengan marah.

__ADS_1


"Untuk apa kau tiba-tiba menanyakan perhiasanku? Itu perhiasanku, jadi mau dikemanakan juga bukan urusanmu." Ucap Ambar, sudah tidak mau mengalah.


"Perhiasanmu? Memangnya kau kerja apa sampai bisa membeli perhiasan? Itu semua dari uangku dan sekarang aku membutuhkannya. Jadi lekas kembalikan ke tempatnya." Ucap Rulof.


"Itu dari uangmu? Itu dari uang hasil resepsi pernikahan kita. Bukan hasil dari pekerjaanmu." Ambar membalas ucapan Rulof, dengan berani.


"Bagianmu sudah habis. Mau kutunjukan catatannya, sudah berapa banyak yang diambil olehmu? Kau mengambil lebih dari setengah untuk diberikan kepada keluargamu." Ucap Ambar, naik level marahnya.


"Kau pikir aku akan diam terus menerima perbuatanmu kepadaku dan Juha?" Ucap Ambar, tetapi Rulof meninggalkannya dengan marah. Ambar mengabaikan amarah Rulof dan kembali ke kamar Juha. Kemudian Ambar keluar lagi, turun dan berjalan menuju kamar Seni. "Seni, sudah tidur?" Tanya Ambar, sambil mengetuk pintu kamar Seni.


"Belum, Bu..." Jawab Seni, sambil membuka pintu kamarnya. Ambar langsung masuk ke kamarnya. "Seni, ini Ibu ganti uang yang dipinjam. Trima kasih, ya." Ucap Ambar, sambil memberikan amplop kepada Seni.


"Kalau Ibu masih mau pakai, ngga papa, Bu." Ucap Seni, sambil memegang amplop di tangannya.


"Ibu sudah ada uang, Seni. Nanti besok kita bicarakan lagi. Oooh iyaa, bapak sudah makan malam?" Tanya Ambar, mengingat Rulof.


"Sudah, Bu... Tadi ngga lama setelah Ibu ke kamar Juha, bapak keluar kamar dan tanya, ada makanan apa. Jadi saya siapin makanan yang Ibu bilang." Ucap Seni, menjelaskan.


"Ooh, iya Bu... Tadi pagi bapak mau pinjam uang sama saya, setelah mencari sesuatu di kamar dan juga mobil. Bapak sepertinya sedang kehilangan sesuatu, agak panik dan bingung sepanjang hari." Ucap Seni, menyampaikan kondisi yang terjadi di rumah.


"Dan ini, Bu... Saya mengangkat celengan Juha dan menyimpannya di sini. Karna menurut Juha, tadi bapak menanyakan celengannya. Tapi Juha bilang tidak tau, karna dia tidak tau Seni memindahkannya ke sini." Seni menceritakan yang dilakukannya.


"Oooh, iyaa Seni. Trima kasih! Simpan di sini dulu, karna Ibu belum tau apa yang sedang terjadi. Seni tolong perhatikan rumah dan Juha, ya." Ucap Ambar, lalu keluar dari kamar Seni menuju kamar Juha.


Mendengar yang diceritakan Seni, Ambar jadi berpikir. Pasti Rulof sedang bermasalah dengan uang, karena tidak mungkin sampai dia mencari perhiasannya, apalagi celengan Juha. Hati Ambar sangat bersyukur, tadi pagi dia teringat perhiasannya dan membawanya untuk dijual.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2