
“Beib, kamu makan dulu, dari pagi kamu belum masuk makanan loh. Semuanya di muntahin.” Kata Angel, saat mereka tengah duduk di ruang tunggu untuk menunggu giliran panggilan konsul ke dokter Farah.
“Iya, nih. Perut aku tiap pagi mual, Bee.”
Angel tertawa.
Sudah satu minggu setelah Angel mencoba alat tes kehamilan di rumah dan hasilnya terlihat dua garis biru yang tebal, Malik sering mengalami morning sicknes. Padahal yang tengah hamil istrinya, tapi entah mengapa setiap pagi ia yang sering mengalami mual-mual, justru Angel malah terlihat lebih berisi karena seminggu ini, ia sangat menikmati setiap makanan yang masuk ke mulutnya.
Akhirnya, Angel mulai menyuapi sang suami, agar ia mau makan. Dan herannya, setiap makanan yang datang dari tangan Angel ke mulut Malik, mampu terserap ke dalam perut dan tidak di keluarkan lagi.
“Seneng kamu, Bee.” Ledek Malik, tapi Angel masih terkekeh geli.
“Kamu memang suami terbaik, karena ikut merasakan susah payahnya mengandung.” Angel menyelipkan tanganya pada lengan Malik dan bersandar pada bahunya.
“Iya, deh ga apa-apa aku yang mabok. Yang penting dia di sini tidak kekurangan makanan karena kamu doyan makan.” Malik tersenyum ke arah Angel, sembari mengelus perut rata istrinya.
Angel pun tersenyum dan menempelkan telapak tangannya pada tangan Malik yang sedang mengelus perutnya.
“Beib, aku beliin makan ya. Tuh di lobby ada lasagna. Aku suapin. Mau!” Angel meminta suaminya untuk makan, karena biasanya ia hanya mau makan lewat tangan sang istri.
Malik mengangguk. Lalu, Angel pun berdiri dan Malik mengikuti langkah sang istri dari belakang, mengingat nomor antrian mereka masih cukup jauh dan masih bisa keluar meninggalkan ruang tunggu itu.
Sesampainya di toko makanan yang menyediakan makanan pasta itu, Malik membayarnya di kasir. Sementara Angel sudah lebih dulu mencari tempat duduk yang nyaman. Tak lama kemudian, Malik pun duduk di samping sang istri dan perlahan Angel menyuapi suaminya. Malik bak anak kecil yang sedang di suapi makan sembari memainkan game.
“Uuuuh pinternya, makanannya habis loh.” Ledek Angel, sembari membersihkan mulut suaminya dengan tisu yang ia pegang.
Malik menoleh dan tertawa. “Kamu kira aku bocah.”
“Emang udah mirip bocah. Lihat nih, di suapin sambil main game. “ Angel tertawa.
Malik pun ikut tertawa, ia memang merasakan sedari tadi bahwa ia sudah seperti anak kecil yang di suapi ibunya sambil bermain game.
“Nanti malem jangan lupa ngerjain Pe eR ya!” Ledek Angel lagi dengan nada seperti seorang guru memperingatkan muridnya.
“Pe eR-nya tentang bagaimana teknik main kuda-kudaan yang benar ya bu?” Malik menimpali, sontak membuat Angel memukul lengan suaminya dengan keras, hingga keduanya tertawa.
Lalu, Malik membawa Angel ke dalam pelukannya. “Terima kasih, ya Allah atas segala nikmat ini.”
Angel tersenyum mengikuti arah mata suaminya yang terus tertuju pada perutnya yang masih rata.
__ADS_1
“Kamu sehat di sini ya, Nak. Kamu itu bukti nyata cintanya ayah dan bunda.” Kata Malik lagi.
“Jadi panggilan dia buat kita, ayah bunda?” Tanya Angel.
Malik mengangguk. “Entah mengapa aku suka panggilan itu. bunda itu seperti sosok ibu yang lembut dan penuh kasih sayang. sementara ayah seperti sosok pria yang bertanggung jawab dan selalu ada untuk keluarganya.”
“Filosofi dari mana?”
Malik mengangkat bahunya. “Hanya dari sudut pandangku.”
Angel kembali mengeratkan pelukannya.
“Bee, balik ke dalam yuk! Jangan-jangan kamu udah di panggil.” Malik mengajak Angel berdiri dan masuk kembali ke ruang tunggu tempat Farah tengah bertugas.
Benar saja. Baru saja Malik dan Angel akan duduk di ruang tunggu itu. tiba-tiba suster memanggilnya untuk masuk.
