MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Tak Terduga 1.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di sisi yang lain ; Ambar telah bangun pagi bersama Seni. Mereka bersama menyiapkan sarapan, karena Ambar akan ikut Mathias ke tempat kerjanya. Setelah selesai menyiapkan sarapan, Ambar masuk ke kamar untuk mandi dan menyiapkan semua keperluan dirinya dan Mathias untuk ke kantor.


"Kau sudah siap mau berangkat kerja hari ini?" Tanya Mathias yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat pakaiannya dan pakaian Ambar di atas tempat tidur.


"Iyaa, Mas. Sudah siap, aku mandi dulu dan kita akan sarapan." Ucap Ambar semangat, lalu segera masuk ke kamar mandi. Setelah berganti pakaian, Mathias memasukan semua keperluan kantor ke dalam tas kerjanya.


Begitu juga dengan kedua laptop dan ponsel Rulof dimasukannya ke dalam tas kerjanya. Melihat semua keperluan sudah dimasukan, Mathias keluar kamar menuju ruang makan.


"Seni, hari ini Ibu mau ikut saya ke kantor untuk bekerja. Jadi nanti Seni tolong lihat dan temani Juha, ya. Kalau ada apa-apa, bisa hubungi Ibu atau saya." Ucap Mathias menjelaskan.


"Baik, Pak. Akan saya perhatikan yang dikatakan Ibu dan bapak." Ucap Seni, sambil meletakan secangkir kopi di depan majikannya. Sebelum je kamar, Ambar telah memintanya menyediakan kopi untuk Mathias.


Ambar yang sudah rapi berpakaian, keluar menuju ruang makan untuk sarapan. Seni telah menyajikan sarapan yang mereka siapkan di atas meja. "Seni, karna Ibu mau berangkat kerja dengan bapak, nanti pulang dari sekolah Juha, Seni tinggal masak yang sudah Ibu siapkan di kulkas untuk makan kalian, ya." Ucap Ambar, karena berpikir mungkin dia akan pulang sore atau malam.


Baik, Bu. Akan saya perhatikan, jadi Ibu tenang bekerja saja." Ucap Seni yakin, karena dia pernah mengalami kondisi yang sama, mala lebih buruk ketika Rulof masih hidup dan Ambar harus bekerja seharian.


"Trima kasih, Seni. Dan jangan lupa, setelah Juha mandi sore, tolong kalian berdua ke tempat Eyang Titiek, ya." Ucap Ambar, berharap dengan kehadiran Seni dan Juha dapat menghibur Bu Titiek.


"Baik, Bu. Akan saya lakukan seperti biasa." Ucap Seni lagi, sambil membereskan perangkat makan di meja makan. Mathias dan Ambar ke kamar untuk berdoa dan mengambil semua keperluan untuk berangkat ke kantor.


*((**))*


Setelah mereka tiba di kantor, Bagas telah ada di ruangannya. "Pagi Bagas. Tolong ke ruanganku." Ucap Mathias yang masuk ke ruangan Bagas, sedangkan Ambar berdiri di ruang tunggu.

__ADS_1


"Baik, Pak. Selamat pagi." Sapa Bagas senang dan ikut bersemangat melihat wajah bossnya yang cerah dan bersemangat. Kemudian Mathias keluar dari ruang kerja Bagas dan mengajak Ambar ke ruang kerjanya.


Tidak lama kemudian, Bagas menyusul ke ruang kerja bossnya. "Eehh, selamat pagi Bu Ambar. Saya kira bapak sendiri, pantesan... ehmm." Bagas tidak meneruskan ucapannya untuk ngeledek bossnya yang cerah ceria masuk kantor.


"Bagas, kau duduk dengan Bu Ambar di situ, karna ada yang akan saya bicarakan." Ucap Mathias serius, sambil menunjuk agar Bagas duduk di sofa bersama-sama dengan Ambar.


"Begini, kau tidak usah mencari karyawan untuk bagian keuangan. Bu Ambar akan membantumu merapikan keuangan kantor ini. Jadi hari ini, kau siapkan meja dan kursi di ruanganmu untuk Bu Ambar." Ucap Mathias, tegas.


"Bu Ambar tidak masuk setiap hari ke kantor, beliau akan kerja dari rumah. Beliau masuk kantor jika diperlukan saja. Jadi nanti kau perlihatkan semua data keuangannya kepada Bu Ambar, yang lain kalian diskusikan sendiri." Ucap Mathias lagi.


"Sedangkan untuk rekrutan yang lain, itu bisa kau teruskan. Nanti kita bicarakan lagi setelah bagian keuangan dirapikan." Ucap Mathias, mengakhiri meeting mendadak mereka.


"Baik, Pak. Kami akan bereskan bersama, agar cepat selesai dan segera buka perekrutan." Ucap Bagas mengerti bossnya, karena mereka sedang mendapat beberapa client penting dan bossnya tidak bisa menanganinya seorang diri.


