
~•Happy Reading•~
Setelah berbicara dengan Bagas, Mathias masuk ke ruang makan untuk melihat persiapan Bi Ina.
"Kami sudah bisa makan, Bi?" Tanya Mathias, saat melihat Bi Ina hendak ke dapur.
"Sudah, Den. Ini Bibi mau ambil lauk pauknya." Ucap Bi Ina, sambil berjalan cepat ke dapur. Mathias segera keluar memanggil Bagas untuk masuk ke ruang makan.
"Bagas, mari kita makan sekarang sebelum waktu makan siang. Supaya kalau mereka pergi makan siang, kau bisa membawa mobilnya." Ucap Mathias, dan Bagas mengangguk setuju.
'Bossku memang, jempolan. Bisa memikirkan sampai ke situ.' Ucap Bagas dalam hati, sambil berjalan mengikuti bossnya masuk ke ruang makan.
Saat menunggu Bi Ina menyediakan lauk pauk, Mathias menghubungi Ambar.
📱"Allooo, Bu Ambar. Apakah mereka masih ada di luar pagar?" Tanya Mathias, ketika Ambar merespon panggilan telponnya.
📱"Allooo, Pak Mathias. Iya, Pak. Mereka masih berdiri di luar pagar." Ucap Ambar terkejut, karena Mathias yang menghubunginya. Dia mengira asistennya yang akan menghubungi.
📱"Baiklah. Nanti saat mereka pergi makan siang, segera hubungi saya." Ucap Mathias, tegas.
📱"Baik, Pak. Trima kasih." Ucap Ambar, dan Mathias mengakhiri pembicaraan mereka. Karena semua makanan telah disediakan oleh Bi Ina di meja makan.
Setelah Mathias dan Bagas selesai makan, mereka kembali duduk di teras menunggu Ambar menghubungi mereka. "Bagas, nanti kalau sudah bisa ke rumah Bu Ambar, sekalian minta tanda tangan surat kuasa, sebelum dibawah mobilnya." Ucap Mathias.
"Tapi saya belum membuat surat kuasanya, Pak." Ucap Bagas, mengingat surat kuasanya belum sempat di buat karena belum tahu nama lengkap Ambar.
"Bawa fom ini saja, nanti minta Bu Ambar tulis namanya sendiri dan juga kau. Supaya tidak bolak balik, seperti yang saya lakukan kepada Pak Erwin." Ucap Mathias, mengingatkan Bagas.
"Oooh, iya Pak. Trima kasih, sudah bawa. Tadi bapak buru-buru, sampai jangankan bawa surat, menanyakan mau ke mana saja, lupa." Ucap Bagas, tersenyum.
"Saya buru-buru atau kau takut saya ajak ngebut?" Tanya Mathias, ikut tersenyum.
"Dua-duanya, Pak. hehehehe..." Bagas jadi tertawa mengingat lututnya yang gemetar.
__ADS_1
📱"Allooo, Bu Ambar." Mathias segera merespon panggilan Ambar pada dering telpon pertama, karena sedang menunggu.
📱"Pak Mathias, mereka baru saja pergi dari depan pagar." Ucap Ambar dengan suara pelan.
📱"Baik, sekarang asisten saya akan ke sana. Siapkan surat-suratnya dan berdiri di depan pagar, agar bisa melihatnya." Ucap Mathias, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Dia memakai jacket dan mengambil helm nya. Begitu juga dengan Bagas, segera memakai jacket dan membawa helm dan tasnya.
"Bagas, kau langsung saja ke parkir apartemen dan kembali ke kantor. Nanti saya kembali ke rumah dulu, baru langsung ke kantor." Ucap Mathias, telah duduk di atas motornya. Bagas mengangguk mengerti.
Mathias segera mengeluarkan motornya untuk mengantar Bagas ke rumah Ambar. Setelah tiba di depan rumah Ambar, Bagas segera turun dan mengangkat kaca helm nya agar Ambar bisa melihatnya. Setelah melihat Ambar telah membuka pagarnya, Mathias langsung menjalangkan motornya untuk kembali ke rumahnya.
Bagas dengan cepat masuk ke rumah Ambar. "Bu Ambar, tolong segera tulis nama lengkap sesuai KTP dan tanda tangan, ya. Saya minta kunci mobilnya untuk saya panasin mesin." Ucap Bagas, cekatan. Karena melihat cara bossnya membantu Ambar, pasti ada masalah dengan mobilnya. Jadi dia harus bergerak hati-hati dan cepat.
"Jangan lupa, KK dan KTP Ibu juga saya bawa dulu, nanti saya kembalikan." Ucap Bagas, setelah menyalahkan mesin mobil.
"Iyaa, Mas. Ini sudah saya siapkan semua." Ucap Ambar sambil menyerahkan tas kecil.
"Baik, kalau begitu saya langsung jalan. Setelah saya berangkat, tolong tutup dan kunci pagar. Jangan ada suara dari dalam rumah, seakan-akan Ibu sekeluarga sedang keluar." Ucap Bagas, sebagaimana yang di pesan bossnya.
"Iyaa, Mas. Trima kasih dan hati-hati." Ucap Ambar sambil mengantar keluar bersama Seni untuk mendorong pagar. Setelah Bagas telah keluar, Seni langsung menarik pagar dan menguncinya.
