Melanggar Janji

Melanggar Janji
Merasa puas


__ADS_3

“Bee. Gimana tadi ngajar pertama?” Tanya Malik, saat mereka tengah makan siang bersama di warung makan yang berjajar di area yang tak jauh dari kampus tempat Angel mengajar.


“So far so good.” Jawab Angel smbari menyuapi makanan ke mulutnya.


“Kamu sendiri gima hari pertama di kantor?”


“Langsung sibuk.” Jawab Malik yang juga sambil memakan makanannya.


“Terus, kok bisa keluar makan siang?” Tanya Angel lagi.


“Justru aku pengen ketemu kamu supaya ga butek di kantor.” Malik menyandarkan punggungnya di kursi itu seraya menghelakan nafas.


Angel pun langsung menggenggam tangan suaminya dan tersenyum. “Semangat ya. Nanti malam aku pijitin.”


Malik langsung tersenyum lebar. “Pijat plus-plus ya.”


Angel tersenyum dan mengangguk.


“Yeay.” Malik kembali ceria dan melanjutkan makannya dengan lahap.


Angel menggelengkan kepalanya seraya mengeryitkan dahi. Namun, Malik hanya tersenyum.


****


Tepat jam tiga sore, Angel baru sampai di rumahnya. Ia di antar oleh supir yang bekerja di kantor suaminya. Sesampainya di rumah, Angel membuka handle pintu yang sudah terbuka.


“Kok ga di kunci?” Gumamnya.


“Sore, Bu.” Panggil seorang wanita yang keluar dari arah dapur.


“Eh, sore.” Angel terkejut.


“Perkenalkan, Bu. Saya Rumi, yang di bekerja di sini untuk bersih-bersih. Saya di kasih kunci cadangan rumah ini dari Pak Joni.”


Angel mengangguk. Memang Malik sudah bercerita akan mempekerjakan orang untuk membrsihkan rumah dan pakaian mereka. Namun, orang itu tidak menginap, ia akan pulang pergi dan bekerja seperti jadwal bekerja di kantor. Rumi datang senin sampai jumat dari jam sembilan hingga jam empat sore dan libur di hari sabtu minggu.


Rumi menjelaskan pada Angel jadwal bekerjanya di rumah ini. Angel pun mengangguk. Ia kembali menatap wajah Rumi yang ayu, sopan dan luwes.


“Usia kamu berapa, Rum?’ Tanya Angel.


“Dua puluh tahun, Bu.”


“Kamu masih sekolah?”


Rumi mengangguk. “Saya kuliah malam, Bu.”


“Bagus.”

__ADS_1


“Sebenarnya saya mencari pekerjaan kantor. Tapi susah banget. Terus saya di tawarkan pekerjaan sama temennya Pak Joni, karena jadwalnya pas dengan jadwal saya kuliah jadi saya oke. Apalagi gajinya juga seperti orang kantoran.” Rumi nyengir.


Angel pun tertawa. Mereka pun berbincang. Angel bertanya tentang keluarga Rumi dan di mana Rumi kuliah. Rumi bercerita tentang keluarganya yang tergolong miskin. Namun, ia keukeh untuk bersekolah lagi walau di kampus swasta yang tidak terkenal, yang penting terjangkau dan ada ijazah, karena ia juga sebagai tulang punggung keluarga. Ayah Rumi hanya sebagai tukang becak di Malioboro.


“Kamu hebat, Rum.” Angel tersenyum menanggapi semua cerita Rumi.


Entah mengapa di mata Angel, Rumi adalah gadis yang menarik seperti arti dari namanya. Rumi memiliki daya tarik sendiri. Paras Manis, bertubuh kecil mungil, dan cara bicara yang sopan, membuat setiap orang pasti menyukainya.


“Ga terasa, Bu. Sudah jam empat. Saya mau permisi pulang.”


“Oh, iya. Oke.” Angel mengantar Rumi keluar. Namun sebelumnya ia membawakan bekal bahan makanan yang ia punya di dalam lemari es.


“Ini bawa. Untuk adik-adikmu di rumah.” Angel memberikan kue yang Malik beli kemarin. Kue itu yang masih tersisa lebih dari separuh.


Angel memasukkan kue itu ke tempat makan.


“Jangan, Bu. Ini kue mahal.”


“Tidak apa. Bagi-bagi buat keluargamu di rumah.”


“Terima kasih banyak, Bu.”


Angel mngangguk. “Hati-hati.”


Setelah Rumi pulang, Angel mengunci rumahnya dan berlalu ke atas. Ia merebahkan dirinya di ranjang sebentar, kemudian mandi.


