MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Rencana Mathias 1.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Setelah sampai di rumah, Ambar dan Mathias langsung membersihkan tubuh mereka dan beristirahat. Karena Ambar merasa sangat cape' setelah membantu Mathias seharian di kantor yang baru.


Begitu juga dengan Mathias, bukan karena terkuras tenaganya, tetapi karena sibuk memikirkan banyak hal yang telah terjadi. Selain pertemuannya dengan Erwin, juga kondisi kantor barunya.


Karena melihat kantor baru, Mathias ingin segera mereka pindah ke sana. "Nanti setelah istirahat baru kita bicarakan semuanya, ya." Ucap Mathias yang baru selesai mandi dan berganti pakaian dan melihat Ambar hendak berbicara dengannya.


"Iyaa, Mas." Ucap Ambar, lalu naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Mathias. Dia mencoba meredam semua yang dipikirkannya dengan memeluk Mathias.


Menjelang sore, mereka dibangunkan oleh ketukan dan panggilan di pintu kamar oleh Juha yang baru pulang dari rumah orang tua Mathias. Ambar segera bangun untuk membukakan pintu, sedangkan Mathias masih terlelap.


"Ssssttt.. Papathias masih tidur." Ucap Ambar, sambil mengajak Juha menjauh dari kamarnya. Karena Juha sudah mau berlari ke tempat tidur, saat melihat ada Mathias di sana.


"Mama, Papathias sakit?" Tanya Juha, dengan suara pelan cendrung berbisik.


"Ngga, Papathias hanya cape' karena tadi banyak yang dikerjakan di kantor. Itu Mama ada beli roti, mari kita makan." Ucap Ambar, sambil mengajak Juha ke ruang makan.


"Juha belum mau makan roti, Ma. Tadi Juha sudah makan roti di rumah Eyang Titiek." Jawab Juha, tetapi matanya terus ke pintu kamar Ambar.


"Tadi Juha ngga nakal di tempat Eyang, kan?" Tanya Ambar untuk mengalihkan perhatian Juha dari Mathias.


"Ngga, Ma. Kata Eyang: Juha pintar, jadi dibeliin roti. Mama, Juha bisa masuk lihat Papathias, ngga? Sebentar saja, Juha ngga berisik." Ucap Juha, ketika melihat jam menunjukan Mathias sudah cukup istirahat, Ambar mengijinkannya masuk ke kamar.


Ambar berpikir, kalau sampai Mathias bangun juga tidak mengapa, karena bisa sekalian minum minuman hangat. Dia akan menyiapkan makan malam bersama Seni, sambil menunggu Mathias keluar.


Juha membuka pintu kamar pelan dan berjalan jinjit dan naik ke atas tempat tidur. Karena melihat Mathias sedang tidur nyenyak, Juha pelan-pelan tidur di samping Mathias dan memeluk perutnya.


Karena tidak mendengar apa-apa, Ambar masuk ke kamar dan terkejut. Ternyata Juha juga ikut tidur, sambil memeluk Mathias. Ambar kembali keluar kamar, karena tidak sampai hati membangunkan mereka.

__ADS_1


"Juha mana, Bu?" Tanya Seni, saat melihat Nyonyanya balik sendiri.


"Ikutan tidur dengan bapak. Sepertinya mereka bangun langsung makan malam." Ucap Ambar, melihat Juha yang ikut tidur dengan nyenyak.


"Oooh, mungkin karna tadi Juha hanya tidur sebentar, Bu. Dia bangun dan minta main ke tempat Eyang Titiek. Karna di sana pohon mangga sedang berbuah jadi dia suka main di bawa pohon." Ucap Seni menjelaskan, dan Ambar mengangguk mengerti.


Di dalam kamar ; Mathias yang baru bangun, terkejut melihat Juha sedang tidur sambil memeluk perutnya. Dia berbalik dan memeluk Juha yang masih terlelap. Ketika merasa Mathias bergerak, Juha membuka matanya dan nguyek-uyek di dada Mathias.


"Papathias sudah bilang, jangan nguyek-uyek begitu nanti wajahmu lecet." Ucap Mathias sambil mengangkat tangannya, sehingga Juha merasa lega.


"Papathias masih cape'?" Tanya Juha sambil melihat Mathias.


"Sudah ngga. Kenapa?" Tanya Mathias, melihat Juha sedang melihatnya.


"Juha ngga bangunkan Papathias, loh." Ucap Juha sambil menggoyang kedua tangannya.


"Hahahaa... Juha ngga bangunkan Papathias, tetapi Papathias yang bangun sendiri karena sudah puas tidur. Juha sudah makan roti? Tadi Mama ada beli roti untukmu." Ucap Mathias sambil mengambil ponsel di sampingnya untuk melihat jam.


"Oooh, apakah Eyang baik-baik saja? Papathias belum menengoknya." Ucap Mathias, teringat dia belum menengok Ibunya.


"Iyaa, Papathias. Tadi Juha main di bawa pohon mangga bersama Eyang dan Juha berdoa bersama Eyang Titiek." Ucap Juha, menceritakan yang dilakulan di rumah orang tua Mathias.


