
“Mba, tangannya dingin banget.” Kata Angel berada di samping Farah yang tengah menatap cermin, setelah selesai di make up.
“Ya, kok aku deg-deg an ya, Ngel. Padahal ini bukan kali pertama.” Farah memegang tangan Angel yang hangat.
Farah di temani oleh Angel di dala ruang rias pengantin wanita. Di ruang yang berbeda, Adrian telah siap dan tengah duduk berhadapan dengan keluarganya dan keluarga Farah yang menjadi wali.
Angel hanya tersenyum sambil terus menggenggam tangan Farah yang dingin.
“Justru malah yang sebelumnya aku tidak se tegang ini, Ngel.” Kata Farah lagi.
“Terus sekarang kenapa tegang, Mba?”
Farah mengangkat bahunya. “Aku tidak begitu mengenal Adrian, kami hanya kenal sebagai teman. Sedangkan sebelumnya, aku pacaran dengan Tomy cukup lama.”
“Tapi mba yakin kan?” Tanya Angel lagi.
Farah mengangguk.
“Di sini semua campur aduk, Ngel.” Farah memegang dadanya. ia merasa seang, bahagia sekaligus khawatir, mengingat Adrian dahulu adalah pribadi yang dingin dan kaku, berbanding terbalik dengan Tomy yang ramah dan banyak bicara. Namun, seperti sekarang Tomy pun tidak se hamble dulu.
“Yang penting, Mba bahagia kan?”
Farah mengangguk dengan senyum yang cerah ceria. “Justru rasanya lebih bahagia dari sebelumnya.”
Farah pun tak mengerti mengapa pernikahannya kali ini sangat bahagia melebihi ketika dulu ia akan menikah dengan Tomy. Apa mungkin sejak dulu ia telah memiliki perasaan dengan Adrian? Farah terus mencari jawaban pada hatinya.
“Bee.” Malik mengetuk pintu ruang rias pengantin wanita.
“Iya, Sayang.” Angel berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Sudah.” Jawab Angel tersenyum pada suaminya, lalu Malik melihat Farah yang sudah siap untuk keluar.
“Wah, Mba Farah cantik sekali.” Kata Malik saat melihat ke arah Farah dan Farah pun tersenyum.
Lalu ia melihat ke arah Angel yang juga tengah tersenyum menatap pengantin wanita itu.
“Tapi tetap cantikan Bee aku dong.” Malik nyengir, sembari merangkul istrinya yang sedang hamil tua.
“Dasar bucin.” Farah mencibir Malik yang memang sangat tergila-gila pada istrinya.
Mereka pun tertawa.
“Ayo, mba! Aku antar ke depan.” Malik mengulurkan tangannya pada Farah.
Farah melirik ke arah Angel. “Ngga apa-apa nih, Ngel?”
Angel tersenyum. “Ya ampun, Mba. Ngga apa-apa lah. Kami itu udah jadi adik, mba.”
Farah tersenyum dan mencium kening Angel dan Malik. “terima kasih ya.”
Ia merasa lebih bahagia karena keluarga Adrian sudah seperti keluarganya sendiri. Kemudian, ketiganya berpelukan.
“Malik, Ayo bawa mempelai wanitanya ke sini. penghulunya sudah siap.” Teriak Dila.
“Tuh Ibu suri udah teriak.” Ledek Malik yang kembali membuat mereka bertiga tertawa.
__ADS_1
Lalu, Malik membawa Farah keluar untuk duduk bersebelahan dengan mempelai pria. Farah tersenyum ke arah Adrian, saat langkah mereka hendak mendekat. Adrian pun menatap wajah calon istrinya itu dengan senyum mengembang.
“Akhirnya, jadi juga lu, Yan. Nikah sama dokter Farah.” Bisik Egy yang berada di sebalah kiri Adrian sebagai saksi nanti.
Adrian hanya menjawab dengan senyum, hingga Farah duduk persis di sampingnya. Adrian pun dengan sigap membantu Farah untuk membersekan gaunnya agar duduk dengan nyaman.
Farah mengembangkan senyum pada Adrian. “Terima kasih.”
Adrian membalas senyum itu dan mengangguk.
Kemudian, acara presesi akad nikahpun di laksanakan. Bapak penghulu yang ada di hadapan Adrian membuka prosesi khidmat ini. Tangan Adrian di kepal kuat oleh bapak penghulu yang menjadi wali atas Farah. kerabat Farah hanya menjadi saksi dalam pernikahan itu.
