
“Hei, bengong aja.” Adrian menepuk pundak Farah dari belakang.
“Ya, ampun. Yan. Bikin kaget aja sih.” Farah terkejut dan memegang dadanya.
“Lagian bengong aja. Ga liat dari tadi gue udah di sini.”
Mereka menikmati makan siang menjelang sore.
Farah kembali lesu. Makanannya hanya di acak-acak, tapi belum ada yang ia masukkan ke dalam mulut.
“Tuh makanan kasian di liatin doang.” Kata Adrian. Namun, Farah masih tetap diam.
“Far, hei. Hello.” Adrian mengibaskan tangannya tepat di wajah Farah yang menunduk sambil memainkan makanan itu.
“Hmm..” Akhirnya Farah menegakkan kepalanya.
“Lu kenapa? Tomy lagi? Lagian lu juga salah, ga seharusnya lu menghindar. Masalah ga akan selesai kalau lu ga berani menghadapi.”
Farah kembali berfokus pada makanannya. Ia masih mengaduk-ngaduk makanan itu. “Masalahnya semakin rumit, Yan. Dia ga mau pisah.”
“Lu udah ketemu Tomy?”
Farah mengangguk. “Kemarin.”
“Terus?”
“Dia ga mau pisah. Katanya dia mau menceraikan Diva setelah melahirkan. Dan gue ngurus anaknya seperti anak gue sendiri. Gue ga masalah karena emang gue suka anak-anak. Tapi memisahkan anak dari ibunya? Gue juga perempuan, Yan. Gue juga punya perasaan. Ga bisa bayangin jadi Diva yang cuma di jadikan alat buat melahirkan anaknya aja.”
Farah menatap wajah Adrian. “Menurut lu, gimana?”
“Lah kok tanya gue. Tanya lah sama hati lu.” Jawab Adrian santai.
Tak lama pelayan datang untuk mengantar makanan dan minuman Adrian.
“Terima kasih.” Ucap Adrian pada pelayan itu, sesaat setelah makanan dan minuman itu terhidang di hadapannya.
“Dia bilang, dia cinta banget sama gue. Yan.” Kata Farah.
Adrian mengangguk sembari memasukkan makanannya ke mulut. Ia mengunyah makanan itu perlahan.
“Udah gue duga. Tomy itu cinta banget sama lu.” Ucap Adrian setelah menelan makanannya.
“Kalo cinta, kok bisa dia ngehamilin orang lain. Emang bisa gitu punyanya bereaksi sama cewek yang ga di cintai?”
__ADS_1
“Lu lebih tau, lu kan dokter ahli genekologi.”
Adrian tetap mengunyah makanannya sembari menatap wajah Farah.
Membayangkan Tomy yang sedang melakukan hubungan intim dengan Diva, membuat hatinya kembali sakit.
Ia menunduk dan menusuk-nusukkan garpu itu pada makanan yang sudah tidak jelas bentuknya di piring itu.
"Far." Panggil Adrian yang melihat Farah kembali lesu.
“Lu aja ga bisa nyentuh istri lu waktu itu karena lu masih cinta almarhum Alya. Kenapa Tomy bisa nyentuh wanita lain padahal istrinya masih hidup.”
“Far, orang kan beda-beda.” Ucap Adrian lagi.
Farah satu-satunya teman wanita Adrian yang paling dekat di sini. Adrian juga pernah menceritakan pada Farah tentang kebodohannya yang tak pernah menyentuh Angel saat wanita itu masih berstatus istrinya.
“Harusnya dia juga bisa kaya lu.” Kata Farah.
“Terus, apa rencana lu sekarang? Lu udah ngajuin gugatan cerai kan? Mau lu cabut?” Tanya Adrian bertubi-tubi.
Farah menggeleng. “Menurut lu?”
“Yee, lu tuh kebiasaan. Orang nanya malah selalu balik bertanya.” Jawab Adrian tersenyum.
Adrian menghentikan aktifitas makannya. Ia menatap Farah dengan lekat. Ia tersenyum, Sikap Farah saat ini seperti anak kecil. Sebelumnya, Adrian tidak begitu menyukai wanita manja, karena Alya juga sosok wanita yang mandiri. Namun, melihat Farah seperti ini, sisi kelelakiannya timbul. Entah mengapa ia empati dan ingin menghibur juga menjadi orang yang ada untuknya jika dia butuhkan.
“Ada gue.” Kata Adrian.
Farah menenggak dan tersenyum.
