Melanggar Janji

Melanggar Janji
Hidup terus berjalan


__ADS_3

Farah keluar ruangan kerjanya dengan sumringah, pasalnya sore ini Adrian telah sampai di Jogja dan akan menjemputnya. Hari ini, Farah memang tidak sedang bertugas sore, hanya ada jadwal dari jam sepuluh pagi hingga jam tiga sore.


Ia keluar melewati beberapa koridor. Tak sengaja, Farah bertemu dengan Tomy yang juga melewati tempat berlawanan. Tomy melihat Farah yang tengah berjalan menunduk sambil memrapihkan jas putih yang ia lipat dan di sampirkan ke lengannya.


“Farah.” Sapa Tomy ketika mereka berpapasan di jalan.


Memang Diva masih berada di ruang perawatan di rumah sakit ini.


“Hai, akhirnya kamu ke sini juga. kasihan kemarin Diva berjuang sendiri melahirkan buah cinta kalian.” Farah tersenyum seolah mereka tidak pernah berseteru.


Sementara Tomy masih canggung. Jika tidak mengenal etika, Tomy ingin memeluk tubuh mantan istrinya itu dan membawanya ke tempat yang jauh.


“Hei.” Farah melambaikan tangannya di depan wajah Tomy.


“Semalam aku masih..”


“Bersama istrimu yang lain?” Tanya Farah yang langsung menyerobot perkataan Tomy.


Tomy tersenyum kecut.


“Kasihan Diva, Tom. Jangan kamu sakiti wanita lagi.”


Hati Tomy terenyuh, karena Farah tak lagi memanggilnya dengan sebutan Mas. Farah hanya ingin memposisikan Tomy sebagai teman biasa.


“Entahlah, mungkin karena aku pun di sakiti oleh wanita yang aku cintai.”


Farah mengeryitkan dahinya. Ia tak mengerti dengan apa yang di maksud Tomy, karena ia pikir ia tak menyakiti Tomy tapi justru Tomy yang telah menyakitinya dan menduakannya.


“Hai.” Farah melambaikan tangan pada pria yang berada di balik tubuh Tomy dengan senyum mengembang dan sangat manis.


Tomy menatap Farah, menatap wanita yang tengah tersenyum persis seperti senyum yang sering di tampilkan saat ia menjemputnya setelah seharian bekerja. Mirisnya, kini senyum itu tak tertuju untuknya, tapi untuk pria lain. Tomy membalikkan diri dan ikut melihat kepada siapa senyum Farah itu di berikan.


“Hai.” Sapa Adrian santai.


“Tom, aku duluan ya.” Farah pergi bersama Adrian dan langsung meninggalkan Tomy yang masih mematung di sana.


Tomy tersenyum sinis dan hatinya semakin sakit. Walau saat ini, ia di kelilingi beberapa wanita, tapi tetap saja, hanya Farah yang selalu ada dan akan tetap bersemayam di hatinya. Karena Farah adalah wanita pertama yang mengisi relung hati yang kosong itu, wanita pertama yang menyelami dan merengkuh indahnya surga dunia di selingi dengan petualangan-petualangan lucu di dalamnya.


Namun, hidup terus berjalan. Tomy pun mencoba menjalani hidup tanpa wanita yang pernah memberinya warna itu. Ia mencoba melupakan sedihnya, mencoba melupakan satu wanita itu dengan di temani beberapa wanita di sisinya. Ia tidak berniat menceraikan Diva, justru Tomy ingin menambah koleksinya lagi dengan mempersunting satu wanita untuk di jadikan istri ketiga. Kali ini, ia ingin menikahi wanita muda yang baru saja lulus SMA.


Di dalam mobil, Adrian diam. Tak ada kata yang terucap dari bibir pria yang dikenal dingin dan irit bicara. Farah pun bingung untuk memulai pembicaraa, mengingat mereka sudah empat bulan lebih tidak bertemu. Namun, untuk urusan komunikasi, mereka selalu intens memberi kabar atau curhat berjam-jam melalui telepon atau video call.


