
Tap.. Tap.. Tap..
Angel berjalan menuju ruang dosen. Ia baru saja selesai mengajar dan keluar dari salah satu kelas di Fakultas Administrasi Publik.
“Bu Angel.” Suara salah satu mahasiswa pria yang menggoda Angel, saat ia melewati segerombol mahasiwa yang tengah duduk di pinggir kelas.
Angel tersenyum menanggapi sapaan anak-anak didiknya itu. anak-anak yang sering kali menggodanya di dalam dan di luar kelas.
“Bu Angel cantik banget sih.” Bisik salah satu mahasiswa itu.
“Iyo, semoga bojoku karo bu Angel.” Jawab teman mahasiswa itu.
“Uuuh, mimpi.” Teman-temannya mentoyor kepala anak lelaki itu.
Angel yang mendengar percakapan mahasiswa itu pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia beralih ke toilet sebelum masuk ek ruang dosen. Sesekali Angel melihat dirinya dari cermin.
“Apa dandananku terlalu berlebihan dan mengundang perhatian orang?” Gumam Angel, sembari melihat dirinya di cermin.
Ia memperhatikan dirinya. Ia melihat ke arah bibirnya. Ia hanya menggunakan lipstik biasa, warnanya pun bukan warna yang menyala dan dapat menundang perhatian orang. Pakaian yang ia pakai pun sangat sopan, dengan menggunakan kemaja di lapisi balzer panjang dan rok panjangnya di bawah lutut. Lalu, ia membuka syal yang melilit di lehernya. Ia memang selalu menggunakan syal itu setiap hari, karena Malik selalu memberi tanda di sana. ia mendekatkan lagi lehernya di cermin.
“Ah, banyak sekali tanda merah di sini.” angel berkata sendiri.
“Hai.” Tak lama kemudian, Angel di kejutkan oleh sapaan salah satu dosen wanita yang duduk di sebelahnya ketika berada di ruang dosen.
“Eh.” Angel merapihkan kembali rambut panjangnya agar menutupi lehernya itu.
“Kamu sakit, Ngel?” Tanya teman Angel sesama dosen itu yang bernama Mirna.
“Ngga, emang kenapa?”
“Itu leher kamu merah merah, abis di kerokin?” Tanyanya lagi.
Angel tertawa sendiri. “Hmm.. eh, iya.”
Angel malu dan memakaikan syalnya kembali.
“Ya ampun, Ngel. Emang kamu ngapain? Begadang terus? Kan belum punya anak, masih banyak waktu luang buat istirahat. Emang kaya aku ngurus anak tiga. Pulang dari sini, di rumah kerjaan udah nungguin. Belum lagi malamnya, baru mau istirahat, eh di ajak begadang sama bapaknya anak-anak. Huft.”
Angel tersenyum. “Tapi, seru ya Mir.”
Angel pun ingin sekali memilii anak yang banyak. Pasalnya ia adalah anak tunggal dan merasakan bagaimana tidak enaknya tidak memiliki saudara.
“Iya, sih. Bukannya seru lagi tapi rame. Apalagi kalo ada yang gede berantem sama anak nomor dua. Ramenya bukan main. Tapi, kalo anak yang gede lagi nginep di rumah neneknya. Rumah rasanya sepi."
Keduanya tertawa. Kemudian, mereka keluar dari toilet bersamaan.
“Ngel, ke kantin yuk!” Ajak Mirna.
__ADS_1
“Boleh.”
“Tapi di kantin fakultas teknik ya, di sana makanannya enak-enak di banding di kantin kita.” Kata Mirna lagi.
“Jauh, Mir.”
“Naik motor aku, Ngel. Yuk. Aku lagi pengen mie ayam bakso di kantin sana. Lagian setelah ini kamu juga sudah tidak ada ngajar lagi kan?”
Angel mengangguk. “Iya sih. Ya udah ayo!”
Angel dan Mirna mampir terlebih dahulu ke ruang dosen. Mirna mengambil dompetnya dan Angel meletakkan buku yang masih ia bawa lepas mengajar sebelumnya.
Angel menaiki motor Mirna dan Mirna melajukan motornya menuju kantin yang tadi ia sebutkan.
“Kamu kalo ke kampus selalu bawa motor. Mir?” Tanya Angel persis di telinga Mirna, saat berada di atas motor itu.
“Iya, seringan bawa motor sendiri. Tapi kadang-kadang bareng sama suami.” Jawab Mirna.
“Kalau kamu di anter suami terus ya? Aku sering lihat, kamu turun dari mobil H*V.” Tanya Mirna.