“Halah, lu orangnya aja cuek. Boro-boro gue minta bantuan di tolongin. Paling sama lu di cuekin.”
Adrian tertawa lebar. “Ya enggaklah. Emang gue segitu cueknya apa.”
“Eh lu bisa ketawa juga? Ya ampun. Iyan. Kita udah bertemen tahunan tapi gue baru liat lu ketawa kaya gini.” Ledek Farah.
Adrian pun langsung terdiam. “Gue ga jadi ketawa.”
“Ish, baper banget lu. Udah ah, gue balik.” Farah pun berdiri, tapi dengan cepat Adrian menahan tangan Farah.
“Makanan lu belum ada yang di makan. makan dulu! Nanti sakit.” Titah Adrian.
Arah mata Farah tertuju pada tangannya yang sedang di pegang erat oleh Adrian.
__ADS_1
“Ups, sorry.” Adrian melepaskan tangannya, setelah mengikuti arah mata wanita itu.
“Makan dulu lah.” Adrian mempersilahkan Farah duduk.
“Bilang aja lu minta di temenin.” Kata Farah yang kemudian duduk kembali.
Lalu, Adrian tersenyum sembari menghabiskan sisa-sisa makanannya yang masih ada di piring itu.
****
Angel berjalan santai menuju pintu utama rumahnya, setelah membuka gerbang kecil itu. Ia persis di turunkan di depan rumah itu oleh supir kantor suaminya, seperti biasa.
Mata Angel menyipit saat mendapati sebuah motor di parkiran rumahnya. Motor itu tidak asing ia lihat, karena sudah di pastikan itu milik Joni. Perlahan Angel membuka pintu dan memasuki rumahnya. Sesampainya di dalam, ia melihat Joni dan Rumi yang sedang bercumbu di dapur.
Angel melihat Joni yang sedang memangut bibir kekasihnya dan meraba tubuh itu. ia teringat saat ia masih berpacaran dengan Malik. Ingin sekali ia melarang Rumi agar tidak hanyut dalam buaian seorang lelaki. Walau pun kini Malik sudah menjadi suami idaman, tapi tetap pria itu pernah mengajaknya ke dalam sebuah dosa besar.
“Ekhem.” Deheman Angel, sontak membuat dua sejoli itu terkejut.
Joni melepaskan pangutannya dan menurunkan tangannya yang sedang bergerilya di kedua paha Rumi.
“Bu.” Rumi terlihat malu, sembari membereskan baju atasannya yang berantakan. Kedua kancing atasnya terbuka dan menampilkan kedua gunung kembarnya, walau masih dalam balutan bra berwarna pink.
“Maaf.” Joni segera keluar dan melewati Angel. Sungguh ia merasa malu di hdapan istri bosnya itu. ia juga khawatir Angel akan mengadukan hal ini pada suaminya.
“Bu, maaf.” Rumi menghampiri Angel dan terus meminta maaf.
Angel terdiam. Entah ia harus memulai perkataan dari mana. Pasalnya ia juga malu ingin menasehati Rumi, karena ia pun pernah seperti ini.
Angel mengangguk dan berkata, “apa setiap hari, Joni ke sini di jam seperti ini?”
Rumi menggeleng. “Baru hari ini, Bu.”
“Apa kalian pernah melakukannya di sini?” Tanya Angel hati-hati sambil menatap wajah Rumi.
“Tidak, Bu. Demi Tuhan. Saya tidak seberani itu.”
Angel menarik nafasnya. Ia mendekati Rumi dan memegang bahunya.
“Pertahankan kehormatanmu. Jagalah Rum! Karena kita tidak pernah tahu akan berjodoh dengan siapa nantinya.” Ucap Angel tersenyum dan meninggalkan Rumi sendiri.
Angel melangkahkan kakinya menaiki tangga. Arah matanya masih tertuju pada Rumi yang terdiam mematung di sana.
Memang ketika berpacaran di usia yang memasuki angka dua puluh tahun ke atas. Gaya pacaran tidak lagi sama ketika masih jaman putih biru atau abu-abu. Berciuman dan bercumbu sudah bukan hal yang tabu untuk gaya berpacaran insan yang sudah sama-sama bekerja. Namun, jika itu di teruskan tidak menutup kemungkinan akan meminta yang lebih dari sekedar cumbuan, karena sejatinya sesuatu yang di larang itu memang nikmat. Dan di sanalah, sebuah keimanan di butuhkan.
__ADS_1