
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Rulof yang sedang marah karena mendengar ucapan Ambar, masuk kamar dan membanting pintu kamar dengan keras. Dia masuk kamar dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya. Walaupun sudah malam, dia mandi air dingin untuk mendinginkan hatinya yang benar-benar panas.
Ambar yang selama ini selalu diam dan menurut, semua yang diinginkan dan dikatakannya, sekarang berani melawannya. Berani membalas semua yang dikatakannya dengan kata-kata yang lebih menyakitkan. Rulof kembali keluar kamar menuju ke ruang makan untuk mengambil air dingin dikulkas untuk minum. Karena hatinya masih merasa panas atas kejadian yang baru terjadi.
Ketika Rulof membuka kulkas, dia hanya melihat botol air mineral yang ada dalam kulkas. Dia membuka freezer untuk melihat ayam, ikan atau daging beku, namun sudah tidak ada lagi.
Kulkas dua pintunya benar-benar kosong. 'Apakah Kak Inge membawa semuanya ini? Lalu ayam yang dimakan tadi dari mana?' Rulof berpikir dan bertanya-tanya sendiri. Tepati dia tidak sanggup atau tidak mau menjawabnya. Karena jika dia mau membenarkan yang ada dipikirannya, dia akan mengetahui siapa yang telah memberinya makan malam ini.
Dia juga mencoba mengabaikannya dengan tidak menjawab. Karena dia akan mengatahui, alasannya. Mengapa Ambar sekarang berani menjawab dan mulai berontak terhadapnya.
Kemudian dia membuka kitchen set untuk melihat isinya. Diapun terkejut melihat isi lemarinya yang hampir kosong. Hanya ada kaleng susu Juha, toples gula yang tinggal setengah isinya, kotak teh dan 6 bungkus mie instan.
Dia terduduk di kursi meja makan dan kembali minum air mineral yang diambilnya dari kulkas. 'Aku telah meninggalkan keluarga ini sangat jauh, sehingga tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah ini.' Ucap Rulof dalam hati. Dia kembali ke kamar untuk tidur, karena dia harus beristirahat. Kemarahannya telah diganti dengan rasa lelah, karena tubuh dan hatinya menjadi sangat letih dan penat.
Rulof perlahahan memegang dadanya yang terasa sakit. Dia menarik nafas perlahan dan menghembuskannya. Permasalahan yang dialaminya beberapa hari terakhir ini membuat dadanya mulai sering sesak dan sakit.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Ambar yang telah kembali ke kamar Juha, merenungi yang terjadi dengan dirinya beberapa tahun terakhir ini. Selama ini dia diam dan menerima semua keputusan Rulof, karena dia tahu Rulof adalah suami yang baik. Suami yang bertanggung jawab, walaupun keluarganya sangat menyebalkan.
__ADS_1
Kadang-kadang Ambar merasa kasihan kepada Rulof, karena keluarganya tidak pernah memberikan kesempatan baginya untuk bernafas dengan lega. Ada-ada saja yang mereka minta dan harus dipenuhi olehnya. Adiknya tiba-tiba bisa minta tiket pesawat pp Makasar-Jakarta-Makasar hanya untuk jalan-jalan ke Jakarta. Alasannya, kangen sama kedua kakaknya di Jakarta.
Rulof dengan gampangnya memberikan yang diminta Adiknya, Kakak dan juga Mamanya. Tanpa berpikir, sekarang sudah ada istri dan anak. Sebagai alasan untuk membenarkan tindakannya, dia mengatakan keluarganya yang membuat dia bisa seperti sekarang. Bisa mempunyai pekerjaan yang baik dan jabatan tinggi.
Ketika Kakak dan Adiknya telah berkeluarga, Ambar merasa agak lega. Dipikirnya, mungkin dengan menikah ada perubahan perilaku Kakak dan Adiknya terhadap Rulof. Ternyata setelah mereka berkeluarga bukannya berkurang, mala makin menjadi-jadi. Seperti yang dilakukan Kakaknya Inge belakangan ini. Dia menjadikan rumah Rulof seperti mini market gratis. Datang mengambil yang diperlukan dengan sesuka hatinya. Padahal Rulof sudah memberikan uang untuknya.
Selama ini Ambar membiarkan saja, karena baginya yang terpenting, Rulof menyayangi dirinya dan Juha. Semua kebutuhan rumah tangga tersedia. Rulof segera akan menggantikan stock makanan yang telah diambil oleh Kakaknya Inge.
