
Adrian kembali bersikap dingin, setelah mengantarkan Angel memeriksa ke dokter Farah. Angel pun sudah terbiasa dengan sikap Adrian yang terkadang baik terkadang cuek dan tidak menganggapnya ada.
Tiga bulan berlalu, sikap Adrian masih tetap sama. Angel pun sudah sembuh, ia tak lagi merasakan nyeri yang berlebihan saat datang masa periodenya. Angel keluar dari kamar mandi yang terletak di kamar Adrian. Ia hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh polosnya. Angel terlihat seksi dengan rambut yang basah, hingga menetes ke bagian punggung dan dadanya. Ia tak mengira bahwa Adrian sudah pulang dan berada di kamar ini.
“Eh, Mas. Kamu sudah pulang?” Tanya Angel malu, dan hendak berbalik menuju kamar mandi untuk mengenakan pakaian di dalam sana.
“Mau kemana?” Dengan cepat Adrian mencekal tangan Angel.
“Lepas, Mas.” Angel berusaha memberontak.
“Belagu, udah melayani berapa pria? Hah?” Tanya Adrian lagi.
“Maksudmu?”
“Maksudku? Jangan pura-pura! aku dokter aku tahu kamu sudah pernah melakukannya. Jadi aku di bilang menikahi janda bukan, gadis juga bukan.” Ledek Adrian.
Tiba-tiba lutut Angel terasa lemas. Akhirnya apa yang ia sembunyikan terkuak juga. ia hanya pasrah, kalau pun Adrian menceraikannya, itu tak masalah, yang penting Adrian tidak membocorkan hal ini pada sang ayah.
“Aku mohon, Jangan bilang hal ini ke ayah!” Angel menggelengkan kepalanya dan mengatup tangannya ke atas.
Adrian tertawa. “Ternyata begini kelakuan anak Pak Hendra yang sering di banggakan?”
Ya, Angel memang salah, ia tak bisa menjaga dirinya. Ia memang pantas di perlakukan seperti ini oleh Adrian. Namun, sebagai wanita ia pun sakit hati di rendahkan.
“Ceraikan saja aku, Mas. Aku minta maaf. Tapi tolong, jangan bilang karena hal ini kita berpisah.” Kata Angel lirih.
“Lalu, apa alasannya kita pisah? Sedangkan Papa dan Mamaku sangat memujamu.” Adrian menyipitkan matanya.
Rasa cemburu di hati Adrian, membuatnya gelap mata. Ia seakan ingin terus merendahkan Angel, karena mengetahui ada orang lain yang lebih dulu menyentuhnya.
“Bilang saja kita tidak saling cinta, karena memang seperti itu adanya.”
“Ck. Lalu bagaimana dengan Alika dan Fariz?” Tanya Adrian sambil menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba Adrian mulai berjalan mendekati Angel. Angel pun mulai mundur perlahan, hingga tubuhnya terbentur tembok. Adrian menghimpit tubuh Angel.
“Berarti kamu sudah berpengalaman? Kalau begitu puaskan aku, sekarang!” Kata Adrian sambil bibirnya menelusuri pipi dan leher jenjang Angel.
“Tidak, Mas. Jangan! Aku mohon tidak seperti ini” Angel berusaha mempertahankan harga dirinya, walaupun Adrian suaminya dan berhak atas tubuhnya, tapi cara Adrian tetaplah salah.
Adrian kembali membulatkan matanya dan memberi jarak.
“Aku juga tidak berselera dengan bekas orang.” Adrian memberi tekanan pada akhir kalimatnya, membuat hati Angel kembali teriris.
Lalu, Adrian pergi, meninggalkan Angel yang masih mematung di sana.
__ADS_1
Seketika tubuh Angel merosot. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka hidupnya akan semenderita ini. Ia sadar bahwa ia pernah pernah melakukan dosa besar. Mungkin ini, balasan atas dosa yang telah ia lakukan dulu. Angel kembali menangis. Ingin sekali ia pergi dari rumah ini. Namun, pergi kemana? Pulang dan mengadu pada Hendra? Itu tidak mungkin karena kesalahan itu ada pada dirinya. Jika Hendra tahu aib ini, mungkin sang ayah akan bunuh diri karena malu.
Angel menghapus kembali bulir-bulir air mata yang terus mengalir di pipinya. Ia harus kuat, kalau pun usianya akan habis karena mengasuh Alika dan fariz, ia rela. Asalkan Adrian tak berkata aibnya pada sang ayah.
****
Tiga bulan kemudian.
“Alika.. Fariz.. sudah siap?” Teriak Adrian yang akan menghadiri pesta pernikahan kerabatnya.
Alika dan Fariz pun keluar.
“Bunda belum selesai, Pa.” Kata Alika yng sudah melihat sang ayah berjalan keluar.
“Lama sekali sih. Coba kamu panggil Bunda lagi.” Kata Adrian.