"Waaah, sekarang Juha tambah pintar, ya. Ayooo bangun, jangan sampai Mama datang dan melihat kita masih tidur." Ucap Mathias, sambil bangun dan turun dari tempat tidur.


Mathias langsung menggendongnya, karena melihat Juha masih berdiri di pinggir tempat tidur. Mathias mengerti, Juha ingin dia menggendongnya keluar dari kamar tidur.


"Sekarang, Juha sama Mama dulu, karna Papathias mau menengok Eyang." Ucap Mathias sambil menurunkan Juha di samping Ambar di ruang makan.


"Apa aku tidak ikut denganmu, Mas?" Tanya Ambar, mengingat dia belum bertukar sapa dengan mertuanya seharian.

__ADS_1


"Ngga usah, temani Juha saja. Nanti aku yang bicara dengan Ibu. Supaya cepat kembali untuk makan malam." Ucap Mathias, karena dia tahu Ambar sudah seharian meninggalkan Juha. Ambar mengangguk mengerti maksud Mathias.


Mathias segera masuk ke kamar untuk mengambil kunci motor, karena dia akan naik motor ke rumah Ibunya. Dia terlalu cape' untuk berjalan bolak balik ke rumah Ibunya.


Setelah selesai berbicara dengan Ibunya dan melihat kondisi Ibunya, Mathias kembali pulang untuk makan malam bersama keluarganya.


Juha sangat gembira mendengar suara motor Mathias yang sudah masuk di halaman rumah. Seperti biasa, dia berlari keluar untuk menyambut Mathias dengan wajah yang gembira. Melihat itu, Mathias menggedongnya sambil masuk ke ruang makan.


Mereka makan malam bersama, kemudian Ambar menemani Juha tidur sambil membaca cerita dan berdoa sebelum tidur. Setelah melihat Juha telah tidur, Ambar keluar dari kamar Juha menuju kamarnya.


"Juha sudah tidur?" Tanya Mathias, saat Ambar telah masuk ke kamar.


"Sudah Mas. Bagaimana kondisi Ibu?" Tanya Ambar, sambil duduk di samping Mathias di tempat tidur.


"Masih seperti biasa. Tadi aku sudah bicara dengan Ibu mengenai persiapan untuk pindah kantor. Ibu bisa mengerti dan memintamu jangan terlalu cape' saat membantuku." Ucap Mathias, dan Ambar mengangguk mengerti.


"Begini, Ambar. Tadi saat berbicara dengan Ibu dan melihat kondisinya, terpikirkan untuk kita lakukan nikah di Gereja secepatnya saja. Tidak usah menunggu Ibu sehat, karena itu suatu yang tidak pasti waktunya. Kesehatan Ibu selalu turun naik, jadi kita tentukan waktu saja." Ucap Mathias, sambil melihat Ambar yang sedang memandangnya.


"Aku ikut apa kata Mas saja. Bagaimana baik menurut Mas, aku akan ikut." Ucap Ambar pelan dan yakin. Karena dia berpikir juga sama, tentang kondisi mertuanya.


"Kalau begitu, besok kita bisa berbicara dengan orang Gereja, kita akan nikah di Gereja hari Jumat sore Minggu depan. Semua surat nikah di catatan sipil sudah ada, jadi kita bisa serahkan ke Gereja agar bisa dilakukan pemberkatan." Ucap Mathias, serius.


"Kalau untuk makan malam di tempat Sari, aku akan bicara dengan Sari agar tidak usah memberitahukan orang tuanya. Biarkan kita saja dan beberapa teman yang makan malam, karena aku tidak mau Ibu ikut dengan kita ke restoran Sari. Yang penting, Ibu bisa hadir di Gereja saat kita diberkati." Ucap Mathias, mengingat apa yang dikatakan Ibunya tadi.


'Ibu ingin menyaksikan kalian diberkati walau pun itu dari atas kursi roda.' Ucapan Ibunya itu membuat Mathias berpikir lagi, yang Ibunya inginkan hanya nikah di Gereja. Tidak untuk acara makan-makannya.


"Apakah saudara-saudara Mas tidak marah jika tidak dikasih tau? Kalau aku sih, tidak ada. Karena sampai sekarang belum ada kabar tentang Papa dan adik-adik." Ucap Ambar, berusaha tegar agar Mathias tidak menjadi kepikiran.


"Ngga papa. Kebanyakan saudara Ayah dan Ibu ada di Jabodetabek. Tahun ini Lebaran dan Natal berdekatan waktunya, jadi nanti pada kumpul di rumah atau kita kunjungi mereka satu-satu untuk berlebaran dan natalan, sekalian kau berkenalan dengan keluargaku." Ucap Mathias, mendapat ide untuk memperkenalkan Ambar untuk keluarganya.

__ADS_1


"Aku ikut bagaimana baik menurut Mas saja." Ucap Ambar pelan, karena dia hanya memikirkan kondisi mertuanya.


...~●○♡○●~...


__ADS_2