"Bagas sudah bisa kembali ke ruangan, tapi Bu Ambar tinggal sebentar." Ucap Mathias, saat melihat Ambar berdiri dan akan keluar bersama Bagas.


"Ambar, sementara kau lihat dan periksa arsipnya dulu, ya. Nanti setelah aku pindahkan semua dataku baru aku antarkan laptop ke ruanganmu. Supaya kau bisa memasukan semua data ke laptop." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk mengerti. Kemudian keluar dari ruang kerja Mathias menuju ruang kerja Bagas.


Setelah ditinggal oleh Ambar, Mathias segera mengeluarkan kedua laptopnya dan memindahkan semua datanya ke laptop Rulof. Sambil menunggu pemindahan data di laptop, Mathias juga memindahkan semua data di ponselnya ke ponsel Rulof.


Mathias menarik nafas panjang dan bersyukur, Ambar menawarkan diri pada waktu yang tepat. Karena saat ini, Mathias sedang membenahi dan merapikan kantornya.


Dia sedang memikirkan untuk pindah ke gedung yang lebih besar, berkaitan dengan perekrutan pengacara baru. Karena ruangan kantor yang sekarang tidak cukup, walau harus memakai cabinnya sebagai ruang kerja baru.


Sambil menunggu proses pemindahan selesai, Mathias memeriksa semua dokumen yang telah dikirim oleh Pak Heru, client baru yang menjadi prioritasnya untuk segera ditangani.

__ADS_1


Sedangkan di ruang kerja Bagas, Ambar berhadapan dengan setumpuk dokumen keuangan yang diberikan oleh Bagas. "Bu Ambar, ini flashdisknya. Ibu bisa melihatnya dan memeriksa kesesuaiannya. Karna saya membuatnya secara sederhana. Saya tidak memiliki latarbelakang akutansi, jadi hanya dibantu teman." Ucap Bagas menjelaskan, sambil menyerahkan flashdisk.


"Iyaa, trima kasih Bagas. Nanti kalau Pak Mathias sudah memberikan laptopnya, baru saya periksa. Sementara ini, saya pisah-pisahkan yang ini dulu. Jadi kalau Bagas mau kerjakan yang lain, silahkan kerjakan dulu." Ucap Ambar, mulai mengerti pekerjaan Bagas.


"Trima kasih, Bu. Kami sekarang sedang sibuk, karena ada beberapa client penting yang menyewa jasa bapak." Ucap Bagas menjelaskan. Dia berharap istri bossnya bisa mengerti dan membantunya.


Tidak lama kemudian, Mathias masuk ke ruangan Bagas sambil membawa laptopnya. "Ambar, ini laptopnya." Ucap Mathias, sambil berdiri di samping Ambar untuk menunjukan passwordnya.


"Kau bisa menggantinya sendiri, jika susah." Ucap Mathias, sambil menulis passwordnya.


"Ngga usah Pak, yang ini saja." Ucap Ambar, bersikap formal.


"Kalau di depan Bagas, kau tidak usah bersikap formal. Karna aku bisa saja, menciummu di depan Bagas." Ucap Mathias, sambil mencium kepala Ambar dan mengelus punggungnya. Mathias tidak menyangka banyak data keuangan yang harus dikerjakan oleh Ambar. Melihat tumpukan kertas di atas mejanya, dia ingin menyemangatinya.


"Pak, kalau mau modus tuu, kode-kode. Biar mata polosku ini tidak melihat sebelum waktunya. Bisa-bisa aku ketularan, yang begituan." Ucap Bagas, ngeledekin bossnya.


"Apa yang kau katakan, mata polos? Bukankah matamu sudah melihat lebih dari yang i n i ...?" Ucap Mathias pelan dan terhenti, teringat ada Ambar bersama mereka.


Bagas langsung menutup mulutnya dan mengambil dokumen yang ada di mejanya. "Hehehehe... Bapak jangan buka kartuku, nanti Bu Ambar ngga mau berkerja seruangan dengan saya." Ucap Bagas, mengalihkan pembicaraan karena Ambar sedang memperhatikan mereka yang sedang bercanda.


Bagas tahu yang dimaksud oleh bossnya, matanya tidak polos lagi karena telah melihat Angel dan Rulof. "Sanaa, kerja. Mata polosmu ngga ternoda saat melihat aku mencium istriku." Ucap Mathias santai, menyadari Bagas baru menghindarinya dari banyak penjelasan tidak perlu kepada Ambar.


"Ngga ternoda sih, Pak. Cuma biasa terjadi itu, mata melihat dan hati kepingin." Ucap Bagas, asal.


"Kalau hati sudah kepingin, cepat SAH kan supaya ngga ternoda." Ucap Mathias asal, sambil meninggalkan ruangan Bagas dengan tersenyum.

__ADS_1


Ambar hanya melihat Bagas dan Mathias bergantian. Dia jadi teringat Mathias yang suka bicara ngasal dengan Juha. Dia hanya bisa tersenyum dan mulai belajar suasana yang baru, ketika bekerja bersama Mathias dan Bagas.


...~●○♡○●~...


__ADS_2