MANUSIA PARASIT

MANUSIA PARASIT
Richo - Inge.


__ADS_3

~β€’Happy Readingβ€’~


Ambar melihat Richo, seakan tidak percaya mendengar ucapannya. Ambar berpikir dia orang baik, karena selama ini diam dan penurut terhadap Alm. suaminya.


"Darimana Kak Richo tau, saya menerima banyak uang? Apakah Kak Richo bisa melihat isi amplopnya? Apakah Kak Richo tau berapa banyak pengeluaran keluarga Pak Tony di saat kedukaan saya?" Tanya Ambar, sambil melihat suami Inge dengan heran dan emosi.


"Jangan banyak alasan, berikan itu dan kami akan pergi." Ucap Mama Rulof, menegaskan ucapan Richo.


"Saya mau memberikan apa, Ma? Mau memberikan amplop kosong? Itu... Sudah dibuang sama Seni di tempat sampah. Dan supaya kalian tau, yang didapat sudah saya berikan kepada keluarga Pak Tony, tetapi itu juga masih belum bisa melunasi semua hutangku." Ucap Ambar sambil memeggang dadanya, menahan emosi dan tangis.


Seni terus menggosok betis Ambar dengan minyak kayu putih sambil menunduk, karena hatinya ikut sedih. Dia tidak menyangka keluarga majikannya bisa tidak berperasaan seperti ini. Karena dia tahu yang dikatakan oleh Nyonyanya, itu benar adanya.


Setelah ditinggal keluarga Rulof, Ambar masuk ke kamarnya dan menangis sejadi-jadinya. Dia menangis bukan hanya karena kepergian Rulof. Tetapi lebih dari itu, persoalan yang harus dihadapi dengan keluarganya setelah meninggalnya Rulof. Dan lebih menyakitkan lagi, mengetahui ada wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya.


Seni yang mendengar tangisan Nyonyanya ikut menangis di ruang tamu. Karena dia tahu hari-hari yang dilalui oleh Nyonyanya bersama Alm. suaminya. Sekarang di tambah lagi dengan keluarganya.


*((**))*


Di sisi lain ; Setelah Mama Rulof dan adiknya tiba di rumah Inge, mereka mulai merencakan apa yang akan mereka lakukan. Karena mereka harus pulang ke Makassar, tetapi tidak memiliki uang cukup dan tidak mungkin pulang dengan tangan kosong.


"Inge... Karna kau tinggal di sini, apa saja peninggalan Rulof yang kau tahu?" Tanya Mama Rulof, mengingat Rulof sudah meninggal, tidak ada yang akan memberikan uang untuknya tiap bulan. Sedangkan suami Tiara yang tinggal dengannya tidak memiliki penghasilan tetap.


"Inge kurang tau, Ma." Ucap Inge, ragu-ragu.


"Bukankah kau bilang Rulof ada memiliki beberapa bidang tanah dan banyak uang tabungan di bank?" Tanya Richo, suami Inge merasa heran dengan jawaban Inge.


Karena hal itu yang disampaikan oleh Inge kepadamya, sehingga Richo mau menikah dengannya. Sebab pekerjaannya tidak menentu, dia belum mau menikah dengan Inge. Tetapi Inge mengatakan, Rulof akan menjamin kehidupan rumah tangga mereka. Alias menjadi ATM berjalan bagi dirinya dan keluarga.


"Iyaa, itu yang aku tahu waktu itu. Tetapi setelah lihat kondisi rumah dan Ambar, aku jadi ragu dan bertanya-tanya. Nanti kita datang ke sana lagi untuk menanyakan itu kepada Ambar." Ucap Inge, melihat wajah Richo yang sedang menatapnya dengan heran.


"Kita harus cari cara, agar dia bisa memberikan sebagian peninggalan Rulof untuk kita. Karna dia tahu, selama ini Rulof membantu kita. Jadi kita bisa menuntut bagian kita darinya." Ucap Inge, meyakinkan.

__ADS_1


"Iyaa... Mama kan punya saudara di kepolisian, jadi kita bisa minta tolong untuk memaksanya. Kalau dia tidak mau membagi untuk kita dengan banyak alasan yang dibuat-buat." Ucap Tiara, kepada Mamanya.


"Bilang perlu, kita ajak wanita yang tadi datang melayat. Nanti kita pikirkan lagi setelah bicara dengan Ambar. Kau simpan nomor telpon wanita itu bukan?" Tanya Richo, dan Inge mengangguk.


Richo mulai khawatir, jika tidak mendapatkan sesuatu dari Ambar setelah Rulof meninggal. Dia mulai memikirkan berbagai cara untuk bisa mengamankan hidupnya.


"Kita istirahat dulu, supaya bisa berpikir." Ucap Mama Rulof, sambil masuk kamar yang disediakan Inge.


"Kau harus berusaha, agar Mama dan Tiara lekas kembali ke Makassar." Ucap Richo pelan, saat berdua dengan Inge di dalam kamar mereka.


Richo tidak mau Mertua dan iparnya lama tinggal di rumah mereka, karena persediaan makanan juga terbatas. Sedangkan selama ini, makanan mereka disuplay oleh Rulof.


