MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Pulang ke Rumah.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Mentari bersinar cerah di hari baru. Mathias dan Ambar telah bangun, mandi dan sarapan. Karena mereka akan pergi ke Gereja untuk beribadah. Begitu juga dengan Juha telah rapi, karena akan ikut ke Gereja. Dia akan ikut Ibadah bersama Mamanya, tidak masuk sekolah Minggu. Karena Mathias ikut beribadah dengan mereka.


"Ibu, mau masak untuk makan siang?" Tanya Seni pelan, saat Ambar pamit darinya, karena akan ke Gereja.


"Seni masak saja, mungkin pulang nanti bapak mau makan sebelum ke Rumah Sakit." Ucap Ambar, pelan.


"Baik, Bu. Nanti saya masak yang sudah Ibu siapkan di kulkas." Ucap Seni, mengerti yang dimaksudkan Nyonyanya.


"Seni tolong bukakan pagar, ya. Bapak mau keluarkan mobil." Ucap Ambar, tetapi terdengar suara pagar telah didorong.


"Bapak sudah dorong, Bu." Ucap Seni menyadari, ketika mendengar suara pagar telah didorong.


"Kalau begitu, Seni tolong tutup pagarnya, setelah kami berangkat, ya." Ucap Ambar, dan Seni mengikutinya dari belakang.


Ambar naik mobil duduk di samping Mathias, karena Juha telah duduk di belakang. Mathias segera mengeluarkan mobilnya keluar dari halaman rumah Ambar.


*((**))*


Setelah selesai beribadah, mereka langsung pulang ke rumah karena Mathias akan ke Rumah Sakit mengunjungi Ibunya yang sedang dirawat. Oleh sebab itu Mathias kembali pulang untuk mengantar Ambar dan Juha. "Mas mau mampir untuk makan siang dulu, atau langsung  ke Rumah Sakit?" Tanya Ambar, saat mobil Mathias masuk komplek Perumahan Indah Permai.


"Aku langsung ke Rumah sakit, ya. Biar bisa gantian dengan suster. Aku hanya mengantar kalian pulang saja." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk mengerti.


"Nanti kalau ada perubahan, aku akan kabari." Ucap Mathias, sambil menjalankan mobilnya dengan pelan mendekati depan rumah Ambar.


"Iyaa, Mas. Hati-hati!" Ucap Ambar, kemudian turun di depan rumah, dan mengajak Juha turun dari mobil. Kemudian mereka berdiri di depan rumah menunggu Mathias meninggalkan mereka. Setelah ditinggal Mathias, Ambar memanggil Seni untuk buka pintu pagar. Kemudian bersama Seni menyiapkan makan siang untuk mereka. Karena Mathias tidak makan siang di rumah.


*((**))*


Di sisi yang lain ; Setelah Ambar dan Juha telah turun, Mathias segera menjalankan mobilnya keluar komplek perumahan menuju Rumah Sakit.


Mathias berjalan cepat setelah parkir mobilnya di rumah sakit. Saat di lorong kamar perawatan, dia bertemu dengan suster Ibunya yang baru keluar dari kamar perawatan.

__ADS_1


"Pak, tadi pagi saat bangun, Ibu minta diurus untuk pulang ke rumah hari ini." Ucap Suster, saat melihat kedatangan Mathias dan menyampaikan permintaan Bu Titiek.


"Apakah suster sudah mengurusnya?" Tanya Mathias, terkejut dan heran.


"Belum, Pak. Saya menunggu sampai bapak datang dulu." Jawab suster.


"Baik, ngga papa. Dokter Ibu sudah datang belum?" Tanya Mathias lagi.


"Belum, Pak. Mungkin sebentar lagi baru datang periksa Ibu." Jawab suster, dan Mathias mengangguk sambil masuk ke kamar perawatan Ibunya.


"Selamat pagi, Bu. Ibu sudah sarapan, belum?" Tanya Mathias, mendekati tempat tidur dan mencium pipi Ibunya.


"Selamat pagi, Ibu sudah sarapan. Thias baru pulang dari Gereja?" Tanya Bu Titiek melihat putranya berpakaian rapi.


"Iyaa, Bu. Tadi kami ke Gereja dulu, baru Thias ke sini. Ooh iyaa... Suster bilang, Ibu minta pulang ke rumah." Ucap Mathias, memastikan dari Ibunya.


"Iyaa, nak. Ibu minta pulang ke rumah saja, karena di sini Ibu tidak bisa keluar-keluar. Kondisi Ibu sama saja seperti di rumah. Jadi biarkan Ibu pulang ke rumah saja." Ucap Bu Titiek pelan dan berharap Mathias mau mengijinkannya.


