
...~•Happy Reading•~...
Ambar terus berbicara dengan Bagas sebelum Mathias kembali. Karena dia akan lebih banyak bekerja di rumah. Sehingga kesempatan berbicara dengan Bagas akan sangat sedikit, jadi dia mempergunakan dengan baik.
"Bagas, ini keuangan kantor bapak sangat baik, kenapa bapak tidak menambah pengacara untuk membantu bapak dan Bagas bekerja?" Tanya Ambar ingin tahu, karena dia berusaha mengenal dan memahami pekerjaan suaminya. Agar tidak terjadi seperti saat bersama Rulof.
Dia tidak tahu sama sekali tentang pekerjaan Rulof. Bukan saja karena dia tidak ingin tahu, tetapi Rulof tidak mau membicarakan pekerjaan dengannya. Sedangkan dia tidak memiliki teman yang bekerja dengan Rulof untuk bertukar pikiran atau bertanya.
Sangat berbeda dengan sekarang, bukan saja Mathias membicarakan pekerjaan dengannya, tetapi mengijinkannya membantu Mathias bekerja. Masih ada lagi Bagas yang bisa dimintai informasi. Hal itu membuat Ambar ingin membantu suaminya dengan sepenuh hati.
"Kami sedang merekrut pengacara, Bu. Karna belakangan ini bapak dipercayakan banyak kasus penting, jadi bapak bisa fokus menangani kasus-kasus tersebut. Sedangkan kasus TQ ditangani oleh pengacara yang lain." Ucap Bagas kembali menjelaskan rencana kerja bossnya.
Bagas yakin, istri bossnya bertanya bukan mau kepo atau nyinyir. Tetapi mau membantu bossnya. 'Terbukti beliau dengan sabar duduk periksa tumpukan data keuangan kantor tanpa mengeluh.' Ucap Bagas dalam hati. Dia merasa senang, istri bossnya mau membantu bossnya bekerja.
"Ooh, begitu. Syukurlah, biar bapak dan Bagas tidak kelimpungan bekerja." Ucap Ambar agak tenang, mendengar penjelasan Bagas. Karena melihat data keuangan, pekerjaan mereka sangat banyak. Jika mereka berdua saja yang mengerjakannya, sangat kelimpungan.
Penghasilan kantor Mathias belakangan ini, meningkat pesat. Ambar menyadari, dengan Mathias mengijinkannya membereskan bagian keuangan kantor, Mathias percaya kepadanya. Karena dia selain mengetahui penghasilan Mathias, dia juga mengetahui penghasilan kantor.
"Oooh, iyaa Bagas. Tadi mendengar penjelasanmu tentang kasus TQ yang ada hanya pengeluaran, tetapi tidak ada pemasukannya. Tetapi saya menemukan data, satu kasus TQ yang ada pemasukannya dan jumlah pemasukannya sangat besar." Ucap Ambar, tidak mengerti.
"Oooh, itu Bu. Ada orang yang baik hati membantu bapak, karena mengetahui bapak sering memberikan bantuan hukum gratis kepada orang yang tidak mampu tetapi harus berurusan dengan pengadilan. Jadi bapak menyuruh saya memasukannya sebagai pemasukan dari salah satu kasus TQ." Ucap Bagas menjelaskan, tanpa mengatakan itu adalah hasil menjual mobil Erwin yang diberikan kepada Angel.
Memang itu yang dikatakan oleh Erwin saat memberikan mobil itu kepada Mathias untuk dijual. Karena dia tahu, Mathias suka membantu secara gratis orang yang berperkara tetapi tidak mampu membayar pengacara. Sehingga Mathias menerima pemberian Erwin dan memasukannya sebagai penerimaan dari kasus TQ.
"Oooh, jadi bisa seperti subsidi silang, ya. Saya mengerti, sebuah kebaikan, tidak pernah mengecewakan." Ucap Ambar, makin mengerti suaminya dan ritme kerjanya.
__ADS_1
Ambar sangat bersyukur, berpikir untuk membantu Mathias di kantor. Jadi dengan berjalannya waktu bersama, mereka bisa saling mengenal dan mengerti satu dengan yang lain.
"Bagas, sepertinya saya tidak bisa hanya satu hari ini ke kantor dan sisanya bekerja di rumah. Mungkin besok harus ke sini lagi, karna ini baru separu yang bisa saya kerjakan." Ucap Ambar, melihat waktu kerja yang hampir berakhir dan pekerjaannya belum selesai.
"Kalau yang itu, nanti Ibu bicarakan dengan bapak saja. Supaya besok diijinin masuk lagi dan bisa merapikan semuanya." Ucap Bagas, memberikan saran. Karena bossnya bilang hanya hari ini dan sisanya kerja dari rumah.
"Baik, nanti coba saya bicarakan dengan bapak. Karna sayang kalau, kerjanya stengah-stengah. Besok-besok sudah ada tambahan data lagi." Ucap Ambar, yang sudah bisa melihat dan mengerti dengan baik pekerjaan suaminya.
