
Setelah hari melelahkan kemarin, saat Malik mengejar Angel Bandung Jakarta, pria itu tetap tidak menemukan kekasihnya. Di kantor, Angel pun sering menghindar dan selalu ada saja pekerjaan yang membuat Malik keluar kantor.
Beberapa kali, Malik pulang ke apartemen Angel, ia pun tak pernah menemukan kekasihnya di sana. Setelah pulang dari Bandung, Angel langsung mengemas sebagian pakaiannya yang berada di apartemen itu. Sudah lima hari, Angel tinggal lagi bersama Bi Ella, karena kebetulan kampusnya lebih dekat ke rumah adik dari ibunya itu.
“Baik, Pak. Terima kasih.” Angel membungkukkan sebagian tubuhnya, saat mengikuti pertemuan klien yang bertandang langsung ke kantor David.
Malik, Abram, dan bos besarnya pun berada di sana. Malik menatap wajah Angel yang tengah tersenyum manis mendengarkan klien perempuan itu bicara. Sesekali ia pun menanggapi.
“Baikah, saya setuju dengan ini. Secepatnya sekretaris saya akan membuat kesepakatan.” Ucap wanita paruh baya yang di percayakan perusahaan rekanan itu.
“Oke.” Balas David yang juga membungkukkan sedikit tubuhnya. Abram dan Malik pun melakukan yang sama saat klien mereka hendak pergi.
Angel ikut mengantar tamunya hingga lobby, begitu pun Malik. Namun, setelah itu Angel berjalan cepat meninggalkan Malik yang masih berdiri di lobby.
“Angel.” Panggil Malik sedikit berlari.
Namun, Angel tak menoleh dan lebih cepat berjalan menuju lift yang kebetulan sedang terbuka. Setelah masuk, Angel hendak menutup lift itu kembali dan dengan cepat Malik menahannya.
“Angel, kita harus bicara.” Kata Malik.
“Maaf aku sibuk.” Angel tetap menutup pintu lift itu hingga akhirnya pintu itu tertutup sempurna.
Angel menangis di dalam lift, kebetulan hanya ada ia sendiri di sana. ia pun kembali menghapus air matanya saat pintu lift akan terbuka.
“Angel tolong bawa berkas laporan ini ke saya dulu.” Perintah Malik setelah melewati meja Angel. Ia berusaha seprofesional mungkin jika sedang berada di kantor.
Dengan malas, Angel berjalan ke ruangan Malik. Angel pun mengetuk pintu ruangan itu dan masuk.
“Ini laporan yang bapak minta, sebelumnya saya langsung berikan ke pak David.” Kata Angel yang sudah tidak perlu meminta Malik untuk merivisi karena ia sudah biasa melakukan pekerjaan ini.
Malik berdiri dari kursi kerjanya. Ia menghampiri Angel yang ingin segera keluar dari ruangannya.
“Kamu marah padaku?” Tanya Malik menahan lengan Angel.
Angel menggeleng. “Kenapa harus marah?”
“Angel kalau kamu marah, katakan! Tapi jangan hindari aku seperti ini. bahkan nomor ponselmu tidak pernah aktif hingga sekarang.”
“Ponselku hilang.” Jawab Angel bohong.
“Kamu tahu, aku ke Bandung hari minggu pagi karena tepat di hari sabtu sewaktu aku akan berangkat menjemputmu, tiba-tiba orang tua Tiara datang dan memintaku untuk menolong putrinya yang mmau bunuh diri.”
Angel menagngguk. “Aku tahu.”
Tepat di hari Senin, kantor itu gempar dengan berita Tiara yang mencoba bunuh diri. Berita itu pun langsung Angel dapati dari Yasmin. Namun, entah apapun alasannya, semua telah terjadi. Angel benar-benar pasrah.
__ADS_1
“Kalau kmu tahu, kenapa masih menghindariku? Kenapa masih marah padaku?” Tanya Malik bingung.
“Entahlah, Kak. Tapi semua sudah terjadi, mungkin memang seperti ini takdir kita.” Angel tersenyum.
“Permisi, Pak. Saya pulang duluan.” Pamit Angel, karena jam kerjanya sudah selesai dan ia kembali dengan rutinitasnya sebagai mahasiswa malam.
Sejenak Malik mencerna kata-kata Angel. Ia pun ingin sekali mengantar Angel ke kampus, tapi pekerjaannya masih belum selesai. Lalu, ia membiarkan Angel pergi.
****
“Angel, kamu buat jadwal saya hingga satu bulan ke depan?” Tanya David.
“Iya, Pak.”
“Kenapa? Tumben.”
“Begini, Pak. Saya ingin resign.” Kata Angel pada bos besarnya.
“Apa?”
“Iya, Pak. Mungkin saya akan bekerja hingga akhir bulan ini, kebetulan ini masih awal minggu kedua, jadi masih ada waktu tiga minggu untuk merampungkan tugas-tugas saya.”
“Tapi kamu baru saja tanda tangan kontrak kerja baru. Kamu akan kena penalti.” Ucap David yang tidak ingin repot mencari sekretaris baru, karena dia sudah nyaman dengan Angel yang rajin dan cerdas.