“Iya, dia ga ngebolehin aku naik taksi atau angkutan umum.”
“Wah kamu di manjain banget sama suamimu. Beruntunglah Ngel.”
Angel tersenyum membayangkan suaminya. “Iya aku memang beruntung.”
Lalu, Mirna memarkirkan motornya persis di depan kantin itu.
“Yah, kalo ada suami yang siap siaga, ngapain bisa bawa kendaraan sendiri. Enak tinggal duduk manis, Ngel.”
Angel tertawa. “Ya ngga gitu juga sih.”
Kemudian, mereka bersama-sama berjalan menuju kantin. Angel mulai bingung melihat banyak jajanan makanan di sana. Ternyata benar kata Mirna, di kantin ini lebih banyak menu makanan yang di tawarkan.
“Ngel, aku ke sana ya.” Mirna hendak menuju ke penjual makanan yang ia inginkan.
Saat Angel tengah berdiri ada sepasang mata yang terus menatap Angel. Pria itu pernah bertemu dengan Angel sekali. Namun, saat di ajak kenalan, Malik langsung menariknya.
“Ngel, duduk di sini ya.” Mirna langsung menempati tempat duduk.
Angel mengangguk. Ia pun duduk di bangku bersama Mirna, setelah memesan makanan.
“Kamu makan apa, Ngel?” Tanya Mirna.
“Gudeg, Mir. Kalau enak, aku mau bungkus satu untuk suamiku.”
“Ah, aku udah sering makan itu, Ngel.” Kata Mirna.
__ADS_1
Angel kembali tertawa. Mirna memang sering ceplas ceplos. Setiap hari, Angel pasti mendangar ocehannya saat duduk bersama di ruang dosen, entah itu mengenai mahasiswanya, keluarganya, atau kejadian ketika di perjalanan. Pokoknya ada saja yang di ceritakan Mirna.
Pria itu menghabiskan minumannya. Lalu berdiri dan hendak menghampiri Angel yang duduk bersama Mirna.
“Terima kasih.” Ucap Mirna dan Angel saat makanannya tiba.
“Hai, boleh saya duduk di sini?” Tanya pria itu.
Angel dan Mirna pun menoleh.
“Wah pak Rega.” Ucap Mirna.
“Eh, ibu tau saya.” Jawab Rega tersenyum.
“Lah, siapa yang ndak tau bapak. Dosen baru paling ganteng di teknik.” Ucap Mirna.
“Mir, inget anak sama suami di rumah.” Ledek Angel berbisik.
Mirna dan Rega pun tertawa.
“Kita ketemu lagi. Masih ingat saya?” Tanya rega pada Angel yang asyik menikmati makanannya.
Angel terlihat sedikit cuek. Ia menggeleng.
“Ah, susah sekali berkenalan dengan wanita cantik.” Ucap Rega.
“Eh, Pak Rega jangan ngegodain Bu Angel ya. Dia itu sudah punya suami.” Sahut Mirna.
Rega tertawa. “Maaf, saya cuma mau kenalan aja kok. Wanita bersuami juga boleh punya teman kan?”
Angel hanya menggelengkan kepoalanya. Ia tak menanggapi Rega. Mirna pun tahu, bahwa Angel saat ini tengah tidak nyaman dengan keberadaan pria itu di sini.
“Kita pernah bertemu di Mall, masih ingat?” Tanya Rega..
Angel terlihat sedikit berpikir, walau ia sebenarnya sudah ingat pria ini.
“Berarti namamu Angel. Iya?” Tanya Rega lagi.
“Iya.” Jawab Mirna.
Angel hanya diam. Iaa hanya menanggapi pertanyaan Rega dengan anggukan atau menggeleng. Untungnya Mirna banyak bicara, hingga pertanyaan Rega banyak di jawab oleh Mirna.
Selesai makan. Mirna dan Angel kembali menuju motor yang terparkir di luar. Namun, Rega mengekori mereka.
“Ngel, kok Pak Rega aneh ya. Ngapain sih dia anter kita sampe parkiran?” Tanya Mirna berbisik.
Angel hanya mengangkat bahunya.
__ADS_1
Ia tak mau berspekulasi bahwa Rega menyukainya. Saat ini ia hanya berusaha untuk menghindar. Ia tak mau ada masalah dan mencari masalah, karena hidupnya yang kemarin sudah sangat berat dan penuh masalah. Sekarang, ia ingin hidup damai, bahagia bersama Malik, satu-satunya pria yang ia cintai. Dan ia juga ingin fokus untuk cepat ada Malik junior dalam rahimnya.