MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Terpesona.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Setelah tiba di Ballroom Senduro Hotel, Ambar terkejut melihat orang-orang yang berpakaian resmi yang indah dan waaooo... 'Pantes Mas Mathias memintaku ke salon, karena mau ke tempat acara seperti ini.' Ucap Ambar dalam hati.


Baju yang dikenakan Ambar tidak berlebihan dan tidak malu-maluin dirinya dan Mathias. Dia bisa melepaskan selendang yang menutupi bahunya, sehingga pundaknya yang kuning langsat mulus, terlihat indah dan seksi.


Perhiasan yang dipakainya makin mempercantik dirinya. Ambar mengenakan perhiasan yang disimpannya saat menjual semua perhiasannya. Satu set kalung, liontin, cincin dan anting agak panjang menggantung yang baru pertama kali dikenakannya.


Ada berlian-berlian kecil menghiasi liontin segaris yang diujungnya terdapat berlian yang lebih besar, begitu juga dengan anting dan cincinnya. Sehingga perhiasannya sangat cantik jika dipakai pada malam hari. Apalagi di tempat mewah seperti ini, apa yang dikenakannya sangat cocok tidak berlebihan dan tidak kebanting dengan lingkungan acara.


Kehadiran mereka menarik perhatian, terutama Mathias dan Ambar. Banyak mata wanita memandang Mathias tanpa malu-malu mengagumi dan tersenyum, terpesona. Padahal ada pria-pria di samping mereka.


Begitu pun juga dengan Ambar, banyak pria yang terpesona kepadanya. Tetapi karena melihatnya datang bersama Mathias, mereka tidak berani menatapnya lama-lama.


Walaupun Ambar telah memiliki seorang anak, tetapi dia masih terlihat muda. Karena dia menikah menjelang usia 20 tahun. Sehingga usianya belum lagi 27 tahun, sedangkan Mathias hampir 32 tahun. Sehingga terlihat matang dan dewasa, apalagi dalam balutan kemeja tanpa dasi dan jas yang keren.


Bagas yang berjalan di samping bossnya tidak henti-henti mengagumi boss dan istrinya. Kehadiran mereka menjadi pusat perhatian, terutama ada sepasang mata yang terkejut melihat penampilan Mathias yang keren dan maskulin.


Erwin telah melihat kehadiran Mathias, mendekatinya untuk bersalaman dan menyambut mereka dengan hangat.


"Pak Mathias, trima kasih sudah mau datang, dan anda sangat berbeda malam ini. Apakah karna pengaruh gadis di sampingmu ini?" Ucap Erwin pelan, sambil menunjuk Ambar dengan matanya dan tersenyum.


"Saya yang trima kasih, Pak Erwin sudah mengundang saya. Ooh iyaa. Perkenalkan ini istri saya, Ambar. Kalau yang di sebelah, Pak Erwin sudah kenal asisten saya." Ucap Mathias, dengan wajah tersenyum mendengar yang dikatakan Erwin.


Erwin terkejut, mendengar Mathias memperkenalkan Ambar sebagai istrinya. Karena dia tahu, Mathias belum lama bermasalah dengan Angel. Bagaimana bisa menikah secepat itu.


"Pak Mathias sudah menikah? Cepat se ka l i... Aahh, sudahlah... Tetapi kenapa tidak mengundang saya?" Ucap Erwin, sambil mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Sudah cocok di hati, ngga usah lama-lama. Harus gerak cepat." Ucap Mathias pelan, membuat mereka tertawa. Ambar yang berdiri di sampingnya, tersenyum malu. Tetapi hatinya membucah happy, mendengar yang dikatakan Mathias.


"Dalam hal ini, saya setuju dan akan mengikuti cara anda. Mari, saya akan perkenalkan anda kepada beberapa teman saya yang sangat ingin bertemu dengan Pak Mathias." Ucap Erwin, dan mengajak Mathias ke tempat duduknya.


"Bu Ambar, silahkan duduk di meja Pak Mathias. Saya membawa Pak Mathias sebentar sebelum acara di mulai." Ucap Erwin, sambil menunjuk meja yang masih kosong dan ada tertulis nama Mathias Naresh dengan tiga buah kursi.


Bagas segera mengajak Ambar untuk duduk di meja yang telah disediakan. "Bagas, tadi siapa?" Tanya Ambar, setelah duduk di kursi yang disediakan.


"Ooh. Itu Pak Erwin Senjaya, Bu. Beberapa waktu lalu beliau adalah client Pak Mathias, jadi sudah kenal baik." Ucap Bagas, tanpa mau menceritakan hal lain yang membuat Erwin terkejut mengetahui bossnya sudah menikah.


Saat sedang menikmati minuman yang disediakan, mereka terkejut oleh sapaan yang tiba-tiba. "Pura-pura menjadikannya pengacara, ternyata ada maunya. Janda, tapi berkhayal tinggi untuk mendapatkan pengacara." Ucap Angel yang tiba-tiba mendekati meja Mathias.


Dia telah memperhatikan Ambar dari semenjak datang. Dia mengira Mathias telah mempunyai pacar baru, dan hatinya tidak tahan untuk mengetahuinya. Tetapi saat menyadari itu adalah istri Rulof dan melihat perhiasan yang dikenakan Ambar, Angel sakit hati.


