Melanggar Janji

Melanggar Janji
Takdir memang aneh


__ADS_3

“Akhirnya, lu mau juga nginjek rumah gue, Bang.” Ucap Malik pada Adrian.


Adrian menoleh ke sumber suara itu. ia tersenyum. Adrian masih berdiri di teras dan belum masuk ke rumah Malik. Sedangkan Farah sudah di tarik Alika dan Faris ke dapur untuk memperlihat kue hasil kreasi mereka.


“Ck. Kecil banget rumah lu, Lik.” Sindir Adrian santai.


“Bukan gue yang mau, Angel ngga suka rumah gede.”


“Alasan, bilang aja lu pelit. Kasian banget mantan istri gue” Adrian tertawa.


Malik pun ikut tertawa.


“Bang, lu ngga apa-apa kan?” Tanya Malik ambigu, karena ini adalah kali pertama Adrian bertemu kembali dengan Angel.


“Ngga apa-apa, Apa?” Adrian balik bertanya.


“Gue khawatir lu masih marah karena kejadian dulu. Atau lu masih canggung ketemu Angel karena dia mantan istri lu terus sekarang jadi istri gue.”


Malik tertawa, begitu pun Adrian yang menggelengkan kepalanya.


“Makanya jadi orang jangan pengecut, kalau dari dulu gue tahu, Angel pacar lu. Ngga bakal lah gue nikahin. Untung gue belum sentuh dia waktu jadi bini gue, kalo udah, lu bakalan terima bekas gue.”


“Yang penting dia pertamanya sama gue.” Sahut Malik.


“Dasar b*jing*n emang lu.”


Keduanya pun tertawa. Adrian kembali menggelengkan kepalanya. “Takdir memang aneh.”


“Tapi untung lu cepet bikin gue sadar, terima kasih ya.” Adrian menepuk pundak Malik dan Malik membalasnya dengan senyum.


Karena saat ini, ia sadar untuk siapa hatinya terpaut. Kalau dahulu, ia bersikeras untuk mempertahankan Angel, ternyata hal itu memang karena ia tidak mau tersaingi oleh adik sepupunya ini.


“Yan, Lik, Ayo ke dalam! Kita makan malam, Angel dan anak-anak sudah menunggu.” Ajak Farah, menghampiri kedua pria tampan berbeda usia ini tengah berbincang hangat di teras rumah minimalis yang di beli Malik untuk sang istri.


“Iya, Mba.” Jawab Malik, sementara Adrian hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Farah.


“Hei, tadi di kamar ngapain lama? Tamu di suruh nunggu.” Ledek Adrian saat mereka hendak memasuki rumah.


“Lu begituan dulu, ya. Dasar.” Adrian kembali meledek karena Malik hanya tersenyum menyeringai.


“Gara-gara anak lu, mendominasi Angel, jatah gue abis.”


Adrian tertawa terbahak-bahak, hingga Farah menoleh ke belakang.


“Ngomongin apa sih, seru banget.”


“Ada deh.” Jawab Malik dan Adrian bersamaan.


“Ini urusan pria.” Jawab Adrian lagi sambil menghentikan tawamya.


“Oh, gitu ya.” Farah menaikkan alisnya.

__ADS_1


Lalu, Farah menghampiri Angel yang sedang menyiapkan makanan dari dapur ke meja makan bersama Bi Neneng.


“Ngel, tadi ngapain sih, lama banget turunnya?” Tanya Farah pada Angel di dapur.


“Biasa, Mba.” Jawab Angel dengan sedikit kode yang sangat Farah mengerti.


“Ya ampun, jadi gue dari tadi nungguin orang yang lagi bercinta?” Tanya Farah lagi sambil berjalan beriringan bersama Angel dengan membawa makanan dari dapur menuju meja makan.


Angel mengangguk, “kasihan Malik, Mba. karena selama ada Alika dan Faris, dia jarang dapet jatah.”


Farah tertawa cekikikan, hingga sampai di depan meja makan. Adrian pun melihat kekasihnya yang tertawa seperti itu.


“Apaan sih, seru banget?” Tanya Adrian.


“Ada deh, urusan perempuan.” Jawab Farah membalikkan jawaban Adrian tadi.


Kemudian, kedua pasangan ini pun tertawa bersama, membuat bingung Bi Neneng dan kedua krucil itu.


“Lik, sepertinya kalau gue sama Farah nikah, gue akan titip anak-anak sama lu, cuma satu minggu.” Ucap Adrian meledek Malik yang otaknya selalu meminta jatah.


“Enak di elu, ga enak di gue. Lima hari aja udah pusing apalagi satu minggu. Oh, No.” Jawab Malik yang mengundang gelak tawa orang dewasa di sana.


Adrian dan Farah rertawa geli, sedangkan Angel hanya malu menanggapi sikap mesum suaminya.


Lalu, mereka menikmati makan malam bersama. Adrian melihat perut Angel yang semakin besar.


“Kapan HPL nya, Ngel?” Tanya Adrian.


“Kata Mba Farah, dua bulan lagi.” Jawab Angel.


“Nah kan? Tuh denger, Bee. Jadi kamu ngga boleh pelit.” Sahut Malik.