Beberapa hari kemudian, mereka datang ke rumah Ambar, tetapi Ambar sedang berada di tempat kerja. Hanya ada Seni di rumah bersama Juha. "Seniii... Buka pagarnya, kami mau masuk." Ucap Inge, sambil mengetuk pagar rumah Ambar. Seni keluar melihat siapa yang memanggilnya dengan suara berisik di depan pagar rumah.


"Maaf, Bu Inge. Saya tidak bisa membuka pagar, karena Ibu sedang tidak ada di rumah. Nanti datang lagi setelah Ibu ada di rumah." Ucap Seni dari dalam pagar, mencoba berani.


"Kau berani melawan kami, cepat buka pintunya. Juha, kau dimana? Ayoo, buka pintunya." Ucap Inge memanggil Juha, sambil mengetuk pagar.


"Seniii... Ambar pulang jam berapa?" teriak Inge, ketika melihat Seni berbalik mau masuk rumah.


"Saya tidak tahu. Ibu Inge tanya saja sama Ibu. Ibu Inge punya nomor telpon Ibu, bukan?" Tanya Seni, kemudian meninggalkan keluarga Rulof di depan pagar.


Seni masuk ke dalam rumah, langsung memeggang dadanya. Karena tadi berhadapan dengan keluarga majikannya dia sangat takut, tapi mencoba tenang.


"Juha, ssstttt... Diam, naik ke kamar dan tutup pintu, yaa." Ucap Seni, sambil memberikan isyarat kepada Juha yang baru turun dari kamarnya. Kemudian, Seni mengirim pesan kepada Nyonyanya, memberi tahukan kehadiran keluarga majikannya.


*((**))*


Di sisi yang lain ; pengunjung restoran telah berkurang, karena sudah melewati waktu makan siang. Ambar bergantian istirahat dengan rekan kerjanya yang lain. Setelah selesai makan, Ambar mengambil ponselnya untuk menghubungi Seni. Dia biasanya menanyakan kabar Seni dan Juha saat istirahat siang. Dia terkejut melihat ada beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab.


Ambar membaca pesan dari Seni dulu dan mengerti, kenapa ada panggilan tidak terjawab dari Inge. Ambar segera menghubungi Seni.

__ADS_1


πŸ“±"Allooo, Seni... Kalian sudah makan?" Tanya Ambar, saat Seni merespon panggilannya.


πŸ“±"Sudah, Bu. Hanya keluarga bapak masih ada di depan dan terus minta masuk ke dalam rumah." Seni menyampaikan situasi yang terjadi di rumah.


πŸ“±"Ngga papa Seni, biarkan mereka begitu. Jangan bukakan pintu pagar, sebelum Ibu pulang. Setelah ini, Ibu akan hubungi Bu Inge. Karena sudah telpon Ibu beberapa kali. Kalian hati-hati, yaa." Ucap Ambar.


πŸ“±"Baik, Bu. Ibu juga, hati-hati." Ucap Seni, dan Ambar mengakhiri pembicaraan mereka.


Kemudian Ambar menghubungi nomor telpon Inge sebelum selesai waktu istirahatnya.


πŸ“±"Allooo, Kak Inge. Tadi menghubungi saya?" Tanya Ambar, ketika Inge merespon panggilannya.


πŸ“±"Iyaa... Kenapa ngga diangkat? Kau lagi sembunyi di dalam rumahmu? Cepat keluar dan bukakan pintu untuk kami." Ucap Inge emosi, karena mereka sudah tunggu sangat lama.


πŸ“±"Saya sedang bekerja, jadi ponselnya tidak dekat saya. Sekarang bicarakan saja ada apa, Kak." Ucap Ambar, tidak mau bertele-tele. Mendengar Ambar katakan sedang bekerja membuat Inge tertawa.


πŸ“±"Hhhhhh... Kau katakan sedang bekerja? Kau mau menipu kami?" Tanya Inge tidak percaya, Ambar bekerja.


πŸ“±"Silahkan Kak Inge tertawa, saya sedang mencari makan untuk saya dan anak saya. Kalau hanya mau bicarakan itu, saya akan akhiri pembicaraan ini. Karena waktu istirahat saya hampir berakhir." Ucap Ambar, dan hendak mengakhiri pembicaraan.


πŸ“±"Eeehh, tunggu... Kau pulang jam berapa?" Buru-buru Inge bertanya, karena tahu Ambar akan mengakhiri pembicaraan mereka.


πŸ“±"Kalau tidak macet, sebelum Magrib sudah sampai di rumah." Ucap Ambar, langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Inge, karena waktu istirahatnya sudah berakhir.


"Dia bilang, apa?" Tanya Mama Rulof, setelah mendengar Inge bilang halo ... halo... Karena Ambar telah mematikan ponselnya.


"Dia bilang lagi kerja, Ma. Kalau ngga macet, dia sampai rumah sebelum Magrib. Apakah kita mau menunggu sampai malam?" Tanya, Inge kepada Mamanya.


"Iyaa... Kita tunggu saja, supaya bisa buktikan dia ada di luar atau di dalam rumahnya." Ucap Mama Rulof, yang lain mengangguk sambil mencari tempat untuk duduk, tapi masih bisa memantau depan rumah Ambar.


~●○♑○●~

__ADS_1


__ADS_2