Selama bersamanya, Mathias tidak pernah membelikannya perhiasan apalagi yang mahal. Melihat yang dikenakan Ambar, membuat hatinya meradang.


"Ada apa Bagas? Dan kenapa kau ada di sini?" Tanya Mathias yang sudah berdiri dekat mejanya dengan rahang mengeras, ketika melihat Angel sedang berdiri di sana.


"Ooh, ini Pak. Saya lagi bilang kepada Mba' Angel. Bu Ambar hebat, karna tidak perlu main ular tangga untuk mendapatkan pria bujangan yang keren, seperti boss saya." Ucap Bagas, untuk meredakan amarah bossnya.


Mathias mengerti yang diucapkan Bagas, pasti Angel ada mengucapkan kata yang tidak pantas. "Ooh, iya. Kalau Bu Ambar tidak hebat, bagaimana bisa mendapatkan pria bujangan. Daripada ada orang dibilang gadis, sudah main ular tangga dengan suami orang, tetapi tidak bisa mendapatkannya." Ucap Mathias, sambil duduk di samping Ambar.


"Masih mau mendengar yang lebih dari itu lagi?" Tanya Mathias dingin, saat melihat Angel belum beranjak dari tempatnya karena tertegun mendengar yang dikatakan Bagas dan Mathias.


"Bu Ambar, ma r i." Ucapan Erwin terhenti saat melihat Angel sedang berdiri di dekat meja Mathias. Tadinya, Erwin mau mengajak Ambar berkenalan dengan istri dari salah satu rekan bisnisnya. Biar mereka tidak merasa asing diantara pria-pria yang sedang asyik berbicara.


"Apa yang kau lakukan di sini? Dan siapa yang membawamu ke sini?" Tanya Erwin, terkejut melihat Angel. Karena dia merasa tidak mengundang Angel. Sedangkan Mathias berpikir, Erwin yang mengundang Angel jadi bukan haknya untuk mengusir Angel dari tempat acara.

__ADS_1


"Sayang, aku mencarimu kemana-mana ternyata kau di sini." Ucap seorang pria yang baru datang mendekati Angel. Mathias langsung mengambil minuman di depannya dan minum perlahan agar tidak tertawa. Begitu juga dengan Bagas, tetapi Ambar hanya tertegun.


"Astagaaa, Pak Vinooo. Anda yang membawa wanita ini ke sini?" Tanya Erwin terkejut, melihat siapa yang membawa Angel.


"Iyaa... Kan, aku sudah bilang akan datang dengan teman wanitaku. Yaa, ini. Angel." Ucap Pak Vino tenang. Tanpa berpikir, bahwa Erwin mengenal Angel.


Pak Vino adalah rekan bisnis Erwin dan juga seorang duda cerai yang usianya lebih dari setengah abad. Anak-anaknya sudah pada dewasa dan mulai berbisnis juga. Erwin kenal baik dengan Pak Vino dan keluarganya.


"Anda kenal wanita ini dari mana?" Tanya Erwin penasaran, tetapi Mathias hanya duduk diam menahan ucapan saktinya. Bagas pun ikut terdiam, dia mengerti melihat wajah bossnya. Sedangkan Ambar terbengong-bengong melihat Erwin yang sedang emosi, tetapi Mathias dan Bagas duduk tenang-tenang saja.


Pak Vino membisikan sesuatu di telinga Erwin, membuat Erwin terkejut sambil melihat Angel dengan wajah jijik. Dia tidak ingin melihat Angel lama-lama di tempat acaranya.


"Bagas, kau membawa ponselmu?" Ucap Erwin sambil mengulurkan tangannya kepada Bagas.


"Bawa, Pak. Sebentar, Pak." Ucap Bagas, segera berdiri untuk mengeluarkan ponsel dari saku celananya tanpa mengerti permintaan Erwin.


Mendengar yang dikatakan Erwin kepada Bagas, Angel segera berjalan cepat meninggalkan tempat acara. Melihat itu, Pak Vino hendak menyusulnya, tetapi Erwin segera memegang tangannya.


"Sebentar, Pak Vino. Lihat ini dulu, supaya bapak bisa menikmati pensiun dengan tenang dan damai." Ucap Erwin, sambil membisikan sesuatu ke telinga Bagas.


Bagas mengangguk mengerti dan segera menyalakan ponselnya untuk mencari permintaan Erwin. Ketika menemukan foto dan video Angel, Bagas menyerahkannya kepada Erwin. Tetapi badannya menghalangi Ambar, karena dia sudah di beritahu tahu oleh bossnya bahwa Alm. suami Ambar yang bersama Angel malam itu.


Erwin langsung menunjukannya kepada Pak Vino. Ketika melihat itu, Pak Vino geram dan memanggil asistennya. Erwin mengembalikan ponsel Bagas dan segera meninggalkan meja Mathias, karena acara segera dimulai. Dia tidak jadi mengajak Ambar.


"Mas, aku dari tadi bingung dengan semua yang terjadi. Dan kenapa wanita itu mendekati aku dan Bagas?" Tanya Ambar, tidak mengerti. Seharusnya setelah di kantor Polisi, dia malu untuk bertemu dengannya.


"Karna perhiasanmu memanggilnya dan yang lainnya nanti aku ceritakan di rumah." Ucap Mathias pelan, sambil mengelus punggung Ambar untuk menenangkannya.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2