Lalu, sebelum Alika masuk lagi, Angel pun datang. Angel memang cantik dengan menggunakan kebaya brukat dan rok batik yang pas di tubuhnya. Riasan natural juga rambut yang terurai dengan gelombang di bagian bawahnya, menambah ke anggunan Angel malam ini.
Adrian cukup lama memandang Angel yang berjalan ke arahnya, hingga lamunannya tersadar dan mulai menyalakan mesin mobil itu. Sudah cukup Angel menerima setiap omelan dan makian Adrian, jika ia salah dalam mengurus anak-anaknya. Belum lagi, perintah-perintah Adrian yang selalu Angel turuti tanpa mengeluh. Wanita itu tetap sabar. Angel pun tetap bersikap lembut kepada kedua anak Adrian. Hal itu membuat Adrian terkadang kasihan pada Angel.
Tak berapa lama, Mereka pun sampai di gedung yang megah dengan dekorasi yang cukup mewah.
“Mama.. Papa..” Angel menyapa Radit dan Dila. Lalu, mencium punggung tangan mereka.
Di samping Radit, juga sudah ada Hendra.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” Tanya Hendra.
“Baik, Yah.”
Alika dan Fariz pun melakukan hal yang sama. Begitu pun Adrian. Mereka semua menyapa dan mencium punggung tangan Radt, Dila, dan Hendra.
“Enin tidak ikut, Yah?” Tanya Adrian pada mertuanya.
“Tidak, kebetulan Enin sedang tidak enak badan.”
“Oh.” Jawab Adrian.
“Woi, LitBro..” Teriak Adrian pada pria yang jauh di seberangnya.
Teriakan Adrian sontak membuat Hendra yang tengah berbincag pada Radit pun menoleh, begitu juga dengan Dila yang sedang berbincang pada Angel.
Angel terkejut bukan main saat melihat pria itu tengah membentangkan tangannya ke arah Adrian. Pria itu lalu memeluk Adrian dengan erat.
“Kemana aja lu? Menghilang ga jelas.” Kata Adrian, setelah mengendurka pelukan pada pria itu
__ADS_1
Pria yang tampan dengan sedikit bulu haklus di dagunya itu pun tertawa. “Ini sekarang pulang.”
Pria itu adalah Malik.
“Malik, tante kangen kamu:” Kini Dila yang memeluk Malik.
“Sama, Malik juga kangen tante.”
“Om.” Adrian memeluk Radit, setelah melepas pelukannya dari tubuh Dila.
Dada Angel semakin bergemuruh. Jantungnya berdebar-debar hebat. Ia tak habis pikir mengapa pria ini tiba-tiba ada di acara kelaurga besar suaminya.
“Dia siapa?” Tanya Hendra pada Radit.
Sementara, Malik sengaja tidak melirik ke arah Angel yang sedari tadi melhatnya tanpa kedip.
“Ini Malik, Ndra. Ponakanku yang dulu pernah memecahkan kacamatamu.” Jawab Radit.
“Malik?” Tanya Hendra lagi, seperi pernah mendengar nama itu, tapi entah dari siapa? Ia lupa. Padahal Hendra mendengar nama itu dari Angel saat putrinya menyebut nama kekasihnya dan meminta waktu pada sang ayah untuk menunggu kekasihnya datang malam itu.
“Oh, ya ampun. anak nakal itu.” Kata Hendra.
Hendra memang tidak pernah menyebut Malik dengan namanya melainkan dengan sebutan ‘anak nakal’, Malik hanya tersenyum dan tetap menyalami Hendra serta mencium punggung tangannya.
“Tapi, dia sudah tidak nakal lagi, Ndra. Semua bisnis yang dia pegang sukses.” Kata Radit lagi.
Malik melirik ke arah Angel. Ia pun tersenyum, tapi Angel hanya emnunduk.
“Eh iya, kamu belum kenal Angel ya?” Kata Dila.
“Ini anaknya Om Hendra, sekaligus istriya Adrian.” Sahut Radit.
“Wah istri lu cantik, bang.” Kata Malik sembari mendekat ke arah Angel.
Dada Angel semakin berdetak hebat, hingga bulir keringat kecil muncul di dahinya.
“Hai, kenalkan. Aku Malik, Malik Ibrahim.” Malik menyodorkan tangannya.
Ingin rasanya Angel menangis, memukul pria ini habis-habisan, setelah itu memeluknya.
Angel tidak membalas uluran tangan itu. Ia hanya menunduk. “Angel.”
“Ma, Pa. Yah. Mas, Angel ke Alika dan fariz dulu.” Pamit Angel untuk mengihindar dari Malik.
Malik menatap Angel yang pergi meninggalkannya. Ia hanya tersenyu melihat angel yang semakin cantik dan dewasa.
__ADS_1
Acara malam ini adalah Acara pernikahan adik tiri Malik. Setelah bercerai dengan ayah Malik, Berliana menikah lagi dengan duda beranak satu. Dan malam ini, anak perempuan bawaan ayah tiri Malik itu menikah, sehingga semua keluarga intinya pun hadir di sana, termasuk keluarga Radit yang merupakan kakak kandung Berliana.