
~•Happy Reading•~
Setelah Mathias meninggalkan kantor Polisi, kepala polisi memanggil anggotanya yang membuat surat panggilan kepada Ambar untuk menghadap di ruangannya.
"Apa yang sedang kau lakukan? Belum ada dua alat bukti yang sah, kau sudah membuat surat panggilan dan menjadikannya tersangka? Kau bersyukur, tadi Pak Mathias tidak menyinggung penuntutan kepada kita, tetapi hanya kepada keluarga itu." Ucap kepala polisi, marah.
Polisi yang membantu keluarga Rulof hanya diam, karena merasa bersalah. Dia tidak menyangka akan terjadi seperti itu. Dia hanya membantu Richo untuk menahan Ambar beberapa waktu, agar Richo bisa masuk ke rumahnya. 'Karena ada yang disembunyikan oleh iparnya.' Kata Richo.
"Sekarang bereskan perkara ini, atau saya pindahkan kau ke hutan untuk menghitung pohon dan hewan." Ucap Kepala Polisi, marah dengan tindakan anggotanya. "Siap, Pak!" Ucap anggota polisi, hormat.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Mathias telah sampai ke kantornya. Dia langsung duduk terhenyak di kursi kerjanya. Sepanjang jalan, dia berusaha mengendalikan dirinya. Karena tidak menyangka, lelaki yang ditemukan bersama Angel adalah suami Ambar.
Dia mulai mendapat benang merah, mengapa Ambar waktu itu mau bekerja di restoran Sari. Bukan karena dia tidak mau berlaku seperti ibu pejabat lainnya yang suka shoping. Tetapi dia membutuhkan uang, karena suaminya sudah menghabiskan gajinya untuk wanita lain.
Mengingat itu, Mathias makin geram kepada Angel. 'Wanita itu benar-benar parasit, sampai suami orang juga dimakan.' Ucap Mathias, sambil memukul mejanya dengan marah.
Bagas yang mendengar bunyi dari ruangan bossnya, langsung berlari masuk ruang kerja Mathias tanpa mengetuk pintu. Melihat tidak terjadi sesuatu dengan bossnya, Bagas mengurut dadanya pelan.
"Pak, ada sesuatu yang jatuh di ruangan ini? Tadi saya mendengar bunyi dari ruangan bapak." Tanya Bagas, sambil melihat sekeliling ruangan bossnya.
"Tidak apa-apa, saya sedang marah. Kau duduk, ada yang mau saya bicarakan denganmu." Ucap Mathias, menurunkan level marahnya. Bagas segera duduk di kursi depan meja bossnya.
"Kau tau, saya dari mana?" Tanya Mathias kepada Bagas, dan Bagas menggeleng. Karena tadi bossnya tiba-tiba pergi tanpa memberi tahukan apa-apa padanya.
"Saya baru dari kantor polisi X untuk membela Bu Ambar. Beliau dituduh, membunuh suaminya." Ucap Mathias, dan Bagas melongo. Dia terkejut mendengar yang dikatakan bossnya.
"Kau tau, siapa yang menuntutnya selain keluarga Alm. suaminya? Wanita itu..." Ucap Mathias, kembali geram mengingat yang dilakukan Angel.
__ADS_1
"Maksudnya, Mba' Angel yang mantan bapak itu?" Tanya Bagas, seakan tidak percaya.
"Iyaa, ternyata lelaki yang ada bersamanya di apartemenku itu adalah suami Bu Ambar. Ketika polisi katakan dia istri muda Alm. saya teringat peristiwa waktu itu, dan meminta foto suami Bu Ambar. Ternyata benar dugaanku, lelaki itu suami Bu Ambar." Ucap Mathias, masih sangat geram.
"Benar-benar keterlaluan wanita itu, suami orang juga di'embat. Kalau Bu Ambar kakak saya, wanita itu sudah saya botakin dan gantung di pohon jadi lampion." Ucap Bagas serius, dan geram sambil mengepalkan tangannya.
Melihat kemarahan Bagas, Mathias jadi tertawa. Karna Bagas tidak perna menunjukan emosinya.
"Hahahaha... Melihat kau seperti ini, saya mala berharap kau menjadi kakaknya Bu Ambar. Hahaha." Ucap Mathias sambil tertawa.
"Bapak mala tertawa, padahal saya sedang marah." Ucap Bagas Protes.
"Sudaaa, cukup saya yang marah saja. Nanti siapa yang ngurus saya, jika kau sakit." Ucap Mathias sambil tersenyum. Bagas juga ikut tersenyum mendengar ucapan bossnya.
"Ooh iya, Pak. Bagaimana kondisi Bu Ambar? Apakah beliau ditahan?" Tanya Bagas, berubah khawatir.
