Melanggar Janji

Melanggar Janji
Menyesali kebodohan


__ADS_3

“Woi, bangun!” Jo menggoyangkan bahu Malik.


Beberapa hari ini, Malik berada di apartemen sahabatnya. Hanya Jo tempat Malik berkeluh kesah. Malik akui dirinya memang pengecut, padahal berulang kali Jo mengingatkan untuk berjuang selagi masih ada waktu sebelum hari pernikahan tiba. Namun, Malik enggan memperjuangkan Angel dengan alasan ia tak mau membuat malu keluarga Radit yang sudah seperti orang tua kedua baginya, juga Adrian yang sudah seperti kakak kandung untuknya.


“Lik, ini hari pernikahan Angel. Lu masih bisa membatalkan. Cepet ke Bandung!” Ujar Jo tepat pukul lima tiga puluh pagi, ia membangunkan sahabatnya.


“Gue ngga berani Jo, apa kata mereka kalau tau gue penyebab batalnya pernikahan Adrian. Pasti nyokap gue juga ada di pesta itu.”


“Cemen lu, beneran dah, gue punya temen pengecut banget. Justru dengan lu seperti ini, Angel semakin yakin kalo lu ga cinta sama dia.”


Seketika Malik bangun. “Gue cinta sama Angel, Jo. Gue ga bisa hidup tanpa dia.”


“Ya udah kalo gitu buktiin lah. Masih ada waktu tiga jam buat ke Bandung.” Jo menyemangati sahabatnya.


Malik terdiam.


“Cepetan! Ijab Qabulnya jam delapan kan?” Tanya Jo.


Malik mengangguk. “Kira-kira keburu ga Jo?”


“Keburu, dua jam nyampe, minggu pagi lancar kok. Lagian, biasanya akad nikah itu ga on time, pasti ngaret-ngaret dikit. Lu Ngebut, jangan pake rem!”


“Semangat, Lik.” Teriak Jo.


Malik bersemangat dan langsung mengambil jaket juga kunci mobilnya. Ia bergegas menyalakan mesin mobil itu dan melaju engan kecepatan tinggi. Benar seperti yang Jo katakan, pagi ini jalanan masih sepi.


Satu jam Malik menggas pedal mobilnya hampir penuh. Ia seperti orang kesetanan mengendarai mobil. Entah mengapa keberanian itu baru datang hari ini? Entah mengapa dua minggu sebelumnya, ia tidak punya nyali untuk bertemu Adrian atau Radit dan mengatakan bahwa Angel adalah kekasihnya? Entahlah?


Di Bandung, Matahari mulai bersinar. Angel bersama Ella dan Fajar berangkat menuju gedung pernikahan itu. Angel datang lebih dulu karena akan memakan waktu yang cukup lama untuk di rias. Sementara Hendra dan Enin menyusul.


Satu jam berlalu, riasan di wajah Angel hampir selesai.


“Wah, kamu cantik sekali, Ngel.” Kata Ella yang sudah rapih di dandani.

__ADS_1


“Angel, aduh cucu Enin memang cantik.” Puji Enin lagi.


Angel hanya tersenyum kecut. Ia masih berharap Malik tiba-tiba datang dan menjemputnya.


“Keluarga Aa Adrian sudah datang?” Tanya Angel.


“Belum, tapi katanya sudah di jalan. Kamu tegang ya?” Tanya Enin.


Angel menunduk. “Ngga kok, Nin.”


“Selesai.” Kata perias yang merias Angel.


Ella menggenggam tangan Angel.


“Kamu siap kan?” Tanyanya berbisik lirih.


“Siap ga siap, Bi. Tapi memang harus siap.”


“Kalau tiba-tiba dia datang. Bagaimana?” Tanya Ella lagi.


Tepat jam tujuh lima belas menit, Adrian datang beserta rombongan. Ia di sambut dengan iringan marawis dan adat sunda lainnya.


Tepat di jam itu pula, Malik keluar tol Bandung. Kini ia melewati jalan biasa yang sudah cukup padat. Entah mengapa jalanan menuju gedung pernikahan Angel sedikit macet.


“Ah, ini macet apaan sih?” Gumam Malik sembari memukul setirnya.


“Cepet jalan.” Kata Malik lagi sendiri.


Tepat pukul delapan, Adrian duduk di kursi mempelai pria siap dengan pak penghulu dan Hendra yang duduk berhadapan dengannya, di tambah kedua saksi yang duduk di samping sisi Adrian dan Hendra.


