
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya, di rumah keluarga Ambar mulai terjadi kesibukan. Ambar telah bangun dan bersyukur, karena bisa bangun pagi dalam keadaan baik. Kejadian tadi malam tidak menjadi beban pemikirannya lagi.
Setelah menggosok gigi dan membersihkan wajahnya, Ambar keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan dengan Seni yang sudah bangun.
"Bu, apakah bapak akan sarapan di sini? Tanya Seni, saat melihat Nyonyanya mulai menyiapkan bumbu untuk membuat nasi goreng.
Mengingat situasi yang terjadi tadi malam dan sikap majikan barunya terhadap Nyonyanya, Seni sangat mengagumi dan menghormati majikan barunya. Karena selama mengikut dan bekerja di rumah Nyonyanya ini, dia tidak pernah melihat majikannya yang lama memperlakukan Nyonyanya demikian.
"Mungkin Seni, kita buat nasi goreng saja. Siapa tau bapak mau sarapan di sini." Ucap Ambar berharap, mengingat rumah orang tuanya ada di komplek yang sama, Mathias bisa pulang dan sarapan di sana.
Setelah nasi goreng sudah matang, Ambar melihat Mathias keluar dari kamar dalam keadaan rapi. Mathias sudah mandi dan mengenakan pakaian kerja yang dibawanya tadi malam.
Ambar mendekatinya dan bertanya : "Mas, mau sarapan di sini?" Tanya Ambar pelan dan berharap Mathias akan sarapan di rumahnya.
"Boleh, kalau kalian sudah buat sarapannya." Ucap Mathias, dan berjalan ke ruang makan mengikuti Ambar.
"Mas mau minum kopi, atau teh?" Tanya Ambar, saat Mathias telah duduk di meja makan.
"Saya mau air mineral panas dan kopi instan kalau ada." Ucap Mathias, Ambar mengangguk dan segera ke dapur. Mathias selalu minum air mineral panas atau hangat saat makan. Dia tidak menyukai minum air dingin, karena terbiasa dari kecil Ibunya tidak memperbolehkannya minum air dingin.
Hanya dalam keadaan darurat, apalagi sedang marah dia akan minum air dingin yang banyak. Karena dengan demikian, dia berharap bisa mendinginkan kepala dan hatinya.
Seni segera memanaskan air untuk membuat kopi, sedangkan Ambar membawa air mineral panas dengan nasi goreng komplit dan juga roti.
"Mas, adanya nasi goreng dan roti. Mas mau sarapan yang mana?" Ucap Ambar saat meletakan nasi dan roti di meja makan.
"Aku makan nasi goreng saja, karna seharian ini banyak yang akan dikerjakan." Ucap Mathias, dan meminum pelan air panas yang disediakan Ambar.
Ambar mengisi piring Mathias dengan nasi goreng dan meletakannya di depan Mathias. Begitu juga Seni, meletakan kopi yang telah dibuatnya di meja makan. "Trima kasih, Seni." Ucap Mathias, kemudian menyeruput sedikit kopi instannya. Mathias merasa cocok dengan kopi buatan Seni, karena itu dia mengangguk ke arah Seni dan Ambar memberikan isyarat pas.
__ADS_1
"Kau tidak sarapan sekalian?" Tanya Mathias kepada Ambar saat hendak berdoa.
"Nanti aku sarapan dengan Juha dan Seni saja. Mas sarapan dulu, karna mau berangkat kerja." Ucap Ambar yang hanya duduk menemani Mathias sarapan.
"Selamat pagi Mama, selamat pagi Om." Sapa Juha yang baru bangun dan turun mencari Mamanya.
"Selamat pagi sayang. Ternyata sudah bangun, ya." Ucap Ambar, sambil berdiri mengajak Juha ke meja makan.
"Selamat pagi Juha, mau sarapan dengan Om?" Tanya Mathias, mencoba mengakrabkan diri karena baru pertama kali bertemu dengan Juha.
"Iyaa, Om. Mama, Juha mau makan seperti Om." Ucap Juha, sambil naik duduk di kursi depan Mathias dan menunjuk piringnya.
Mendengar permintaan Juha, Seni segera membawa piring dan sendok untuknya.
"Makasih, Mba' Seni." Ucap Juha, kemudian Ambar mengisi sedikit nasi goreng ke piringnya.
"Juha makan sedikit dulu, nanti ditambah dengan roti, ya." Ucap Ambar, mengingat Juha suka roti. Juha mengangguk mengiyakan.
"Ke sekolah Om. Nanti diantar Mama atau Mba' Seni." Jawab Juha, sambil melihat Mamanya dengan wajah berharap Mamanya yang mengantarnya.
