MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Permintaan.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di sisi yang lain ; Menjelang malam, Mathias telah pulang kerja dan mampir ke rumah orang tuanya untuk mengecek kondisi Ibunya dan makan malam bersamanya.


"Thias, tadi Ambar lama di sini menamani Ibu. Nanti bilang Ambar, lain kali kalau ke sini bawa Juha juga, ya. Biar dia tidak ditinggal Mamanya terlalu lama." Ucap Bu Titiek memgingat Ambar sering bersamanya dan meninggalkan putranya di rumah bersama ART.


"Alangka baiknya Ibu yang katakan itu sama Ambar, Bu. Kalau Thias yang bilang, Ambar akan berpikir itu hanya maunya Thias." Ucap Mathias, mengharapkan Ibunya yang berbicara dengan Ambar tentang Juha.


"Ibu sudah bilang, tetapi Ambar khawatir nanti Juha mengganggu Ibu dengan banyak pertanyaan yang mungkin akan membuat Ibu pusing." Ucap Bu Titiek, dan Mathias menggangguk mengerti. Karena tadi pagi dia juga mengalaminya.


"Iyaa, dia lagi sedang ingin tahu segala macam, jadi suka bertanya sampai jawaban kita bisa dimengerti dan diterimanya." Ucap Mathias, sambil tersenyum mengingat yang dialaminya. 'Kalau yang tidak mengerti bahasa anak-anak, akan sulit menjawabnya.' Mathias membatin.


"Nanti Thias bicara dengan Ambar, agar Seni membawanya ke sini setelah bangun tidur sore. Biar Ibu juga sudah bangun, jadi Juha tidak terlalu lama di sini bersama Ibu." Ucap Mathias, memikirkan cara yang baik, Juha tidak terlalu lama ditinggal Mamanya dan tidak terlalu lama bersama Ibunya.


"Sekarang Ibu istirahat, Thias mau ke tempat Ambar, karna ada yang mau dibicarakan dengannya." Ucap Mathias, dan Bu Titiek mengangguk mengiyakan. Mathias mencium pipi Ibunya dan menyelimutinya, kemudian keluar kamar menuju kamarnya.


Dia memeriksa kotak perhiasan Angel dan menyimpannya lagi di lemari dan menguncinya. Mathias telah menyimpan semua barang Angel dan Rulof dalam lemari di kamar rumahnya. Kemudian, Mathias membawa tas kerja, helm dan mengenakan jacketnya. Setelah tiba di rumah Ambar, Mathias memarkirkan motornya dan masuk ke dalam rumah.


"Mas, ke kamarku saja. Aku sudah memindahkan semua barang Mas ke kamarku." Ucap Ambar, yang sedang menunggu Mathias pulang dari tempat Ibunya. Sebab Mathias telah mengabarinya, akan ke rumah Ibunya terlebih dahulu.


Mathias menatap Ambar, seakan tidak percaya dengan apa yang di katakan Ambar kepadanya. "Thank you." Ucap Mathias, sambil memeluk Ambar dengan helm masih di tangannya. Dia bersyukur Ambar melakukannya sendiri, bukan karena keinginannya.


Mathias berjalan ke kamar Ambar bersama Ambar. "Mas, mau minum sesuatu? Biar aku ambil sekalian." Tanya Ambar, melihat Mathias yang beranjak ke kamarnya.

__ADS_1


"Ngga usah, tadi sudah di rumah Ibu. Mari ikut denganku, karena ada yang mau aku bicarakan denganmu." Ucap Mathias, sambil memanggil Ambar dengan tangannya untuk mengikutinya.


Dengan apa yang dilakukan Ambar, Mathias menyadari posisinya dalam rumah dan di hati Ambar. Oleh sebab itu, dia ingin bicarakan beberapa hal dengan Ambar. "Duduk di sini." Ucap Mathias, sambil menepuk tepi tempat tidur. Mathias telah membuka jacketnya dan meletakan di kursi meja rias Ambar bersama helmnya.


"Mungkin Ibu sudah berbicara denganmu tentang Juha. Lain kali bawa Juha saja ke rumah Ibu, agar dia bisa bermain atau belajar di sana. Bawa juga Seni, biar kalian bisa bersama di sana." Ucap Mathias, mengharapkan Ambar mengerti maksudnya.


"Apa tidak mengganggu Ibu yang lagi kurang sehat, Mas?" Tanya Ambar  khawatir, karena tahu kondisi Bu Titiek yang kadang tiba-tiba bisa drop.


"Soal mengganggu, aku kurang tahu. Tetapi kalau Ibu sudah minta begitu, tidak akan ada masalah dan juga Juha anak yang penurut, jadi kau bisa bicara dengannya." Ucap Mathias lagi, sambil melihat Ambar dengan seksama.


"Baik, Mas. Nanti mulai besok aku akan meminta Seni membawanya ke rumah Ibu setelah bangun tidur. Agar dia tidak terlalu lama di rumah Ibu." Ucap Ambar, mengerti yang dimaksud Mathias.