Tidak lama kemudian., tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar rumah Ambar.
"Sssttt.., pasti mereka sudah kembali dan sedang ngamuk, karna melihat mobil sudah tidak ada." Bisik Ambar kepada Seni, sambil meletakan jari di bibir kepada Juha.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Mathias telah sampai di rumah dan memarkir motornya. Bu Titiek telah bangun dan duduk di meja makan untuk makan siang. "Selamat makan, Bu." Ucap Mathias, sambil memeluk Ibunya dari belakang. "Thias kembali lagi? Ibu kira sudah ke kantor. Tadi suster bilang sudah berangkat ke kantor." Ucap Bu Titiek senang, ketika mengetahui putranya kembali lagi.
"Nanti baru kembali ke kantor setelah bertemu Ibu. Tadi antar Bagas sebentar saja, karna ada yang dikerjakannya." Ucap Mathias, sambil duduk di samping Ibunya.
"Bi Ina, tolong siapkan makanan untuk Den Thias, ya." Ucap Bu Titiek, kepada Bi Ina.
"Ngga usah Bi. Tadi sudah makan sama Bagas, Bu. Thias temani Ibu makan saja." Ucap Mathias, sambil mengelus lengan Ibunya.
__ADS_1
"Ooh.. Baiklah, Ibu makan." Ucap Bu Titiek, langsung berdoa dan makan. Setelah selesai makan, Mathias berbicara sebentar dengan Ibunya di meja makan.
"Apa yang Ibu rasakan sekarang?" Tanya Mathias, sambil makan buah menemani Ibunya.
"Sekarang sudah enakan, setelah minum obat dan istirahat." Ucap Bu Titiek, agar tidak membuat putranya khawatir.
"Ibu jangan banyak beraktivitas dulu. Kalau rasa tidak enak lagi, jangan lupa kasih tau. Sekarang Thias balik ke kantor dulu, supaya kerjaan bisa cepat selesai dan bisa pulang ke rumah." Ucap Mathias, sambil berdiri dan memeluk Ibunya dengan sayang.
"Hati-hati, Nak. Jangan ngebut-ngebut." Ucap Bu Titiek, balik memeluk putranya. Mathias mengangguk untuk menenangkan Ibunya. Kemudian dia mengambil tas kerjanya dan selempangkan ke badannya.
Saat hendak memakai jacketnya, ponselnya bergetar. Ketika melihat Ambar yang telpon, Mathias meresponnya.
📱"Iyaa, Bu Ambar. Gimana, sudah beres?" Tanya Mathias.
📱"Sudah, Pak. Trima kasih. Saya baru bisa telpon, karena mereka baru pergi. Tadi mereka sempat gedor-gedor pagar. Tapi karna kami tutup semua gorden, mungkin mereka mengira kami sudah keluar dengan mobilnya." Ucap Ambar, menjelaskan yang terjadi.
📱"Ooh, ok. Ngga papa. Mungkin besok mereka akan datang lagi, nanti sampai kantor dan bertemu Bagas baru saya telpon." Ucap Mathias, dan mengakhiri pembicaraan mereka. Karena dia hendak balik ke kantor.
Setelah tiba di kantor, Bagas sudah ada di ruangannya. "Bagas, ikut ke ruangan saya." Ucap Mathias, sambil jalan ke ruang kerjanya dan diikuti oleh Bagas.
"Bagaimana kondisi mobil Bu Ambar, apakah masih dalam kondisi bagus?" Tanya Mathias setelah duduk di kursi kerjanya, sedangkan Bagas duduk di kursi depan meja kerjanya.
"Masih bagus, Pak. Mobilnya keluaran terbaru, jadi masih mulus. Pantes mereka ngotot bela-belain tunggu di depan pagar." Ucap Bagas, karena dia sudah membawa mobilnya dan tahu, mobilnya dalam keadaan baik dan mulus.
"Baiklah, aku serahkan padamu. Nanti kalau sudah beres, baru kita kasih tau Bu Ambar. Mungkin besok-besok mereka akan kembali lagi untuk mengecek mobil itu di rumah Bu Ambar. Sekarang kerjakan dulu, kasus yang ada. Saya akan telpon Bu Ambar." Ucap Mathias, sambil mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sedangkan Bagas pamit keluar menuju ruang kerjanya.
📱"Alloo, Bu Ambar. Sementara mobilnya sudah di tempat aman. Nanti asisten saya kasih tau, jika mobilnya sudah dibeli orang." Ucap Mathias, saat Ambar merespon panggilannya.
📱"Baik, Pak. Trima kasih." Ucap Ambar dengan rasa syukur.
📱"Kalau besok-besok mereka ada datang lagi, Bu Ambar bisa temui mereka tapi dari dalam pagar. Jangan dibukakan pagar, bilang saja mobilnya sudah Bu Ambar jual untuk keperluan anda dan anak anda. Tunggu dan lihat saja reaksi mereka." Ucap Mathias.
📱"Baik, Pak. Trima kasih." Ucap Ambar yang hanya bisa berterima kasih. Kemudian Mathias mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1
~●○♡○●~