
~•Happy Reading•~
Beberapa waktu kemudian, Mathias sedang duduk diruang kerjanya. Dia telah kembali dari Surabaya, setelah hampir satu Minggu di sana untuk menangani kasus yang berhubungan dengan perusahaan Erwin Senjaya.
Dia ada di ruang kerjanya untuk mempelajari semua temuan yang diperolehnya tentang permasalahan perusahaan Erwin. Hal itu membuat dia bisa mengalihkan persoalan pribadinya, dengan menyibukan diri.
Mathias mengambil ponselnya untuk menghubungi Bagas.
📱"Bagas, tolong ke ruanganku." Ucap Mathias, setelah Bagas merespon panggilannya.
📱"Baik, Pak." Ucap Bagas, lalu menuju ke ruang kerja bossnya.
"Masuukk... Duduk Bagas, ada yang perlu kita bicarakan." Ucap Mathias, setelah Bagas mengetuk pintu dan masuk ke ruang kerjanya.
"Baik, Pak." Ucap Bagas, sambil duduk di kursi depan meja kerja Mathias.
"Begini Bagas, sebentar lagi Pak Erwin akan datang ke kantor ini. Jadi tolong kau tangani semua client yang datang saat saya sedang membicarakan kasus di Surabaya bersama Pak Erwin." Ucap Mathias, menjelaskan.
"Baik, Pak. Ada lagi, Pak?" Tanya Bagas.
"Semua orang yang ingin bertemu denganku saat Pak Erwin masih ada di sini, tolong kau atur ulang schedule nya. Atau minta mereka kembali lagi setelah istirahat siang." Ucap Mathias.
"Tolong siapkan minuman dan snack untuk Pak Erwin. Mungkin kami akan lama membahas kasus di Surabaya." Ucap Mathias lagi, mengingat permasalahan di perusahaan Erwin Senjaya.
"Baik, Pak. Akan segera saya sediakan." Ucap Bagas, lalu segera meninggalkan ruang kerja Mathias. Dia akan mempersiapkan semua yang diperlukan untuk pertemuan boss dengan clientnya.
Tidak berapa lama kemudian, Erwin Senjaya bersama Asistennya tiba di kantor Advokat Mathias. Bagas segera mengantarkan mereka ke ruang kerja Mathias. "Masuk... Silahkan duduk, Pak Erwin." Ucap Mathias, sambil berdiri menyalami Erwin yang telah diantar oleh Bagas. Kemudian Bagas meninggalkan mereka untuk menyediakan minuman dan snack.
Setelah itu, mereka membicarakan permasalahan yang ada di perusahaan Erwin. Lebih tepatnya Mathias menyampaikan temuan-temuannya selama di Surabaya dan memberikan solusi hukum kepada Erwin.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruang kerja Mathias di buka dengan paksa tanpa mengetuk. Mathias langsung berdiri dengan marah, karena ada yang masuk ke ruangannya dengan tidak sopan. Ketika melihat yang datang, Mathias terkejut dan membeku.
"Kau berani melarang, asistenmu untuk menghalangi kami menemuimu?" Ucap orang tua Angel yang telah berdiri di ruang kerja Mathias. Bagas yang berlari masuk, minta maaf dengan isyarat tangannya.
Mathias langsung terduduk di kursi kerjanya, ketika melihat orang tua Angel. Wajahnya menjadi kaku dan dingin. "Untuk apa Om dan Tante datang ke ruanganku dengan cara yang tidak sopan seperti ini?" Tanya Mathias sambil melihat kedua orang tua Angel.
"Kau katakan kami tidak sopan? Kau yang kurang ajar, beraninya kau memperlakukan putri kami seperti itu. Kami sudah menerimamu dalam keluarga kami, tidak taunya seperti ini balasanmu terhadap anak kami. Habis manis, sepah di buang." Ucap Mamanya Angel emosi, dan memaki Mathias.
Hahahahaha... Kemana putri kalian yang tinggal sepah itu? Aku ingin lihat sepah yang dibuang, setelah manisnya diambil." Ucap Mathias marah, dan Erwin yang masih dalam ruangan terkejut melihat wajah marah Mathias. Rahangnya mengeras dan kaku.
"Kau berani kurang ajar kepada kami? Angeeelll..." Teriak Mama Angel, sambil mencarinya yang belum masuk dalam ruangan. Karena Angel masih berdiri di luar ruangan dengan perasaan takut.
"Bagaaas... Keluar seret dia kemari, atau saya akan melepar dia ke jalanan di luar sana." Ucap Mathias semakin marah, karena Angel telah mengacaukan pekerjaannya. Ketika mendengar suara Mathias, Angel buru-buru masuk ke ruangan Mathias.
"Angel... Mengapa wajahmu pucat seperti ini? Kau telah membuat putri kami ketakutan." Ucap Papa Angel, sambil memeluk Angel.
Tiba-tiba tubuh Angel makin bergetar. "Angeeelll... Kau kemana saja? Aku menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif." Ucap Erwin yang terkejut melihat Angel. Mathias langsung menatap Erwin dengan wajah yang tidak percaya ketika mendengar yang dikatakan Erwin.