Farah mencoba mengusik keheningan ini dengan menyetel radio tape yang ada di depannya. Namun, saat Farah memajukan tangannya untuk menyentuh benda itu, Adrian pun melakukan hal yang sama. Akhirnya tangan Adrian menyentuh tangan Farah.


“Ups, maaf.” Ucap Adrian dan kembali menarik tangannya ke tempat setir.


“Its, ok.” Farah melanjutkan niatnya dengan menghidupkan radio tape yang ada di dalam mobil itu


Heart beats fast

__ADS_1


Colors and promises


How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall?


But watching you stand alone


All of my doubt suddenly goes away somehow


One step closer


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand years


Di radio itu langsung terdengar lagu Christina Perri yag berjudul A Thousand Years, membuat Farah dan Adrian semakin terdiam. Pasalnya lagu itu mengingatkan kenangan mereka bersama masing-masing pasangan yang sudah tidak lagi menjadi pasangan mereka kini.


Farah mengingat Tomy, dengan segala perhatian dan yang selalu ada untuknya pada waktu itu. Adrian mengingat Alya dan segala perjuangan sang istri untuk melahirkan kedua anaknya.


One step closer


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand years


And all along I believed I would find you


Time has brought your heart to me


I have loved you for a thousand years


“Ganti.” Ucap Adrian, yang tidak lagi ingin menengok ke belakang karena hidup terus berjalan. Ia tidak akan melupakan Alya, tapi ibu dari Alika dan Faris itu akan selalu ada dalam ingatannya.


Kemuidan, Adrian memutar untuk mencari lagu yang lain.


Setiap ada kamu mengapa jantungku


Berdetak lebih kencang


Seperti genderang mau perang


Adrian tidak mengganti lagu ini. ia tahu betul judul lagu ini.


Setiap ada kamu mengapa darahku

__ADS_1


Mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala


Setiap ada kamu otakku berfikir


Bagaimana caranya untuk berdua bersama kamu


Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin


Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin


Tiba-tiba, Adrian membuka kedua kancing lengan kemejanya, lalu ia menarik ujung lengan itu hingga ke siku. Ia pun membuka satu kancing atas kemeja bajunya. Rasanya lagu ini membuat darahnya mengalir lebih cepat.


Di setiap ada kamu mengapa jantungku berdetak


Berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau perang


Di setiap ada kamu mengapa darahku mengalir


Mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala


Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin


Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin


Farah melirik ke arah Adrian. “Yan, kamu ngapain?”


Sejak Adrian memberinya cincin kawat pada waktu itu. Adrian dan Farah kini tidak lagi berbincang dengan sebutan lu-gue.


“Ngga tau, gerah aja.” Jawab Adrian santai. Padahal ia tengah gerah karena mendengar lagu sedang ingin bercintanya dewa 19.


Farah menyipitkan matanya. “Ini AC nya udah gede loh.”


“Atau lagu ini yang bikin kamu gerah.” Farah tertawa dan mematikan radio itu.


“Mungkin.” Ucap Adrian cuek tidak merasa berdosa, padahal Farah sudah terkekeh geli.


Akhirnya, keduanya tertawa.


Adrian tidak jadi kesal pada Farah karena ia melihat Farah bersama mantan suaminya tadi. Ia pun enggan menanyakan pada Farah, mengapa mantan suaminya ada di rumah sakit itu. Adrian kembali cuek dan membiarkan nanti Farah yang akan bicara sendiri, karena Farah adalah wanita yang cukup banyak bicara. Ia selalu menceritakan setiap kejadian yang membuatnya kesal atau sedih.


Terkadang mereka justru akan lebih seru ketika berbincang di telepon hingga berjam-jam, di banding bertemu langsung. Entah mengapa jika bertemu langsung Adrian menjadi kaku, tetapi jika di telepon pria itu terdengar lebih hangat dan mampu menjadi pendengar dan penasehat yang baik, di tambah suaranya yang serak-serak basah, menambah keseksian sosok seorang Adrian Hamish.

__ADS_1


__ADS_2