“Ih pelit apaan sih.” Wajah Angel langsung merona karena malu. Ia masih tabu untuk membicarakan masalah ranjang pada orang lain.


“Ya udah ganti topik, lagian ada anak-anak. Untung mereka lagi asyik makan tuh.” Ucap Farah yang melihat Alika dan Faris tengah fokus dengan makanan yang Angel buatkan spesial.


“Oh, iya. kapan pernikahan Mas Adrian dan Mba Farah?” Tanya Angel.


“Kemungkinan bulan depan. Mama sudah mempersiapkan semuanya.” Jawab Adrian.


“Jadi tante Dila udah nerima Mba Farah? Syukurlah.” Kata Malik.


“Ya, ternyata mama klop banget sama Farah, karena sama-sama bawel.” Jawab Adrian.


“Yan.” Rengek Farah dan menimpuk Adrian dengan tissu yang terkepal di tangannya.


Adrian tertawa sembari tubuhnya menghindar dari benda yang Farah buang ke arahnya.


Malik dan Angel tersenyum melihat kebersamaan Farah dan Adrian. Malik lega melihat kakak sepupunya kini kembali bahagia. Senyum itu terlihat lagi di raut wajah Adrian yang dingin dan kaku, malah sekarang lebih bahagia karena pria itu lebih banyak tertawa.


****

__ADS_1


Setelah makan malam, Angel masih bercengkrama bersama Farah. Lalu, Alika dan Faris mengajak mereka bermain ular tangga. Kedua wanita dan kedua anak kecil itu terlihat seru di selingi canda tawa.


Bi Neneng masih membersihkan sisa-sisa makan malam tadi di dapur. Sedangkan Malik dan Adrian kembali berccngkrama di teras, sambil menikmati udara malam kota Jogja.


“Bang, chemistry lu sama Farah sepertinya udah terjalin lama. Emang kapan pertama kali lu ketemu dia?”


Adrian tersenyum.


“Tuh kan, belum cerita aja, lu udah senyum.”


“Pertama kali gue ektemu Farah, waktu koas di desa xxx, cianjur. Waktu itu gue udah pacaran sama Alya dan dia juga udah punya pacar.”


“Pacarnya mba Farah yang mantan suaminya itu?” Tanya Malik yang langsung di angguki Adrian.


“Dia satu-atunya cewek yang banyak bicara dan supel di kelompok itu. jadi gue lumayan terbantu. Sampe satu ketika, terbesit di benak gue, sepertinya gue tertarik sama dia. Untung bayangan Alya menghapuskan rasa itu. Lagian gue juga ga mau gambling karena dia juga udah punya pacar kan.”


“Jadi, sebenernya, lu udah ada rasa sama dia pas lu masih pacaran sama mba Alya. Parah. Ternyata playboy juga lu ya, Bang.” Malik tertawa.


“Sepertinya begitu, tapi gue langsung sadar kalau itu emang rasa yang salah. Makanya pas selesai KOAS, gue langsung nikahin Alya.” Jawab Adrian.


Hingga saat ini pun Farah masih belum tahu bahwa Adrian menyukainya sejak dulu. Ia mengira mereka menikah hanya karena Adrian kasihan terhadapnya dan karena insiden malam itu, sehingga orang tua Adrian meminta Adrian menikahinya.


"Berarti lu sekarang ceritanya CLBK?" Tanya Malik lagi pada kakak sepupunya.


"Mungkin." Adrian mengangguk.


“Sekarang Lu bilanglah, supaya dia tahu. Cewek itu butuh ungkapan cinta, Bang.” Ucap Malik.


“Gue ngga bisa.” Adrian tersenyum.


“Berarti waktu sama almarhum Alya, lu juga ngga pernah menyatakan cinta?” Tanya Malik.


Adrian menggeleng.


“Ya ampun, Bang. Parah lu.” Ucap Malik menggelengkan kepalanya.


Adrian hanya tersenyum sembari menyedekapkan kedua tangannya di dada.


Di dalam rumah, Farah melihat ke arah teras. Ia melihat kebersamaan dua pria bersaudara itu bercengkrama. Angel pun menghampiri Farah.


“Mba, udah malem, apa nginep di sini aja? Besok libur kan?” Tanya Angel.


Farah mengangguk. “Libir sih, tapi kalau nginep, aku ga enak sama kamu dan Malik.”


“Ya ampun ngga apa, Mba. Kita kan udah mau jadi saudara juga. Tapi karena di sini kamar tamunya cuma satu, jadi nanti mba tidur sama Alika dan Faris ya.” Ucap Angel nyengir.


“Alika dan Faris sepertinya sayang banget sama kamu, Ngel.” Kata Farah.


“Nanti juga mereka sayang sama, Mba. Mereka anak-anak yang baik dan lucu. Mereka juga ngga susah kok untuk beradaptasi.”


Farah menarik nafasnya. “Takdir memang lucu ya.”

__ADS_1


Pandangan Farah tertuju pada Adrian dan Malik yang tengah berbincang di teras. Angel pun mengikuti arah mata Farah.


“Iya.” Angel mengangguk.


__ADS_2