"Iyaa, nanti Mama yang antar." Ucap Ambar, mengerti tatapan putranya. Juha tersenyum senang, sambil memakan habis nasi gorengnya, karena Mathias telah menghabiskan nasi gorengnya juga.
"Trima kasih untuk sarapannya." Ucap Mathias, karena nasi goreng komplit yang disediakan Ambar sangat enak. Ambar mengangguk dan bersyukur, Mathias bisa menikmati masakannya.
"Kalian naik apa ke sekolah, Juha? Apakah sekolahnya jauh?" Tanya Mathias kepada Ambar sebelum menghabiskan kopinya.
"Kami pesan ojol, agar tidak bermasalah dengan macet dan sekolahnya tidak terlalu jauh." Jawab Ambar cepat, karena dia tahu Mathias hendak berangkat kerja.
"Baiklah, nanti pulang baru kita bicarakan. Karena aku harus berangkat kerja dan mau melihat Ibu dulu." Ucap Mathias sambil berdiri dari kursi.
"Juha, Om berangkat kerja dulu. Nanti belajar yang rajin, ya." Ucap Mathias, hendak kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Iyaa, Om. siaap! Om juga, bekerja yang rajin, ya." Ucap Juha, sambil meletakan tangannya di dahi. Ambar terkejut mendengar dan melihat apa yang dilakukan Juha.
Seni hanya tersenyum di dapur, karena dia tahu Juha suka mengikuti yang didengar. Dan sering bertanya yang belum dimengerti olehnya.
Sedangkan Mathias menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berjalan ke kamar untuk mengambil ponselnya. Dia belum bisa membalas ucapan Juha, karena Juha bukan Bagas yang sudah mengerti ucapan balasannnya.
"Ambar, aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Ucap Mathias, setelah keluar dari kamar. Kemudian dia terkejut saat Ambar dan Juha mengambil tangannya untuk mencium punggung tangannya. Mathias mengacak rambut Juha dan mengelus pelan lengan Ambar.
"Seni, jangan bukakan pintu untuk siapa saja saat kami tidak di rumah, ya." Ucap Mathias, sebelum sampai di pintu rumah.
"Iyaa, Pak. Siaap!" Ucap Seni tersenyum sendiri dengan ucapannya. Ambar pun ikut tersenyum mendengar ucapan Seni. Dia jadi berpikir dan bertanya dalam hati, 'apakah yang dilakukan Juha karena melihat Seni, atau sebaliknya?
Ambar dan Juha mengantar Mathias ke halaman dan mengunci kembali pintu pagar setelah Mathias meninggalkan halaman rumah mereka.
Mathias berjalan cepat menuju rumah orang tuanya, dengan hati yang berbeda. 'Beginikah rasanya orang yang telah berkeluarga?' Tanya Mathias dalam hati, dan dia sangat bersyukur telah membuat keputusan untuk menikahi Ambar.
Setelah tiba di rumah, Mathias mengganti kemejanya yang basah oleh keringat karena berjalan cepat dari rumah Ambar.
"Suster, Ibu belum bangun?" Tanya Mathias, saat melihat suster keluar dari kamar.
"Sudah, Pak. Ibu baru selesai sarapan dan minta diajak keluar ke halaman." Jawab suster. Mathias segera masuk ke kamar menemui Ibunya. "Pagi, Bu." Sapa Mathias, sambil mencium pipi Ibunya dengan sayang.
"Pagi, Nak. Thias sudah mau berangkat kerja?" Tanya Bu Titiek, saat melihat Mathias telah mengenakan kemeja untuk ke kantor.
"Iyaa, Bu. Kata suster, Ibu mau ke halaman. Mari Thias gendong ke kursi." Ucap Mathias, sambil menggendong Ibunya dan mendudukannya di kursi roda. Kemudian Mathias mendorong kursinya ke luar kamar.
"Ibu duduk di sini dulu, karna Thias sedang panasin mesin motor. Nanti kalau sudah berangkat, baru Ibu ke halaman." Ucap Mathias, karena khawatir Ibunya kena polusi udara dari knalpot motornya.
Bu Titiek mengangguk mengerti, begitu juga suster yang sudah menunggunya. Mathias masuk ke kamar untuk berdoa, mengambil tas kerja, kemudian memakai jacketnya dan kembali menemui Ibunya.
"Thias berangkat ya, Bu. Nanti di luarnya jangan lama-lama." Ucap Mathias, lalu mencium pipi Ibunya, mengambil helm dan keluar ke halaman untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1
~●○♡○●~