
Satu bulan berlalu, Angel sudah tak lagi mengajar. Sudah dua minggu, ia benar-benar menjadi ibu rumah tangga. Setelah pulang dari rumah sakit waktu itu, Malik langsung mengurus pengunduran diri istrinya dan membayar penalti sesuai yang tertera di dalam kontrak pada saat Angel menandatanangi sebagai masa bakti awal selama di tugaskan di kota ini.
Kini ia di temani Neneng, mantan maid yang ada di rumah Hendra dan akhirnya mengabdi di keluarga Bi Ella. Saat keluarga Angel datang untuk menjenguk Angel di rumah sakit. Akhirnya, Enin menahan Neneng untuk ikut pulang. Enin meminta Neneng untuk menemani Angel di kota ini. Neneng pun langsung setuju. Apalagi Malik menggaji Neneng dua kali lipat dari gajinya di rumah Bi Ella.
“Sini, Den. Saya buatkan susu nya.” Kata Neneng saat melihat Malik tengah mangaduk susu coklat untuk istrinya.
Setiap pagi, Malik memang selalu membuatkan susu hamil untuk Angel. Neneng terharu melihat perhatian dan kasih sayang yang Malik berikan pada Angel, pasalnya ia tahu betul bagaimana dulu ayah Angel syok karena kelakuan mereka.
“Ngga usah, Bi. Lagian juga udah selesai.” Malik tersenyum ke arah wanita paruh baya itu dan melangkahkan lagi kakinya ke atas.
Sesampainya di dalam kamar, Malik duduk di pinggi ranjang tepat di samping tubuh Angel yang masih berbaring miring membelakanginya.
“Bee.” Tangan Malik menelusuri kulit halus ang istri. Hingga saat ini Malik masih menahan hasratnya, padahal Angel sudah memasuki trimester kedua.
Angel masih belum membuka matanya. Akhir-akhir ini, ia memang menjadi lebih pemalas, mungkin karena bawaan si baby twins.
“Bee.” Kali ini Malik sengaja membangunkan Angel dengan menggesek-gesek tengkuknya pada dagu tipis yang berbulu halus milik Malik.
“Hmm..” Angel menggeliat.
Ia mencoba menyingkirkan dagu Malik dari leher dan bahunya. “Geli kak.”
Malik tertawa. “udah siang, Bee. Kamu belum minum susu, belum sarapan. Kasian mereka belum makan.”
Angel tersenyum. “Iya, bawel.”
Sejak Angel hamil, Malik memang menjadi pria yang banyak bicara. Jika sedang berada di kantor, Malik tidak pernah absen untuk menelepon sang istri hanya untuk memastikn bahwa Angel sudah makan dan meminum obat untuk menguatkan kehamilan serta vitaminnya. Di malam hari, Malik juga selalu mengocek pada baby twins yang masih di dalam perut istrinya itu sembari mengelus lembut perut itu.
Angel pun duduk dan menerima gelas yang Malik berikan padanya. Ia pun meminumnya sampai tandas.
“Kak sampai sekarang Joni masih belum tau, kalau Rumi udah menikah dan pergi ke Jepang?” Tanya Angel.
Malik menggeleng.
“Apa dia tidak marah padamu, jika nantinya dia tahu?” Tanya Angel lagi.
Dua minggu yang lalu, Rumi dan Jonathan akhirnya resmi menikah dan satu minggu kemudian, Jo langsung membawanya ke Jepang. Angel dan Malik pun datang saat ke bandara untuk mengantar sahabat dan mantanasisten rumah tangganya pergi.
“Itu bukan urusan kita, Bee. Lagi pula aku lihat Joni biasa saja. Sejak kejadian itu, dia seperti yang tidak mencari Rumi, malah aku lihat dia sudah punya pacar lagi.” Jawab Malik.
“Oh, berarti dia tidak sepertimu.”
“Jelas tidak.” Kata Malik jumawa.
“Kalau aku pria setia.” Ucap Malik lagi dengan angkuh.
“Huweek.” Angel pura-pura ingin muntah, membuat Malik tertawa.
“Gimana ngga setia coba, istrinya sexy begini.” Malik meremas satu gunung kembar milik istrinya.
__ADS_1
“Kak. Ih, pelecehan.” Ucap Angel tersenyum, sembari turun dari tempat tidur itu.
Lalu, ia berdiri. Namun, tangan Malik semakin jahil. Tangan ini juga meremas b*k*ng angel yang semakin bulat.
“Ish, tangan kamu emang ga pernah di kondisiin sih.”
Malik tertawa. Ia memang senang sekali meremas bagian-bagian yang menonjol pada tubuh istrinya. Kalau sudah sangat gemas, ia akan menggigitnya hingga Angel meringis nikmat.
Malik memeluk istrinya yang tengah berdiri dan mendudukkan tubuh Angel di pangkuannya.
“Kamu makin sexy, Bee.” Malik berbisik di telinga Angel sembari mencium dan menggigit lehernya. Perut Angel pun sudah terlihat semakin buncit.
“Kapan dong aku sudah boleh nganu?” Tanya Malik.
Angel tertawa. “Tanya mba Farah dulu.”