"Sekarang, mana Laptop Papa Juha? Aku mau coba melihatnya. Kalau tidak bisa, aku akan meminta tolong Bagas untuk membawanya untuk dibuka." Ucap Mathias mengingat laptop Rulof. Mathias tidak ingin Ambar membukanya, karena mungkin saja ada sesuatu yang akan menyakitinya.


Mathias terkejut, melihat laptop Rulof yang mahal dan masih keluaran terbaru. "Kalau begitu, besok aku akan membawa ini ke kantor dan meminta orang untuk membukanya." Ucap Mathias, lalu memasukan laptopnya ke tas kerjanya.


Mathias mulai berpikir, akan meminta orang untuk datang ke kantornya untuk membuka laptop Rulof. Dia telah memeriksa latar belakang Rulof dan keluarganya saat Ambar datang meminta tolong padanya pertama kali.


Bagi Mathias, ada hal-hal yang tidak singkron dengan kehidupan Rulof dan keluarganya. "Ambar. Waktu ke kantor Rulof, apa yang dikatakan pihak kantor kepadamu?" Tanya Mathias, mengingat Ambar telah pergi ke kantor Rulof.


"Aku tidak ingat banyak hal, Mas. Karena aku sangat terkejut mengetahui Alm. memiliki banyak hutang. Jadi tidak bisa menyimak semua yang mereka katakan. Yang aku ingat, Alm pakai kartu kantor untuk keperluan pribadi dan itu di hitung sebagai hutang oleh pihak kantor." Ambar mencoba ingat dan menjelaskannya kepada Mathias.


"Apakah kau sudah pergi ke bank dan apa yang dikatakan mereka?" Tanya Mathias, mengingat Ambar belum menyampaikan hasil dari pihak bank kepadanya.

__ADS_1


"Aku belum ke bank, Mas. Karena tidak tahu Alm. nabung di bank mana." Ucap Ambar pelan, karena lupa menyampaikannya kepada Mathias. Dia sendiri bingung mau katakan dari mana, karena sangat malu membicarakannya.


Mathias langsung memandang Ambar, seakan tidak percaya dengan yang didengarnya. 'Ambar tidak mengetahui Papa Juha menabung di bank mana?' Tanya Mathias dalam hati.


"Aku menanyakan ini, agar kau bisa membereskan semuanya sebelum Akte Nikah jadi. Aku akan membuat KK baru kita, jadi selesaikan dulu semua urusan yang berhubungan dengan Papa Juha." Ucap Mathias, karena dia akan mengurus surat-surat mengenai hubungan keluarga mereka. Mendengar yang dikatakan Mathias, Ambar mengerti dan mulai berpikir. Apa lagi yang belum diselesaikan sehubungan dengan Papa Juha.


Melihat Ambar yang hanya diam, Mathias jadi heran dan bertanya dalam hati: 'Kenapa Ambar tidak tahu nama bank dimana Rulof menabung?'


"Apakah kau ngga menyimpan nomor rekeningnya, saat transfer uang untukmu?" Tanya Mathias heran, karena tidak mungkin Ambar tidak menyimpannya.


"Ngga, Mas. Karena Alm. tidak transfer uang untukku, tetapi memberikannya secara tunai." Ucap Ambar pelan, karena dia sudah sangat malu harus membicarakannya dengan Mathias. Ambar tidak melihat reaksi Mathias, saat mendengar ucapannya. Bagi Mathias itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal untuk jaman sekarang ini.


Memberikan uang dalam jumlah banyak secara tunai. Padahal bisa transfer, agar Ambar bisa mengambilnya sesuai kebutuhan. Sehingga Ambar tidak perlu ke bank untuk menabungnya lagi. 'Sesuatu yang mudah, ko' dibuat ribet.' Pikir Mathias yang tidak bisa mengerti cara berpikir Rulof.


'Bukankah Rulof ini seorang pejabat, tetapi caranya seperti orang yang tidak duduk dibangku pendidikan atau dia merasa hidup di jaman Gigantro?' Ucap Mathias lagi, yang tidak bisa mengerti dengan tata cara Rulof.


Sedangkan Ambar berkata dalam hatinya, 'Bagaimana Alm. mau transfer uang ke rekeningnya. Sedangkan dia sendiri tidak punya nomor rekening. Nomor rekening yang ada sekarang, karena dia bekerja dan menjual perhiasannya.' Ambar menyimpannya di hati, karena malu menyampaikannya kepada Mathias.


"Aku bertanya ini, bukan mau ikut campur urusan Alm, tetapi supaya tidak bermasalah dikemudian hari. Semuanya harus jelas, karena akan menyangkut dengan masa depan Juha. Mana surat-surat dari kantor Alm. biar aku lihat dan mengeceknya." Ucap Mathias serius, karena dia tidak menyukai sesuatu yang tidak jelas seperti yang sedang dialami Ambar.


Ambar segera berdiri dan mengambil tas yang berisi surat-surat dari kantor Rulof, lalu menyerahkan amplop coklat besar kepada Mathias. Dia menyerahkan itu dengan hati yang merasa bersalah, karena tidak membicarakan lebih awal dengan Mathias.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2