Melanggar Janji

Melanggar Janji
Malik junior, coming soon!


__ADS_3

Angel terbangun, saat tangan Malik berputar di area p*t*ng salah satu gunung kembarnya, ketika Malik masih memeluknya dari belakang. Sontak Angel menahan tangan suaminya, agar tidak nakal menggeryangi tubuhnya, padahal mata Malik masih terpejam.


“Ga boleh pelit, Bee, Ini kan punya aku.” Ucap Malik persis di belakang telinga Angel dengan suara serak khas bangun tidur.


“Ih, tapi geli. Kak.” Angel membalikkan tubuhnya, sehingga mereka berhadapan.


Namun, Malik tetap memeluk erat istrinya. Kini, ia malah mengusel di dada Angel. Tangan Angel terangkat untuk mengelus rambut suaminya.


“Udah jam tujuh, Kak. Mandi yuk!” Ajak Angel.


“Sebentar lagi, Bee.” Malik masih memejamkan mata, rasanya sangat nyaman setiap berada di posisi seperti ini. Ia ingin terus memejamkan mata, karena gerakan tangan Angel yang lembut mengusap kepalanya.


Setelah beberapa menit mereka menikmati posisi itu, mereka pun akhirnya mandi bersama. Di kamar mandi, Angel merengek, agar Malik tak lagi melakukannya, mengingat waktu sudah semakin siang dan ia tak ingin terlambat mengajar.


“Iya, Bee. Aku ga ngapa-ngapain. Sumpah. Cuma mau gosokin tubuh kamu aja.” Ucap Malik saat ia mendekati Angel dan masuk ke dalam bathup yang sama.


Malik tersenyum, sementara Angel masih cemberut. Pria itu menepati janjinya, ia hanya menggosok tubuh sang istri, hingga ritual mandi bersama tidak lama seperti biasanya.


Malik yang tengah memakai pakaian, memperhatikan sang istri yang sudah lengkap dan berdiri di depan cermin. Di balik cermin, Angel melihat Malik yang sedang menatapnya. Ia pun membalikkan tubuhnya.


“Kenapa, Kak?” Tanya Angel pada Malik yang masih menatapnya. Malah sekarang, Malik duduk di tepi tempat tidur hanya untuk memperhatikan penampilannya.


“Cara berpakaianmu seperti anak masih kuliah, Bee. Aku ga mau kamu di goda mahasiswa-mahasiswamu di sana.”


“Jadi? Aku harus ganti?” Tanya angel dan Malik langsung menganggauk.


Angel pun menurut. Ia kembali mengambil pakaian dan berganti di depan suaminya.


“Kalau ini?” Angel memakai kemeja lengan panjang berwarna coklat susu dan rok sepan di bawah lutut berwarna coklat tua.


Malik menggeleng. “Kemeja itu kurang longgar. Dadamu terlihat menonjol, Bee.”


“Ck, ini karena ulahmu.” Angel mendengus kesal, ia pun merasa bahwa saat ini dadanya semakin membesar, karena ulah sang suami yang sering memainkan dua benda kenyal di tubuhnya itu.

__ADS_1


Malik tertawa. Lalu, Angel kembali mengganti pakaiannya. Tapi kali ini ia berganti di dalam kamar mandi, membuat Malik protes. Namun, Angel menghiraukan protes itu.


Tiba-tiba, Angel keluar dari kamar mandi dengan busana yang tak pernah ia kenakan sebelumnya, hingga seperssekian detik Malik tak lepas menatap lekat sang istri.


“Kalau seperti ini, kamu setuju?” Tanya Angel menampilkan penampilannya kini.


Malik tersenyum dan mengangguk. “Kamu semakin anggun, Bee.”


Angel mengenakan rok panjang megar berwarna biru dongker dan kemeja panjang yang di masukkan ke dalam rok itu, berwarna senada. Ia pun mengenakan phasmina dengan corak bola bola kecil berwarna biru tua dan muda.


Malik menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan cermin.


“Bagus ga, Beib?” Tanya Angel untuk meminta pendapat sang suami.


