
...~•Happy Reading•~...
Di sisi yang lain ; Angel pulang dari tempat acara Erwin dengan kesal dan juga hati yang was-was. Dia berpikir, Erwin bisa saja memberitahukan Pak Vino tentang fotonya dengan Rulof.
Oleh sebab itu, dia segera pulang ke apartemen untuk mengambil semua miliknya. Dia khawatir tidak bisa masuk ke apartemen seperti yang terjadi di apartemen Mathias. Karena dia tinggal di apartemen yang diberikan oleh Pak Vino untuk tempat tinggalnya. Sesampai di apartemen, hatinya lega sedikit lega, karena masih bisa masuk dan tidur.
Keesokan harinya Angel terkejut bangun oleh suara ketukan di pintu apartemen. Dia segera bangun untuk melihat siapa yang datang dan ribut pagi dengan mengetok pintu dengan keras. Walaupun pintu apartemennya dia kunci dari dalam, tapi mendengar ketokan yang tidak sabar, Angel segera membukanya. Dia khawatir pintunya dibuka paksa. "Kenapa pagi-pagi kau sudah mengganggu tidurku?" Tanya Angel, saat asisten Pak Vino menerobos masuk ke dalam apartemen.
"Pak Vino memerintahkan, agar anda segera meninggalkan apartemen saat ini juga. Saya akan memeriksa anda, karna hanya pakaian yang bisa anda bawa." Ucap asisten Pak Vino, tegas sambil masuk ke kamar yang ditempati Angel dengan koper di tangan.
Angel segera mengikutinya dengan panik, karena perhiasan yang dibeli Pak Vino belum dia simpan. "Keluarlah, nanti saya sendiri yang akan memasukan pakaian saya." Ucap Angel sambil berusaha mengambil koper dari tangan asisten Pak Vino.
"Saya yang akan memasukan semua pakaian anda. Saran saya, lebih baik anda mandi. Karena setelah saya memasukan semua pakaian, anda harus segera meninggalkan apartemen ini." Ucap asisten Pak Vino tegas, dan tidak melepaskan koper dari tangannya.
Akhirnya Angel mengambil pakaian yang akan dikenakannya dan masuk ke kamar mandi. Dia tidak mau keluar dari apartemen dengan pakaian yang dikenakannya saat ini serta dengan wajah yang baru bangun tidur.
Saat di kamar mandi, dia sedikit tenang melihat dia belum melepaskan kalung di lehernya saat tertidur tadi malam. Dia melepaskannya dan memasukan ke dalam kantong celana jeans yang akan dipakainya.
Saat selesai mandi, Angel keluar dari kamar mandi dan melihat asisten Pak Vino telah menunggunya dengan koper di tangan. "Ini, semua pakaian anda dan silahkan meninggalkan apartemen ini." Ucap asisten Pak Vino tegas, tanpa bisa di bantah.
"Baiklah. Tapi biarkan saya sarapan, karena saya sangat lapar." Ucap Angel tidak menghiraukan asisten Pak Vino, dia berjalan ke dapur untuk membuat minuman dan makan roti yang ada.
Setelah selesai sarapan, dia mengambil tas tangan kecil untuk mengambil ponselnya. Dia sangat terkejut, karena sudah tidak ada lagi kunci mobil dan kartu kredit/ATM di dalam tasnya.
"Kau telah membuka tasku?" Tanya Angel marah, saat melihat tasnya telah diacak-acak.
"Saya diperintahkan untuk mengambil kembali semua yang diberikan Pak Vino untuk anda. Termasuk semua kartu-kartu ini." Ucap asisten Pak Vino, tenang dan tegas sambil menunjukan kartu kredit/ATM di tangannya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana saya harus keluar dari tempat ini." Tanya Angel, sangat khawatir melihat isi tas dan dompetnya.
"Ini ada uang konpensasi yang diberikan oleh Pak Vino untuk anda." Ucap asisten Pak Vino sambil menyerahkan amplop coklat kepadanya.
Angel menarik amplop tersebut dari tangan asisten Pak Vino dengan kesal dan kasar. Kemudian segera berjalan ke luar meninggalkan apartemen Pak Vino dengan hati menggerundel.
Dia segera memesan mobil online ke tempat kostnya yang dulu dia tinggal. Di dalam mobil, dia membuka amplop dan memeriksa isinya dengan hati yang cemas. Dia berharap Pak Vino memberikan uang yang cukup untuknya.
Ternyata tebalnya amplop tidak sesuai dengan isinya, karena semuanya adalah pecahan Rp. 50.000. Sehingga jumlahnya tidak banyak. Dia makin kesal dan marah, karena hanya sedikit uang tunai yang dimiliki di dalam dompetnya.
Sesampai di tempat kost, dia berusaha membuka pintunya tetapi terkunci. Dia mengetok pintunya dengan tidak sabar. Ketika pintu terbuka, Angel langsung menerobos masuk.