Sejak sampai di rumah ini, Angel tak keluar kamar. Ia yang penakut, hanya menonton televisi di kamar dan memboyong semua makanan yang ada di dapur ke kamar itu. Angel punmembuka jendela kamr lebar-lebar.


“Kak, belum pulang?” Tanya Angel melalui pesan wahtsapp.


Ponsel Angel langsung berbunyi. Malik langsung membalasnya melalui voice note, karena ia sedang menyetir.


“Iya, Bee. Ini udah di jalan. Udah deket kok.”


Tak berapa lama kemudian. Bel rumah itu berbunyi. Angel dengan cepat menuruni anak tangga itu dan langsung membukanya. Ia langsung memeluk suaminya.


“Akhirnya kamu pulang juga.”


Malik tertawa. Angel memeluk erat pinggangnya.


“Ya ampun, Bee. Cinta banget ya sama aku.” Malik mencium pucuk kepala Angel.


Kepala Angel mengangguk.


“Aku juga takut sendirian.” Rengek Angel.


“Ya ampun, Bee. Rumah sendiri aja takut. Lagi pula ini rumahnya ga besar kok.”

__ADS_1


“Tapi sepi.” Jawab Angel yang masih menggelayut di pinggang suaminya, hingga Malik berjalan pelan untuk masuk.


“Manja banget sih.” Malik mencubit ujung hidung Angel.


“Aku buatin minum ya?” Angel melepas pelukan itu dan hendak pergi ke dapur.


“Eits, nanti dulu.” Malik menahan tubuh Angel.


“Aku mau peluk kamu dulu.” Kata Malik yangs udah duduk di sofa dan melingkarkan tangannya pada perut Angel.


Lelah Malik terasa lenyap, saat menyium aroma tubuh istrinya saat ia menempelkan kepalanya di dada Angel yang sedang berdiri memeluknya. Kemudian, Malik meminta Angel untuk duduk di pangkuannya berhadapan. Perut Malik di jepit oleh kedua kaki Angel yang menempel. Angel memeluk erat kepala suaminya dan mengelusnya, hingga Malik sedikit memejamkan mata di dada istrinya itu.


“Tapi semuanya lancar kan?” Tanya Angel tentang urusan kantor suaminya.


Malik mengangguk. “Malah udah mulai ada satu tender yang akan kita kerjakan.”


Angel menatap wajah suaminya. “Wah, hebat. Alhamdulillah.”


“Iya, Alhamdulillah.” Mata Malik masih trpejam dengan usapan lembut sang istri.


“Kamu udah makan?” Tanya Angel lagi.


Malik mengangguk, tapi menggeleng lagi.


“Ih, apa sih kamu. Ga jelas. Udah makan belum?” Tanya Angel lagi.


“Makan nasi udah, tapi makan kamu belum.” Jawab Malik sambil mata yang masih terpejam.


Angel tertawa dengan sikap Malik yang seeprti anak kecil. Ia juga merasakan ada yang mengeras di bawah sana, karena posisi mereka saat ini membuat milik Angel menempel dengan milik suaminya.


Angel spontan memegang benda yang mengeras itu.


“Ish.” Angel meremasnya gemas dan segera bangkit dari duduknya, membuat Malik terbangun.


“Bee. Tanggung jawab.” Malik pun bangun dan mengejar istrinya yang sudah menaiki beberapa anak tangga di sana.


“Ngga, kamu belum mandi.” Angel kabur sembari tertawa.


“Tanggung jawab dulu, baru aku sekalian mandi.” Malik tertawa dan mengejar istrinya.


“Ngga.” Ledek Angel dengan menjulurkan lidahnya.


Sesampainya di kamar. Malik langsung menubruk sang isri dan menjatuhkannya di ranjang, karena posisi Angel yang berdiri persis di singgasana tempat mereka memadu kasih.


Angel menarik dasi suaminya dan mencium bibir itu dengan ganas. Ia pun membantu sang suami untuk membuka pakaiannya dengan cepat, sambil tetap memangut bibirnya hingga mengeluarkan suara kecipak kecipuk.


Malik tersenyum sayu melihat istrinya yang agresif dan dominan di ranjang, karena saat ini Angel menguasai permainan dengan posisi yang berada di atas tubuhnya. Malik sangat puas memiliki istri seperti Angel yang melayaninya dengan baik dalam urusan perut dan di bawah perutnya. Angel juga bukan tipe wanita yang mudah ngambek atau marah. Ia semakin mencintai istri tercintanya itu.

__ADS_1


__ADS_2