
Dua bulan berlalu. Angel kini sudah menyandang status istri dokter dengan dua anak yang harus ia urus setiap hari. Aktifitas Angel sangat padat. Pagi hari ia harus memasak untuk Alika dan Fariz, walau Adrian jarang menyentuh makanan itu dengan dalih ia harus pagi-pagi berangkat ke rumah sakit. Di siang harinya, Angel menjemput Fariz dan Alika yang kebetulan berada di satu yayasan sekolah itu. Lalu, di sore harinya ia berangkat ke kampus. Seperti itu, aktifitas Angel setiap harinya.
Angel melangkahkan kakinya hendak menuju dapur. Ia melihat sebuah kamar yang tengah terbuka. Kamar yang selalu Adrian larang untuknya memasuki tempat itu.
Perlahan Angel mendekati kamar itu. Ia membuka lebar pintu itu. Ia melihat semua barang—barang mewah di dalamnya, ada sepatu tas dan pakaian-pakaian bagus. Di sana juga ada beberapa lukisan. Angel penasaran dan memasuki kamar itu. Ia menyentuh semua barang-barang bagus itu.
“Stop! Jangan Sentuh!” Suara Adrian dari ambang pintu.
“Siapa suruh kamu memasuki kamar ini. kamar ini adalah kamar Alya, semua ini adalah barang-barang kesukaan Alya. Kamu orang lain, Jangan coba menyentuhnya!”
Seketika Angel terdiam. Kata-kata yang keluar dari mulut Adrian memang tidak pernah enak di dengar. Pernah satu waktu ia berkata pada tetangganya bahwa Angel adalah pengasuh Alika dan Fariz. Angel teriris mendengar itu.
Angel keluar kamar itu tanpa bicara apapun. Ia langsung melangkah menuju dapur sembari menghapus air yang tiba-tiba menetes di pipinya. Mungkin ini balasan atas dosa yang pernah ia lakukan bersama Malik. Ia hanya pasrah menjalani hidupnya kini.
“Bunda, Nanti tidur lagi di kamar Alika ya?” Tanya Alika senang, saat mereka berada di dapur dan menemani Angel yang tengah menyiapkan sarapan pagi.
“Ih, Kok bunda tidurnya di kamar kakak terus sih, kamar aku ga pernah.” Protes Fariz.
Ya, sudah tiga hari Angel tidur di kamar Alika, tepatnya sejak Angel mulai tinggal di rumah Adrian. Angel lega, karena ia tidak pernah satu kamar dengan Adrian selama tinggal di rumahnya. Adrian pun tidak mempermasalahkan itu, karena sikapnya pun cukup cuek terhadap Angel.
“Iya, nanti bunda tidur di kamar Fariz.” Kata Angel tersenyum.
Adrian yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat pemandangan bahagia dari kedua anaknya bersama istri barunya itu. Angel terlihat cantik walau ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih yang longgar dan celana bahan pendek di atas lutut, sehingga kaos itu pun sedikit menutupi celana pendeknya.
“Jangan terpesona. Yan.” Guman Adrian pada dirinya sendiri. Ia memang selalu memberi doktrin pada dirinya sendiri untuk tidak tergoda oleh tubuh Angel yang cukup menggoda.
Adrian memang selalu ketus pada Angel, hal itu semata-mata untuk membatasi dirinya agar tidak terpesona oleh wanita itu.
“Papa..” Fariz melihat kehadiran sang ayah dan langsung menghampiri, lalu menarik tangannya.
__ADS_1
“Ayo sarapan , Pa! Bunda sudah siapkan.” Kata Fariz lagi meminta sang ayah untuk duduk di sampingnya.
Tempat duduk yang di tempati Alika, Fariz, dan Adrian mengarah persis ke arah Angel yang tengah berdiri di depan kompor. Angel tak lagi tertawa seperti yang tadi Adrian lihat. Angel hanya fokus memasak.
‘Ini sudah jadi.” Angel menaruh makanan itu di hadapan Alika, Fariz, dan Adrian.
“Hmm... ini enak, Pa.” Kata Alika yang langsung menyuapi makanan itu ke mulutnya.
“Kakak, itu masih panas. Hati-hati!” Ucap Angel yang langsung membantu Alika mengipasi makanan itu.
“Di tiup aja, Bun.” Kata Alika.
“Tidak boleh di tiup, Kak. Nanti nasinya jadi racun.” Kata Angel.