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini, di sini?" Tanya Richo yang baru bangun, dan Angel langsung menutup hidungnya, karena bau alkohol memenuhi kamar kost.
"Apakah kau habis mandi miras, sampai kamar bau seperti ini?" Tanya Angel, tidak menjawab pertanyaan Richo.
"Aku diusir oleh Pak Vino, jadi sementara aku akan tinggal di sini." Ucap Angel, membuat Richo terkejut.
"Apa kesalahan yang kau lakukan sampai Pak Vino mengusirmu. Apa kau bermain dengan orang lain lagi?" Tanya Richo, mulai emosi.
"Tidak, tadi malam aku ka'undangan dengannya dan bertemu Mathias dan istri Rulof." Angel menceritakan kejadian yang terjadi, tanpa menceritakan tentang pertemuannya dengan Erwin yang membuat dia dikeluarkan dari apartemen Pak Vino.
"Looh', Rulof sudah meninggal dan Ambar sudah menikah dengan pengacaranya. Kenapa masih menyimpan dendam padamu?" Tanya Richo heran, tetapi tidak memperhatikan wajah Angel yang terkejut.
"Apa yang kau katakan tadi? Ambar telah menikah dengan pengacaranya?" Tanya Angel terkejut, dan mengingat apa yang dikatakan Bagas dan Mathias kepadanya. Richo mengangguk dengan alis berkerut melihat reaksi Angel.
"Mereka sudah lama menikah?" Tanya Angel penasaran, karena dia mengingat perhiasan yang dipakai oleh Ambar. 'Apakah sekarang Mathias telah menjadi pengacara yang sukses?' Tanya Angel dalam hati, mengingat penampilan Mathias dan Ambar malam itu dan berkumpul dengan orang-orang berduit.
__ADS_1
"Aku kurang tau, mungkin setelah peristiwa di kantor Polisi atau sebelumnya." Ucap Richo menjelaskan, tanpa menceritakan peristiwa pertemuannya dengan Mathias di rumah Ambar.
"Pantes dia bisa membuat Pak Vino mendepakku dari apartemen." Ucap Angel, yang tidak jujur mengakui kalau Erwin pemilik acara yang melakukannya. Dia tidak mau Richo mengetahui hubungannya dengan Erwin dan Mathias. Dia berpikir, mungkin saja Richo akan mendepaknya juga. Jadi semuanya hanya berhubungan dengan Ambar, istri Rulof.
"Kalau begitu, kau jangan tinggal di sini. Cari tempat kost yang lebih baik untukmu." Ucap Richo, karena dia masih mengantuk dan ingin tidur. Dia dan teman-teman habis minum miras semalaman.
"Aku tidak bisa mencari tempat kost, karna duitku tidak banyak." Ucap Angel kesal melihat Richo hendak tidur.
"Apa maksudmu duit tidak banyak? Bukankah Pak Vino memberimu uang dan kartu?" Tanya Richo, dan kembali menegakan tubuhnya.
"Semuanya sudah diambil oleh asistennya dan mengusirku keluar hanya dengan koper ini." Ucap Angel, sambil menunjuk koper yang masih dipegangnya.
"Astagaaa, lalu bagaimana dengan hidup kita? Apakah kau tidak membawa sesuatu yang berharga darinya? Mobil yang sering kau pakai di mana?" Tanya Richo beruntun, karena mulai cemas akan hidupnya.
"Sudah kubilang, aku keluar dengan koper ini dan pakaianku diisi sendiri oleh asistennya. Semua isi dompet dan tasku disita, termasuk kunci mobil." Ucap Angel, membuat Richo terperanga.
"Bukankah aku sering memberikan uang umtukmu, jadi sekarang bantu aku mencari tempat tinggal atau aku tinggal di sini dan kau tinggal dengan teman-temanmu." Ucap Angel tidak mau mengalah. Sedangkan Richo berpikir keras, karena uang yang didapat dari Angel telah dihabiskan dengan teman-temannya. Dia berpikir, akan mendapatkan uang lagi dari Pak Vino.
"Baiklah, kau tinggal di sini. Aku akan mandi dan pergi ke tempat temanku." Ucap Richo, karena pemilik kost tidak mengijinkan lelaki dan perempuan yang bukan suami istri untuk tinggal bersama.
"Secepatnya aku akan mencari client untukmu, agar bisa pergi dari sini." Ucap Richo, sambil mengambil handuknya.
"Apakah kau tidak bisa mendapatkan client yang lebih muda dari pria setengah baya seperti itu?" Tanya Angel, kesal mengingat perlakuan Pak Vino padanya.
"Lebih muda darinya buanyaakk. Tetapi kebanyakan suami orang, yang memiliki istri tidak sebaik dan sesabar Ambar. Mereka akan mencakar mukamu atau mencabut rambutmu." Ucap Richo yang juga kesal mendengar permintaan Angel. Padahal dia sudah berusaha mendapatkan Pak Vino seorang duda cerai yang aman baginya.
...~●○♡○●~...
__ADS_1