Dengan sekali tarikan nafas, Adrian menyebutkan nama Farah lengkap dengan nama sang ayah di belakangnya, lalu menyebutkan mahar yang di berikan.
“Sah.. sah.. sah..” Kata pak penghulu pada para saksi yang menghadiri proses khidmat pagi ini.
“Sah.. Alhamdulillah.” Semua orang di sana mengucap syukur dan mengusap wajahnya, setelah pak penghulu memberikan doa pada kedua mempelai.
“Cium.. Cium.. Cium..” Suara Bayu memprovokasi, agar kedua mempelai berciuman.
Farah pun mencium punggung tangan Adrian, lalu Adrian memberi kecupan di kening wamita yang baru saja resmi menjadi istrinya.
“Cium bibir dong.” Teriak Bayu.
“Pala lu, dasar omes.” Jawab Adrian, membuat semua keluarganya tertawa.
“Alika, Faris. Sini!” Ajak Farah pada kedua anak Adrian, ketika para keluarga dan sahabat akan memoto kedua mempelai.
Alika dan faris pun langsung berlari kegirangan.
Di seberang sana, Angel menempelkan kepalanya pada dada Malik yang memeluknya dari belakang sambil berdiri melihat betapa bahagianya kedua mempelai itu.
“Alhamdulillah, akhirnya Mas Adrian menemukan kebahagiaannya. Aku jadi tidak merasa bersalah lagi.” Angel menoleh ke arah suaminya.
“Kamu memang tidak bersalah, Bee. Bahkan Adrian tak pernah menyalahkanmu, semua yang terjadi dulu memang karena aku.” Jawab Malik tersenyum.
Angel menangkup pipi Malik.” Kenapa kamu begitu mencintaiku?”
“Karena kamu nakal.” Malik mencubit ujung hidung Angel.
Namun, Angel cemberut. “Kamu yang nakal.”
Malik tertawa. “Lagian mau aja aku nakalin dari dulu.”
“Abis kenakalan kamu, bikin aku kangen.”
Malik memeluk erat bahu Angel, karena Angel lebih pendek darinya. “Si ndut, bikin emes aja.”
“Kak.” Angel cemberut sembari melepaskan pelukan suaminya dan menoleh ke arahnya.
“Jadi aku, ndut?” Tanya Angel dengan raut wajah yang di tekuk.
“Emang kenapa, ndut. Aku suka kok.” Jawab Malik nyengir dan mendekatkan bibirnya pada bibir sang isri.
“Kak, malu.” Angel menahan bibir Malik yang akan menyosor. Lalu, Malik mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan, ternyata benar, ada beberapa orang di sampingnya yang memperhatikan kemesumannya.
__ADS_1
Malik tertawa, begitu pun Angel. Kemudian, Malik menggenggam tangan Angel untuk menghampiri kedua mempelai itu dan memberi ucapan.
****
Akhirnya, prosesi akad nikah Adrian dan Farah berjalan lancar, begitu pun resepsianya. Resepsi yang hanya di hadiri keluarga, kerabat, dan para sahabat. Tanpa kedua mempelai itu ketahui, Tomy datang ke pernikahan itu. Ia hanya menatap Farah dari kejauhan. Wajahnya yang sendu menampilakan kepiluan yang amat dalam. Mungkin, ini balasan dari apa yang ia lakukan pada mantan istrinya dulu. Tomy dan Farah bagai orang asing yang tidak pernah saling kenal lagi.
Farah berdiri di depan cermin kamarnya. Tangannya berusaha meraih resleting di belakang punggungnya. Ia terlihat kesulitan untuk membuka resleting itu.
Ceklek
Adrian membuka pintu kamar hotel yang ia pesan untuk bermalam di sana. Sedangkan, Alika dan Faris bersama Dila dan Radit yang berada di sebelah kamar Adrian. Ia melihat Farah yang tengah kesusahan membuka gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Adrian pun mendekati Farah dan langsung membantu membuka resleting gaun itu, membuat Farah terdiam mematung. Tangan Adrian yang menyentuh kulit punggungnya, serasa seperti tersengat aliran listrik. Tubuh Farah tiba-tiba menegang.
Adrian membantu menurunkan resleting itu dalam diam. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Farah hanya menatap ekspresi Adrian di dalam cermin. Adrian tampak serius membuka resleting itu dan menunduk ke arah kulitnya yang mulus. Gaun itu pun terjatuh hingga ke pinggang Farah, karena dengan cepat Farah menahan gaun itu di dadanya.
