Melanggar Janji

Melanggar Janji
Belum genap sehari


__ADS_3

“Far, belum pulang? Tanya Adrian saat membuka ruangannya.


“Eh, Yan.” Farah membenarkan posisi duduknya yang hampir setengah berbaring di kursi kerjanya itu.


“Gue ga pulang, tidur di sini aja.” Jawab Farah, yang memiliki ruangan cukup nyaman untuk bermalam.


Adrian berdiri menyedekapkan tangannya dan bersender di pintu ruangan Farah.


“Menghindari Tomy?” Tanya Adrian lagi.


Tomy adalah suami Farah yang memiliki perusahaan advertising bersama kedua sahabatnya.


“Hmm.. Mungkin. Tapi gue emang lagi pengen sendiri dulu.” Ucap Farah yang sudah memeluk bantal winnie the pooh, yang ia bawa dari rumah.


Adrian tersenyum melihat Farah yang berwajah manja dan seperti anak kecil.


“Udah sana pulang. Udah malem, kasian Alika dan Faris nungguin bapaknya ga pulang-pulang.” Usir Farah sembari mengibaskan tangannya, agar temannya itu segera pergi.


“Oke. Gue balik duluan. Kalo ada apa-apa telepon gue.” Jawab Adrian sebelum menutup pintu itu.


“Oke.” Farah membulatkan jarinya.


“Oh, iya. Kalo ga ada selimut, di ruangan gue ada.” Adrian membalikkan dirinya dan berkata lagi.


“Gue juga ada, nih.” Farah menunjukkan selimut tebalnya pada Adrian.


“Jangankan selimut, magic com aja gue bawa noh.” Kata farah lagi, membuat Adrian tertawa saat melihat benda elektronik yang berukuran kecil itu.


“Lu kira ini kos-kosan.” Adrian menggeleng.


Faah ikutrtawa. “Lumayan irit, dari pada gue tidur di hotel, mehong. Mending gue tidur di sini.”


“Dasar.”


Farah memang selalu semaunya.


“Ya udah. Bye.” Kata Adrian.


“Oke, Bye. Hati-hati, Yan. Makasih bahunya, baju lu jadi basah karena air mata gue.” Ucap Farah.


“It’s oke.” Adrian pun kembali menutup pintu ruangan Farah.


Ia berjalan menuju parkir untuk pulang. Adrian masih mengingat kejadian di atas gedung tadi. Ia melihat sosok yang berbeda dari Farah. Wanita tangguh yang tak pernah mengeluh dan mau di tempatkan di wilayah mana saja saat bertugas itu, ternyata rapuh. Hal itu, membuat insting Adrian sebagai seorang pria pun tergerak. Ia seperti ingin melindunginya. Mungkin hal ini juga yang di lakukan Malik pada Angel saat itu. Angel yang tengah rapuh, bertemu dengan cinta masa lalunya. Adrian dan Farah yang tidak memiliki cinta di masa lalu saja, rasanya peduli, apalagi yang memang sudah memiliki rasa sebelumnya.


Sesampainya di dalam mobil. Adrian kembali menarik nafasnya.


"Farah.” Gumam Adrian sembari tersenyum.


****


Malik terbangun saat alarm berbunyi. Bunyi yang sudah kesekian kalinya. Ia melihat jam dinding, ternyata sudah pukul lima tiga puluh pagi. Namun, Angel belum bergerak. Semalam, Malik memang berlebihan, ia menggempur istrinya beberapa kali, hingga Angel kelelahan dan menyerah. Malik memandang Angel yang masih terpejam. Tangannya di angkat untuk mengelus pipi itu lembut.


“Kamu itu udah seperti morfin, Bee.” Gumam Malik dengan suara yang cukup bisa di dengar.


Ia terus mengelus pipi itu. Tak lama kemudian, Angel menggeliat, karena tangan Malik bukan hanya mengelus pipinya, tapi juga bahu hingga ke pinggang Angel yang sedang tertidur miring ke arah Malik.


Malik sengaja membuka selimut yang menutupi tubuh polos itu. Ia pun memainkannya dengan leluasa karena tubuh indah itu terpampang di depan wajahnya tanpa jarak.