Tidak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu. "Eeeh, panjang umurnya." Ucap Bagas, melihat bossnya masuk ke ruangannya. "Amin." Ucap Ambar mengaminkan ucapan Bagas.
"Kalian sedang membicarakan saya?" Tanya Mathias serius, sambil melihat Bagas dan Ambar bergantian.
"Ngga, Mas. eeh..., iya, yaa." Ucap Ambar grogi, melihat wajah Mathias yang serius. Kemudian melihat Bagas untuk minta tolong menjelaskan.
"Apapun judulnya, iya, apa ngga, ada nama bapak disebut. Begini, Pak. Bu Ambar tadi bilang, kerjaannya baru separu dikerjakan. Jadi sepertinya besok mesti masuk kantor lagi. Saya bilang, bicarakan saja dengan bapak. Naah... Di situ itu, nama bapak disebut." Ucap Bagas, sambil tersenyum dan tetap menggaruk kepalanya
Mathias dan Ambar ikut tersenyum mendengar penjelasan Bagas. Mathias mendekati meja Ambar dan melihat tumpukan dokumen yang sudah dikerjakan dan belum dikerjakan.
"Baiklah, besok masuk saja lagi supaya rapi sekalian. Yang lainnya kita bicarakan di rumah, nanti diprotes sama Bagas karna matanya akan ternoda." Ucap Mathias, asal.
"Wuuuaah, boleh saya memeluk bapak ngga?" Ucap Bagas, sambil berdiri mendekat dan memeluk bossnya tanpa menunggu persetujuan. Dari cara bicara Mathias, Bagas tahu, bossnya telah sukses mendapatkan gedungnya.
"Eeeh, lepaskan pelukanmu. Nanti mata istriku yang ternoda." Ucap Mathias asal, tetapi tersenyum. Bagas melepaskan pelukannya dengan hati yang gembira.
"Karna Bagas sudah memulai, mari Ambar aku juga ingin memelukmu." Ucap Mathias, sambil membuka tangannya untuk memeluk. Ambar berdiri dan langsung memeluk suaminya dengan sayang. Karena semenjak tadi bicara dengan Bagas tentang Mathias, dia sudah merindukannya.
__ADS_1
Mathias juga memeluknya dengan hati yang membuncah, karena bukan hanya rasa sayang tetapi keberhasilan yang diperolehnya membuat dia mencium puncak kepala Ambar lama.
"Pak, tidak usah pakai cium segala, kalee... Itu nanti di rumah saja. moduussnya bapak, jempolaann." Ucap Bagas protes, tetapi mengangkat kedua jempolnya. Karena hatinya senang melihat boss dan istrinya.
"Kalau di rumah bukan begitu, modusnya. Langsung mengelar perkara." Ucap Mathias asal, sambil melepaskan pelukannya dari Ambar dan mengusap kepala Ambar.
"Wuuaahh, aku tahu. Pasti bapak yang memenangkan perkaranya." Ucap Bagas asal, membalas bossnya yang lagi senang.
"Yaaa, kadang-kadang draw." Ucap Mathias asal, sambil tersenyum melihat Bagas yang bengong. Sedangkan Ambar tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya dibalik tumpukan dokumen.
"Bagas, apa yang kau pikirkan?" Tanya Mathias, melihat Bagas masih bengong.
"Memang bisa ada hasil perkara yang draw, Pak?" Tanya Bagas, masih memikirkan ucapan asal Mathias. Ambar dan Mathias langsung tertawa, pecah.
"Astagaaa.. Bagas, kau masih memikirkannya? Kalau perkara di pengadilan draw, hantu yang dipenjara." Ucap Mathias asal lagi, ngeledekin Bagas.
"Habis bapak juga, asalnya kelewatan." Ucap Bagas protes, karena tidak mengerti yang dimaksudkan bossnya. Tapi dia tahu, bossnya lagi ledekin dia karna istri bossnya menahan tawa dibalik tumpukan dokumen.
"Saya lupa, kau itu masih po lo ... Aahhh, sudahlah. Kalian kerja dulu, sebentar lagi baru kita pulang. Ada yang mau saya kerjakan." Ucap Mathias, dan meninggalkan ruang kerja Bagas dengan hati yang senang.
"Sudah, Bu. Bapak sudah keluar. Tertawa saja, ngga usah ditahan." Ucap Bagas, melihat istri bossnya sedang menahan ketawa. Ambar hanya mengangkat tangannya membentuk tanda OK. Karena kalau dia berbicara, pasti akan tertawa.
Setelah ditinggal Mathias, Ambar berusaha konsentrasi untuk mengerjakan beberapa data dengan waktu yang tersisa. Demikian halnya dengan Bagas., dia membantu bossnya mempersiapkan dokumen yang telah diberikan oleh asisten Pak Heru.
...~●○♡○●~...
__ADS_1