"Tidak. Beliau sudah pulang. Mereka hanya menuduh tanpa ada bukti. Sekarang mala saya yang mengkhawatirkan Bu Ambar. Keluarga suaminya akan berusaha berbagai cara untuk mendapatkan bagian harta peninggalan suaminya." Ucap Mathias, sambil memikirkan Ambar.
"Ooh, iya. Uang hasil penjualan mobil itu masih sama saya. Bu Ambar belum bersedia bertemu denganmu, karna keluarga suaminya terus mengawasinya. Beliau tidak mau keluarga suaminya mengetahui, kalau kau yang membantunya menjual mobil." Ucap Mathias.
"Kalau surat-suratnya, tadi sudah saya bawakan. Karna akan dibutuhkan saat di kantor polisi." Ucap Mathias lagi, dan Bagas mengangguk mengerti.
"Apakah kita tidak bisa balik menuntut wanita itu, Pak? Dibiarkan ko' jadi ngelunjak dan tidak karuan." Ucap Bagas, gemas mengingat Angel.
"Kita lihat nanti, kalau mereka meneruskan perkara ini, yaa... perang sekalian. Biar mereka semua saling makan di balik jeruji." Ucap Mathias, kembali geram mengingat peristiwa tadi.
"Saya sedang mengkhawatirkan Bu Ambar, karna suami kakak iparnya tidak baik dan sangat licik. Sepertinya dia yang mengatur semua konspirasi untuk menuntut Bu Ambar." Ucap Mathias, sambil mengingat tatapan Richo kepadanya dari balik helm.
"Sambil menunggu perkembangan kasus Bu Ambar, kita kerjakan kasus yang ada dulu, supaya bisa fokus." Ucap Mathias, dan Bagas mengangguk mengerti dan segera meninggalkan ruangan bossnya.
__ADS_1
Siang menjelang sore, Bagas kembali masuk ke ruang kerja Mathias untuk menyerahkan surat dari kepoliasan yang menyatakan kasus Ambar telah dihentikan. Mathias merasa lega, kemudian menghubungi Ambar.
📱"Bu Ambar, sudah menerima surat dari Kepolisian? Tanya Mathias, saat Ambar merespon panggilannya.
📱"Sudah, Pak. Saya baru mau menghubungi Pak Mathias untuk memberi tahukannya." Ucap Ambar dengan hati lega.
📱"Ok, tapi Ibu tetap hati-hati dan waspada. Mungkin saja, mereka belum berhenti berusaha untuk mengganggu anda sampai mendapatkan yang mereka inginkan." Ucap Mathias, tegas.
📱"Iyaa, Pak. Trima kasih. Ooh iya, Pak. Boleh saya tanya sesuatu?" Tanya Ambar, ragu-ragu.
📱"Boleh, mau tanya apa? Silahkan..." Ucap Mathias, lebih santai.
📱"Apakah Pak Mathias mengenal wanita tadi yang mengaku istri muda Alm?" Tanya Ambar pelan dan makin ragu-ragu.
Dia masih mengingat kemarahan Mathias saat berbicara dengan Angel. Pelukan Mathias untuk menghindarinya dari Angel, tidak bisa hilang dari ingatan Ambar. 'Mathias sepertinya sangat jijik dengan wanita itu' itu yang ada dalam pikiran Ambar.
"Iyaa, saya mengenalnya. Nanti suatu waktu saya akan bicarakan dengan anda." Ucap Mathias pelan. Karena yang ada dalam hati dan pikirannya, apakah dia bisa menceritakan peristiwa Angel bersama suaminya.
"Iyaa, Pak. Trima kasih." Ucap Ambar pelan. Kemudian Mathias mengakhiri pembicaraan mereka. Mathias menarik nafas panjang dan berat, mengingat kondisi Ambar jika mengetahui apa yang dilakukan suaminya.
*((**))*
Di sisi yang lain ; setelah pulang dari kantor polisi, Angel langsung pulang ke tempat kostnya dengan hati yang cemas. Dia tidak menyangka, Mathias yang menjadi pengacara istri Rulof.
'Kalau tau begini jadinya, aku tidak akan setuju dengan rencana Richo.' Angel membatin, sepanjang perjalanan pulang. Padahal selama ini dia sudah berusaha menghindar untuk bertemu dengan Mathias. Tapi justru dia sendiri yang menyodorkan diri. Karena sedang membutuhkan uang, dengan mudahnya dia menerima rencana Richo untuk bisa mendapatkan uang dari istri Rulof.
Ucapan Richo sangat meyakinkan dia, bahwa mereka telah bekerja sama dengan polisi. Mereka akan mudah menjebak istri Rulof, karena tidak ada keluarganya di Jakarta.
'Mungkin dia tidak memiliki keluarga di Jakarta, tetapi memiliki pengacara yang akan membelanya dan sekarang akan menuntutku.' Ucap Angel dalam hati dan mulai, khawatir. Tanpa Angel sadari, ada yang sedang mengawasinya.
__ADS_1
~●○♡○●~