"Iya, Pak Mathias. Dia Angel... ya, pacar saya." Ucap Erwin, ragu-ragu mendefenisikan hubungannya dengan Angel. Tubuh Angel makin bergetar dan kedua orang tuanya menatap Erwin dengan terkejut.
"Anda sudah lama berpacaran dengannya?" Tanya Mathias pelan dan dingin.
"Sudah hampir satu tahun ini, Pak Mathias." Ucap Erwin yang belum mengerti situasi yang terjadi.
"Anda mengetahui, tempat tinggalnya?" Tanya Mathias, makin pelan dan dingin.
"Iya, Pak Mathias. Future Apartement. Saya sering datang ke sana, bahkan pernah menginap di sana." Ucap Erwin yakin.
"Kau telah membuat tempatku, seperti tempat pel****an. Bukan anda saja yang dia bawah ke sana, tetapi juga laki-laki ini. Bagas, perlihatkan fotonya kepada Pak Erwin." Ucap Mathias kepada Bagas. Angel makin bergetar dan takut.
__ADS_1
Mathias menyesal, lupa mengirimkan foto yang diambi oleh Bagas. Karena sibuk dengan kasus perusahan Erwin, Mathias melupakan rencananya untuk memberitahukan orang tua Angel.
"Pak Erwin... Semoga mengerti, anda telah berhubungan dengan seorang penipu. Dia bukan saja menipu kita, tetapi juga orang tuanya. Apakah masih bisa disebut manusia?" Ucap Mathias, sambil menatap Erwin.
"Saya telah memberikan semua yang kau inginkan, tetapi ini balasanmu? Kau bukan saja penipu, tetapi juga seorang penghianat. Cepat kembalikan mobilku." Ucap Erwin marah, ketika melihat foto yang ditunjukan Bagas.
Mendengar itu, Mathias dan Bagas lebih terkejut lagi. "Om dan Tante... Sebelum urat malu kalian juga ikut putus, segeralah bawah anak kalian yang tinggal sepah itu. Mungkin masih bisa digunakan untuk membersihkan tangga." Ucap Mathias, tajam dan dingin.
"Nasehat gratis dari saya, kenali dulu dengan benar anak kalian, sebelum datang memaki anak orang. Saya masih berbaik hati untuk tidak membawanya ke balik jeruji besi."
"Tetapi jika kalian masih mengganggu pekerjaanku, saya tidak segan-segan menyeretnya untuk menikmati nasi gratis bau jeruji." Ucap Mathias dingin.
"Mas Mathias, bisakah saya mengambil perlengkapan pribadiku di apartemenmu?" Ucap Angel memohon, sebagai usaha terakhirnya.
"Bagas... Bawalah mereka semua keluar, sebelum kesabaranku habis." Ucap Mathias dingin, tanpa mau dibantah. Bagas mengajak Angel dan kedua orang tuanya keluar ruang kerja Mathias.
"Bolehkah saya mengetahui, kalian sudah lama berhubungan?" Tanya Erwin penasaran, karena melihat orang tua Angel mengenal Mathias dan datang makinya.
"Sudah hampir 2 tahun, dan saya pernah menemui orang tuanya di Makassar. Tetapi belum membicarakan hal yang serius. Hanya diperkenalkan saja pada keluarganya." Ucap Mathias menjelaskan dan menarik nafas berat.
"Pantas mereka datang melabrakmu, entah apa yang dikatakan Angel kepada mereka. Kita bersyukur, tidak dipermainkan dalam waktu yang lama." Ucap Erwin, sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau Pak Erwin mau ambil mobilnya, mungkin masih ada di apartemenku. Dan kuncinya mungkin ada dalam tasnya, karena malam itu dia keluar dari apartemen hampir tanpa busana." Ucap Mathias, sambil mengingat peristiwa malam itu.
"Tidak usah, Pak Mathias. Kalau kunci dan surat-surat mobilnya ada sama Pak Mathias, tolong jual saja dan uangnya dipakai oleh Pak Mathias untuk membantu client Pak Mathias." Ucap Erwin, karena dia telah mendengar dari rekan bisnisnya bahwa Mathias sering membela orang tidak mampu yang sedang berperkara secara gratis. Dia juga tidak mau mengingat wanita yang memalukan itu, ketika melihat mobilnya.
Mathias melihat Erwin dengan seksama. "Baiklah, dan trima kasih. Asisten saya akan mengurusnya. Nanti anda tolong tanda-tangani surat, agar proses penjualannya tidak berbelit-belit." Ucap Mathias sambil menyiapkan surat pernyataan untuk ditanda tangani.
"Mari kita selesaikan pembahasan kasus perusahaan saya, agar lekas selesai." Ucap Erwin, sambil minum minuman yang disediakan. Demikian juga dengan Mathias, menghabiskan air mineral yang dibawa Bagas untuknya dan Erwin.
__ADS_1
~●○♡○●~