Angel membuka matanya, saat tangan Malik meremas gunung kembarnya.


“Hmm..” Ia melenguh. Namun, Malik tetap tersenyum.

__ADS_1


Angel pun tersenyum. “Kamu masih kurang?”


Malik tersenyum lebar. “Memang masih boleh?’


Angel menggeleng. “Subuh dulu.”


Ia mulai bangkit dan membenarkan selimutnya.


“Udah ga usah pake selimut.” Malik menarik selimut tebal itu.


“Ih, malu.” Angel kembali menarik lagi selimut itu agar tak terlalu mengekspos tubuhnya yang polos.


Malik menyeringai licik. “Di rumah ini hanya ada kita berdua, Bee. Kamu ga pake baju juga ga apa-apa.”


Angel mencibir dan menjulurkan lidahnya. “Yang ada aku masuk angin.”


Kakinya hendak turun dari ranjang itu.


Malik tertawa dan ikut bangkit, lalu memeluk dengan cepat tubuh Angel.


“Hmm... Gemes.” Malik memeluk erat tubuh itu sembari mengusel-ngusel di bahu terbuka istrinya.


Angel tertawa geli, karena bulu-bulu kasar di dagu Malik menusuk kulit mulusnya. Malik menggoyangkan tubuhnya sehingga tubuh Angel pun ikut bergoyang karena masih dalam posisi berpelukan.


“Aku bahagia banget, Bee.” Kata Malik.


“Sama, aku juga.” Angel memegang kedua tangan Malik yang sedang mendekapnya.


“Aku mandi duluan ya.” Ucap Angel lagi, agar Malik melepas pelukan itu.


“Iya.’ Akhirnya, Malik melepas pelukan itu dan membiarkan istrinya berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka yang entah hingga berapa kali.


“Kak, Ih.” Angel mencubit pinggang Malik.


Ia kesal karena Malik sering sekali memukul b*k*ngnya atau meremas gunung kembarnya saat berpapasan.


“Biar makin gede.” Ucap Malik.


“Dasar mesum.” Angel mencibir, tapi malik malah tertawa puas.


Setelah selesai mandi dan melakukan kewajibannya. Ia beralih ke dapur. Rasanya perutnya lapar sekali, mungkin karena aktifitas semalam terlalu menguras tenaga.


Ia membuka lemari es dan hanya ada telur. Lemari es itu masih terlihat sepi dan kosong. Mungkin siang nanti, ia akan mengajak Malik untuk membeli keperluan rumah tangga, karena besok mereka sudah kembali mengawali aktifitas pertamanya di kota ini.


“Kosong, Bee. Aku belum beli bahan makanan. Kemarin aku hanya meminta Joni untuk membeli seadanya saja.” Ucap Malik sembari menurunkan kakinya di tangga.


“Iya, tidak apa. Nanti siang kita mampir ke supermarket ya.” Jawab Angel.


“Oke.”


Lalu, Angel mengedarkan lagi pandangannya. Ia melihat ada beberapa mie instan tergeletak di sana. Malik pun melihatnya.


“Si Joni, aku suruh beli makanan seadanya dulu, malah belinya bener-bener seadanya.” Malik menggelengkan kepalanya, sembari memegang dua bungkus mie instan dan telur yang baru saja Angel keluarkan dari lemari es.


Angel pun tersenyum. “Sarapan omlet aja ya.”


“Omlet, telur dan mie tanpa sayur?” Tanya Malik.


Angel mengangguk. “Itu makanan kesukaanku waktu kecil.”


Ia nyengir.

__ADS_1


“Bolehlah. Tapi ini karbo semua.” Kata Malik sambil menggelayut manja di bahu istrinya.


Tangan malik masih menggerayangi tubuh Angel. Tangan itu pun mengelus paha Angel dan bagian bulat di belakangnya.


“Bee, kok pakai c*l*na?” Protes Malik.


“Kak.” Rengek Angel yang menahan tangan suaminya yang mencoba meloloskan benda itu dari tubuhnya .


“Kalau di rumah ga usah pakai ini.” Malik mulai melepas segitiga pengaman itu, sambil memeluk pinggang Angel.