“Emang begitu?” Tanya Alika.
“Nah, kan. Kalo ga percaya, papa bisa menjelaskan.” Ucap Angel menunjuk Adrian.
Seketika Adrian terkesima, dari awal ia mengamati percakapan kedua anaknya dengan ibu sambung mereka. Setelah kehadiran Angel, Adrian lebih sering berada di luar rumah. Ia pun jarang duduk bersama seperti ini. sepulang dari rumah sakit, Adrian hanya bisa mendatangi kamar kedua anaknya satu persatu dan mengecupnya. Ia hanya ingin membatasi intensitas kebersamaannya dengan Angel.
Lalu, Adrian menjelaskan mengapa meniup makanan itu di larang dari sudut kesehatan. Alika dan Fariz pun menganngguk.
“Ooo begitu.” Ucap Alika dan di ikuti Fariz.
“Ya sudah, Ayo makan!” Kata Adrian.
Adrian dan kedua anaknya memakan dengan lahap masakan Angel.
“Masakan Bunda enak ya, Pa, dari pada masakan Bibi.” Ujar Fariz.
__ADS_1
“Iya deh, masakan Bibi ga se enak Bunda.” Balas wanita paruh baya yang sedang merapihkan sisa-sisa kotoran selesai Angel memasak tadi.
“Fariz.” Angel menggeleng ke arah Fariz untuk memberi tahu bahwa itu tidak sopan.
“Hus, kamu ga boleh begitu Fariz.” Kata Adrian.
“Iya deh, Maaf ya Bi.” Kata Fariz.
“Iya, Den.”
Angel pun membantu si Bibi membersihkan peralatan dapur itu.
“Sudah, Bu. Biar saya saja yang bersihkan. Ibu makan bareng-bareng di sana.” Kata Bibi sembari menunjuk ketiga majikannya yang tengah duduk di sana.
Angel merasa, dia bukanlah bagian dari keluarga ini. ia hanya seorang baby sitter. Oleh karenanya, ia tak mau makan bersama Adrian, bahkan Adrian tak pernah mengajaknya makan bersama dan mempersilahkan duduk di sampingnya.
Semua foto di rumah Adrian pun tak ada yang berubah. Di ruang tamu, masih terpampang foto besar pernikahan Adrian dengan almarhumah istrinya, padahal sebelumnya Radit meminta foto itu di pindahkan ke kamar yang lain dan ganti dengan foto pernikahannya dengan Angel. Namun, Adrian tak melakukan itu. Di kamar Adrian pun seperti itu. Foto Angel tak ada sama sekali di rumah ini, ia seperti orang asing yang di beri makan, tempat tinggal, uang bulanan serta di sekolahkan, karena Adrian telah membayar lunas kuliah Angel saat ini hingga selesai.
Angel terduduk di taman rumah itu. Siang ini, Adrian mengajak Alika dan Fariz jalan-jalan keluar. Angel sadar diri, ia memilih tidak ikut dengan alasan ada tugas kuliah, padahal Alika dan Fariz merengek memintanya ikut. Namun ia melihat wajah Adrian yang tak bersahabat, membuatnya enggan untuk memenuhi keinginan Alika dan Fariz.
Angel memandang langit. Ia tersenyum melihat warna langit di sertai bentuk awan yang indah.
“Apa kabar kamu, Kak? Di mana pun kamu berada, semoga kamu selalu baik-baik saja.” Gumamnya lirih dengan terus mengembang senyum.
Di Singapura. Malik pun tengah menatap langit dari jendela kantornya. Di sana hari masih siang menjelang sore. Ia pun menatap langit dengan bentuk awan yang indah.
“Apa kabar kamu, Bee? Apa kamu di sana baik-baik saja? Pasti baik, karena aku sangat kenal Adrian, dia pria yang baik. Kamu pasti bahagia bersamanya.” Ucap Malik tersenyum.
Di mata Malik, Adrian adalah sosok pria yang sempurna. Dia pintar, baik, dan santun. Malik pun tahu sewaktu Adrian masih berpacaran dengan Alya. Pria yang seperti kakak kandung bagi Malik ini sangat meghargai wanita dan penyayang terhadap kekasihnya kala itu. Namun, Malik tidak menyadari bahwa karena yang Adrian sayangi memang wanita yang ia cintai, tapi tidak dengan Angel, orang baru yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya.
__ADS_1