“Tapi saya tidak bisa bekerja lagi, Pak. Saya akan menikah.” Jawab Angel.
“Saya bukn menikah dengan Pak Malik, Sir.”
“What?” David semakin bingung.
Angel tertunduk.
“Apa Malik mengetahui ini?” Tanya David.
Angel menggeleng.
“Oh my God.” David menepuk jidatnya, karena akan ada pria yang patah hati nanti. Dan, itu adalah asisten pribadi yang sudah ia anggap seperti adiknya.
****
Setiap bersama Malik, bos besarnya itu sama sekali tidak menyinggung tentang Angel yang akan menikah dan mengundurkan diri. David lebih sering memberi wejangan-wejangan tentang arti sebuha hidup dan kebahagiaan yang akan datang setelah kesusahan.
Hmpir dua minggu, Malik tak bisa mengajak Angel duduk bersama dan berbincang. Bahkan Angel belum menjelaskan, mengapa ia tak pernah berada di apartemen pemberiannya lagi.
Malik duduk di meja kerjanya sambil memijat pelipisnya. Ia melihat kertas tebal di meja. Lalu, ia membukanya perlahan. Betapa terkejut, saat ia membaca nama mempelai wanita di sana. itu adalah kekasihnya. Kemudian, ia di kejutkan lagi dengan nama mempelai prianya di sana.
__ADS_1
“Adrian?” Tanya Malik lirih. Tangannya gemetar, apalagi setelah ia baca ayah Adrian adalah Radit, paman sekaligus ayah kedua baginya.
Sebelumnya, Radit memang sudah menelepon Malik untuk meminta keponakannya itu datang ke kantor dan mengambil undangan pernikahan kakak sepupunya. Namun, Malik belum sempat datang ke kantor pamannya itu. Sebelumnya, ia cukup senang mendengar kakak sepupunya akan menikah lagi setelah lima tahun menduda. Tapi, betapa mengagetkan ketika mengetahui pahwa calon istri Adrian adalah Angel.
“Ternyata, ini mengapa kamu menjauhiku. Bahkan kita belum putus, Bee.” Ucap Malik lirih dengan airmata yang tak bisa di bendung.
Malik segera ke ruangan Angel, ternyata wanita itu sudah pulang. Ia pun bergegas merapihkan pekerjaannya dan menunggu Angel di kampus.
Malik duduk persis di taman yang berada di fakultas Angel. Ia sesekali melirik ke aah pintu yang masih tertutup dengan lampu yang menyala terang. Beberapa jam kemudian, ia melihat Angel keluar dari ruang kelas itu. Malik berdiri dan berlari menghampiri Angel. Ia langsung menarik lengan Angel.
“Apa-apan ini.” Malik menyerahkan undangan pernikahan yang sengaja Angel letakkan di meja kerja Malik.
“Undangan.” Jawab Angel menunduk.
“Undangan apa? Bahkan kita belum putus, tapi kamu akan menikah dengan pria lain?” Tanya Malik dengan nada tinggi. Hingga membuat teman-teman Angel menoleh ke arah mereka.
“Ssstt.. ini di jalan umum, Kak. Bisa kamu pelankan sedikit suaramu.”
“Bisa kamu jelaskan ini?” Tanya Malik lagi dengan penuh amarah.
“Aku harus apa? Malam itu ayah menjodohkan aku dengan anak sahabatnya, dan kamu tidak menepati janjimu untuk datang. Padahal jika kamu datang, aku pun tidak perlu mengambil keputusan ini.”
“Tapi aku sedang menolong Tiara saat itu, Bee. Kamu tau kan?”
Angel menggeleng. “Berarti itu keputusanmu. Kamu telah menolong orang lain, sementara aku pun butuh pertolonganmu malam itu. Maaf, Kak. Maafkan aku. Aku anggap hubungan kita selesai, setelah malam itu kamu tidak menepati janjimu.” Ucap Angel lirih dan kembali berjalan melewati tubuh Malik.
Seketika air mata Malik tumpah, mendengar kata-kata Angel. Begitu pun Angel, ia tak henti menghapus air yang berulang kali jatuh di pipinya.
Mereka pun berjalan dengan arah dan tujuan masing-masing. Malik baru menyadari bahwa ayah Angel adalah Hendra, sahabat Radit yang selalu kesal jika bertemu dengannya waktu itu. Ia juga kembali ingat wanita dengan kawat gigi dan berkacamata yang ia pernah tabrak saat wanita itu membawa bakso pana, hingga tangan wanita itu merah dan ayahnya marah.
“Angel, ternyata itu kamu.” Gumam Malik dengan meremas rambutnya.
“Arrrggggg.” Malik berteriak sekencang kencangnya, di gedung sepi.
---------------------------------------------------------------------------------
Terkadang cinta memang tidak semulus
kulit yang halus
Tidak juga selancar jalan tol yang lebar
Tapi yakinlah jika di takdirkan bersama
Akan ada waktu untuk kembali bersama
__ADS_1
Jiahh.. puitis kali aku nih, hehehhee.. maaf jadi sedikit baper, tetap di sini ya guys. ikuti kisah Malik Angel selanjutnya, cup cup muuaahh..