Angel hanya tertawa dengan aksi suaminya yang terlewat mesum. ia tetap memasak walau malik selalu menempel di belakang. Terkadang suara desahan itu lolos dari bibir Angel, saat Malik melesakkan jarinya di titik sensitif itu.


“Kak, Hmm...” Angel mulai terangsang dengan apa yang Malik lakukan, karena jarinya membuat Angel lemas.


“Kamu gampang banget ke rangsang, Bee. Tapi aku suka.” Bisik Malik.


“Kamu nya rese.” Angel mematikan kompor itu dan membalikkan tubuhnya.


Ia memukul pelan dada suaminya. “Kalau seperti ini, masakanku ga mateng-mateng nih.”


“Aku mau sarapan kamu dulu, Bee.” Kata Malik.


“Kamu udah banjir tau.” Ledek Malik, karena tangannya masih berada di area milik istrinya.


“Kaak.” Wajah Angel memerah. Ia malu karena perkataannya tidak sama dengan tubuhnya.


Malik gemas melihat wajah sang istri. Ia pun langsung membopong Angel dengan mengeratkan kedua tangannya pada pinggang Angel.


“Kak, aku laper.” Rengek Angel yang sudah di bawa Malik ke sofa di ruang keluarga yang berada tak jauh dari dapur.


“Setelah ini kita keluar untuk sarapan dan sekalian ke supermarket.”


"Aaaa... Kak." Teriak Angel sambil tertawa dan memukul pelan kedua tangan Malik yang melingkar erat di perutnya.


Malik pun ikut tertawa. Ia melepaskan Angel di sofa, lalu menindihnya.


"Kamu ga bisa bergerak, Bee." Ledek Malik.


Mereka pun terengah-engah karena tawa itu. Kemudian, Malik mulai mendekatkan bibirnya. Ia ******* rakus bibir itu tanpa jeda dan sekali lagi membuatnya bengkak. Malik ******* bibir itu seolah ingin memakannya dan mengecapnya dengan kuat.


Angel memang selalu tidak pernah bisa menolak permintaan Malik, ketika pria itu menginginkan tubuhnya. Malik terlalu lihai memberikan cumbuan yang memabukkan dan melenakan, hingga membuat Angel terbang melayang ke langit ke tujuh.


Di sofa itu, mereka melakukan penyatuan. Sepertinya, Malik tidak akan mempekerjakan asisten rumah tangga yang menginap. Ia akan menyewa asisten rumah tangga yang hanya membantu untuk bersih-bersih saja seperti yang di lakukan Neneng saat menjadi ART di rumah Hendra dulu. Ia ingin menikmati kebersamaan berdua di rumah ini. Seperti sekarang.


“Ka..k, a..ku.. Ah.” Ucap Angel terbata-bata sembari merasakan sensasi nikmatnya penyatuan yang Malik lakukan dengan tempo cepat.


“Bersama, Bee.” Jawab Malik yang kemudian mengerang kencang sambil menyebut nama istrinya.


Angel pun dengan spontan memeluk tubuh suaminya, membiarkan Malik menuntaskan hasratnya hingga detik-detik terakhir. Nafas mereka tersengal-sengal, seperti tengah lari maraton ratusan kilo jauhnya.


“Love you, Bee.” Ucap Malik dengan mata yang masih sayu.


Kemudian ia melepas penyatuan itu, setelah lama berdiam sebelumnya.


“Love you, too. Kak.” Jawab Angel tersenyum.


Malik bangkit dan bersandar di terduduk di sebelah Angel. Nafasnya masih tersengal-sengal. Angel pun bangkit dan memakai lagi pakaiaannya yang berserak di lantai. Ia menoleh ke arah Malik yang tersenyum padanya. Ia pun membalas senyum itu sambil memakai pakaiannya.


“Aku masak lagi ya.” Ucap Angel yang langsung di angguki Malik.


Lalu, Malik berbaring di sofa itu. sedangkan angel berlalu menuju dapur. Ia kembali memasak. Tak henti-hentinya Angel mengulas senyum. Belum genap sehari mereka menikah, tapi Malik sudah melakukan penyatuan itu berkali-kali. Angel menggelengkan kepalanya, walau tidak di pungkiri bahwa ia pun menyukai apa yang Malik lakukan.

__ADS_1


__ADS_2