Angel pun keluar di temani Ella. Angel tampak sangat cantik dengan riasan pengantin yang pas di wajahnya. Adrian di buat tak berkedip saat melihat Angel tengah berjalan mendekatinya.


“Sadar Adrian, cintamu hanya untuk Alya, tidak ada wanita lain di hatimu selain dia.” Gumam Adrian, menyadarkan lamunannya dan mengalihkan pandangannya dari Angel.

__ADS_1


Angel dan Adrian akan melangsungkan akad nikah di masjid yang terletak di lantai dua gedung itu, sedangkan resepsinya akan di adakan di bawah masjid itu. Dila sengaja menyewa gedung yang cukup luas dengan parkiran yang luas pula, karena mereka memang dari keluarga terpandang.


Sesuai peta yang ada di ponselnya, Malik menemukan letak gedung pernikahan Angel, di sana sudah terdengar penghulu hendak memberikan wejangan sebelum ijab qobul di mulai. Malik memarkrkan mobilnya asal.


“Eh, Pak mobilnya belum lurus nih.” Kata tukang parkir di sana pada Malik.


Malik menghiraukan teriakan tukang parkir itu. Ia terus berlari, karena letak parkiran yang cukup jauh dari masjid. Ia sampai di anak tangga pertama dan terus menaiki anak tangga itu dengan cepat.


“Saya terima nikah dan kawinnya ananda Angel Agnita Puteri Binti Hendra Kurniawan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.” Suara Adrian lantang dan jelas terdengar di pengeras suara masjid.


Seketika tubuh Malik melemah, padahal ia sudah menaiki anak tangga terakhir. Ia menatap wajah cantik Angel yang duduk menunduk di arah yang cukup jauh darinya.


Angel meneteskn air mata ketika, Adrian mengucapkan ijab qobul itu dengan lantang dan tanpa ada kesalahan. Semua orang yang melihat Angel menangis, hanya mengira Angel terharu karena ia menikah dalam keadaan tanpa ibu. Padahal ia menangis karena benar-benar sedih, ia mengira Malik benar-benar tidak datang dan tidak memperjuangkannya.


Tepat di pintu utama masjid, Malik terduduk lemas. Ia menangis sejadi jadinya sambil bersujud. Ia menangisi semua kebodohannya.


“Angel, sungguh aku tidak bisa hidup tanpamu.” Ucap Malik sembari memukul-mukul kepalanya dan menangis.


Di jajaran kursi keluarga Adrian, Berlin menagkap sosok sang putra yang berada di area luar masjid. Malik pun mengangkat kepalanya dan menangkap pandangan sang ibu. Dengan cepat, Malik membalikkan tubuhnya dan langsung menuruni anak tangga itu. Ia mengusap air yang membasahi pipinya.


Sesampainya di parkiran mobil, Malik kembali berteriak dan menendang mobilnya.


“Aaaarrrgggg...”


Ia menyesali kebodohannya. Ia menyesali sikap pengecutnya. Ia menyesali, waktu yang sudah terbuang bersama Angel. Ia menyesali, mengapa tak segera menikahi kekasihnya itu. Ia sungguh menyesali semua yang terjadi sekarang.


“Bodoh.. Bodoh.. Bodoh..” Malik terus memukul setir mobilnya, hinga terkadang mengeluarkan bunyi klakson.


“Ada apa sih?” Tanya salah satu tukang parkir yang berdiri cukup jauh dari mobil Malik.


“Tau tuh, orang stres kali.” Jawab tukang parkir yang lain, tukang parkir yang meminta Malik untuk merapihkan parkirannya.


Lalu, Malik menghidupkan mesin mobilnya. Ia pergi dari tempat itu dengan arah yang tidak jelas. Ia bingung mau kemana?

__ADS_1


Malik melewati sebuah taman. Ia duduk dan singgah di sana, sambil memandangi setiap kendaraan yang melintas juga hilir mudik orang yang berjalan kaki. Pikiran malik menerawang, mengenang masa-masa indahnya bersama Angel. Wanita itu satu-satunya wanita yang dapat meluluhkan hatinya. Satu-satunya wanita yang membuat hidupnya lebih hidup. Dan, satu-satunya wanita yang menghilangkan penatnya di saat lelah.


__ADS_2