Terkadang Angel memanggil Malik dengan sebutan kak atau Beib.


“Bagus banget.”


“Aku cocok kan kalau mengenakan hijab, seperti ini?” Tanya Angel lagi.


“Dan, ini kalau bisa harus menutupi dadamu.” Malik membenahi ujung phasmina yang menutup kepala Angel. Semula kedua ujung phasmina itu di sampir ke belakang pundak Angel, tapi sebagian di lepas oleh Malik untuk menutup bagian dadanya.


“Nah, seperti ini lebih baik. Pokoknya keindahan tubuhmu hanya aku yang boleh menikmati.” Ujar Malik sembari mengulas senyum. Senyum bahagia karena Angel benar-benar milknya dan hanya untuknya.


Angel memonyongkan bibirnya. “Iya iya, Bapak Malik yang terhormat.”


Malik pun tertawa. Lalu, di ikuti oleh sang istri. Walau suaminya teramat posesive, tapi Angel menyukainya dan semakin mencintainya.


****


Sore ini, Malik menjemput sang istri di kampus untuk pulang bersama. Biasanya Malik akan pulang lebih malam dan Angel di jemput oleh supir Malik di kantor. Namun, Hari ini sang istri merajuk meminta suaminya untuk menjemputnya langsung.


“Hai, Beib.” Angel memasuki mobil suaminya dengan riang dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


Malik langsung mencium kening sang istri, lalu kembali mengendarai mobilnya.


“Hoek. Kamu makan apa sih, Bee?” Tanya Malik menoleh ke arah Angel yang tengah membuka makanan dengan bungkusan mangkok bertuliskan huruf-huruf kanji.


“Ini namanya tokpoki, Beib. Aku baru beli tadi di luar kampus. katanya enak, kamu mau.” Angel menyodorkan makanan itu pada Malik.


Namun, Malik langsung menampiknya. “Ngga ah. Aromanya saja udah ga enak.”


Angel kembali menarik makanannya dan memasukkan makanan itu ke mulutnya. “Hmm.. enak kok, Beib. Waktu di Jakarta aku pernah beli dan kamu juga suka.”


“Ngga.” Malik menggeleng, karena Angel menawarkannya lagi.


“Ya udah aku habisin.” Angel mendekapkan makanan itu sendiri dan memakannya dengan lahap. Sementara Malik hanya terenyum melihat istrinya yang akhir-akhir ini memakan dengan porsi cukup banyak.


“Beib, sebelum pulang mampir ke warung steak yang di daerah xxx dulu ya. Aku lagi pengen steak.”


Malik kembali menoleh ke arah sang istri. “Kamu masih belum kenyang, Bee?”


Angel menggeleng dan tersenyum. “Ga tau nih, akhir-akhir ini aku laper terus.”


Malik mengelus kepala istrinya. “Mungkin Malik junior tengah coming soon di sini.” Tangan Malik beralih ke perut rata Angel.


“Masa sih? Emang iya?” Tanya Angel tak percaya.


“Mungkin, semoga saja.”


“Aaaa..” Teriak Angel, membuat Malik mengerem mendadak. Ia memberhentikan mobil itu persis di depan lampu yang tengah berganti menjadi warna merah, padahal Malik masih bisa untuk menerobos sebelum lampu itu berganti warna.


“Kenapa, Bee?” Malik langsung mendekatkan tubuhnya pada Angel.


“Iya, Kak benar. Sepertinya aku sudah satu minggu lebih belum menemukan masa periodeku.” Angel tersenyum sumringah, kala mengingat pasti tanggal biasa ia mendapatkan masa periode bulanan.


“Ya ampun, Bee. Aku kira kamu teriak karena ada yang sakit.” Malik kembali duduk sempurna di kursi kemudi.

__ADS_1


“Kak, beli tespack.” Angel menggoyangkan lengan suaminya.


“Iya, Bee. Nanti sepulang makan, kita mampir ke apotik. Oke.” Malik tersenyum ke arah istrinya dan Angel pun membalas senyum itu dengan wajah berbinar.


__ADS_2