“Terima kasih.” Ucap Farah dan langsung berlari ke kamar mandi. Detak jantungnya berpacu tak menentu. Ia tak ingin keadaan ini terlihat oleh Adrian.
Adrian pun hanya tersenyum melihat sikap malu-malu sang istri, padahal Farah bukan lagi gadis remaja yang baru pertama kali menikah.
Tak lama kemudian, Farah keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Adrian yang tenga berdiri di balok, langsung masuk ke dalam saat mendengar pintu kamr mandi terbuka. Ia memandang Farah yang tengah memakai baju tangtop dan celana pendek yang hanya menutupi bemper belakangnya yang sintal.
“Alika dan Faris sudah tidur?” Tanya Farah, sambil mengeringkan rambutnya. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya dengan mengajak Adrian berbincang.
Adrian menyandarkan dirinya di dinding sambil terus menatap Farah. Teryata apa yang di katakan Bayu adalah benar, Farah memang memiliki tubuh yang sexy. Adrian menggeleng dan tersenyum.
“Kamu kenapa sih?” Tanya Farah bingung ketika melihat ekspresi Adrian.
“Tidak apa.” Adrian kembali berdiri tegak.
“Tadi kamu tanya apa?” Kata Adrian lagi.
“Alika dan faris apa sudah tidur?”
Adrian berjalan ke arah Farah, hingga Farah mematung dan kembali jantungnya berdegup kencang. Adrian berdiri persis berhadapan dengan istrinya. Wajahnya pun semakin mendekat.
“Sudah. mereka sudah tidur.” Jawab Adrian persis di telingan Farah, lalu mengambil handuk yang berada persis di belakangnya.
Kemudian, adrian menjauhkan tubuhnya dari Farah dan beranjak ke kamar mandi.
“Huft..” Farah mengurut dadanya. ia tak bisa membayangkan berciuman dengan beruang kutub itu.
Satt Adrian selesai mandi. Ia melihat Farah yang sudah berbaring di ranjang dengan posisi membelakanginya. Perlahan Adrian duduk di ranjang itu dan ikut berbaring. Ia menengok ke wajah Farah sedikit untuk memastikan apakah wanita itu sudah tidur atau belum. Dan, ternyata farah sudah memejamkan matanya. Adrian kembali mengambil posisi untuk berbaring di sebelah Farah dan memeluknya dari belakang.
Mata Farah terbuka. Ia merasakan tangan Adrian yang melingkar di perutnya. Sebenarnya, ia sama sekali belum bisa tidur, hanya saja ia masih malu untuk melakukan hubungan suami istri malam ini, padahal ia pun sedang ingin sekali bercinta. Hormon mendekati masa periode datang itu sangat menyiksa, ia sering mengalami horn* ketika itu.
Waktu fajar tiba, Farah pun terbangun. Tubuhnya masih terasa berat. Ia melihat tangan Adrian yang masih berada di perutnya, bahkan sekarang tepat di bwah perut. Tangan Adrian menempel tepat di bagian miliknya. Farah semakin menggigitkan bibirnya. Hormon itu kembali hadir. Ia memang wanita yang cukup memiliki hasrat tinggi. Kemudian, ia menoleh sedikit ke arah Adrian yang masih terlelap dan kembali pada posisinya.
Tangan Farah memegang tangan Adrian dan menuntun tangan itu untuk masuk ke dalam celananya. Farah menggunakan jari Adrian untuk memainkan miliknya sendiri.
“Hmm..” Farah melenguh saat jari tengah Adrian, ia pakai untuk menekan bagian tengah miliknya.
“Ah.” Farah mendesah saat, ia menekan kuat jari tengah Adrian untuk bergerak cepat, hingga akhirnya ia melemas karena pelepasan pun tiba.
Farah mengangkat tangan Adrian untuk mengembalikan ke posisi sebelumnya. Namun, saat Farah menoleh ke belakang, ternyata mata Adrian sudah terbuka.
“Aku bisa membantumu lebih dari tadi.” Kata Adrian, membuat wajah Farah memerah.
__ADS_1
Farah langsung bangun dari tempat tidur itu dan berlari ke kamar mandi. Sementara Adrian hanya tertawa melihat sikap lucu sang istri. Mata Adrian mengikuti arah Farah yang berlari cepat ke kamar mandi. Ia tak menyangka bahawa Farah yang terkenal supel, perfect dan suka membuly-nya, justru akan se lucu ini.