Tetapi hampir satu tahun belakangan ini, dia merasa Rulof telah berubah. Kebutuhan rumah tangga sering diabaikan, walaupun dia telah memberi tahukan ada stock kebutuhan keluarga yang dibawa oleh Kakaknya. Jadi sering persediaan kebutuhan keluarga sudah habis sebelum akhir bulan. Seperti sekarang ini, pertengahan bulan sudah kebingungan.
Sikap Rulof juga berubah terhadapnya. Sudah jarang menciumnya atau menyentuhnya. Alasannya selalu cape', karena sering pulang malam dan mulai jarang makan malam di rumah.
Akhir pekan sering keluar sendiri, alasannya ada pekerjaan luar kantor yang harus diawasi. Pekerjaan anak buahnya perlu dibantu pengerjaannya, agar cepat selesai. Kalau dia tidak mengawasi, anak buahnya suka bekerja asal-asalan atau suka-suka.
Secara refleks dia memeluk Rulof yang ada di depannya yang akan membayar. Ambar mencium bau harum parfum yang berbeda di kemeja Rulof. Ambar berpikir, mungkin bau orang lain di sekitar mereka. Tetapi ketika melihat yang ngantri jauh dari mereka, Ambar yakin bau itu dari pakaian Rulof.
Ambar mulai sering mencium kemeja kerja Rulof sebelum dicuci. Dia semakin yakin, setelah mencium bau yang sama seperti yang dicium saat di swalayan saat itu. Ambar mengambil parfum Rulof dan membandingkannya, ternyata tidak sama. Itu adalah bau parfum wanita, harum yang lembut dan feminim.
Rulof telah memiliki wanita lain di luar sana. Ambar tidak mau ribut, karena Juha masih kecil dan Rulof masih memperhatikan keluarganya.
Tetapi sekarang Rulof sudah offside. Dia sudah melewati batas sebagai seorang suami dan ayah. Dia telah melewati batas kesabaran istrinya, Ambar Kirania. Sehingga Ambar mulai tidak terima perlakuan keluarga Rulof. Dia protes dari yang kecil-kecil sampai yang besar seperti yang sekarang ini.
__ADS_1
Ketika mengingat putranya Juha, Ambar tertunduk dan berdoa. Kiranya Tuhan menolong dan menguatkannya. Karena sebagai seorang istri dan Ibu, dia sudah tidak sanggup lagi menjalaninya. Hanya Tuhan yang dapat menyanggupkannya.
*((**))*
Keesokan paginya, Rulof telah bangun, mandi dan berpakaian rapi. Dia harus ke kantor, karena kemaren tidak ke kantor. "Seni, tolong buatkan teh untuk saya." Ucap Rulof, sambil duduk di meja makan. Dia telah tahu, hanya itu yang ada di dalam kitchen set.
"Baik, Pak." Ucap Seni sambil memanaskan lagi air di teko yang sudah hangat. Karena tadi dia telah membuat teh untuk sarapan Ambar.
"Ini, Pak..." Ucap Seni, sambil meletakan secangkir teh dan roti manis di depan Rulof.
"Yang lain belum bangun?" Tanya Rulof, dan mulai sarapan. Hatinya sedikit lega karena ada roti untuk sarapannya. Sekarang melihat sepotong roti untuk sarapan saja, sudah menyenangkan baginya. Sesuatu yang sangat miris, mengingat jabatannya di kantor.
"Juha saja yang masih tidur, Pak. Kalau Ibu sudah berangkat kerja." Ucap Seni, kemudian berjalan ke dapur. Dia tidak melihat wajah Rulof yang terkejut, seakan tidak percaya.
"Dia kerja di mana?" Tanya Rulof, penasaran. Menurutnya, mana mungkin Ambar bisa bekerja dengan usia dan status pernikahannya yang sudah menikah. Dia juga tidak memiliki pengalaman kerja, mengingat mereka menikah saat dia masih kuliah.
"Tidak tau, Pak. Ibu hanya pamit mau berangkat kerja." Jawab Seni, santai.
"Ini uang kau belikan bahan makanan untuk kalian. Jangan lupa beli telur." Ucap Rulof sambil mengeluarkan selembar uang Rp. 50.000 dari sakunya dan memberikan kepada Seni.
"Baik, Pak. Trima kasih." Ucap Seni, sambil menerima uang tersebut. Rulof segera menghabiskan sarapannya, mengambil tas kantor dan keluar menuju garasi. Seni ikut keluar untuk mendorong pagar, sebelum diminta oleh majikannya.
__ADS_1
Rulof merasa ada sesuatu yang hilang. Biasanya Ambar akan mengantarnya ketika berangkat ke kantor. Dia jadi teringat dengan putranya, Juha. Sekarang tidak bisa lagi memaksanya ke sekolah, karena Ambar tidak ada untuk menjemputnya.
~●○♡○●~