Setelah memeriksa kondisi Ibunya, Mathias menanyakan pedapat dokternya jika Ibunya mau pulang ke rumah. Setelah mendapat ijin dokter untuk pulang, Mathias ke ruang administrasi untuk mengurus kepulangan Ibunya.


Bu Titiek merasa senang, ketika Mathias mengatakan Ibunya sudah bisa pulang. Karena kondisinya sering seperti itu, pasang surut seperti air laut. Bu Titiek sering mengibaratkan kondisi kesehatannya.


Setelah makan siang, Bu Titiek sudah bisa pulang ke rumah. Mathias menggendong Ibunya untuk didudukan ke kursi roda Rumah Sakit. Karena kursi roda Ibunya ada di mobil.


Sesampai di rumah, suster mengeluarkan kursi roda Bu Titiek dan Mathias menggendong Ibunya masuk ke rumah dan mendudukannya di kursi roda.


"Ibu duduk sebentar di sini, nanti kalau sudah mau istirahat, baru masuk ke kamar, ya." Ucap Mathias, karena melihat Ibunya masih ingin di luar kamar.


"Bi Ina, tolong siapkan makan siang untuk kami, ya. Saya dan suster belum makan." Ucap Mathias, mengingat suster juga belum makan.


"Apakah Ibu mau ikut makan juga?" Tanya Mathias, melihat Ibunya masih duduk dan belum mau istirahat.


"Ngga, Ibu masih kenyang makan makanan di rumah sakit." Ucap Bu Titiek, sambil menunggu putranya makan.

__ADS_1


"Thias, apakah kau bisa mengajak Ambar ke sini? Ibu ingin bertemu dan berbicara dengannya." Ucap Bu Titiek, setelah melihat Mathias selesai makan.


"Iyaa, Bu. Tetapi Ibu istirahat dulu, nanti sore baru Thias jemput Ambar." Ucap Mathias meyakinkan Ibunya, agar mau beristirahat. Ketika melihat Ibunya mengangguk, Mathias mendorong kursi rodanya ke kamar dan menggedong Ibunya ke tempat tidur.


Setelah melihat Ibunya telah tidur, Mathias hendak menghubungi Ambar. Tetapi dia membatalkannya, karena pikirnya, mungkin sedang beristirahat. Dia juga ingin beristirahat sebentar.


Menjelang sore, Mathias bangun dan menghubungi Ambar.


📱"Alloo, Ambar. Sedang apa?" Tanya Mathias, saat Ambar merespon panggilannya.


📱"Alloo, Mas. Baru selesai mandiin Juha." Jawab Ambar was-was dengan kondisi Ibunya Mathias.


📱"Sekarang kau mandi, dan nanti datang ke rumah, ya. Ibu sudah pulang ke rumah, atau aku menjemputmu?" Tanya Mathias, lagi.


📱"Tidak usah, Mas. Nanti aku jalan ke situ saja, karna ini sudah mulai sore." Ucap Ambar, lalu masuk ke kamarnya untuk mandi. Hatinya sedikit lega mengetahui, Ibunya Mathias sudah pulang ke rumah.


📱"Baik, kalau begitu aku tunggu. Nanti aku kirim alamat rumah." Ucap Mathias, mengakhiri pembicaraan mereka. Kemudian mengirimkan alamat rumahnya kepada Ambar.


Mathias duduk minum kopi di teras sambil menunggu Ambar. Ibunya sudah bangun dan Mathias sudah mengatakan bahwa Ambar akan datang. Ketika melihat Ambar sudah di jalan depan rumahnya, Mathias segera berdiri mendekati pagar untuk membukakan pintu untuknya.


Ambar masuk ke halaman rumah Mathias dengan was-was. Dia mencium punggung tangan Mathias saat telah berada di halaman. Hal itu diperhatikan oleh Bu Titiek dari dalam ruang tamu.


"Ayoo, masuk. Ibu sudah menunggumu." Ucap Mathias, sambil masuk ke ruang tamu. Di sana sudah ada Bu Titiek yang duduk di kursi roda dan di meja sudah ada teh serta cemilan.


"Selamat sore, Bu." Ucap Ambar, lalu mencium punggung tangan Bu Titiek.


"Ayoo, duduk dulu dan minum." Ucap Bu Titiek, melihat wajah Ambar yang memerah karena panas.


Ketika melihat Ambar agak keringatan, Mathias masuk mengambil kotak tissu dan memberikannya kepada Ambar untuk mengeringkan keringatnya.


Bu Titiek memberikan kode kepada Mathias agar meninggalkannya sendiri dengan Ambar. Mathias menurut, masuk ke ruang makan meninggalkan Ibunya dan Ambar dengan terpaksa dan hati yang bertanya-tanya.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2