Tangan Malik semakin menelusuri bagian sensitif itu. Jarinya berputar-putar di sana, membuat mata Angel meremang. Ciuman Malik pun turun ke dada dan memberikan treatment dengan sangat lembut di bagian itu.
“Hmm.. Kaaa.” Angel menggigit bibirnya, sambil meremas kepala Malik.
“Bee, kamu banjir.”
“Makanya jangan godain aku!” Jawab Angel dengan suara sensual, karena nafasnya masih naik turun yang di sebabkan ulah jari liar suaminya.
Malik tertawa. “Aku kira, aku aja yang gampang tergoda. Ternyata kamu juga.”
"Iiihh, nyebelin.” Teriak Angel sembari memukul pelan lengan Malik dengan manja.
“Aku udah siapin air hangat.” Ucap Malik saat mereka sampai di dalam kaamr mandi.
Lalu, mendudukkan Angel di bath up. Hari ini, Malik memang sedang libur. Ia pin ingin bermanja-manja dengan istrinya.
“Kak, mau kemana?” Tanya Angel, karena setelah mendudukkannya, Malik kembali pergi.
“Kenapa? Mau aku mandiin?” Malik membalikkan tubuhnya dan tersenyum menyeringai.
Angel mengangguk, membuat bibir Malik tersenyum lebar.
“Kamu benar-benar nakal sekarang, Bee.”
“Bukan aku yang mau, tapi anak di dalam perutku minta kamu memandikan mereka.” Jawab Angel dengan manja.
Malik tersenyum. “Alasan.”
Kini Malik dan Angel berada di dalam bath up yang sama. Sesekali Angel pun menggoda suaminya dengan terus menempelkan tubuhnya pada tubuh suaminya, hingga gairah Malik memuncak.
“Bee, jangan mulai deh!” Ucap Malik dengan suara yang mulai serak. Sungguh ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Angel hanya nyengir. Namun, Angel terus menggodanya. Malik hanya pria normal yang tak bisa tahan dengan godaan yang ada di depan mata. Malik langsung ******* bibir Angel dengan rakus dan mencumbui sang istri.
__ADS_1
“Sayang, papi jenguk kalian boleh ya? Kalian udah kuat kan.” Malik mengelus perut istrinya, sebelum melakukan penyatuan.
Angel tersenyum dan berkata dengan menyerupai suara anak kecil, "kami sudah kuat kok."
Malik pun menoleh ke arah istrinya dan tersenyum. Lalu, ia memulai aktifitas panas itu dengan sangat lembut.
“Ya ampun, Bee. Sumpah kamu enak banget. Aku merindukan ini.” Ucap Malik, saat mereka bergelut dan saling merengkuh kenikmatan.
“Hmm.. A..ku ju..ga.. Ah.” Jawab Angel dengan suara terbata-bata karena menikmati permainan lembut dari suaminya.
****
“Ini, kamu juga harus makan ini.” Malik memberikan banyak makanan enak pada istrinya.
“Udah kak, nanti aku makin bulat.”
“Ngga apa-apa, malah makin sexy.”
Angel memukul lengan suaminya yang duduk di sebelahnya. Mereka menikmati makan siang bersama di rumah.
“Bi, ayo ikut makan bareng!” Ajak Angel pada Neneng yang menyediakan makanan ke meja makan.
“Nanti aja, Non. Mau bersih-bersih wajan yang kotor dulu.” Jawab Neneng.
“Udah ngga apa, Bi. Ayo sekalin makan sini. Nanti selesai makan, baru bersih-bersih lagi.” Ucap Malik.
Akhirnya, Neneng duduk di sana dan makan bersama.
“Jangan sungkan, Bi Neneng. Bibi itu udah kami anggap orang tua.” Ucap Angel tersenyum ke arah Neneng.
Neneng tersenyum dan semakin betah tinggal bersama Angel. “Makasih ya Non.”
Angel tersenyum ramah. “Iya, Bi.”
Hari ini, Malik dan Angel mengisi liburan dengan berleha-leha di kamar sembari menonton film di televisi yang ada di dalam kamar itu. Malik tak pernah lepas untuk memeluk istrinya.
Malik berbaring di sofa, sementara Angel duduk di sebelahnya. Tubuh Malik pun langsung bergeser untuk memeluk perut sang istri.
“Bee, yang tadi ngga bikin mereka sakit kan?”
Angel menoleh dan tersenyum. “Ngga kak. Lagian aku nya juga udah ga banyak aktifitas sekarang. Mungkin kalau waktu itu karena capeknya double. Pagi kita olahraga, terus siangnya aku mengajar padat dan naik turun tangga.”
“Berarti nanti malam boleh lagi?” Malik menengadahkan kepalanya ke arah Angel.
Angel tertawa. “Dasar, ada kesempatan sedikit, langsung deh.”
Malik pun ikut tertawa dan mengeratkan pelukannya pada perut Angel sambil menidurkan kepalanya di kedua paha sang istri.
“Manja banget, ih.” Kata Angel dengan meneglus lembut rambut suaminya. Malik memang sangat manja bila sedang di rumah.
__ADS_1
“Biarin.”
Angel tersenyum. Ia pun menyukai sikap manja suaminya yang seperti ini.