“Hai, Angel.” Farah berdiri dan langsung bersalaman dengan Angel sambil saling mencium pipi kiri dan kanan.
“Sehat, Mba?” Tanya Angel pada Farah. Sejak mereka dekat, Angel tak lagi memanggil Farah dengan sebutan ‘Dok’ tapi ‘Mbak’.
“Sehat dong, alhamdulillah.”
“Yang di tanya tidak lebih tahu dari yang nanya kale.” Ujar Farah, setelah bersalaman pada Malik.
“Bang Adrian sehat kok Mba, sepertinya dia masih lama di Jerman.”
Farah mengangguk. “Emang, dia mah gila kerja, kalo udah urusan bedah, pasti lupa semuanya.”
Adrian memang terpilih sebagai dokter bedah senior yang bertandang ke Jerman. Ia dan salah satu teman sejawatnya yang juga senior mendapat kesempatan untuk berbagi ilmu dengan praktek langsung di sebuah rumah sakit termahsyur dan terkenal kecanggihannya pada negara itu. Adrian yang memang selalu melakukan apapun dengan totalitas pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Baru dua hari ia berada di Jerman dan akan menjalani tugasnya hingga empat bulan ke depan. Sementara Alika dan Faris di urus oleh Dila. Kedua orang tua Adrian akhirnya harus berdomisili di jakarta.
“Demi masa depan, Mba. Nanti dia pulang dari Jerman, mba selesai di sini, langsung nikah deh.” Celetuk Angel, membuat Farah tersipu malu.
“Udah ah, kenapa yang di bahas jadi gue sih. Di sini kan dirimu, Neng yang mau konsul.” Ucap Farah.
Malik dan Angel pun tertawa. Kemudian, Angel di minta untuk berbaring. Farah memulai memeriksa kandungan Angel.
“Bener nih, sudah terlihat ada kantungnya.” Kata Farah, sembari memperlihatkan layar monitor yang terhubung pada alat yang tengah berputar di bawah perut Angel.
“Mba, kok itu buletannya dua?” Tanya Malik.
__ADS_1
“Yup, Selamat ya Lik karena sepertinya kamu akan memiliki anak kembar. Ini kantungnya dua.”
Malik terkejut, ia tak pernah membayangkan akan memiliki anak kembar, karena dalam silsilah keluargnya memang tidak ada yang memiliki anak kembar. Angel pun menganga.
“Masa sih, Mba?” Tanya Angel hingga tubuhnya sedikit bangkit untuk melihat jelas layar monitor itu.
Malik mengusap kepala istrinya. “Sepertinya ini karena aku terlalu sering menuangkan banyak benih ke rahim kamu, jadi sampe ada dua gini.”
Pletak
Farah mengetuk jidat Malik dengan jarinya. “Mana ada seperti itu.”
“Mungkin memang salah satu di antars kalian memiliki gen kembar.” Kata Farah lagi.
“Hmm.. iya Mba. Dulu almarhum ayahku sempat cerita kalau aku punya kembaran.”
“Kamu kembar, Bee?” Tanya Malik yang sama sekali tidak pernah mengetahui hal itu.
Angel mengangguk. “Tapi kembaranku tidak bertahan di perut bunda saat kami berusia enam belas minggu. Janin kembaranku tidak berkembang dan harus di kuret.”
“Oh.” Malik mengangguk.
“Nah, berarti karena sebelumnya pernah ada riwayat seperti itu. kamu harus ekstra menjaga kehamilanmu ya, Neng. Jangan sampai kejadian ibumu dulu terulang sama kamu.” Ucap Farah, menyudahi sesi pemeriksaan itu.
“Lik, jaga ya istrinya. Jangan kecapean! Karena kondisi rahim kamu sebelumnya kan juga pernah bermasalah.” Ucap Farah lagi sambil mencuci tangannya.
“Mba, kalau..” Malik menyatukan kedua tangannya sambil menaik turunkan alisnya.
“Ngga boleh.” Farah membulatkan matanya.
“Ish, galak banget, belom ngomong.” Kata Malik bergidik ngeri melihat ekspresi Farah.
Angel hanya tertawa, karena tahu apa yang suaminya maksudkan.
“Tahan, Lik. Nanti kalau sudah melewati trimester pertama, janin sudah lebih kuat dan boleh sering di jenguk ayahnya.”
“Terus, aku puasa lebih dari satu bulan? OMG.” Malik menepuk jidatnya.
Farah dan Angel pun tertawa geli.
__ADS_1